Niat dan Pahala

By: Ustadz Slamet Setiawan

Assalamu’alaikum ka, aku mau nanya. Kalau misalkan kita shalat jama’ah tapi kita baca niat nya shalat munfarid , itu berarti shalat nya termasuk jama’ah atau munfarid ka? Mohon jawaban nya ka, Syukron#MFT A08

Jawaban
========

⇨ Ibnul Mubarak pernah mengatakan,

رب عمل صغير تعظمه النية، ورب عمل كبير تصغره النية

“Betapa banyak amalan yang kecil menjadi besar (pahalanya) karena sebab niat. Dan betapa banyak amalan yang besar menjadi kecil (pahalanya) karena sebab niat.” (Al-Ikhlas wan Niyyah).

◈ Apakah Niat Itu?

Secara bahasa niat artinya القصدُ (keinginan atau tujuan), sedangkan makna secara istilah niat adalah keinginan seseorang untuk melakukan suatu perbuatan. Niat letaknya ada di dalam hati dan tidak dilafalkan.

◈ Fungsi Niat

Fungsi niat dalam amalan seorang hamba adalah,

1. Membedakan antara ibadah dengan rutinitas (membedakan tujuan suatu perbuatan).

Misalnya, seseorang membasahi seluruh badannya dengan niat untuk menyegarkan badan, kemudian ada seorang yang lain membasahi seluruh badannya dengan niat mandi junub. Maka, mandinya orang yang kedua bernilai ibadah sedangkan mandinya orang yang pertama hanya bernilai rutinitas.

2. Membedakan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain.

Misalnya, seseorang melakukan shalat dua raka’at dengan niat untuk melakukan shalat sunnah, kemudian seorang yang lain melakukan shalat dua raka’at dengan niat untuk melakukan shalat wajib. Maka amal kedua orang tersebut terbedakan karena sebab niatnya.

◈ Dengan demikian, fungsi niat adalah membedakan antara ibadah dengan rutinitas dan membedakan antara ibadah yang satu dengan yang lainnya. Makna niat yang pertama yaitu membedakan tujuan suatu perbuatan, yang membedakan apakah suatu ibadah semata-mata ikhlas karena Allah atau karena yang lainnya.

◈ Pahala Sesuai dengan Kadar Niatnya…

⇨ Allah Ta’ala berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاء وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

⇨ Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amal perbuatan tergantung pada niat, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan yang ia niatkan. Barangsiapa yang berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka ia akan mendapat pahala hijrah menuju Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin diperolehnya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka ia mendapatkan hal sesuai dengan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari dan Muslim).

⇨ Adik-adik yang semoga dirahmati Allah, hadits di atas menjelaskan kepada kita bahwa sesungguhnya kita akan mendapatkan pahala sesuai dengan kadar niat yang ada dalam hati kita. Wallahu a’lam.

Mengantar Mayit ke Pusara

By: Ustadzah Ummu Zaheedah

Assalamu’alaikum ustadz/ah..
Sy pernah baca, tdk boleh menangis di depan mayit/di kuburan.

Kl emg benar, bagaimana baiknya apabila ada kerabat dekat yg wafat (ortu/saudara)?
Kalau dtg mengantar untuk dikuburkan atau ziarah pasti menangis. Sebaiknya tdk perlu datang, atau tdk apa2 datang ke pemakaman walau pasti akan menangis? Terima kasih. #A38

Jawaban
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
Bismillah..
Menangis ketika ada kerabat dekat yang wafat adalah tindakan yang wajar dan diperbolehkan.
Yang tidak diperkenankan adalah menangis dengan diiringi jeritan atau ratapan.

“Sesungguhnya Allah tidak menyiksa ( mayat) karena linangan air mata dan kesedihan hati,tetapi menyiksa karena ini ( beliau mengisyaratkan lisannya ) atau jika Dia tidak menyiksa, berati Dia mengasihinya “
( HR. Bukhari Muslim )

Rasulullah SAW juga menangis ketika putra beliau , Ibrahim meninggal dunia.
Beliau bersabda:
” Sungguh mata mengalirkan air mata dan hati menjadi bersedih. Kami tidak mengucapkan selain ucapan yang diridhai Tuhan kami. Sungguh kami amat bersedih atas kepergiannya ,wahai Ibrahim .”
( HR.Mutafaqun ‘alaih )

Menangis adalah ekspresi wajar seorang manusia. Maka ia diperbolehkan , bahkan ketika mendapati musibah seperti halnya kematian kerabat terdekat. Namun, tidak diperbolehkan jika tangisan tersebut berlebihan seperti sudah dijelaskan di awal tadi.

Sedang untuk mengantar ke kuburan ataupun ziarah adalah sunnah bagi laki-laki dan menurut mayoritas ulama diperbolehkan pula untuk perempuan. Walau ada yang menyebutkan makruh dengan alasan karakter perempuan yang mudah histeris atau berlebihan dalam berkesedihan yang biasanya diiringi dengan ratapan atau jeritan , juga terkait masalah adab lainnya spt menutup aurat dan sejenisnya.

Padahal, tujuan ziarah kubur adalah untuk mengingat akhirat dan mengambil pelajaran.

Jadi, boleh saja mengantar ke kuburan atau ziarah kubur, dengan tetap memperhatikan etika atau adab yang sudah di contohkan Rasulullah. Salah satunya dengan tidak menangis berlebihan dengan menjerit2 atau meratapi jenazah.

Wallahu’alam

Larangan Berangan-Angan Mengharapkan Kematian

Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag

A. HADITS

 عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَتَمَنَّى أَحَدُكُمْ الْمَوْتَ إِمَّا مُحْسِنًا فَلَعَلَّهُ يَزْدَادُ وَإِمَّا مُسِيئًا فَلَعَلَّهُ يَسْتَعْتِبُ (رواه البخاري)

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah Saw bersabda: “Janganlah kalian berangan-angan mengharapkan datangnya kematian. Karena, kalaulah dia orang baik, siapa tahu ia bisa menambah kebaikannya. Dan kalaulah dia adalah orang jahat, siapa tahu ia bisa meminta penangguhan (untuk bertaubat).” (HR. Bukhari)

B. HIKMAH HADITS:

1. Bahwa dalam menjalani roda kehidupan di dunia ini, tak jarang ada jurang terjal menghadang, ada aral besar yang melintang, atau bahkan samudra luas yang membentang, menghadang setiap langkah dalam menempuh perjalanan.

Dan tak jarang, tajamnya aral yang melintang, ditambah dengan gelapnya sisi lain kehidupan dunia yang diwarnai dengan saling fitnah dan saling hantam, dihiasi juga dengan keburukan dan kemunafikan, membuat sebagian orang berputus asa dalam menjalani bentangan samudra kehidupan.

Karena ia beranggapan, lebih baik “pulang” sekarang menuju kematian, dari pada harus menunggu hari esok yang entah fitnah apalagi yang akan menghadang, ataupun karena beratnya beban kehidupan, di tengah hedonisme nya zaman, atau juga karena beratnya permasalahan, yang terasa demikian mencengkram.

2. Namun ternyata hadits di atas melarang siapapun untuk berharap dan meng-angankan kematian, terhenti dari segala aktivitas duniawi dan aktivitas pekerjaan.

Karena betapapun, setiap detik kehidupan adalah anugrah ilahi, yang tentunya akan sangat berarti.

Bisa jadi, dengan masih langgengnya nafas dalam badan, akan menambah kebaikan bagi setiap orang yang mendambakan keridhaan Ar-Rahman.

Atau dengan masih langgengnya kehidupan, akan semakin memberi kesempatan bagi orang yang berbuat maksiat, untuk melakukan tauabatan nashuhan.

3. Maka Islam mengajarkan optimisme dalam menapaki jalan menuju hari depan, dan melarang pesimisme dalam mengarungi setiap cobaan dan ujian.

Karena sekali lagi, setiap detik nafas yang dihembuskan, adalah samudra potensi kebaikan.

Allah Swt berfirman,
“..dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir”. (QS. Yusuf : 87).

Wallahu A’lam

Khadijah Binti Khuwailid R.a. (Part 2)

Oleh: Ustadzah Yani

إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا.

“Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (QS. Al-Ahzab : 33)

2⃣ Keluarga Bahagia Nan Barakah.

Bunda khadijah, r.a. walau beliau usia nya lebih tua dari Rasulullah SAW, dari keluarga kaya dan terhormat, tidak menghalangi mereka dlam mengarungi bahtera rumah tangga. Selain itu, sebagai istri beliau tetap memposisikan diri nya sebagaimana layaknya seorang istri.

Sementara, Rasulullah SAW tetap pada kemuliaan budi pekertinya, kemuliaan akhlaknya. Tidak berubah pada perilaku tercela hanya karena bergelimang harta. Hal ini memberikan pelajaran berharga, bahwa hubungan dan perilaku suami istri tidak ditentukan oleh latar belakang kedua belah pihak. Akan tetapi ditentukan oleh kedudukan yang Allah SWT tetapkan.

الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَىٰ بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ ۚ فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ ۚ وَاللَّاتِي تَخَافُونَ نُشُوزَهُنَّ فَعِظُوهُنَّ وَاهْجُرُوهُنَّ فِي الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوهُنَّ ۖ فَإِنْ أَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوا عَلَيْهِنَّ سَبِيلًا ۗ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيرًا.

“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. An-Nisa : 34)

3⃣ Buah Pernikahan Harmonis.

Dari pernikahan Rasulullah SAW dengan bunda Khadijah r.a., Allah SWT memberikan karunia 4 orang putri dab 3 putra, ke 4 putrinya yaitu :

1. Zainab
2. Ruqayyah
3. Ummu Kultsum
4. Fatimah

Sedangkan ke 3 putranya yaitu :
1. Al-Qasim, karenanya Kuniah beliau adalah Abul-Qasim.
2. Abdullah, yang dijuluki Ath-Thayib.
3. Ath-Thahir

Rasulullah SAW mendapatkan putri-putri nya yaitu hasil pernikahannya dengan bunda Khadijah r.a.  Sedangkan, Putra-putra nya selain dari bunda Khadijah,  Rasulullah SAW mendapatkannya dari pernikahannya dengan Maria Al-Qibthiyah yang bernama Ibrahim. Selebihnya, Rasulullah SAW tidak mendapatkan keturunan dari istri-istri beliau yang lain.

Namun, Allah SWT berkehendak dalam takdir Rasulullah SAW dengan penuh hikmah, seluruh putra Rasulullah SAW wafat ketika usia anak-anak. Sedangkan, semua putri-putri beliau hidup hingga dewasa dan sempat menikah.

Adapun Zainab, Ruqayyah dan Ummu Kultsum meninggal semasa Rasulullah SAW masih hidup. Hanya Fatimahlah yg masih hidup setelah wafatnya Rasulullah SAW, dan hanya beberapa bulan saja kemudian Fatimahpun wafat menyusul ayahandanya.

Bersambung…

=====================
⇨ Maraji’ :
Isteri & Puteri Rasulullah SAW (Mengenal & Mencintai Ahlul Bait)
⇨ Divisi Terjemah Kantor Dakwah Sulay KSA (Penyusun : Ust. Abdullah Haidir, Lc)

Belajar di Sekolah Non Muslim

Ustadz Slamet Setiawan

Assalamu’alaikum
Kak mau tanya, kalau kita dapat beasiswa sekolah dari suatu yayasan yang donaturnya itu mayoritas orang-orang nasrani itu gimana hukumnya ?
Terimakasih kak.

Jawaban
========

Wa’alaikumsalam wr, wb..

Menuntut ilmu adalah kewajiban seorang muslim tanpa terkecuali, mulai dari buaian hingga ke liang lahat.

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam memilih tempat belajar atau menuntut ilmu.

⇨ Pertama, memilih tempat belajar yang dapat menjaga iman kita. Karena setiap lembaga pendidikan pasti punya visi dan misi untuk membentuk karakkter peserta didiknya. Sekolah muslim punya misi membentuk pribadi yang shaleh dst. Sedangkan sekolah non muslim juga sama misinya, membentuk karakter yang sesuai dengan keyakinan mereka.

⇨ Kedua, pilih lembaga pendidikan yang mampu menambah wawasan keislaman kita. Lembaga yang mempunyai program-program keislaman sehingga jati diri kita sebagai muslim akan terpelihara.

⇨ Ketiga, jika kita memutuskan bersekolah di sekolah umun, maka pastikan sekolah tersebut welcome terhadap kegiatan keislaman, sehingga kita sebagai seorang muslim tetap punya ruang mengembangkan diri.

⇨ Terakhir, ada kaidah fiqih, “meninggalkan sesuatu yang lebih besar berpotensi membahayakan lebih baik daripada mengambil manfaatnya.”

Wallahu a’lam.

Umat Islam Itu Satu Tubuh

Pemateri: *Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.*

Nahnu Islam Qabla Kulli Syai’  (Kita adalah Islam Sebelum apa pun juga). Ini bukan ayat, bukan pula hadits, namun memiliki nilai kebenaran. Kita semua seharusnya merenung sejenak, bahwa sebelum kita menjadi NU, Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Salafi, dan lainnya, kita adalah seorang muslim. Kita adalah fitrah (Islam) sebelum menjadi ini dan itu.

Allah Ta’ala berfirman:

📌“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah aku ini Tuhanmu?” mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), Kami menjadi saksi”. (kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: “Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)” (QS. Al A’raf (7): 172)

🔑Oleh karena itu, kecintaan dan kebanggaan diri sebagai muslim harus lebih diutamakan dibanding kebanggaan sebagai anggota ini dan itu.

Allah Ta’ala berfirman:

📌“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri (muslim)?” (QS. Al Fuzhilat (41): 33)

Dari sini kita paham bahwa Allah Ta’ala yang telah mengikat kita dengan Islam,  bukan ormas-ormas.

Allah Ta’ala berfirman:

📌“Dan Yang mempersatukan hati mereka (orang-orang yang beriman). Walaupun kamu membelanjakan semua (kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, akan tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sesungguhnya Dia Maha Gagah lagi Maha Bijaksana.” (QS. Al Anfal 98): 63)

Dalam ayat lain:

📌“Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu  dan Aku adalah Tuhanmu, maka sembahlah Aku.” (QS. Al Anbiya (21): 92)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إن المؤمن للمؤمن كالبنيان، يشد بعضه بعض . وشبك أصابعه.

  📌        “Sesungguhnya seorang mu’min bagi mu’min lainnya adalah seperti bangunan saling menguatkan satu sama lainnya.” Maka nabi menggenggamkan jari-jemarinya. (HR. Bukhari [476, 2314], At Tirmidzi [1993], Ibnu Abi Syaibah [112])

  🔑               Maka, ukhuwah Islamiyah (persaudaraan karena Islam) jangan dikorbankan dan dikalahkan oleh ukhuwah jam’iyah (persaudaraan karena organisasi). Ikatan hati dan aqidah ini sangat mahal harganya dan sangat sayang nilainya, jika hanya dikorbankan karena rebutan pengaruh dan eksistensi diri dan kelompok semata.

                Ayat-ayat dan hadits ini adalah makanan sehari-hari para tokoh Islam dan aktifis dakwah. Mereka pun diberbagai forum senantiasa menyerukan persaudaraan dan keutuhan. Tetapi, jangan sampai ini semua hanya slogan dan  bacaan formalitas tanpa aksi nyata. Apakah ayat dan hadits ini adalah kalimat-kalimat kosong tanpa makna?

📌Disebutkan dalam sebuah syair:

ولست أدرى سوى الإسلام لي وطنا      الشام فيها و وادي النيل سيان
وكلمـــا ذكر أسم الله فى بلــد       عددت أرجاءه من لب أوطـاني

                Aku Tidak Mengenal Tanah Air selain Islam
                Bagiku sama saja, Syam atau lembah Nil
                Tiap kali disebut nama Allah di sebuah negeri
                Maka, kuingat setiap penjuru dari negeriku

Wallahu A’lam

Hukum Wanita Safar

Ustadz Wido Supraha

Assalamu’alaikum ustadz/ah…
Saya sudah baca beberapa fiqih tentang hukum wanita safar demi menuntut ilmu,mayoritas melarang. Lalu, apakah masih ada fiqih (dalil) yg memperbolehkan wanita safar ke luar negeri utk menuntut ilmu? Misal muslimah Indonesia S2/S3 di eropa?
Jazaakumullah #A19

Jawabab
———

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Untuk perjalanan safar yang jauh, maka diwajibkan bersama mahram, termasuk dalam menuntut Ilmu.
Maka hendaknya ia dapat dititipkan orang tuanya kepada lokasi yang aman dan memiliki mahram di tempat tujuan.

Wallahu a’lam.

Siswa/i Yang Menjaga Diri

Ustadzah Heni

Assalamu’alaikum
Afwan kak malam-malam pc. Mau bertanya, yang biasa atau bisa disebut sebagai siswa atau siswi yang menjaga diri itu seperti apa? Terimakasih
#MFT A02

Jawaban
========

Wa’alaikumssalam..

⇨ Sebelumnya dijelaskan terlebih dahulu tentang menjaga diri.

⇨ Menjaga diri adalah kemampuan diri untuk mengendalikan perilaku supaya tidak melampaui batas dan tidak melanggar ajaran Islam. Ada beberapa bentuk atau wujud dari siswa dan siswi yang bisa menjaga diri.

⇨ Menjaga diri dalam pergaulan. Berteman dengan laki-laki perlu ada batas supaya kehormatan masing-masing bisa terjaga. Misalnya, jika ngobrol dengan kawan lelaki sebaiknya tidak sendiri dan di tempat yang terbuka atau umum.

⇨ Perhatikan waktu untuk kongkow bersama teman-teman. Terutama bagi perempuan baiknya tidak sampai larut malam berada di luar rumah.

⇨ Bisa memilah dan memilih teman supaya tidak terjerumus ke hal hal negatif, seperti ; narkoba, seks bebas, hobi nonton pornografi. Karena teman memiliki pengaruh yang cukup besar, apalagi jika sedang tertimpa masalah. Teman yang baik akan selalu mengingat kan kepada Allah Ta’ala.

Benarkah Mubahalah Tidak Boleh Untuk Sesama Muslim?

Pemateri: *Ustadz Farid Nu’man Hasan.S.S.*

Mubahalah, kata Imam Ibnu ‘Abidin adalah Al Mula’anah Al Masyru’ah (saling melaknat yg dibolehkan dalam syariat). (Hasyiyah Ibnu Abidin, 2/541)

Wacana mubahalah kembali mencuat ketika salah satu kontributor Jaringan Islam Liberal, Ade Armando, terangan-terangan mengajak mubahalah kepada siapa saja yang tidak setuju dengan kepemimpinan non muslim. Akhirnya sangat banyak yang menyambut tantangan ini dan memintanya berjumpa langsung. Tp sayangnya yang bersangkutan tidak berani berjumpa langsung untuk bermubahalah, tapi hanya mau di medsos saja, .. Ini menunjukkan kebodohannya terhadap syariat mubahalah.

Namun ada sebagian orang yang memandang tidak boleh mubahalah dengan sesama muslim, sebab yang Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam contohkan adalah bermubahalah dengan Nasrani Bani Najran, sehingga menurut  mereka mubahalah hanya boleh kepada non muslim.

📌 *Benarkah seperti itu ??*

Berikut ini kami tampilkan fatwa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah wal Ifta (Komisi Tetap Riset Ilmiah dan Fatwa) di Arab Saudi.

Berikut ini fatwanya:

المباهلة التي حصلت بين الرسول صلى الله عليه وسلم والنصارى في عهده ، والتي وردت في قوله تعالى: { فَمَنْ حَاجَّكَ فِيهِ مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ فَقُلْ تَعَالَوْا نَدْعُ أَبْنَاءَنَا وَأَبْنَاءَكُمْ }  إلى آخر الآية الكريمة ، هل هي خاصة بالنبي صلى الله عليه وسلم ، وإن لم تكن كذلك فهل هي خاصة مع النصارى ؟

الحمد لله والصلاة والسلام على رسوله وآله وصحبه ، وبعد:
ج: ليست المباهلة خاصة بالرسول صلى الله عليه وسلم مع النصارى ، بل حكمها عام له ولأمته مع النصارى وغيرهم ، لأن الأصل في التشريع العموم ، وإن كان الذي وقع منها في زمنه صلى الله عليه وسلم في طلبه المباهلة من نصارى نجران ، فهذه جزئية تطبيقية لمعنى الآية لا تدل على حصر الحكم فيها .
وبالله وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم .
اللجنة الدائمة للبحوث العلمية والإفتاء

📌 *Pertanyaan:*

Mubahalah yang terjadi antara Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan Nasrani di  zamannya, yang telah di firmankan dalam ayatNya:

Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), maka katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya laknat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta. (QS. Ali ‘Imran: 61)

Apakah ini khusus buat nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  saja? Jika tidak demikian, apakah ini juga khusus terhadap Nasrani saja?

🔑 *Jawab:*

Alhamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘ala rasulillah wa ba’d:

Mubahalah tidaklah khusus buat Nabi   Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  terhadap Nasrani saja, tapi itu berlaku umum bagi umatnya baik terhadap Nasrani dan selainnya. Sebab pada dasarnya pensyariatan itu berlaku umum, jika kenyataannya pada zaman Nabi    Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mubahalah terjadi terhadap Nasrani Bani Najran, itu hanyalah bagian dari penerapannya saja, hukum ayat tersebut tidak menunjukkan adanya pembatasan.

Wabillahit Taufiq wa Shallallahu ‘ala Nabiyyina Muhammadin wa ‘ala Aalihi wa Shahbihi wa Sallam

(Fatwa Al Lajnah Ad Daimah No. 6238)

Jadi Istri Kedua?

Ustadzah Nurdiana

Assalamu’alaikum ustadz/ah…
bila ada pria beristri hendak melakukan poligami, dan misal saya sebagai pihak calon istri kedua, maka hal-hal apa yang harus saya pertimbangkan untuk menerima/menolak dipoligami?
kemudian apa saja landasan yang harus jadi tolok ukur dan bahan referensi bagi wanita terkait masalah poligami. A19

Dan

Assalamu’alaikum ustadz/ah..
bagi seorang laki-laki apabila masuk syurga kan akan didampingi oleh bidadari-bidadari, dan isterinya tidak akan cemburu, lalu bagaimana jika isterinya 2?
jika seorang wanita menjadi isteri kedua dari seorang pria apakah memang itu telah disebut jodohnya?

mohon pencerahannya disertai dalil-dalil yang jelas
Jazakillah Khairan Katsir

Jawaban
———-

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Hal hal yg harus dipertimbangkan bg calon istri kedua:
1. Istikharoh dan persiapan ruhiah

2.Mental. Kira kira  sanggup gak menerima penilaian dari orang lain dgn stigma negatif istri kedua. Sekalipun tdk semua istri kedua negatif tapi sangat dimaklumi kenapa stigma itu ada karena mayoritas orang menikah kedua karena perselingkuhan. Married by accident. Karena harta, tahta, sekedar entertaint, karena sekedar nafsu.dll.
Meskipun banyak yg poligami itu sukses tapi belum tersosialisasikan dan memang fitnah serta dinamikanya akan lebih rumit. Semua itu kembali terpulang kepada kepemimpinan laki-laki sbg suaminya.

3. Pastikan calon suaminya adalah pria sholeh yg mau mengamalkan sunnah bukan hanya latah

4.bila memungkinkan dialog dg istri pertamanya.karena dialah yg paling tahu karakter suaminya

5.kenali keluarga calon suami.kel istri pertama dan anak-anak dari calon suami

6 .pastikan niat nikahnya untuk apa???

Bila seorang sudah menikah dan jadi istri kedua ya itulah jodohnya karena sesuatu yg sdh terjadi  disebut taqdir bila belum terjadi masih disebut qodho dan masih terbuka lebar kesempatan tuk merubahnya dengan doa dan amal sholeh tidak usah berfikir nanti gmn dgn laki-laki yg beristri 2 . Lebih baik kita konsen dan pastikan dulu kita masuk surga. Karena kalau sudah ada di surga semua indah dan Allah yg mengaturnya.

Wallahu a’lam.