Pionir Aplikasi Teknologi Syuhada Kedirgantaraan Khilafah

Pemateri: *Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP*

Pernah ke Damaskus dan Ziarah ke Pusara Sultan Shalahuddin al-Ayyubi? Pernah Melihat Tiga Kuburan Bersimbol Turki Utsmani di Dekatnya?

Begini ceritanya.. ketiga jenazah yang dikuburkan di dalam kompleks pusara sultan Shalahuddin al-Ayyubi itu bukan sembarangan tentunya. Mereka adalah Letnan Laut (Bahriye Yuzbaşısı) Fethi Bey, Letnan Satu Artileri (Topçu Mülazım-ı Ula) Sadık Bey, dan Letnan Dua Artileri (Topçu Mulazım-ı Saniye) Nuri Bey.

💡 *Lesson #1* jadilah syahid, insyaaAllah dekat dengan  para syuhada.

Mereka bertiga adalah pionir angkatan udara Turki Utsmani yang ditugaskan untuk terbang dari İstanbul ke perbatasan Mesir untuk mengintai persiapan Sekutu menjelang meletusnya Perang Dunia Pertama.

💡 *Lesson #2* Kaum Muslimin harus menguasai setiap matra kemiliteran.

Namun takdir menentukan lain, pada etape ke-10 dari misi panjangnya tersebut terjadi kesalahan teknis yang menyebabkan kedua pesawat yang mereka tumpangi jatuh. Pesawat pertama, Blériot XI, yang dipiloti oleh Fethi Bey dan navigator Sadık Bey jatuh tidak jauh dari Danau Tiberias, 27 Februari 1914.

💡 *Lesson #3* perhitungkan risiko dan siapkan perbekalan, namun serahkan dirimu kepada Allah dengan sepenuh hati.

Pesawat kedua, Deperdussin B, yang dipiloti İsmail Hakki Bey dan navigator Nuri Bey yang meneruskan penerbangan pengintaian jatuh karena sebab teknis di laut Mediterranean tak jauh dari pantai kota Jaffa, 11 Maret 1914. Hanya Nuri Bey yang wafat dalam kecelakaan ini.

💡 *Lesson #4* syahidnya rekan seperjuangan tidak boleh menyurutkan, justru mengobarkan, semangat juang.

Turki Utsmani mengumumkan perang pada bulan November 1914 kepada pihak Sekutu setelah banyak keputusan politik dunia dan pertimbangan regional. Para syuhada dirgantara telah memberikan teladan sebelum pecah perang dunia tersebut.

Setelah dishalatkan di Masjid Umayyah di Damaskus, mereka bertiga dimakamkan di tempat terhormat tersebut sebagai bentuk penghargaan tinggi kepada ketiga pionir penerbangan dalam sejarah Dunia Islam.

💡 *Lesson #5* monumen maupun prasasti kepahlawanan adalah untuk menyemangati mereka yang masih hidup dan berjuang; adapun para syuhada sudah mendapatkan tempat yang layak disisiNya.

Mereka diantar dengan kawalan militer dan penghormatan tinggi dari penduduk yang memadati lokasi pekuburan. Mereka berdua adalah syuhada pertama dari angkatan udara, sebuah cabang angkatan perang yang masih baru dalam teknologi dunia.

Tugu peringatannya juga dibangun di distrik Fatih di kota İstanbul pada 2 April 1914 dan baru selesai pada tahun 1916. Tugu tersebut dikenal sebagai Monumen Syuhada Penerbangan (Aviation Martyr’s Monument) yang awalnya disebut “Tayyare Şehitleri Abidesi” lalu diubah pada menjadi “Hava Şehitleri Anıtı.”

💡 *Lesson #6* bumi Syam adalah tanah yang bersimbah darah para syuhada; tidak ada tempat untuk pemimpin syi’ah Nusairiyah di sana.

❔ Jika terobosan teknologi dan aplikasinya dalam berbagai bidang ilmu terapan merupakan sesuatu yang Islami maka Turki Utsmani sudah memulainya. Apakah kita juga?

Makna Tanda Kiamat “Budak Wanita Melahirkan Tuannya”

By: Ustadz Slamet Setiawan

Tanya:

Ustadz, saya pernah dengar salah satu tanda kiamat adalah budak melahirkan tuannya, maksudnya gimana?

Jawab:

Salah satu tanda kiamat pernah disampaikan Rasulullah saw kepada Malaikat Jibril yang datang dalam wujud laki-laki tampan.

أَنْ تَلِدَ الأَمَةُ رَبَّتَهَا

“Jika budak wanita telah melahirkan tuannya”(HR. Muslim)

Demikian sabda Rasulullah saw menjawab pertanyaan apa tanda-tanda kiamat. Ada tanda lain yang disebutkan setelah kalimat ini, namun fokus kita kali ini pada kalimat ini. Apa makna “budak wanita melahirkan tuannya”?

Imam Nawawi menjelaskan bahwa maksud budak wanita melahirkan tuannya adalah jika seorang laki-laki memiliki budak wanita, lalu berhubungan dengannya dan budak itu melahirkan anak. Anak tersebut kemudian berstatus sebagai tuannya. Pendapat Imam Nawawi ini mewakili pendapat mayoritas ulama.

Makna kedua, orang kaya menjual budak yang telah melahirkan anak darinya. Selang bertahun-tahun setelahnya, sang anak yang telah tumbuh dewasa membeli budak tersebut. Hingga jadilah wanita yang sebenarnya adalah ibunya itu menjadi budaknya.

Makna ketiga, sebagian ulama menjelaskan bahwa “budak wanita melahirkan tuannya” adalah kalimat kiasan. Maknanya, ketika orang-orang sudah tak lagi berbakti kepada ibunya. Tidak menghormati ibunya. Tidak memuliakan ibunya. Yang terjadi justru sebaliknya, anak menyuruh-nyuruh ibunya. Anak memperlakukan ibunya seperti pembantu, seperti budak. Diperintah dan disuruh-suruh. Diperintah melakukan pekerjaan domestik kerumahtanggaan, disuruh mengerjakan pekerjaan dapur dan sumur; disuruh mencuci, menyetrika, membersihkan rumah, memasak, dan sejumlah aktifitas yang tak pantas diberikan kepada sang ibu.

Syaikh Musthafa Dieb Al Bugha dan Syaikh Muhyidin Mistu dalam Al Wafi menjelaskan makna ini, “Banyak anak yang durhaka pada orangtuanya, mereka memperlakukan orangtuanya seperti perlakuan tuan terhadap budaknya.”

Makna pertama dan kedua, dulu pernah terjadi meskipun intensitasnya tidak bisa dipastikan apakah hanya beberapa kasus atau sering terjadi. Namun makna ketiga ini, sungguh saat ini telah terjadi dalam intensitas besar. Tidak sedikit terjadi ibu diperlakukan seperti pembantu oleh anaknya sendiri. Sebagiannya mungkin terjadi di masyarakat kita. Sebagiannya muncul ke permukaan melalui berita, sebagiannya lagi tidak diberitakan media tetapi dijumpai di masyarakat dan menjadi perbincangan. Sebagian lagi, mungkin ada ibu-ibu yang hanya meneteskan air mata menahan derita saat dirinya diperlakukan seperti pembantu oleh anaknya sendiri. Padahal sejatinya, ibu adalah orang yang paling berhak atas anak-anaknya. Bukan hanya berhak dimuliakan, dihormati dan ditaati, bahkan kebaikannya tak bisa ditebus meski seluruh dunia dipersembahkan anak kepadanya. Wallahu a’lam.

Nabi Nuh AS (Part 2)

By: Ustadzah Ida Faridah

Assalamu’alaikum adik-adik….
Apa kabarnya hari ini? Semoga kita semua masih dalam lindungan Allah SWT, kali ini kita bahas tentang Nabi Nuh as. Lagi

*Jarak Antara Nuh Dengan Adam as*

Nabi Nuh lahir setelah 126 tahun kematian Adam as seperti yang disebutkan oleh Ibnu Jarir dan lainnya. Menurut ahlul kitab ( Yahudi dan Nasrani ) jarak antara kelahiran Nuh dan wafatnya Adam adalah 146 tahun. Namun Ibnu Hibban menshahihkan sebuah riwayat dari Abu Umama ra sebagai mana di sebutkan oleh Ibnu Hajar dalam Fahrul Bari bahwa ada seorang laki-laki berkata :” berapakah jarak waktu antara Adam dan Nuh ?” Rasulullah SAW bersabda :” sepuluh abad.” Ibnu Katsir berkata :” Riwayat ini sesuai syarat Muslim namun beliau tidak meriwayatkannya.”

Dalam shahih Bukhari dari Ibnu Abbas ra beliau berkata : antara Adam dan Nuh itu sepuluh qarn ( kurun), semuanya beragama islam.

Ibnu Katsir dalam Qashah Anbiya berkata : ” jika yang dimaksud dengan kurun adalah 100 tahun sebagaimana pemahaman umum kebanyakan manusia, berarti antara keduanya adalah 1000 tahun. Tetapi tidak menutup kemungkinan lebih dari 1000 tahun, karena Ibnu Abbas mengatakan bahwa semuanya dalam keadaan islam sehingga mungkin saja ada beberapa abad terakhir (sebelum Nuh ) manusia tidak dalam keadaan beragama Islam. Sedangkan bila yang dimaksud dengan kurun adalah satu generasi seperti firman Allah SWT:

“Dan berapa banyaknya generasi sesudah Nuh telah kami binasakan”. ( QS. Al Isra: 17)

“Kemudian kami jadikan sesudah mereka generasi yang lain”. (QS. Al Mu’minum:31)

“Dan ( kami binasakan ) kaum ‘Aad dan Tsamud dan penduduk Rass  dan banyak (lagi) generasi-generasi diantara kaum-kaum tersebut”. ( QS. Al Furqan: 38 )

“Dan beberapa generasi yang telah kami binasakan sebelum mereka itu lebih besar kekuatannya dari pada mereka ini”. ( QS. Qaf: 36 )

Atau seperti hadits Rasulullah SAW
خيرالقررن قرنى
“Sebaik-baik generasi adalah generasiku…”

Jika yang dimaksud kurun adalah generasi seperti ayat-ayat dan hadits diatas, maka umur setiap generasi pada masa itu panjang sehingga jarak diantara Adam dan Nuh adalah ribuan tahun.”

Allah SWT mengutus Nuh as sebagai nabi dan rasul kepada kaumnya yang disebut Banu Rasib tatkala mereka telah menyembah berhala-berhala dan thagut dan tenggelam dalam kesesatan serta kekufuran. Diutusnya beliau adalah rahmat dari Allah SWT kepada hamba-hamba-Nya.

Para ulama berbeda pendapat tentang berapa usia Nuh saat diutus oleh Allah SWT, salah satu pendapat menyebutkan usia beliau saat itu 50 tahun, pendapat lain menyebutkan 350 tahun, adapula yang mengatakan 400 tahun.

Shaff Shalat Wanita

 Ustadzah Novria Flaherti

Assalamualaikum,,kak mau tanya shaf salat berjamaah bagi prempuan utama di depan atau belkang?
Terimakasih,,

MFT A08
==========
Jawaban

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Keterangan mengenai posisi shaf baik bagi laki-laki atau perempuan tertuang dalam banyak hadits Rasulullah saw. dan salah satunya adalah berikut ini :

حَدَّثَنَا زُهَيْرُ بْنُ حَرْبٍ حَدَّثَنَا جَرِيرٌ عَنْ سُهَيْلٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرُ صُفُوفِ الرِّجَالِ أَوَّلُهَا وَشَرُّهَا آخِرُهَا وَخَيْرُ صُفُوفِ النِّسَاءِ آخِرُهَا وَشَرُّهَا أَوَّلُهَا رواه مسلم
“Dari Abu Hurairah ra: Rasulullah saw bersabda : sebaik-baik shaf laki-laki adalah awalnya (baris terdepan) dan sejelek-jeleknya adalah yang paling belakang (baris terakhir). Sebaik-baik shaf perempuan adalah yang terakhir (baris paling belakang) dan sejelek-jeleknya adalah yang pertama (paling depan).” (HR. Muslim)

Al-Imam Nawawi rahimahullahu berkata: “Adapun shaf-shaf pria maka secara umum selama-lamanya yang terbaik adalah shaf awal dan selama-lamanya yang paling jelek adalah shaf akhir. Berbeda halnya dengan shaf wanita. Yang dimaukan dalam hadits ini adalah shaf wanita yang shalat bersama kaum pria. Adapun bila mereka (kaum wanita) shalat terpisah dari jama’ah pria, tidak bersama dengan pria, maka shaf mereka sama dengan pria, yang terbaik shaf yang awal sementara yang paling jelek adalah shaf yang paling akhir. Yang dimaksud shaf yang jelek bagi pria dan wanita adalah yang paling sedikit pahalanya dan keutamaannya, dan paling jauh dari tuntunan syar’i. Sedangkan maksud shaf yang terbaik adalah sebaliknya. Shaf yang paling akhir bagi wanita yang hadir shalat berjama’ah bersama pria memiliki keutamaan karena wanita yang berdiri dalam shaf tersebut akan jauh dari bercampur baur dengan pria dan melihat mereka. Di samping jauhnya mereka dari interaksi dengan kaum pria ketika melihat gerakan mereka, mendengar ucapannya, dan semisalnya. Shaf yang awal dianggap jelek bagi wanita karena alasan yang sebaliknya dari apa yang telah disebutkan.” (Syarah Shahih Muslim, 4/159-160)

Al-Imam Ash-Shan’ani rahimahullahu menyatakan: “Dalam hadits ini ada petunjuk bolehnya wanita berbaris dalam shaf-shaf dan dzahir hadits ini menunjukkan sama saja baik shalat mereka itu bersama kaum pria atau bersama wanita lainnya. Alasan baiknya shaf akhir bagi wanita karena dalam keadaan demikian mereka jauh dari kaum pria, dari melihat dan mendengar ucapan mereka. Namun alasan ini tidaklah terwujud kecuali bila mereka shalat bersama pria. Adapun bila mereka shalat dengan diimami seorang wanita maka shaf mereka sama dengan shaf pria, yang paling utama adalah shaf yang awal.” (Subulus Salam, 2/49)

Dari penjelasan di atas, dapat kita pahami sebagai berikut:

1. Bila wanita itu shalat berjama’ah dengan kaum pria, maka shaf yang terbaik baginya adalah yang paling akhir.

2. Bila ia shalat dengan diimami wanita lain (berjama’ah dengan sesama kaum wanita) atau bersama jama’ah namun ada pemisah antara keduanya, maka shaf yang terbaik baginya adalah yang paling awal sama dengan shaf yang terbaik bagi pria, karena tidak ada kekhawatiran terjadinya fitnah antara wanita dan pria.

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda:

لَوْ يَعْلَمُوْنَ مَا فِي الصَّفِّ الْمُقَدَّمِ لاَسْتَهَمُوْا

“Seandainya mereka mengetahui keutamaan (pahala) yang diperoleh dalam shaf yang pertama, niscaya mereka akan mengundi untuk mendapatkannya.” (Shahih, HR. Al-Bukhari no. 721 dan Muslim no. 437)

Dibunuh Penguasa Zalim adalah Syahid, mereka bukan Bughat apalagi Khawarij

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Mengapa mereka disebut syahid? Ada beberapa hujjah. Di antaranya;

1⃣ *Hadits Pertama.*    terdapat hadits yang shahih, tentang jihad paling agung dan paling afdhal adalah sebagai berikut:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ

   “Dari Abu Said al Khudri, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Jihad yang paling utama adalah mengutarakan perkataan yang ‘adil di depan penguasa  atau pemimpin yang zhalim.” (HR. Abu Daud No. 4344.  At Tirmidzi No. 2174, katanya: hadits ini hasan gharib. Ibnu Majah No. 4011, Ahmad No.  18830, dalam riwayat Ahmad tertulis Kalimatul haq (perkataan yang benar) )

  Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan shahih. (Tahqiq Musnad Ahmad No. 18830),  juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. (As Silsilah Ash Shahihah No. 491)

   Nah, disebut apa orang yang mempersembahkan jiwanya, dibunuh oleh pemimpin yang zhalim karena perjuangannya menegakkan syariat Allah Ta’ala? Menurut hadits di atas Itulah afdhalul jihad sebab ia dibunuh oleh penguasa tiran pada masanya.  

2⃣  *Hadits Kedua.* Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  bersabda:

سيد الشهداء حمزة بن عبد المطلب ، ورجل قال إلى إمام جائر فأمره ونهاه فقتله

“Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan orang yang melawan penguasa kejam, ia melarang dan memerintah, namun akhirnya ia mati terbunuh.” (HR.  Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 4079, Al Hakim, Al  Mustdarak ‘Ala ash Shaihain, No. 4884,  katanya shahih, tetapi Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya.  Al Bazzar No. 1285. Syaikh Al Albany  mengatakan shahih dalam kitabnya, As Silsilah Ash Shahihah No. 374 )

  🔑Dari hadits ini dapat kita ketahui. Pemimpin para syuhada ada dua orang.

 *Pertama,* Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  menyebut langsung secara definit yaitu pamannya sendiri, Hamzah bin Abdul Muthalib Radhiallahu ‘Anhu.

*Kedua,* Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hanya memberikan kriterianya, yaitu mereka yang dibunuh oleh penguasa yang zalim ketika beramar ma’ruf dan nahi munkar kepada mereka.

  Orang-orang yang menyeru kebaikan secara damai kepada penguasa zalim, agar mereka kembali kepada Allah Ta’ala, tidak tunduk kepada musuh, justru penguasa zalim ini takut   kekuasaannya terancam, lalu  dia membunuh orang-orang yang mengajak itu. Menurut hadits ini, orang yang terbunuh itu syahid, bahkan penghulu para syuhada, karena dia melakukan amar ma’ruf nahi munkar kepada penguasa yang zalim. Wallahu a’lam.

3⃣  *Hadits Ketiga.* Dari Sa’id bin Zaid, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ، وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

“Barangsiapa yang terbunuh karena membela hartanya, maka ia syahid. Terbunuh karena membela keluarga, maka ia syahid. Barangsiapa terbunuh membela agamanya, ia syahid. Barangsiapa yang terbunuh karena membela darahnya, maka ia syahid.” (HR. Ahmad No. 1652, Abu Daud No 4772, Ath Thayalisi No. 233. Berkata Syaikh Syuaib Al Arnauth: sanadnya kuat. Ta’liq Musnad Ahmad, 3/190)

4⃣  *Hadits Keempat.* Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu:

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا تَعُدُّونَ الشَّهِيدَ فِيكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ قَالَ إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ قَالُوا فَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ
 
  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:”Apa menurut kalian tentang orang yang mati syahid?” Mereka menjawab: “Wahai Rasulullah, asy Syahid adalah buat mereka yang dibunuh fisabilillah.” Rasulullah bersabda: “Jika demikian saja, maka syuhada umatku sedikit.” Mereka bertanya: “Lalu, siapa mereka Ya Rasulullah?” Rasulullah menjawab: “Barangsiapa dibunuh dijalan Allah itulah Syahid, dan barangsiapa mati fisabilillah itulah syahid, yang mati karena tha’un (sejenis penyakit lepra) maka dia syahid, dan siapa yang mati karena sakit perut dia syahid.” (HR. Muslim No. 1915)

  Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyatakan syahid orang ‘sekadar’ membela diri dan keluarga, lalu bagaimana dengan membela agama dan kehormatan syariat Allah? Bukankah itu syahid?

📌 *Urusan Hati Serahkan kepada Allah Ta’ala*

  Terhadap para pejuang, hendaknya kita berbaik sangka. Jangan sampai lahir sikap-sikap sinis mempertanyakan niat mereka.    Para ulama tidak menilai hati mereka, sebab urusan niat kita serahkan kepada Allah Ta’ala. Mereka hanya menilai secara zhahir apa yang dilakukan oleh para pejuang tersebut. Kita tidak dibebani untuk membedah hati masing-masing pejuang, justru kita dianjurkan untuk berbaik sangka kepada sesama muslim, apalagi kepada para pejuang Islam.

  Tidak pantas menanyakan, “Jangan-jangan mereka hanya mencari pamor saja,” atau “mereka ingin mencari kekuasaan,”  atau , “ada ambisi pribadi dibalik perjuangan mereka,” dan semisalnya.

  Imam Badruddin Al ‘Aini mengatakan:

إحسان الظن بالله عز وجل وبالمسلمين واجب

  Berbaik sangka kepada Allah ‘Azza wa Jalla dan kaum muslimin adalah wajib. (‘Umdatul Qari, 29/325)

📌 *Sikap Para Ulama*

Para ulama banyak yang tidak mempermasalahkan   pemberian gelar Asy Syahid untuk orang yang wafat karena berjuang di jalan Allah Ta’ala. Itu bukan hanya diberikan kepada Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Abdullah ‘Azzam, Marwan Hadid, dan lainnya, tetapi jauh sebelum mereka  sudah ada yang disebut dengan Asy Syahid pada namanya. Demikian yang diriwayatkan oleh Imam Adz Dzahabi dalam Siyar A’lam An Nubala.

📌 *Imam Adz Dzahabi Rahimahullah*

Sebagai contoh nama yang diberi gelar “Asy Syahid” oleh Imam Adz Dzahabi  dalam kitab Siyar-nya adalah:

–  As Sayyid Asy Syahid As Sabiq Al Badri Al Qursyi (Juz. 1, Hal. 145)

–  As Sayyid Asy Syahid Al kabir Abu Hudzaifah (Juz. 1, Hal. 164)

–  Abu Ya’ala Al Qursyi Al Hasyimi Al Makki Asy Syahid (Juz. 1, Hal. 172)

–  Al Amir As Sa’id Asy Syahid Abu Amru Al Anshari (Juz. 1, Hal. 230)

–  As Sayyid Asy Syahid Al Mujahid At Taqi Abu Abdirrahman Al Qursyi Al ‘Adawi (Juz. 1, Hal. 298)

–  As Sa’id Asy Syahid ‘Ukasyah bin Muhshin (Juz. 1 Hal. 307)

–  Al Husein Asy Syahid (Juz. 2, Hal. 202)

–  Asy Syahid ‘Ubaidah bin Al Harits Al Muthallibi (Juz. 2, hal. 218)

–  Al Malik Al Kamil Asy Syahid Nashiruddin  Muhammad bin Al Malik Al Muzhaffar (Juz. 23 Hal. 201)

–  Al Khalifah Asy Syahid Abu Ahmad Abdullah bin Al Mustanshir billah (Juz. 23, Hal. 174)

–  Dan masih banyak puluhan nama yang oleh Imam Adz Dzahabi disebut dengan gelar Asy Syahid.

📌 *Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Muhammad Alu Asy Syaikh Hafizhahullah*

   Beliau adalah mufti Kerajaan Saudi Arabia, pengganti Syaikh Ibnu Baaz. Beliau berkata tentang wafatnya Syaikh Ahmad Yasin Rahimahullah:

  “Sesungguhnya kami menerima kabar pembunuhan Asy Syaikh Asy Syahid Ahmad Yasin ini dengan perasaan duka. Semoga Allah mengampuni beliau, merahmatinya, dan meninggikan derajatnya di surga dan memberikan pengganti beliau dalam rangka melawan kekuatan zalim yang keji semoga Allah membalas berbuatan mereka.”  (http://www.said.net/Doat/Zugait/313.htm)

  Kita lihat gelar syahid langsung disebutkan oleh mufti kerajaan Saudi Arabia ini. Bukan hanya beliau, ada 65 ulama yang memberikan ucapan belasungkawa terhadapnya, di antaranya ada Syaikh Shalih Al Luhaidan Hafizhahullah, anggota Hai’ah Kibar al Ulama (Lembaga Ulama Senior) di Arab Saudi. Beliau mengkritik keras orang-orang yang mencela HAMAS dan Syaikh Ahmad Yasin.

  Beliau berkata:

الرجل أشتهر عنه الخير .. والثبات ..
وإغاضة اليهود .. ومن ورائهم من حماتهم ..المدافعين عنهم ..ثم الرجل قُتِل قتلةً ،، بشعةً ،، شنيعة ..  نسأل الله أن يجعله بعدها في أعلى عليين ..
تَنَقُصُهم ، هو ومن يقاتل اليهود ، .. لايدل على خير من المُنَتَقِص .. وإنما إما يدل على إما جهل بالحقائق ..أو عن هوى ..والمسلم ينبغي

أن يتجنب هذا وهذا ..

  “Laki-laki ini (Syaikh Ahmad yasin) terkenal dengan kebaikannya, keteguhannya dan perlawanannya yang sengit terhadap Yahudi. Dan, di belakang beliau ada orang-orang yang siap melindungi dan membelanya (maksudnya HAMAS). Kemudian Syaikh Ahmad Yasin dibunuh secara keji dan tak berperikemnusiaan. Kita memohon kepada Allah memasukkannya di surgaNya yang tinggi. Orang-orang yang menjelek-jelekkan mereka –padahal beliau orang yang memerangi Yahudi- tidak menunjukkan kebaikan orang yang menjelek-jelekkannya, melainkan menunjukkan kebodohannya terhadap fakta yang ada atau hanya menunjukkan hawa nafsunya.  Seorang muslim hendaknya menjauhi hal ini dan itu …   (http://www.islamgold.com/view.php?gid=7&rid=130)

Masih banyak fatwa ulama lain yang tidak mempermasalahkan sebutan “Asy Syahid” seperti fatwa Syaikh Abdullah Al Faqih, Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin, dan lainnya.

Wallahu A’lam

Menjual Barang Baku Halal lalu Diproduksi u/ Barang Haram

Ustadzah Nurdiana

Assalumualaikum,saya mau tanya,apa hukumnya menjual barang baku halal,kemudian diproduksi utk membuat barang haram,misalnya,si A menjual gula merah,lalu gula merah tersebut di gunakan untuk bahan membuat arak,apkah si penjual gula merah tsbt berdosa,syukron ats jawabannya ustadz. # A01

Jawaban
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Pertama, saat kita berjual beli setelah transaksi. Dan di bayar maka kepemilikan gula merah berpindah dan si penjual tdk lagi bertanggung jawab dgn gula tersebut.krn gula merah itu kini sdh jd milik pembeli.dan penggunaannya juga terserah pembeli. Hukum jual beli nya sah dan boleh

Akan tetapi kalau si penjual tahu bahwa si pembeli memesan gula merah untuk di buat arak. Maka ini tidak diperbolehkan. Allah berfirman dalam surat Almaidah ayat 2:
” …..saling tolong menolonglah kamu dalam kebaikan dan jangan tolong menolong dalam keburukan. “

Setiap pengusaha muslim memiliki kewajiban untuk senantiasa bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla, dengan menjalankan syari’at nasehat-menasehati sesama muslim. Dengan demikian ia tidaklah memproduksi atau memasarkan kecuali barang-barang yang mendatangkan kemanfaatan dan kebaikan bagi umat Islam. Sebagaimana sudah sepantasnya bila seorang pengusaha muslim menjauhi setiap jbarang yang mendatangkan kejelekan dan kerusakan pada mereka. Ketahuilah bahwa rizki dan usaha yang halal terlalu banyak jumlahnya bila dibandingkan dengan yang haram.Allah.berfirman:

 وَمَنْ يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَلْ لَهُ مَخْرَجًا . وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ . الطلاق 2-3

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.”
(Qs. At Thalaq: 2-3)

Perlu diketahui bahwa kewajiban nasehat-menasehati ini merupakan bukti akan keimanan kita. Allah Ta’ala berfirman:

وَالْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ يَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ

“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar.” (Qs. At Taubah: 71)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

الدِّينُ النَّصِيحَةُ. قيل لِمَنْ يا رسول الله؟ قَالَ: لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ. مسلم

“Agama itu adalah nasehat.” Dikatakan kepada beliau: “Nasehat untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Nasehat untuk Allah, Rasul-Nya, para pemimpin dan seluruh lapisan masyarakat Islam.” (Riwayat Muslim)                      

Wallahu’ala bisshawab

Sifat-Sifat Allah Ta’ala

By: Ustadzah Kingkin Annida

1. Rabbul ‘Alamin.

لَئِنْ بَسَطْتَ إِلَيَّ يَدَكَ لِتَقْتُلَنِي مَا أَنَا بِبَاسِطٍ يَدِيَ إِلَيْكَ لِأَقْتُلَكَ ۖ إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ رَبَّ الْعَالَمِينَ

“Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Sesungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam.” (QS. Al-Maidah: 28)

وَمَا تَشَاءُونَ إِلَّا أَنْ يَشَاءَ اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu) kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan semesta alam.” (QS. At-Takwir: 29)

2. Penguasa Hari Kiamat.

مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ

“Yang menguasai di Hari Pembalasan.” (QS. Al-Fatihah: 4)

3. Pemilik karunia yang Agung.

مَا يَوَدُّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَلَا الْمُشْرِكِينَ أَنْ يُنَزَّلَ عَلَيْكُمْ مِنْ خَيْرٍ مِنْ رَبِّكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَخْتَصُّ بِرَحْمَتِهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِ

“Orang-orang kafir dari Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tiada menginginkan diturunkannya sesuatu kebaikan kepadamu dari Tuhanmu. Dan Allah menentukan siapa yang dikehendaki-Nya (untuk diberi) rahmat-Nya (kenabian); dan Allah mempunyai karunia yang besar.” (QS. Al-Baqarah: 105)

4. Maha Dahsyat Hukumannya.

سَلْ بَنِي إِسْرَائِيلَ كَمْ آتَيْنَاهُمْ مِنْ آيَةٍ بَيِّنَةٍ ۗ وَمَنْ يُبَدِّلْ نِعْمَةَ اللَّهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَتْهُ فَإِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Tanyakanlah kepada Bani Israil: “Berapa banyaknya tanda-tanda (kebenaran) yang nyata, yang telah Kami berikan kepada mereka”. Dan barangsiapa yang menukar nikmat Allah setelah datang nikmat itu kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 211)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُحِلُّوا شَعَائِرَ اللَّهِ وَلَا الشَّهْرَ الْحَرَامَ وَلَا الْهَدْيَ وَلَا الْقَلَائِدَ وَلَا آمِّينَ الْبَيْتَ الْحَرَامَ يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنْ رَبِّهِمْ وَرِضْوَانًا ۚ وَإِذَا حَلَلْتُمْ فَاصْطَادُوا ۚ وَلَا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ أَنْ صَدُّوكُمْ عَنِ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ أَنْ تَعْتَدُوا ۘ وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَىٰ ۖ وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۖ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram, jangan (mengganggu) binatang-binatang had-ya, dan binatang-binatang qalaa-id, dan jangan (pula) mengganggu orang-orang yang mengunjungi Baitullah sedang mereka mencari kurnia dan keridhaan dari Tuhannya dan apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka bolehlah berburu. Dan janganlah sekali-kali kebencian(mu) kepada sesuatu kaum karena mereka menghalang-halangi kamu dari Masjidilharam, mendorongmu berbuat aniaya (kepada mereka). Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Maidah: 2)

5. Pencipta Langit dan bumi.

بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۖ وَإِذَا قَضَىٰ أَمْرًا فَإِنَّمَا يَقُولُ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ

“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.” (QS. Al-Baqarah: 117)

6. Maha Dahsyat azab-Nya.

وَمِنَ النَّاسِ مَنْ يَتَّخِذُ مِنْ دُونِ اللَّهِ أَنْدَادًا يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللَّهِ ۖ وَالَّذِينَ آمَنُوا أَشَدُّ حُبًّا لِلَّهِ ۗ وَلَوْ يَرَى الَّذِينَ ظَلَمُوا إِذْ يَرَوْنَ الْعَذَابَ أَنَّ الْقُوَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا وَأَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعَذَابِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (niscaya mereka menyesal).” (QS. Al-Baqarah: 165)

7. Maha cepat perhitungan-Nya.

أُولَٰئِكَ لَهُمْ نَصِيبٌ مِمَّا كَسَبُوا ۚ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 202)

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Ali Imran: 19)

8. Pemilik pembalasan.

مِنْ قَبْلُ هُدًى لِلنَّاسِ وَأَنْزَلَ الْفُرْقَانَ ۗ إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِآيَاتِ اللَّهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيدٌ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

“Sebelum (Al Quran), menjadi petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al Furqaan. Sesungguhnya orang-orang yang kafir terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh siksa yang berat; dan Allah Maha Perkasa lagi mempunyai balasan (siksa).” (QS. Ali Imran: 4)

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” (QS. Al-Maidah: 95)

9. Raja Diraja.

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imran: 26)

10. Sebaik baik pengatur tipu daya.

وَمَكَرُوا وَمَكَرَ اللَّهُ ۖ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ

“Orang-orang kafir itu membuat tipu daya, dan Allah membalas tipu daya mereka itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (QS. Ali Imran: 54)

11. Sebaik baik Penolong.

 بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ ۖ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ

“Tetapi (ikutilah Allah), Allahlah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong.” (QS. Ali Imran: 150)

Yang Dilarang Saat Haid

By: Ustadzah Novria Flaherti
Mau tanya, misalnya kalau kita lagi halangan emang ga boleh berdo’a? Ada teman saya bilang pas kita lagi do’a bersama dia lagi berhalangan, kita d suruh baca Al-Fatihah baru dia nanya sama saya boleh kah aku baca Al-Fatihah, trus saya bilang boleh lah, trus dia bilang bukannya ga boleh ya segala hal yang beribadah kecuali shalawatan baru boleh. Gmna tanggapannya ukh? Terimakasih.

Jawaban
========

◈ Yang tidak dibolehkan bagi wanita haid.

1. Shalat dan Puasa.

Dari Mu’adzah ia bertanya kepada ‘Aisyah, “Mengapa perempuan yang haid hanya mengqadha’ puasa dan tidak mengqadha’ shalat?” Maka ‘Aisyah menjawab, “Yang demikian itu terjadi pada kami (ketika) bersama Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, yaitu agar kami mengganti puasa dan tidak diperintahkan mengqadha’ shalat.”

Imam An-Nawawi berkata, “Umat muslim bersepakat bahwa wanita yang haid dan nifas tidak wajib mengerjakan shalat.”

2. Berjima’.

Allah –subhaanahu wa ta’ala– berfirman, yang artinya:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haid. Katakanlah, ‘Haid itu adalah suatu kotoran.’ Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita pada waktu haid dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci…….” (QS. Al-Baqarah: 222)

Dalam menafsirkan kata “mahidz” yang pertama, maka ulama bersepakat bahwa itu artinya darah haid. Akan tetapi mereka berbeda pendapat ketika menafsirkan kata “mahidz”, ada yang mengartikan darah haid, masanya, tempat keluarnya (farj).

Rasulullah SAW bersabda, “Lakukan apa saja kecuali nikah (yakni bersenggama).”

Maka, diharamkan bagi seorang suami melakukan jima’ dengan isterinya yang sedang mengalami haid. Begitu juga diharamkan bagi seorang isteri memberikan kesempatan kepada suaminya untuk melakukan hal tersebut.

Imam An-Nawawi –rahimahullah ta’ala– mengatakan, “Apabila seorang muslim berkeyakinan akan halalnya menyetubuhi wanita yang sedang haid pada kemaluannya, maka ia dihukumi kafir murtad. Sedangkan apabila ia tidak meyakini akan kehalalannya, entah disebabkan lupa dan tidak mengetahui adanya haid atau dirinya tidak mengetahui akan haramnya perbuatan tersebut atau karena dipaksa, maka ia tidak berdosa dan tidak ada kafarat baginya. Namun, apabila ia menyetubuhi isterinya dengan sengaja dan ia mengetahui bahwa isterinya sedang mengalami haid dan ia pula mengetahui haramnya perbuatan tersebut serta tanpa adanya suatu paksaan, maka ia telah berbuat maksiat dan dosa besar, maka wajib baginya bertaubat.”

Untuk menyalurkan syahwatnya, suami diperbolehkan melakukan selain jima’ (senggama), seperti: berciuman, berpelukan dan bersebadan pada selain daerah farj (vagina). Namun, sebaiknya, jangan bersebadan pada daerah antara pusat dan lutut kecuali jika sang isteri mengenakan kain penutup. Berdasarkan hadits yang diriwayatkan ‘Aisyah –radhiallahu ‘anha-, “Pernah Nabi –shallallaahu ‘alahi wa sallam-berkain, lalu beliau menggauliku sedang aku dalam keadaan haid.”

3. Thawaf

Sebagaimana penuturan ‘Aisyah -radhiallahu ‘anha-, “Aku datang ke Makkah dalam keadaan haid. Dan aku belum sempat thawaf di Ka’bah dan sa’i antara Shafa dan Marwah. Maka aku adukan hal itu kepada Rasulullah –shallallaahu ‘alahi wa sallam-, beliau bersabda, “Perbuatlah sebagaimana yang dilakukan seorang yang berhaji, kecuali thawaf di sekeliling Ka’bah sampai engkau suci (dari haid).”

Ketika Istri Sudah Tidak Hormat Kepada Suami

Ustadzah Ummu Zaheedah

Assalamu’alaikum wa rahmatullahi wa barakatuh.
Ini dari saudara saya (lelaki). Beliau sudah menikah dan memiliki dua orang putra. Saat ini, pernikahannya sedang berantakan. Masalah bermula dari setahun yang lalu karena beliau sudah tidak bisa menahan kesabaran lagi atas perilaku istrinya yang sudah melanggar syariat Islam. Beliau bertindak dengan cara memberikan ketegasan agar sang istri patuh kepada sang suami. Istri ini pembangkang terhadap suami bahkan, orang tua. Suka sekali memaki suami jikalau suami membawa ilmu dari majelis. Belum lagi terkena kasus perselingkuhan dengan teman sekantornya. Namun, suami bungkam. Dengan alasan masih istrinya dan beliau harus menutup aibnya.

Beliau sudah berniat baik dengan mendatangi istri dan meminta maaf kepada sang istri, merendah, mengalah demi rumah tangganya agar kembali membaik. Namun, istri sama sekali sudah tidak mau bersama lagi dengan menuntut cerai. Jadi, mereka berdua sudah berpisah rumah selama setahun terakhir.

Mohon sarannya, Ukhti, Ustadz/ah. Apa yang harus dilakukan saudara (lelaki) saya? Beliau sudah berkali-kali mengajak baikan namun, istri tetap menuntut cerai. Apalagi, didukung sang istri suka keluar tanpa izin. Bukankah ini bisa menimbulkan fitnah dan semakin banyak dosa yang harus ditanggung saudara saya sebagai suaminya?

Namun perlu saya garis bawahi, kalau pun takdir Allah menghendaki harus bercerai, beliau sudah mengikhlaskan melepas istri yang beliau cintai.

Sekali lagi, saya mohon sarannya dan terima kasih. Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan rahmat-Nya pada kita semua.   🅰4⃣3⃣

Jawaban
——————-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Bismillah..
Sebelumnya , kami kut berempati dengan kondisi yang sedang dialami saudara ukhti. Semoga ujian ini menjadi penggugur segala dosa dan dari semua yang terjadi bisa diambil hikmah serta pelajaran berharga.

Dalam pernikahan, tentunya memang diperlukan rasa tanggung jawab suami dan istri. Tanggung jawab untuk untuk menjalankan peran masing-masing serta saling menjaga dalam kebaikan-sebagai usaha membangun keluarga yang sakinah mawaddah dan penuh Rahmah.
Menyadari setiap pasangan memiliki kelebihan juga  kekurangan , maka harus disikapi dengan bijak dan penuh kesadaran bahwa memang tidak ada manusia yang sempurna.

Ketika biduk rumah tangga mengalami goncangan, langkah awal yang harus diambil adalah sama-sama bermuhasabah, mengoreksi apa saja yang menjadi penyebabnya. Dan inipun  memerlukan lapang dada serta kejujuran masing-masing untuk saling mengakui jika memang salah , namun di sisi lain tidak ada sikap saling menghakimi atau merasa menang.

Suami,  sebagai imam , pemimpin istri dan keluarga memilik tangung jawab menjaga dan menasehati istri jika memang ia melakukan kesalahan. Suami berhak mendapat hak ketaatan ini atas istrinya. Tentu ketaatan  dalam hal-hal yang makruf.
 Makruf sendiri berarti setiap perkara yang boleh menurut syara dan tidak menimbulkan mudharat atau merugikan orang lain.

Dari aisyah ra, ia berkata :
Aku pernah bertanya kepada nabi SAW ,” siapakah orang yang paling besar haknya atas istri?” Beliau menjawab ” suaminya” ( hr. Hakim )

Karena itu istri sebagai amanah untuk suami harus bisa mentaati dan menghargai  serta  menerima dengan lapang dada apa2 yang dinasehati suami ketika  memang itu semua  sesuai dengan syariat agama.
Seorang istri pun hendaknya berusaha terus  menjadi istri  shalehah dan taat serta memiliki sopan santun agama, komitmen dengan pakaian syari, menjaga adab pergaulan saat di luar rumah tanpa suami.
Suami berhak melarang istri pergi ke semua tempat yang menjerumuskan kepada perbuatan munkar dan nista.

” Sebab itu wanita yang shaleh , ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka) ..”
( QS. Annisa :34 )

Kedua belah pihak harus sama-sama berkomitmen untuk menjaga hak dan kewajiban ini semua.

Ketika ada  pembangkangan dan hilang rasa hormat atau penghargaan di salah satu pihak, maka bisa dipastikan rumah tangga akan bergolak.

Dalam kasus saudara ukhti, yang tergambar adalah kondisi sang istri yang sudah tidak bisa lagi diberi nasehat, bahkan kemudian cenderung  memilih penyelesaian bercerai dari suami.
Walau memang perceraian bukan sesuatu yang diharamkan, tapi ia adalah satu hal yang sangat Allah benci.

” Tidak ada perkara halal yang lebih dibenci Allah SWT daripada talak “
( HR. Abu Dawud)

Syetan-syetan pun memiliki satu kebanggan tersendiri ketika mereka berhasil memisahkan suami dan istri  dari ikatan pernikahan, ketimbang keberhasilan mereka menjerumuskan anak manusia berbuat dosa lainnya

Maka, mencegah perceraian terjadi adalah hal pertama yang harus diupayakan sekuat tenaga  dengan berusaha menemukan solusi terbaik. Saling mengingatkan ketika mengawali pernikahan, tentang cinta yang ada antara mereka juga saling berpikir untuk kebaikan dan masa depan anak-anak.
Saling berkomunikasi dengan intens antar pasangan untuk terus mencari penyelesaian. Hindari ego masing-masing serta berpikirlah jauh tentang masa depan ,terutama masa depan anak-anak .

Jika memang antar pasangan pada akhirnya sudah tidak bisa melakukan ishlah sendiri untuk menyelesaikan masalahnya,  Islam mengatur bagaimana pasangan suami istri melakukan langkah lanjutan menemukan solusi.

Untuk kasus istri yang keras kepala dan hati, suami boleh melakukan tindakan untuk memberikan sanksi atau “shock therapy” kepada istri.
Dengan nasehat, teguran keras atau lainnya

Ada beberapa hal yang bisa diambil untuk menangani perselisihan seputar hal subtansial  yang sulit untuk memberikan toleransi di dalamnya spt kasus diatas.

1. Dengan mengambil pihak ketiga sebagai penengah atau mediator . Dalam hal ini baiknya mediator diambil dari masing2 keluarga besar, yang bisa bersikap adil dan obyektif untuk bisa memberikan masukan atau nasehat. Mediator yang diambil dari keluarga,  akan lebih memudahkan untuk menjaga ‘ aib ” atau permasalahan tidak sampai  ke khalayak ramai atau menjadi bahan gunjingan .

2. Bersedia melepaskan beberapa hak

” Dan jika seorang perempuan khawatir akan nusyuz atau sikap tidak acuh dari suami nya, maka tidak mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya, dan perdamaian itu lebih baik bagi mereka “
( QS. Annisa : 128 )

Ayat ini menjelaskan tentang kemungkinan diadakannya perjanjian rekonsiliasi atau kesepakatan antara suami istri yang bisa mempertahankan ikatan perkawainan dan mewujudkan kemaslahatan bagi kedua belah pihak. Tapi hal ini tentunya hanya bisa dilakukan dengan sejumlah syarat khusus, yaitu salah satu atau keduanya sama-sama bersedia saling melepaskan beberapa haknya.

3. Mengabaikan dan mendiamkan dalam jangka waktu lama. Seperti apa yang Rasulullah pernah lakukan terhadap istri-istri beliau seputar masalah nafkah

4. Tahkim
Ketika perselisihan yang ada sudah begitu tajam dan kuay dan semua cara diatas tidak mampu juga untuk menanganinya,maka suami atau istri atau walinya bisa mengambil cara tahkim.  Seperti tersebut dalam QS. Annisa : 36

Catatan ; bahwa hakim atau penengah harus orang yang adil,kredibel , memiliki integritas , memiliki kemampuan menganalisis dan menilai secara baik serta memiliki pemahaman tentang fiqh

5. Penanganan dan pendekatan dengan cara pendisiplinan ( pemukulan )

” perempuan -perempuan yang kamu khawatirka nusyuznya ,maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka,dan pukullah mereka….”
( QS. Annisa : 34 )

Tentu penerapan dengan pukulan ini harus diletakkan dalam koridor yang tepat dan jelas. Misal untuk kasus-kasus dengan pelanggaran yang tingkat dosanya cukup besar berupa perkataan atau perbuatan buruk yang sangat menyakiti suami,misal perselingkuhan.
Pukalan pun bukan berupa pukulan keras,namun pukulan lembut dan ringan, menghindari bagian wajah.

Asy syaukani mengatakan :
” seorang suami tidak boleh memisahkan istri di tempat tidur dan tidak boleh pula memukulnya kecuali jika memang sang istri melakukan tindakan keji yang nyata. Adapun jika penyebab dan alasannya selain itu, maka tidak boleh.”
( kitab Nail Al Authar juz 7 )

Jika kondisi perselisihan  sudah masuk pada tingkat yang paling berat setelah cara2 diatas tdk bisa juga  mengatasi masalah , maka pilihan talak atau perceraian  menjadi solusi yang paling terakhir.
Pengambilan pilihan ini, jika mendapati indikasi :
1. Adanya kebencian yang luar biasa atau ekstrem dan sikap antipati dari salah satunpihak sehingga tidak tahan lagi jika tetap bersama.
Sebagaimana diungkapkan oleh istri Tsabit  bin Qais dalam perkataannya ,” saya tidak tahan ,” dan perkataan nya yang lain,” saya takut kufur.”  Lalu Rasulullah berkata kepadanya ” Apakah kamu bersedia mengembalikan kebun Tsabit bin Qais?” Dia berkata,” Ya..”
Lalu dia pun mengembalikan lagi kebun tersebut kepada Tsabit bon Qais,lalu Tasbit bin Qais pun menceraikannya “
( HR. Bukhari )

2. Salah satu pihak menemukan cacat moral yang terlalu  dalam pada diri pasangannya. Diriwayatkan dari Abdullah bin Abbas ra,bahwasanya ada seorang laki-laki berkata ” Ya Rasulullah,saya memiliki wanita yang tidak menolak tangan orang yang  menyentuh.”
Lalu Rasulullah saw berkata kepadanya ,” ceraikan dia ” ( HR. Nasa’i )

3. Salah satu pihak melakukan perselingkuhan seperti yang terdapat dalam hukum li’an. Ketika perselisihan antara suami istri mencapai tingkatan ini,maka perpisahan , talak atau khuluk tidak bisa dihindari.

Jika pilihan terakhir ini pun harus diambil , maka perhitungkanlah dengan  sangat matang. Berhitunh tentang manfaat dan mudharat yang akan dihadapi ke depan. Untuk keluarga , terutama anak-anak.

Semoga Allah mudahkan saudara untuk menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi dan bisa mengambil setiap keputusan dengan baik yang pastinya harus selalu diiringi dengan niat bahwa semua yang akan kita jalani adalah semata dalam rangka menjaga ketaatan kepada Allah.

Wallahu’alam bisshawab.

Yakin Nih .. Netral-Netral Aja?

Pemateri: Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.

Banyak kita jumpai muslim yang sok bijak dengan mengambil sikap katanya “netral” .., tanpa sadar mencari muka dihadapan manusia tapi buang muka dari ridha Allah Ta’ala …

Penistaan terhadap Islam  melalui film FITNA (2007), karikatur menggambarkan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam di Denmark (2006), di Perancis (Charli Hebdo-2015), termasuk penistaan Al Quran oleh Ahok, atau kasus-kasus lang lainnya .. semuanya disikapi netral, baik karena khawatir dibilang fanatik, khawatir SARA, dan “gak enak ama tetangga sebelah” … dan alasan-alasan yang dibangun oleh persepsi dan ilusi, bukan iman dan argumentasi ..

📌 Ketahuilah, netral dalam situasi seperti ini adalah syetan bisu namanya ..

Abu Ali Ad Daqaq Rahimahullah mengatakan:

ُ مَنْ سَكَتَ عَن ِالْحَقِّ فَهُوَ شَيْطَانٌ أَخْرَسُ

Siapa yang diam saja tidak mengambil sikap bersama Al Haq, maka dia adalah syetan bisu. (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 2/20)

📌 Ketahuilah, Abu Thalib wafat tetap dalam keadaan kafir lantaran tidak enakan terhadap kaumnya, dia pun memilih netral ..

📌 Ketahuilah, pertarungan Al Haq dan Al Bathil itu abadi selamanya, emang mau seumur hidup jadi Muslim abu-abu ..?
📌 Ketahuilah, di akhirat nanti tidak ada  netral, adanya golongan kanan dan golongan kiri .. perjelas posisimu!

📌 Ketahuilah, di akhirat nanti hanya ada golongan manusia, ahlisurga dan ahli neraka, bahkan ashhabul a’raf pun akhirnya masuk surga .. perjelas sikapmu! Rencanakan tempatmu!

📌 Ketahuilah, netral itu bukan kemajuan sikap, tapi jumud, kaku, statis, dan jalan di tempat, .. lihat tuh motor, kalo netral .. gak bisa jalan kan?

📌Ketahuilah, hidup di dunia hanya sekali dan mati juga sekali, maka matilah dalam keadaan muslim yang dibanggakan orang-orang beriman dan Rabbmu, matilah di atas jalan yang pernah dititi para pejuang mu’min dan pendahulu yang shalih ..

Perhatikan firman Rabbmu ..

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَىٰ وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّىٰ وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ ۖ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali. (Qs. An Nisa: 115)

Wallahu A’lam