Amalan Sebelum Shalat

Ustadz Slamet Setiawan

Assalamualaikum ustad .
Mau bertanya …
Adakah doa khusus atau amalan lain yang harus dibaca sbelum sholat selain membaca niat sholat supaya lebih khusyuk ??
Syukron jazakallah khair 🅰4⃣3⃣

Jawab:
———

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Tidak ada doa atau bacaan khusus yang dilakukan sebelum mengerjakan shalat. Namun ada amalan-amalan yang baik untuk dilakukan sebelum mengerjakan shalat, khususnya shalat fardhu.

1. Bersiwak

Menurut Imam An Nawawi, siwak adalah penggunaan sebuah ranting pohon atau semisalnya pada gigi untuk menghilangkan kotoran (Tahriru Alfaazith Tanbih, hal 33). Bersiwak adalah kegiatan membersihkan gigi dengan menggosoknya dengan sesuatu yang keras, misalnya ranting pohon Al Arok (kayu siwak), ranting pohon kurma, ranting pohon zaitun, atau sikat dan pasta gigi seperti yang banyak kita temui di kehidupan sehari-hari. Maksud dari sunnah bersiwak sebelum shalat adalah untuk mengharumkan bau mulut, membersihkan gigi, dan mengeluarkan kotorannya sehingga tidak mengganggu jalannya ibadah shalat.

2. Memperbarui wudhu

Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz pernah ditanya:

Manakah amalan yang lebih utama sebelum melaksanakan shalat fardhu? Apakah memperbarui wudhu, i’tikaf di masjid, membaca al-Quran atau melaksanakan shalat sunnah?

Beliau menjawab:

تجديد الوضوء مستحب إذا كان قد توضأ سابقاً إذا جدد فهو أفضل ولا يلزمه تجدد الوضوء, والسنة أن يتقدم إلى الصلاة والجلوس في المسجد ينتظر الصلاة فيه خير عظيم, وإذا سمي اعتكاف فلا بأس؛ لأن اللبث في المسجد يسمى اعتكاف إذا نوى اعتكافاً عند انتظاره الصلاة أو الجلوس في المسجد يقرأ هذه قربة إلى الله-جل وعلا- فالمؤمن يتقرب إلى الله بما شرع فإذا قصد مسجد أن يقرأ فيه ويتعبد, ويصلي ونواه اعتكافا سواء ساعة أو ساعتين, أو يوم, أو يومين كله لا بأس, ولكن عليه أن يحافظ على الصلاة في جماعة في أوقاتها, ويحذر التخلف عن ذلك، وإذا أراد تجديد الوضوء إذا توضأ للظهر وأراد أن يجدد للعصر أو المغرب هذا أفضل, وإن صلى بالوضوء السابق فلا حرج

Memperbaharui wudhu dianjurkan jika orang yang melakukannya telah berwudhu sebelumnya. Jika ia memperbarui wudhu hal itu lebih utama, namun perkara tersebut tidaklah wajib. Dianjurkan bersegera (menuju masjid) untuk melaksanakan shalat dan duduk di dalamnya dalam rangka menunggu pelaksanaan shalat. Sebab padanya terdapat kebaikan yang besar. Tidak mengapa jika duduk di masjid tersebut dinamakan i’tikaf. Karena berada di dalam masjid pun bisa disebut i’tikaf jika diniatkan seperti itu sambil menunggu sholat atau duduk di dalam masjid sembari membaca al-Qur’an. Ini merupakan bentuk pendekatan diri kepada Allah Jalla wa ‘Alaa.

3. Pergi ke Masjid dan Menunggu Waktu Shalat

Setelah bersiwak, dianjurkan untuk bersegera berangkat ke masjid bagi muslim laki-laki, sedangkan bagi muslim perempuan diperbolehkan shalat di rumah. Dianjurkan pula bagi kita untuk berdiam di dalam masjid sambil menunggu waktu shalat tiba. Ketika memasuki masjid, adalah sunnah untuk mendahulukan kaki kanan, sedangkan ketika keluar dari masjid dahulukan kaki kiri.

Saat adzan berkumandang, disunnahkan bagi kita untuk menjawab seruan adzan tersebut, walaupun dalam kondisi berhadats. Namun, terdapat pengecualian kepada orang yang sedang shalat, buang hajat, berjima’, atau mendengarkan khotib (khusus shalat Jumat). Bila kita sedang berada dalam 4 keadaan tersebut, adalah lebih baik untuk menjawab adzan setelahnya. Menjawab adzan pada waktu sedang melaksanakan shalat hukumnya makruh dan tidak membatalkan shalat, namun menjawab adzan ketika selesai shalat adalah lebih baik. Menjawab adzan ketika khotib berdiri di mimbar dapat membatalkan shalat Jumat, karena jama’ah shalat tidak diijinkan berbicara sepatah katapun pada saat itu.

4. Shalat Tahiyyatul Masjid

Apabila seorang muslim memasuki masjid, maka ia dianjurkan melaksanakan shalat tahiyyatul masjid sebelum duduk di dalamnya. Shalat tahiyyatul masjid hukumnya sunnah dan dilakukan dengan 2 rakaat. Bila kita masuk ke masjid ketika khotib sedang menyampaikan khotbah Jumat, maka disunnahkan untuk melakukan shalat 2 rakaat dengan ringan, kemudian segera duduk untuk mendengarkan khotbah.

Dalil yang mendasari pendapat ini adalah riwayat dari Jabir bin Abdullah, ia berkata: Sulaik Al-Ghathafany tiba pada hari Jumat ketika Rasulullah saw sedang menyampaikan khotbah, lalu dia langsung duduk. Beliau bertanya, “Wahai Sulaik, bangunlah dan shalatlah dua rakaat dan lakukan dengan bersegera”. Kemudian beliau bersabda, “Jika salah seorang di antara kalian datang pada Hari Jum’at, sedang imam sedang menyampaikan khotbah, maka shalatlah dua rakaat dan hendaklah ia bersegera melakukannya”.

5. Shalat Sunnah Rawatib

Shalat rawatib adalah shalat sunnah yang dilakukan sebebelum atau sesudah shalat fardhu. Manfaatnya amalan sunnah ini adalah sebagai penambah kekurangan dari shalat wajib yang kita lakukan. Nabi SAW tidak pernah meninggalkan shalat rawatib dalam keadaan mukim (tidak dalam keadaan safar).

Diriwayatkan dari Ummu Habibah, istri Nabi shalallahu alaihi wa sallam, dia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seorang hamba muslim yang mendirikan shalat karena Allah setiap hari sebanyak dua belas rakaat secara tathawwu’ selain fardhu, melainkan Allah membangunkan sebuah rumah baginya di dalam surga atau dibangunkan sebuah rumah baginya di surga”. (HR. Nasai – no. 1774)

Wallahu a’lam.

Meneladankan Diri Untuk Menjadi Cermin Yang Terbaik

Pemateri: USTADZAH ROCHMA YULIKA

Menjadikan diri lebih baik sebuah keniscayaan.
Berkaca pada nurani menjadi kewajiban.
Lantaran bersihnya nurani yang mampu menggerakkan laku untuk memperbaiki diri.

Menjadi baik bukan sekedar mengantarkan sosok muslimah menjadi pribadi yang penuh harga diri di mata manusia, lebih dari itu ada tujuan jangka panjang yakni kehidupan ukhrowi yang tak bertepi.

Belajar dari kisah yang menyejarah di masa lalu bisa membangkitkan semangat untuk berusaha menjadikan hari ini lebih baik dari kemarin, dan berharap esok kan raih cita gemilang dalam mengukir sejarah hidupnya.

Menjadi muslimah yang dikenal sepanjang sejarah tak selalu lurus dalam menjalani hidupnya. Terkadang ada sandungan, ada aral melintang, ada ujian, dan Allah memberi kesempatan untuk berbuat salah.
Bukan sekedar peristiwa yang menjadikannya bersalah, namun perjuangannya untuk bangkit dari keterpurukan, dari kejahilan, dan bangkit dari kesalahan itu yang bisa kita jadikan teladan untuk menjalani kehidupan.

Tak ada gading yang tak retak. Tak ada satu pun manusia yang sempurna, hanya Rasulullah yang mulia yang terjaga dari dosa hingga gelar Al Ma’shum melekat pada beliau.

Banyak wanita di sekeliling Nabi, mereka sebelumnya menjadi musuh Islam, menghina Rasulullah hingga akhirnya menjadi teladan kebaikan hingga akhir zaman.

Tersebutlah wanita shalihah yang kisahnya cukup mengesankan dan menjadi sarana belajar bagi kita untuk lebih berhati-hati. Ummu Banin namanya. Ummu Banin sendiri adalah putri dari Abdul Azis bin Marwan serta saudara wanita dari Umar bin Abdul Azis.

Umar bin Abdul Azis sendiri adalah salah satu pemimpin, salah satu khalifah teladan sepeninggal Khulafaur Rasyidin.
Tak banyak sejarawan yang menuliskan sejarah hidupnya. Namun sekelumit berkisah tentangnya berharap bisa menjadikannya contoh untuk berhati-hati dalam berkata-kata. Ummu Banin yang shalihah tanpa menyadari telah menunjukkan sikap kesombongan.

Dikisahkan dari Marwan bin Muhammad bahwa Azzah sahabat Kutsayyir pernah datang menghadap kepada Ummu Banin.

Bermula dari pertemuannya dengan seorang wanita muda yang bernama Azzah dan sahabat laki-lakinya. Setiap kali Kutsayyir bertemu dengan Azzah selalu saja berdendang sebuah syair bahwa hutang itu wajib dibayar.

Mendengar dendangan syair itu Azzah selalu murung hingga kemurungannya diketahui Ummu Banin. Dengan rasa penasaran Ummu Banin bertanya kepada Azzah dan meminta Azzah bercerita.

Akhirnya Azzah menceritakan maksud dari sindiran tentang hutang tersebut bahwa dulu pernah berjanji bersedia dicium Kutsayyir, lantas Kutsayyir setiap bertemu Azzah selalu saja menagihnya. Tetapi Azzah menolak dan takut berdosa.

Mendengar penuturan itu, Ummu Banin spontan terlontar kata-kata geram dengan cerita itu. “Tepatilah janjimu kepadanya dan akulah yang akan menanggung dosanya,” kata Ummu Banin.

Tak seberapa lama, Ummu Banin merenungi kata-katanya. Ummu Banin pun segera menginterospeksi diri atas perkataannya. Ia memohon ampun kepada Allah SWT atas kesombongannya.

Ketakutan akan hari akhir yang membuat Ummu Banin menyegerakan pertaubatan atas khilaf selintas lepas. Lantaran sekecil apa pun kesombongan, tak kan pernah berhak untuk menginjakkan kaki di Surga.

Semoga Allah senantiasa menjaga kita dari perilaku takabur dan merasa tinggi hati. Astagfirullah…..

Jika kita lihat kesalahan Ummu Banin tak seberapa besar. Lantaran pemahaman yang mendalam terhadap dienul Islam maka Ummu Banin untuk menunjukkan kesungguhan taubatnya, beliau membebaskan 40 budak. “Ya Allah, mengapa tidak bisukan saja mulutku ini ketika mengatakan hal itu,” pintanya dalam tobat.

Tekun Beribadah. Dalam menjalani kehidupan selanjutnya, Ummu Banin kian tekun dalam beribadah. Ummu Banin selalu meninggalkan peraduannya guna menunaikan shalat sepanjang malam.
Setiap hari jumat, ia selalu keluar rumah dengan membawa sesuatu di atas punggung kudanya kemudian diberi-berikannya kepada fakir miskin.

Tidak jarang pula Ummu Banin mengundang para wanita ahli ibadah untuk berkumpul di rumahnya kemudian menggelar pengajian membahas keagamaan. “Setiap manusia pasti akan membutuhkan sesuatu, sedangkan aku akan menjadikan kebutuhanku itu menjadi sebuah pengorbanan dan pemberian.
Demi Allah, silaturrahmi bagiku lebih menarik daripada makanan selezat apapun,” tuturnya kepada para wanita lainnya.

Hingga akhir hayatnya, Ummu Banin selalu berbuat kebaikan.

Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada Ummu Banin, salah seorang Wanita Teladan dalam Sejarah Islam.

Sahabat Surgaku…..
Merawat jiwa, mengolah pribadi, menjaga perilaku, dan menata hati seyogyanyalah ada dalam pribadi-pribadi muslimah.

Selalu berada dalam orbit keshalihan, selalu menjaga keistiqamahan, dan menjadikan orang-orang beriman menjadi kawan.

Berhati-hati hingga tak menjadi hamba-hamba yang melampaui batas. Lantaran Allah swt mengingatkan pada kita dalam firman-Nya, “Katakanlah Wahai hamba-hamba Ku, yang telah melampaui batas dalam berbuat dosa jangan berputus asa dari kasih sayang Allah, sungguh Allah Maha Mengampuni semua dosa, dan sungguh Allah Maha pengampun dan berkasih sayang” (QS Azzumar 53)

Mari kita pelihara dan tingkatkan taqwa kita.
Mari kita bersegera memantaskan diri menjadi hamba-Nya.

Sudah seberapakah amalan yang kita bawa? Seberapa khusyu’ kita menghamba? Seberapa banyak waktu kita untuk memperjuangkan diin mulia?

Atau kita lebih sering berpacu dengan waktu untuk urusan yang tak tentu. Mengejar yang fana hingga lupa yang baka. Mengejar dunia saja hingga lupa akhiratnya.

Sisa hidup kita tak seberapa lama. Bersyukur karena Allah masih beri kesempatan kita untuk mengumpulkan bekal. Menyibukkan diri pada amal-amal kebaikan.

Waktu terus melaju, hari-hari pun berlalu, tanpa terasa kita sudah berada di ujung kehidupan. Sejenak menakar iman,  sesaat kita melintasi kehidupan, dan selamanya kita hidup dalam keabadian. Maka tugas kita untuk meneladankan diri bagian dari kebutuhan.

Ustadz Hasan Al Bisri menasihati kita,”Waktu adalah kehidupan, menyia-nyiakan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan.” Usia kita tak terukur, tanpa kita tau kapan saatnya harus tidur di dalam kubur. Jika peluang hidup masih ada bergegas membuat karya.

Seperti halnya sosok-sosok muslimah yang jauh mendahului kita.
Ibunda Khadijah RA yang kesantunan pribadinya bisa dijadikan teladan sepanjang masa. Ibunda Aisyah RA yang kecerdasannya terekam dalam sejarah melalui karya-karyanya.

Berguru dari kisah di masa lalu hingga berusaha memperjuangkan asa tak kenal jemu. Saatnya kita ambil peran untuk menegakkan peradaban. Menjunjung nilai-nilai Islam hingga kembali raih kejayaan.

Mengembalikan eksistensi muslimah di akhir jaman adalah tugas kita. Sejauh mana diri telah berbuat untuk agama ini. Apakah kita masih sering memilih terlena hingga waktu tersia-sia. Atau kita segera beranjak dan berlari mengusung panji-panji untuk menyongsong kemenangan. Tak hanya jadi penonton tapi mampu mengambil peran untuk tegaknya sebuah kejayaan.
Mengembalikan kejayaan Islam, menampilkan sosok-sosok muslimah di akhir zaman.

Muslimah yang bisa seperti khadijah, yang pandai berdagang, menjadi pengusaha sukses sementara hidupnya tak jauh dari naungan Al Quran.

Serupa Aisyah yang menggeluti bidang keilmuan. Sosok aisyah yang menjadi tempat bertanya bagi sesiapa. Selayaknya zainab binti Khuzaimah yang menjadi umul masakin. Berperan banyak di masyarakat untuk melayani, untuk membantu menolong fakir miskin.

Adalah tugas kita sebagai muslimah mengisi hidup dengan banyak peran yang dilakukan. Membentuk keluarga sakinah, mendidik anak-anak menjadi shalih dan shalihah, dan berbuat banyak untuk melayani masyarakat. Mampu menjadikan setiap episode hidupnya menjadi lebih bermakna dan bermanfaat bagi sesama.
Sosok yang mengajarkan, sosok yang meneladankan, dan sosok yang meninggalkan jejak kebaikan sepanjang sejarah hidupnya.

Sahabat Surgaku…
Kemarin adalah sejarah, hari ini adalah anugerah, esok berharap berkah.
Kemarin jadi tempat berkaca, hari ini saatnya berkarya, dan esok berharap kan raih asa.
Kemarin  bisa dijadikan pelajaran, hari ini kerja keras kan jadi kawan, dan esok kan raih kesuksesan.

Apa yang berlalu bisa kita jadikan guru untuk ditiru. Apa yang terlewat bisa kita jadikan nasihat.

Meneladankan diri, menampilkan sosok muslimah sejati. Tak silau karena pujian tak galau lantaran beratnya ujian. Tetap berkarya meski langkah menuju kehadapan tak mundur selangkah pun dari jalan Tuhan.

Perjalanan membangun peradaban memang membutuhkan waktu yang
panjang dan melelahkan. Tak sekedar harta, jiwa,  raga, dan waktu tersita untuk memperjuangkannya. Banyak yang harus kita korbankan lantaran kecintaan kita kepada Allah.

Terkadang kita terengah-engah untuk melangkah hingga tujuan. Terkadang pula terseok-seok mengikuti lajunya derap langkah kafilah dakwah. Kadang pula tersandung, terjatuh, terluka dan aral yang melintang menghadang perjalanan kita.

Namun bagaimana pun kita harus tetap teguh pendirian untuk tetap semangat mengeksistensikan diri di jalan dakwah ini.

Imam Syafi’i menasihati kita,” Jika sudah berada di jalan Allah maka melesatlah dengan kencang. Jika sulit, maka tetaplah berlari meski kecil langkahmu. Bila engkau lelah, berjalanlah menghela lapang. Dan bila semua tak mampu kau lakukan, tetaplah maju terus meski merangkak perlahan. Janganlah pernah mundur dari jalan Allah.”

Sahabat Surgaku…..
Bergeraklah agar tubuh tak kaku.
Bertuturlah agar lidah tak kelu.
Berpikirlah agar otak tak beku.
Beramallah agar hidup lebih terasa syahdu.
Berjuanglah agar terukir namamu.
Berdakwakahlah tanpa kenal jemu.
Berharap tinggal di surga yang dirindu.

Demi Allah, dunia dibanding dengan akhirat ibarat seseorang yang mencelupkan jarinya ke laut. Yang tersisa di jarinya itulah kehidupan dunia. (HR Muslim)

Wallahu  A’lam.

Karakter Munafiq Dalam QS. Al-Munafiquun (I-a)

Ustadz Noorahmat

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuhu.

Adik-adik MFT yang disayang Allah Ar Rahmaan…

Alhamdulillah kita bertemu kembali hari ini. Dalam kesempatan hari ini hingga beberapa pekan kedepan, kita akan membahas karakter-karakter yang ditunjukkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam Al Qur’an surat Al Munafiquun. Surat ke 63 dan bagian dari Juz 28.

Ehm….sudah ada yang tahfidznya sampai Juz 28? Semoga Allah Ta’ala membersihkan jiwa kita agar mudah menghafal Al Qur’an dan menerapkannya dalam kehidupan. Aamiin.

Mempersingkat tulisan, kita langsung saja ya….

Adik-adik yang dirahmati Allah Ar Rahiim, kita awali pembahasan QS Al Munafiquun, dengan menyampaikan empat ayat pertama dari surat ini…

Allah Azza wa Jalla berfirman

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُون
َ
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah. Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.”

اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُون
َ
“Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.”

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُون
َ
“Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi), lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti. Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum.”

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُون
َ
“Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?”

Nah sekarang, kita bahas bagian per-bagian…

Dalam ayat-ayat diatas Allah Azza wa Jalla menceritakan beberapa karakteristik orang-orang munafiq, bahwa mereka hanya mengakui Islam dengan mulutnya saja, bila datang kepada Nabi Saw. Sedangkan di dalam hati mereka justru kebalikannya, tidak seperti yang mereka tampakkan. Untuk itulah maka Allah Azza wa Jalla berfirman dalam bagian awal ayat pertama:

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ…

“Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.”…

Yakni apabila orang-orang munafiq datang kepada Rasulullah SAW dan menghadapi beliau dengan pengakuan tersebut, serta menampakkan hal itu kepada beliau, justru kenyataannya tidaklah seperti apa yang orang-orang munafiq katakan.

Karena itulah maka dalam ayat ini diletakkan kalimat sisipan yang memberitahukan bahwa sesungguhnya Nabi Saw. adalah utusan Allah, yaitu:

…وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ…

…Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya…

Kemudian Allah Ta’ala sebutkan dalam kelanjutannya:

…وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ

…dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

Yaitu dalam pemberitaan mereka, sekalipun pada lahiriahnya mereka menampakkan hal yang sungguhan, karena sesungguhnya mereka tidak meyakini kebenaran dari apa yang mereka ucapkan dan tidak pula membenarkannya dalam hati mereka.

Karena itulah maka orang-orang munafiq ini didustakan berdasarkan keyakinan yang tersimpan dalam hati mereka.

Nah adik-adik yang dirahmati Allah Azza wa Jalla…
Pelajaran yang bisa kita ambil hari ini adalah terkait satu karakter utama yang dimiliki orang-orang munafiq, yaitu menampakkan keimanan yang justru bertentangan dengan isi hatinya….

Semoga tidak ada satupun diantara kita yang memiliki karakter ini ya….

Kita bertemu kembali pekan depan untuk kelanjutan pembahasan ayat kedua dari QS Al Munafiquun ini. ان شاء الله

Wassalam.

Beberapa Tip Membersamai Suami

Pemateri: *Ustadz DR. Wido Supraha*

📚 *Membersamai Suami yg Over-Protective*

📬 *Soal:* ” Assalamualaikum. Bagaimana sikap seharusnya seorang istri menghadapi suami yang overprotektif , dan bagaimana jika overprotektif nya sampai melewati batas kaidah agama, melarang seorang istri mengerjakan amalan amalan contoh sedekah, membantu fakir miskin..”

🔓 *Jawab:* _”Bersyukurlah memiliki suami yang sangat peduli, memperhatikan, menyayangi, dan melindungi. Taatilah suami dalam perkara-perkara yang diperintahkannya, selama dalam batas-batas keridhoan Allah Swt..”_

📌 Ketaatan kepada manusia, termasuk orang tua dan suami memiliki batasan. Batasan itu ditegaskan oleh Rasulullah Saw.:

لاَ طَاعَةَ لِمَخْلُوْقٍ فِيْ مَعْصِيَةِ الْخَالِقِ إِنَّمَا الطَّاعَةَ فِي الْمَعْرُوْفِ

“Tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Khalik. Sesungguhnya ketaatan itu adalah dalam hal yang ma’ruf.”

🚨 Untuk amalan yang bersifat _Sunnah_, maka jika suami belum mengizinkannya cukuplah dengan berdoa di keheningan malam agar suami senang dan mendukung kebaikan. Genggamlah tangannya untuk bersama-sama menimba ilmu.

📚 *Membersamai Suami yang Egois*

📬 *Soal:* “Saya jg mau tanya ustad… bagaimana menghadapi suami yg egonya tinggi, tdk pernah mau ibadah…apakah Istri hrs tetap patuh punya suami seperti itu.”

🔓 *Jawab:* _”Tetap harus patuh pada seluruh perintahnya yang tidak bertentangan dengan Syariat Islam, karena kepatuhan istri bukan karena kualitas agama suaminya, tapi karena kedudukannya sebagai suami yang sah.”_

📌 Islam adalah ajaran yang sangat memperhatikan pensucian jiwa ( _tazkiyatunnafs_). Egoisme akan menurun seiring seringnya manusia menghadiri majelis dzikir, dan mentadabburi ayat-ayat Qauliyah dan Kauniyah.

🚨 Hendaknya seorang istri terus berusaha mendekatkan suaminya dengan agama tanpa pernah jemu. Jauhkan hal-hal yang menyebabkannya jauh dari agama seperti televisi. Siapkan alternatif hiburan berkualitas Islami di rumah. Berbicaralah dengan lemah lembut dan penuh rasa sayang kepada suami. Jadikanlah *Asiyah* panutan karena kondisinya jauh lebih berat dari Ibu.

Dakwahnya yang lemah lembut sembari memberikan pelayanan batin yang maksimal kepada suaminya perlu ditiru. Allah Swt berfirman dalam surat Al-Qashash [28] ayat 9:

وَقَالَتِ امْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ ۖ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَىٰ أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

_Dan berkatalah isteri Fir’aun: “(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak”, sedang mereka tiada menyadari._

Dialah Asiyah yang terus bersabar dan berharap hanya kepada Allah Swt. Perhatikan doanya dalam surat At-Tahrīm [66] ayat 11:

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا لِلَّذِينَ آمَنُوا امْرَأَتَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

_Dan Allah membuat isteri Fir’aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: “Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir’aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim._

Doakan suami Ibu di keheningan malam, tanpa diketahuinya. Di dalam sujud Ibu, agar kelak di Jannah, ibu dapat kembali bersatu dengan Bapak.

Hukum Gambar

Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamualaikum, afwan saya mau bertanya di zaman yang semakin berkembang ini kita pasti tau yang namanya selfie, disini saya mau bertanya bagaimana pandangan islam tentang foto selfie itu sendiri, terlebih lagi jika di posting di media sosial bukan kah ini dapat membuat kaum adam ataupun kaum hawa dpt tertarik satu sama lain ?dan juga bukan kah kita diperintahkan untuk menundukkan pandangan kita kpd yang bukan muhrim ?syukron😊

===========
Jawaban

Wa’alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh

Untuk pertanyaan ini sudah di web manis, silahkan adik-adik cek d sana ya

HUKUM GAMBAR/FOTO

http://www.manis.id/2016/10/hukum-gambarfoto.html?m

Apa sih kebiasaan itu ??

Bunda Heni & Tim

Kebiasaan adalah hal hal yang kita lakukan berulang ulang. Kebanyakan dari kita tidak sadar akan kebiasaan kita, semua seperti berjalan dengan sendiri nya. Kebiasaan menjadi cikal bakal seseorang menuju sukses atau kehancurannya.
Mau yang mana sukses atau hancur??

Dijamin setiap manusia di belahan dunia manapun pasti menginginkan sukses,walaupun makna  sukses pada setiap manusia berbeda.

Bagaimana memulai kebiasaan positif menuju sukses??

Seperti pesan dari Aa Gym, mulai dari yang terkecil,mulai dari diri sendiri dan mulai dari sekarang.

Apa saja kebiasaan positif menuju sukses??

■ Berolahraga. Karena dengan olah raga tubuh menjadi sehat. Dengan tubuh yang sehat bisa lebih mampu melakukan banyak hal dan berkarya.

■ Bangun pagi. Udara pagi sangat baik untuk kesehatan tubuh dan meningkat kan mood baik. Apalagi ada kewajiban kita sebagai Muslim shalat shubuh, sehingga perlu bangun pagi. Yuukkk bangun pagi!!

■ Berpikir positif. Hmmm….kita perlu nih memiliki karakter ini sehingga ketika ada masalah bawaanya gak baper melulu..

■ Selalu mengambil Hikmah dari setiap peristiwa dan selalu ingin belajar untuk menjadi lebih baik. Eitss…belajar yang dimaksud di sini bukan belajar pelajaran lhoo…tetapi belajar yang tentang kehidupan. Bagaimana supaya hidup menjadi lebih baik.

■ Pelajari dan fahami lebih dalam tentang ajaran Islam. Islam itu sudah lengkap lhoo…mengajarkan umatnya untuk menjadi manusia yang sesungguhnya. Jadi, pelajari dan pahami kembali ajaran Islam dan kalau perlu berdiskusi lah dengan teman, ortu, guru, murabbi.

Berikut ini kutipan dari penulisan Samuel Smiles.

“Taburkanlah suatu pikiran,maka kamu akan menuai perbuatan”

“Taburkanlah suatu perbuatan,maka kamu akan menuai kebiasaan”

“Taburkanlah suatu kebiasaan,maka kami akan menuai karakter”

“Taburkanlah suatu karakter,maka kamu akan menuai takdir”

Sudahkah hari ini memulai kebiasaan baik??

Pengertian Salaf, Khalaf dan Sufi

Ustadz Slamet Setiawan

Assalamu’alaikum saya mau tnya. Bedanya salaf, salafi, salafiyyah, sufi, khalaf apa? #A38

Jawab:
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Salaf secara bahasa Arab artinya ‘setiap amalan shalih yang telah lalu; segala sesuatu yang terdahulu; setiap orang yang telah mendahuluimu, yaitu nenek moyang atau kerabat’ (Lihat Qomus Al Muhith, Fairuz Abadi). Secara istilah, yang dimaksud salaf adalah 3 generasi awal umat Islam yang merupakan generasi terbaik, seperti yang disebutkan oleh Rasulullah saw,

“Sebaik-baik umat adalah generasiku, kemudian sesudahnya, kemudian sesudahnya” (HR. Bukhari-Muslim)

Tiga generasi yang dimaksud adalah generasi Rasulullah saw dan para sahabat, generasi tabi’in dan generasi tabi’ut tabi’in. Sering disebut juga generasi Salafus Shalih.

Kemudian dalam bahasa arab, ada yang dinamakan dengan isim nisbah, yaitu isim (kata benda) yang ditambahkan huruf ‘ya’ yang di-tasydid dan di-kasroh, untuk menunjukkan penisbatan (penyandaran) terhadap suku, negara asal, suatu ajaran agama, hasil produksi atau sebuah sifat (Lihat Mulakhos Qowaid Al Lughoh Ar Rabiyyah, Fuad Ni’mah). Misalnya yang sering kita dengar seperti ulama hadits terkemuka Al-Bukhari, yang merupakan nisbah kepada kota Bukhara (nama kota di Uzbekistan) karena Imam Al-Bukhari memang berasal dari sana. Ada juga yang menggunakan istilah Al-Hanafi, berarti menisbahkan diri pada madzhab Hanafi. Maka dari sini dapat dipahami bahwa Salafi maksudnya adalah orang-orang yang menisbatkan (menyandarkan) diri kepada generasi Salafus Shalih. Atau dengan kata lain “Salafi adalah mengikuti pemahaman dan cara beragama para sahabat Rasulullah saw dan orang-orang yang mengikuti jalan mereka”. (Lihat Kun Salafiyyan ‘Alal Jaddah, hal. 10)

Sehingga dengan penjelasan ini jelaslah bahwa orang yang beragama mengikuti generasi awal umat Islam tadi, DENGAN SENDIRINYA ia seorang Salafi. Baik dia berasal dari madzhab apapun dan ormas manapun (NU, Muhamadiyah, dst). Jadi salafi bukanlah terbatas kepada sekelompok umat Islam saja, akan tetapi semua muslim yang mengikuti apa yang dibawa Rasulullah saw dan generasi setelahnya berhak menyebut dirinya salafi.

Sedangkan salafiyah adalah metode/paham ajarannya. Orang yang mengikutinya disebut salafi, sebagaimana dijelaskan di atas.

Kemudian tentang khalaf. Kata khalaf biasanya digunakan untuk merujuk para ulama yang lahir setelah abad III H setelah periode tabiut tabi’in. Ulama-ulama khalaf adalah penerus dakwah tabiut tabi’in.

Selanjutnya mengenai Sufi. Istilah Sufi sebenarnya tidak dikenal pada zaman Nabi. Didalam Al-Qur’an maupun hadis sendiri kata-kata tersebut secara harfiah tidak ditemukan. Kebanyakan ahli menyatakan bahwa kata-kata tersebut secara lahiriah menunjukan sebutan gelar, sebab dalam perbendaharaan bahasa Arab tidak terdapat akar katanya. Ada beberapa pengertian Sufi, yaitu:

Pertama, kata Sufi berasal dari pembendaraan bahasa Yunani, yaitu diambil dari kata shopia yang berarti kebijaksanaan. Kata tersebut juga dtengarai sebaga asal kata filsafat. Pendapat ini sebenarnya datang dari pada orientalis. Mereka mengatakan “ketika orang-orang berfilsafat dalam hal ibadah, mereka mengubahnya menjadi kalimat Sufi, yang kemudian menjadi sebutan bagi kaum yang suka beribadah dan untuk filsafat keagamaan”. Jelasnya, sufi adalah sebuah kata yang dinisbatkan dengan filsafat ibadah.

Kedua, Sufi berasal dari kata Shaff , yang berarti barisan. Hal ini dimaksudkan bahwa para Sufi berada pada barisan pertama dihadapan Allah lantaran ketinggian iman dan takwanya.

Ketiga, kata Sufi berasal dari kata Sufah. Kata ini merupakan julukan terhadap seorang laki-laki dijaman jahiliyah yang mengabiskan waktu untuk beribadah di sekeliling Ka’bah. Nama asli orang tersebut adalah Ghouts bin Mur. Adapun alasan kata Sufi disandarkan pada kata julukan tersebut adalah karena sisi karakteristik dari kehidupannya sama, yaitu sama-sama menghabiska waktu untuk ibadah.

Keempat, kata Sufi berasal dari kata Shuffah yang kemudian dinisbat dengan sebutan Ahlus Shuffah, yaitu sekelompok kaum Muhajirin dan Anshar yang miskin, yang tinggal dalam sebuah sisi ruangan Masjid Rasulullah saw. Mereka yang tinggal diruang tersebut dikenal sebagai kaum yang begitu tekun beribadah.

Kelima, kata Sufi serasal dari kata Shuf yang berarti bulu domba. Dalam perbendaharaan kata bahasa Arab akan kita temukan suatu kalimat yang biasa diperuntukan kepada orang-orang yang memakai pakain wol atau bulu domba dengan sebutan , tashawwafa al rijal.

Wallahu a’lam.

AQIDAH DAN KEIMANAN

Pemateri: Ustadz KH Aus Hidayat Nur

1⃣. HUBUNGAN AQIDAH DENGAN RUKUN IMAN?

Aqidah adalah iman dalam pengertian yang sebenarnya dan hal ini merupakan it”tiqod yang kokoh dalam hati (batin) yang beriman kepada  Allah, para Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, para Rasul-Nya, dan kepada hari Akhir serta kepada  Qadar yang baik maupun yang buruk.
Hal ini disebut juga dengan rukun iman.

Iman   terdiri dari tiga unsur yang saling berhubungan tak terpisahkan satu dengan lainnya yaitu:

❣Pertama, membenarkan dan mempercayai dengan hati.

❣Kedua, mengucapkan dengan lisan (mulut), dan

❣Ketiga merealisasikan dengan amal perbuatan .

Katiganya harus ada tidak boleh terpisahkan satu sama lain.

Artinya hanya hati yang  membenarkan dan mempercayai saja tidaklah cukup , perlu pengakuan lisan dan bukti amal perbuatan.
Demikian juga pengakuan lisan yang diucapkan saja belum diterima  perlu pembuktian amal dan  kelurusan hati jangan seperti iman kaum munafikin.
Demikian juga tidak bisa disebut iman apabila hanya perbuatannya saja yang islami sedangkan hati atau ucapannya tidak beriman seperti  imannya paman Nabi yang benama Abu Tholib.

2⃣. APAKAH HUBUNGAN AQIDAH DENGAN SYARIAH?

Syariat itu terbagi dua: ittiqodiyah dan amaliyah.

Ittiqodiyah adalah hal-hal yang merupakan aktivitas hati, jiwa atau ruhaniyah. Seperti ittiqad (kepercayaan) terhadap keesaan Allah dalam rububiyah-Nya, kewajiban beribadah kepada Allah, keyakinan terhadap akeagungan dan kekuasaan Allah, serta ittiqad kepada rukun iman yang lain.
Hal ini disebut juga Ashliyah (pokok atau inti agama).

Sedangkan syariah amaliyah segala yang berhubungan dengan tatacara amal, termasuk ucapan , bacaan dan seluruh kegiatan lisanseperti sholat dengan seluruh bacaannya, zakat, puasa, dan ama-amal lainnya.
Bagian kedua ini  disebut juga far’iyah (cabang agama).

Amaliyah dibangun atas ittiqadiyah. Benar dan rusaknya amaliyah begantung pada benar dan rusaknya ittiqodiyah.

Maka aqidah atau keimanan yang benar merupakan fondamen atau landasan  bagi bangunan agama seseorang serta merupakan syarat sahnya amal. Firman Allah Azza wa Jalla,

قُلْ إِنَّمَا أَنَا بَشَرٌ مِّثْلُكُمْ يُوحَىٰ إِلَيَّ أَنَّمَا إِلَٰهُكُمْ إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۖ فَمَن كَانَ يَرْجُو لِقَاءَ رَبِّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلًا صَالِحًا وَلَا يُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa.” Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya.” (AL Kahfi: 110)

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (Az zumar: 65)

Ayat-ayat yang senada dengan dua ayat di atas banyak jumlahnya di dalam Al Qur-an. Menunjukkan bahwa amal apa pun akan ditolak Allah manakala tercemar atau tercampur dengan syirik. Karena itu pendidikan Nabi kepada para sahabat Beliau yang pertama adalah pelurusan aqidah, pemurnian iman, dan pengabdian atau penyembahan kepada Allah saja…

Firman Allah:
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (An Nahal: 36)

Yang dimaksud thogut adalah segala sesuatu yang dijadikan sembahan oleh manusia baik berupa benda, manusia lain, makhluk konsep, sesuatu yang diuanggap berharga, uang jabatan bahkan hawa nafsu manusia itu sendiri.  Allah menghendaki bahwa manusia harus menjauhi tahgut yaitu dengan tidak menyembahnya…  
Allah juga menyatakan bahwa keimanan kepada Allah harus sejalan dengan pengingkaran kepada thagut.

Demikian juga kepemimpinan dan loyalitas kepada Allah berseberangan dengan loyalitas kepada thagut yang diberikan oleh orang-orang kafir.

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya. (Al Baqarah: 256-257)

Syariat adalah jalan hidup yang diridhai Allah meliputi seluruh amal kebaikan  (amal soleh) yang dilakukan manusia baik dalam hubungannya dengan Allah, sesama manusia, makhluk lain maupun alam di sekitarnya.

3⃣. APAKAH HUBUNGAN AQIDAH DENGAN AKHLAK?

Sebagaimana aqidah menjadi fondasi syariah islamiyah maka aqidah pun merupakan landasan dan pilar-pilar utama akhlak Islam. Akhlak yang mulia hanya lahir dari aqidah yang benar. Karena akhlak ini menyangkut perilaku, tatakrama , atau etika setiap muslim maka Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam menyatakan bahwa keimanan harus disempurnakan dengan akhlak mulia.

Perhatikan hadits Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam berikut ini,
“Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya” (Riwayat Bukhari dan Muslim).

Bolehkah Dana Sisa Kegiatan Dipakai Untuk Pribadi?

Ustadz Farid Nu’man Hasan

Misalnya ada sebuah proyek. Nah, dari dana yang dianggarkan ternyata sisa. Lalu, oleh beberapa orang dana tersebut dipakai sendiri alias dipakai diluar kebutuhan. Nah, tetapi di laporan pertanggungjawaban sisa dana tersebut ditulis dengan memakai nota palsu. Nah, itu bagaimana hukum nya ya? Kalau bisa jawaban nya udah ada besok atau lusa ya kak..
#MFT A02

Jawaban
========

Itu namanya Al-Gisy (menipu), dan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

من غشنا فليس منا

“Siapa yg menipu kami maka bukan golongan kami.” (HR. Muslim)

Wallahu A’lam

Ibadah Dibarengi Niat dan Tujuan Duniawi, apakah Syirik?

Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamu’alaikum wr. wb
Ustad Farid Nu’man, kalau puasa Daud dg niat spy sehat apakah termasuk syirik..?
Jazakallah khair
Atas jawaban ustad.

•••••••••••••••••••••••••••••••••

Wa’alaikumussalam wa rahmatullah wa barakatuh.
Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa Ba’d:

Sesungguhnya Islam sangat perhatian kepada amal, terlebih lagi terhadap “pendorong” dibalik sebuah amal. Nilai sebuah amal ditentukan oleh pendorongnya itu, itulah niat.

Hal ini didasarkan pada hadist:

نِيَّةُ الْمُؤْمِنِ خَيْرٌ مِنْ عَمَلِهِ

“Niat seorang mu’min lebih baik dari pada amalnya.” (HR. Ath Thabarani dalam Al-Mu’jam Al-Kabir, 6/185-186, dari Sahl bin Sa’ad As Saidi. Imam Al-Haitsami mengatakan: “Rijal hadits ini mautsuqun (terpercaya), kecuali Hatim bin ‘Ibad bin Dinar Al Jursyi, saya belum melihat ada yang menyebutkan biografinya.” Lihat Majma’ Az Zawaid, 1/61)

⇨ Allah Ta’ala melihat seorang hamba dari niatnya

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ ، وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada penampilan kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat pada hati dan perbuatan kalian.” (HR. Muslim 4/1987, dari Abu Hurairah)

Hujjatul Islam, Al-Imam Al-Ghazali Rahimahullah mengatakan:

وَإِنَّمَا نَظَرَ إِلَى الْقُلُوبِ لأَِنَّهَا مَظِنَّةُ النِّيَّةِ ، وَهَذَا هُوَ سِرُّ اهْتِمَامِ الشَّارِعِ بِالنِّيَّةِ فَأَنَاطَ قَبُول الْعَمَل وَرَدَّهُ وَتَرْتِيبَ الثَّوَابِ وَالْعِقَابِ بِالنِّيَّةِ

“Sesungguhnya Dia melihat kepada hati lantaran hati adalah tempat niat, inilah rahasia perhatian  Allah terhadap niat. Maka, diterima dan ditolaknya amal tergantung niatnya, dan pemberian pahala dan siksa juga karena niat.” (Ihya ‘Ulumuddin, 4/351)

Oleh karena itu, jika seseorang beribadah  targetnya adalah akhirat, maka dia mendapatkannya. Jika targetnya adalah dunia maka dia akan mendapatkannya, tapi dia tidak mendapatkan akhirat.

Allah SWT berfirman:

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ (15) أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ (16)

“Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Huud: 15-16)

Demikianlah, jika amal-amal akhirat dilakukan untuk target duniawi semata-mata, tidak ada tujuan akhirat sama sekali, begitu keras ancamannya. Sebab itu merupakan bentuk kesyirikan.

Disebutkan dalam Shahih Muslim, kisah Mujahidin, Qari, dan seorang dermawan, yang semuanya masuk  neraka, lantaran amal shalih mereka, jihad, membaca Al-Qur’an, dan sedekah bukan mencari ridha Allah SWT tetapi tujuan duniawi semata.

⇨ Lalu .., Bagaimana Dengan Amal Shalih Yang bercampur?

Seseorang beramal akhirat, tujuannya akhirat, tapi ada noda tujuan dunia. Apakah ini tetap berpahala atau justru siksa? Ataukah tidak berpahala dan juga tidak ada siksa? Ataukah masing-masing dapat bagiannya, dia diberikan pahala karena niat akhiratnya dan dia juga berdosa karena noda dunianya.

Hal ini seperti seseorang pergi haji dengan niat berdagang, puasa sunnah sekalian diet, wudhu untuk kesegaran, dan semisalnya.

Sebagian ulama mengatakan bahwa amal ini gugur. Hal ini berdasarkan hadits Abu Umamah Radhiallahu ‘Anhu:

جاء رجل إلى النبي صلى الله عليه و سلم فقال  أرأيت رجلا غزا يلتمس الأجر والذكر ماله فقال رسول الله صلى الله عليه و سلم لا شيء له فأعادها ثلاث مرات يقول له رسول الله صلى الله عليه و سلم لا شيء له ثم قال إن الله لا يقبل من العمل إلا ما كان له خالصا وابتغي به وجهه

Datang seorang laki-laki kepada Nabi SAW dan dia bertanya: “Apa pendapatmu tentang seorang laki-laki yang  berperang dalam rangka mencari balasan harta dunia?” Maka Rasulullah SAW menjawab: “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Orang itu mengulangi sampai tiga kali, semua di jawab oleh Rasulullah SAW : “Dia tidak mendapatkan apa-apa.” Lalu Beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak menerima amal kecuali amal itu ikhlas  berharap wajahNya semata.” (HR. An-Nasa’i No. 3140, hasan shahih)

Inilah pendapat Imam Ibnu Rajab dalam Jaami’ Al-‘Uluum wal Hikam, saya akan kutip bagian yang penting saja:

واعلم أنَّ العمل لغيرِ الله أقسامٌ : فتارةً يكونُ رياءً محضاً ، بحيثُ لا يُرادُ به سوى مراآت المخلوقين لغرضٍ دُنيويٍّ ، كحالِ المنافِقين في صلاتهم ، كما قال الله – عز وجل – : { وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاؤُونَ النَّاسَ وَلا يَذْكُرُونَ اللهَ إلاَّ قَلِيلاً }   .
وقال تعالى : { فَوَيْلٌ لِلْمُصَلِّينَ الَّذِينَ هُمْ عَنْ صَلاتِهِمْ سَاهُونَ الَّذِينَ هُمْ يُرَاؤُونَ } الآية
وكذلك وصف الله تعالى الكفار بالرِّياء في قوله : { وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ خَرَجُوا مِنْ دِيَارِهِمْ بَطَراً وَرِئَاءَ النَّاسِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ الله } ((5)) .
وهذا الرِّياءُ المحضُ لا يكاد يصدُرُ من مُؤمنٍ في فرض الصَّلاةِ والصِّيامِ ، وقد يصدُرُ في الصَّدقةِ الواجبةِ أو الحجِّ ، وغيرهما من الأعمال الظاهرةِ ، أو التي يتعدَّى نفعُها ، فإنَّ الإخلاص فيها عزيزٌ ، وهذا العملُ لا يشكُّ مسلمٌ أنَّه حابِطٌ ، وأنَّ صاحبه يستحقُّ المقتَ مِنَ اللهِ والعُقوبة

Ketahuilah bahwa amal karena selain Allah ada beberapa macam; kadang karena semata-mata riya, yang tidak dimaksudkan pamer kepada makhluk dengan motivasi duniawi, seperti keadaan kaum munafik dalam shalat mereka, sebagaimana firman Allah SWT :

“Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka mengingat Allah kecuali hanya sedikit.” (QS. An-Nisa: 142)

Ayat yang lain:

“Celakah bagi orang yang shalat, yaitu orang yang lalai dari shalatnya, yaitu mereka yang shalatnya ingin dilihat manusia.” (QS. Al-Ma’un: 4-5)

Begitu juga Allah SWT mensifatkan orang-orang kafir dengan riya, dalam firman-Nya:

“Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Anfal: 47)

Inilah riya yang murni, hampir-hampir seorang mukmin tidak akan muncul perasaan itu dalam shalat dan puasanya. Tapi bisa jadi muncul pada amal sedekah, haji, atau lainnya, yang merupakan amal zhahir atau kelihatan hasilnya. Ikhlas dalam amal-amal ini merupakan sesuatu yang amat berharga dan mulia. Tidak ragu lagi, bahwa amal seperti ini bisa menggugurkan pahala, bahkan itu layak dibenci Allah dan mendapatkan hukuman. (Jaami’ Al-‘Uluum wal Hikam, 3/30)

Sementara itu, ulama lain mengatakan bahwa amal shalih yang bercampur dorongan duniawi tetap di terima oleh Allah SWT walau tidak sesempurna yang ikhlas secara total.

Alasannya adalah:

فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ (7) وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ (8)

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (QS. Al-Zalzalah: 7-8)        

Ayat lain:

    إِنَّ اللَّهَ لَا يَظْلِمُ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ وَإِنْ تَكُ حَسَنَةً يُضَاعِفْهَا وَيُؤْتِ مِنْ لَدُنْهُ أَجْرًا عَظِيمًا
             
“Sesungguhnya Allah tidak menganiaya seseorang walaupun sebesar zarrah, dan jika ada kebajikan sebesar zarrah, niscaya Allah akan melipat gandakannya dan memberikan dari sisi-Nya pahala yang besar.” (QS. An-Nisa: 40)

Inilah yang diikuti oleh Imam Al-Ghazali Rahimahullah, Beliau mengatakan:

أما الذي لم يرد به إلا الرياء فهو عليه قطعاً وهو سبب المقت والعقاب وأما الخالص لوجه الله تعالى فهو سبب الثواب وإنما النظر في المشوب وظاهر الأخبار تدل على أنه لا ثواب له   وليس تخلو الأخبار عن تعارض فيه والذي ينقدح لما فيه والعلم عند الله أن ينظر إلى قدر قوة الباعث فإن كان الباعث الديني مساوياً للباعث النفسي تقاوماً وتساقطاً وصار العمل لا له ولا عليه وإن كان باعث الرياء أغلب وأقوى فهو ليس بنافع وهو مع ذلك مضر ومفض للعقاب
نعم العقاب الذي فيه أخف من عقاب العمل الذي تجرد للرياء ولم يمتزج به شائبة التقرب
وإن كان قصد التقرب أغلب بالإضافة إلى الباعث الآخر فله ثواب بقدر ما فضل من قوة الباعث الديني

Orang yang beramal semata karena riya, sudah pasti amalnya itu menyebabkan kebencian dan siksa dari Allah SWT. Sedangkan yang melakukan karena ikhlas, maka amal itu menjadi sebab datangnya pahala dari Allah.

Yang perlu dikaji lagi adalah amalan yang niatnya bercampur. Menurut zhahir hadits ada yang menyebut bahwa amal itu tidak ada pahalanya. Namun, hadist lain menunjukkan sebaliknya. Yang bisa dikatakan dalam masalah ini -dan ilmunya pada sisi Allah SWT- bisa dilihat dari sisi kekuatan motivasinya amal. Jika  motivasi keagamaan sejajar dengan motivasi pribadi, baik ukuran dan timbangan, maka amal itu tidak mendatangkan pahala dan dosa.

Jika pendorong riya lebih dominan dan kuat, maka amal itu tidak bermanfaat, dan bahkan bisa mendatangkan siksa. Namun, siksa ini lebih ringan daripada siksa amal yang semata karena riya, dan tidak dicampuri motivasi untuk taqarrub kepada Allah SWT.

Jika tujuan taqarrub lebih dominan dari pada motivasi lainnya, maka dia mendapatkan pahala sesuai kekuatan motivasi agama. (Ihya ‘Ulumuddin, 4/384)

Apa yang disampaikan oleh Imam Al-Ghazali sangat bagus dan memuaskan, baik secara dalil naqli dan akal. Semoga rahmat Allah SWT atasnya dan kita semua.

Demikian. Wallahu A’lam