Barang Temuan

Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamu’alaikum ustadz…
Begini, saya suka bingung kalau sudah menemukan barang yang hilang. Seperti beberapa kasus di bawah ini:

1. Kasus satu, misal ayah saya menemukan hp yang jatuh di jalan. Misalnya ayah saya tidak terlalu paham hukumnya, tetapi saya takut kalau tidak dikembalikan, padahal kita bisa kembalikan dengan mencari informasi pemilik hp tsb. Saya sudah hubungin temennya pemilik hp tsb. Tetapi  tidak ada balasan. Padahal saya ingin mengembalikan.Akhirnya dibiarkan aja hp tsb sampai sekarang. Terkadang digunakan oleh ayah saya. Yang saya tanyakan, bagamana sebaiknya yang saya lakukan?

2. Kasus 2, saya menemukan anting sebelah di tempat wudhu kampus, sepertinya punya anak kecil. Cukup sulit kalau anak tersebut bukan mahasiswa. Lalu saya simpan. Saya menulis pengumuman di papan informasi, tetapi tidak ada yg merasa kehilangan. Akhirnya saya berpikir tidak  mungkin tunggu 1 tahun. Saya pikir dijual saja dan uangnya diinfaqkan. Apakah diperbolehkan tindakan saya seperti itu?

3. Kasus 3, misalnya ayah saya menemukan seperangkat plastik kiloan lumayan 2/3 pak dan 1/2 pack tusuk gigi yang jatuh di jalan. Itu kan tidak mungkin dilacak pemiliknya, karena bingung dan mubadzir kalau tidak dipakai. Akhirnya (saya/ayah saya) berpikir untuk dipakai sendiri (mencari keuntungan sendiri misalnya).  Padahal bisa diberikan kepada orang yang lebih membutuhkan, seperti penjual yang keliahatannya kurang mampu. Namun, ternyata tidak, malah digunakan sendri. Bagaimana hukumnya? Berdosakan saya/ayah saya?

4.Ada tman Saya yang mungut uang lalu dia pkai berbelanja🍫 dengan niat ingin mgemmbalikannya nanti saat dia punya uang ..nah pertanyaannya! haramkah uang itu?? Dan kalau mau d kembalikan mau di kembalikan kemana?? Apakah ke tempat yang d pungut itu??
Jazakumullah Ustadz…
A 03
___________________________

JAWABAN

Wa ‘alaikumussalam …, Bismillah wal Hamdulillah wash shalatu was Salamu ‘ala Rasulillah wa Ba’d:

Apa yang ditanyakan itu, dalam fiqih namanya LUQATHAH yaitu barang temuan.

Ada dua jenis:
1⃣ Barang temuannya sesuatu yg dianggap sudah tidak berharga atau tidak diharapkan pemiliknya lagi, maka ini boleh dimiliki. Seperti sebutir kurma, kain usang, botol minuman, bangku reot, dll. Ini biasa kita saksikan dilakukan pemulung. Ini dibenarkan oleh syara’ dan tradisi manusia umumnya.

2⃣ Barangnya sesuatu yang diminati banyak orang, pemiliknya pun masih berharap, baik dia masih mencari atau pasif saja. Seperti jam, dompet dan isinya, perhiasan, dll.

Maka, ini mesti diumumkan selama 1 tahun,  Jika yang punya datang, maka kembalikan, jika tidak maka boleh bagi penemunya memanfaatkannya sebagaimana perintah nabi dalam hadits riwayat Al Bukhari. Boleh juga menyedekahkannya, tapi jika  suatu saat ada orang yang mengaku sebagai pemiliknya, maka tetap kita mengembalikannya.

Wallahu a’lam

Adab B.A.K (buang air kecil)

Ustadzah Ida Faridah

Assalamualaykum Ustadz..
Mohon penjelasan tentang adap B.A.K (buang air kecil), terutama untuk para ikhwan berikut dalil2nya.

JAWABAN:
—————————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،
Adab membuang hajat :
1. Jangan menyentuh kemaluan dengan tangan kanan. Rosulullah saw bersabda

“janganlah seseorang di antara kamu menyentuh kemaluanya dengan tangan kanan saat kencing dan janganlah cebok (istinja) dengan tangan kanannya.” (HR. Bukhori dan muslim)

2. Jangan menghadap kiblat atau membelakangi kiblat saat buang air. Rosulullah saw bersabda

” dan janganlah kamu menghadap kiblat dan jangan pula membelakanginya saat berak atau kencing, tetapi menghadaplah ketimur atau kebarat.” (HR. Tujuh ahli hadist)

3. Jangan berbicara saat buang air. Rosulullah saw bersabda

“apabila dua orang buang air besar maka hendaklah tiap-tiap  seseorang dari mereka berlindung dari teman nya dan janganlah mereka berbicara karena Allah murka kepada yang demikian itu.”  (HR. Muslim)

4. Janganlah buang air di jalan atau d tempat berteduh.
Rosulullah saw bersabda

“jauhilah perbuatan dua orang yg menyebabkan laknat, yaitu buang air di jalan atau di perteduhan mereka.” (HR. Muslim)

Wallahu a’lam

Memaknai Ujian Kehidupan (Bagian ke-2)

Pemateri: Ustadzah Bunda Rochma Yulika

📚Apa yang membuat kita siap menjalani ujian itu?

Bila kita sadari setiap peristiwa hidup ini tak luput dari rencana-Nya. Bahkan sehelai daun yang jatuh tak lepas dari pandangan-Nya pula.

Kadang suasana tak mudah kita rubah namun rasa yang muncul dalam menyikapi suasana bisa mudah kita rubah.

Keimanan yang sangat besar di dalam dada akan menjadi landasan hidup. Segala aral yang melintang tak mampu membuat kita terlarut dalam kesedihan dan penyesalan.

Pasti ada hikmah di balik setiap musibah. Ada kemudahan setelah kesulitan. Karena dengan ujian itu kita akan tahu reputasi kita. Kita akan tahu kualitas kita. Kita akan tahu daya tahan imunitas kita. Kita akan tahu sportivitas dan optimisme kita. Dan dengan ujian itu sesungguhnya kita sedang merancang masa depan kita.

Mari kita bersama mulai melangkah dengan meyakini ujian itu pasti datang. Gelombangnya boleh jadi makin hari makin besar dan dahsyat sesuai dengan tingkat kiprah dan keimanan kita.

Fitnah dan mighnah akan datang seiring dengan disiapkannya kenikmatan, bila tak di dunia insyaallah di surga kan bisa mendapatinya.

Bila kita bisa mengarungi gelombang itu bukan berarti telah berhasil meraih kemenangan namun pastilah akan datang lagi cobaan. Semuanya itu tak lain untuk meningkatkan derajat kita di mata Allah. Bila ujian-ujian itu telah terlampaui insya Allah akan sirna kepedihan hati berganti ketenangan dan kedamaian yang merupakan bagian dari perjalanan menuju surga-Nya.

Cobaan dan ujian memang adalah sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Tidak ada satu manusia pun di dunia ini yang tak mengalaminya. Karena memang hal ini pun juga telah disebutkan banyak di dalam ayat Al Quran.

Cobaan dan ujian tentu ada dalam dua bentuk yaitu kesedihan dan kebahagiaan. Kesedihan seperti kurangnya harta, ditinggalkan oleh orang yang disayangi atau tertimpanya bencana atau penyakit yang tak kunjung sembuh adalah bentuk ujian yang tak diharapkan oleh kebanyakan orang. Karena memang semuanya membawa pada keadaan yang tak mengenakkan.

Sedangkan bentuk ujian yang kedua adalah dimana semuanya berada pada hal yang mengenakkan. Misalnya banyaknya harta benda yang dimilki, usaha yang dijalankan sukses dan selalu menghasilkan untung besar. Memilki banyak anak yang sehat dan pintar.

Semuanya adalah bentuk ujian yang terkadang tak banyak disadari oleh kita karena memang di balik semuanya tersimpan kebahagiaan bukan kesedihan.

Dalam menghadapi kedua hal tersebut, manusia dinilai oleh Allah. Sejauh mana mereka akan senantiasa mampu bersabar dan bersyukur dalam menjalaninya.  Dan dari penilaian inilah Allah akan menentukan banyak sediktnya pahala yang akan di dapat oleh manusia tersebut.

Jika memang ia dapat melewatinya dengan baik dan benar tentu akan mendapatkan nilai yang baik.

Dan nilai yang baik ini akan membawanya kepada surganya Allah. Sebaliknya jika manusia dalam menghadapi semua cobaan dan ujian itu tidak berhasil dengan benar maka yang didapat adalah nilai yang buruk dimana nilai ini akan menjerumuskan manusia ke neraka yang begitu menyiksa.

Beginilah Cara Allah meningkatkan derajat kita
Jalan yang selalu sepi
tak kan mampu menghasilkan sopir yang hebat.
Langit yang selalu cerah
Takkan mampu menjadikan pilot yang tangguh
Laut yang selalu tenang
Takkan bisa menjadikan pelaut yang ulung
Hidup tanpa ujian
Takkan bisa menghasilkan manusia-manusia yang luar biasa.

(Bersambung, insya Allah)

Karakter Munafiq dalam QS. Al-Munafiquun ayat 5-8

Ustadz Noorahmat

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuhu.

Adik-adik MFT yang disayang Allah Ar Rahmaan…
Alhamdulillah kita bertemu kembali hari ini. Dalam kesempatan ini kita akan membahas kelanjutan tafsir dari QS Al Munafiquun. Surat ke 63 dan bagian dari Juz 28.

Mempersingkat tulisan, kita langsung saja ya….

Adik-adik yang dirahmati Allah Ar Rahiim, kita lanjutkan pembahasan QS Al Munafiquun, dengan menyampaikan ayat 5-8 dari surat ini…

Allah Azza wa Jalla berfirman

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ
Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah(beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, ” mereka membuang muka mereka dan kamu lihat mereka berpaling, sedangkan mereka menyombongkan diri

سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka. Allah tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

هُمُ الَّذِينَ يَقُولُونَ لا تُنْفِقُوا عَلَى مَنْ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ حَتَّى يَنْفَضُّوا وَلِلَّهِ خَزَائِنُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَفْقَهُونَ
Mereka orang-orang yang mengatakan (kepada orang-orang Ansar), “Janganlah kamu memberikan perbelanjaan kepada orang-orang(Muhajirin) yang ada di sisi Rasulullah supaya mereka bubar (meninggalkan Rasulullah).” Padahal kepunyaan Allah-lah perbendaharaan langit dan bumi, tetapi orang-orang munafik itu tidak memahami.

يَقُولُونَ لَئِنْ رَجَعْنَا إِلَى الْمَدِينَةِ لَيُخْرِجَنَّ الأعَزُّ مِنْهَا الأذَلَّ وَلِلَّهِ الْعِزَّةُ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَلَكِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَا يَعْلَمُونَ
Mereka berkata, “Sesungguhnya jika kita telah kembali ke Madinah, benar-benar orang yang kuat akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.” Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui.

Adik-adik yang dirahmati Allah Azza wa Jalla…
Pada ayat ke-lima, Allah Ta’ala menceritakan perihal orang-orang munafik —semoga laknat Allah tertimpakan kepada mereka— bahwa mereka itu:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا يَسْتَغْفِرْ لَكُمْ رَسُولُ اللَّهِ لَوَّوْا رُءُوسَهُمْ…

Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah (beriman), agar Rasulullah memintakan ampunan bagimu, ” mereka membuang muka mereka…

Orang-orang munafiq ini menghalang-halangi dan berpaling dari apa yang dikatakan kepada mereka dengan perasaan sombong dan menghina. Karena itulah Allah Ta’ala sebutkan dalam penutup ayat ini:

…وَرَأَيْتَهُمْ يَصُدُّونَ وَهُمْ مُسْتَكْبِرُونَ.
…dan kamu lihat mereka berpaling, sedangkan mereka menyombong­kan diri.

Lalu bagaimana kelanjutannya? Apa petunjuk Allah Ta’ala atas sikap mereka ini?
Dalam ayat ke-enam Allah Ta’ala kemudian menjelaskan pembalasan atas sikap kemunafiqan itu.

سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَسْتَغْفَرْتَ لَهُمْ أَمْ لَمْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ لَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ
Sama saja bagi mereka, kamu mintakan ampunan atau tidak kamu mintakan ampunan bagi mereka, Allah tidak akan mengampuni mereka; sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

Adik-adik….sikap yang dilaknat Allah Ta’ala ini penampakannya seperti apa sih?

Sikap itu adalah “Memalingkan muka seraya melirikkan pandangan matanya dengan pandangan yang sinis”…. mirip siapa ya? Hmmmmm

Nah adik-adik, ternyata semua ayat diatas ini memiliki keterkaitan erat dengan Abdullah ibnu Ubay ibnu Salul. Masih ingat kan siapa tokoh ini?

Ingin tahu kisahnya? Tapi agak detail dengan sumber periwayat kisahnya ya…. agar tidak dibilang hoax. Maklum zaman sekarang banyak khabar hoax berseliweran di WhatsApp…. eh 🙂

Begini kisahnya….
Ibnu Ishaq meriwayatkan kisah ini dari Muhammad bin Yahya bin Hibban, bahwa ketika Rasulullah SAW. berada di tempat Bani Musthaliq, seorang yang bernama Jahjah bin Sa’id Al-Ghifari berkelahi dengan Sinan bin Yazid, karena memperebutkan air.

Keduanya berdesakan untuk memperebutkan air dari suatu mata air, lalu keduanya berkelahi. Akhirnya Sinan berkata, “Hai orang-orang Anshar,” sedangkan Al-Jahjah berkata, “Hai orang-orang Muhajir.” Saat itu Zaid bin Arqam dan segolongan kaum Ansar berada bersama Abdullah bin Ubay bin Salul.

Ketika Abdullah bin Ubay mendengar hal tersebut, maka ia berkomentar, “Sesungguhnya mereka telah berani mengadakan pemberontakan di negeri kita. Demi Allah, perumpamaan kita dan sempalan orang-orang Quraisy ini (yakni Muhajirin) sama dengan peribahasa yang mengatakan ‘gemukkanlah anjingmu, maka ia akan memakanmu’. Demi Allah, sungguh jika kita kembali ke Madinah, orang-orang yang kuat benar-benar akan mengusir orang-orang yang lemah daripadanya.” Kemudian Abdullah bin Ubay menghadap kepada orang-orang yang ada di dekatnya dari kalangan kaumnya, lalu berkata kepada mereka, “Inilah akibat dari perbuatan kalian, kalian telah mengizinkan mereka menempati negeri kalian, dan kalian telah merelakan harta kalian berbagi dengan mereka. Ingatlah, demi Allah, sekiranya kalian menghindari mereka, niscaya mereka akan berpindah dari kalian menuju ke negeri lain.”

Kemudian perkataan Abdullah bin Ubay itu terdengar oleh Zaid bin Arqam r.a yang kemudian melaporkannya kepada Rasulullah SAW. Saat itu Zaid bin Arqam masih berusia remaja seperti adik-adik sekalian…

Ketika Zaid bin Arqam r.a sampai kepada Rasulullah SAW, Umar bin Khattab r.a kebetulan juga sedang bersama Rasulullah SAW. Lalu Zaid bin Arqam r.a menceritakan kepada Rasulullah SAW apa yang telah dikatakan oleh Abdullah bin Ubay tadi. Maka Umar r.a berkata, “Wahai Rasulullah, perintahkanlah kepada Abbad bin Bisyar agar memenggal kepala bin Salul.”

Rasulullah SAW menjawab: “Hai Umar, bagaimanakah jawabanmu apabila orang-orang mengatakan bahwa Muhammad telah membunuh temannya sendiri. Tidak, tetapi serukanlah, hai Umar, kepada orang-orang untuk segera berangkat (pulang)”

Ketika Abdullah bin Ubay menyadari bahwa ada yang sudah melaporkan kelakuannya kepada Rasulullah SAW, maka ia mendatangi Rasulullah SAW dan meminta maaf kepadanya serta bersumpah bahwa dia tidak mengatakan seperti apa yang dilaporkan oleh Zaid bin Arqam ra.

Pada saat itu Abdullah bin Ubay adalah seorang lelaki yang memiliki kedudukan yang tinggi di kalangan kaumnya, maka mereka-pun kemudian mengatakan, “Wahai Rasulullah, barangkali anak remaja ini (yakni Zaid ibnu Arqam) hanya berilusi dan masih belum dapat menangkap pembicaraan yang dikatakan oleh seorang yang telah dewasa.”

Tetapi Rasulullah SAW kemudian pergi di tengah hari, yaitu di saat yang pada kebiasaannya beliau tidak pernah memerintahkan untuk berangkat (pulang dari wilayah Bani Musthalik ke Madinah). Lalu Usaid bin Hudair r.a datang menjumpai Rasulullah SAW dan mengucapkan salam penghormatan kenabian kepada Rasulullah SAW. Kemudian Usaid berkata, “Demi Allah, engkau memerintahkan berangkat di saat yang tidak disukai dan yang belum pernah engkau lakukan sebelumnya.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Tidakkah engkau mendengar apa yang telah dikatakan oleh Abdullah bin Ubay. Dia mengira bahwa apabila aku sampai di Madinah, maka orang yang kuat akan mengusir orang yang lemah daripadanya”

Usaid bin Hudair r.a. kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, engkaulah orang yang kuat dan dia adalah orang yang hina (kalah).” Kemudian Usaid berkata pula, “Wahai Rasulullah, kasihanilah dia. Demi Allah, sesungguhnya ketika Allah mendatangkan engkau, sesungguhnya kami benar-benar telah menguntai manikam guna memahkotainya (menjadi pemimpin kami). Dan sesungguhnya dia memandang bahwa engkau telah merebut kerajaan itu dari tangannya.”

Kemudian Rasulullah SAW membawa pasukan muslim berjalan hingga petang hari dan dilanjutkan pada malam harinya hingga pada pagi hari dan matahari meninggi hingga panasnya mulai terasa. Setelah itu Rasulullah SAW memerintahkan kepada pasukan muslim untuk turun istirahat, untuk mengalihkan perhatian mereka dari topik pembicaraan yang sedang menghangat di kalangan mereka. Maka begitu orang-orang menyentuh tanah, mereka langsung tidur karena kecapaian.

Nah adik-adik…..di tempat itulah Allah Azza wa Jalla mewahyukan surat Al-Munafiqun yang sedang kita bahas disini….

Adik-adik MFT yang dirahmati Allah Ar Rahmaan…
Kisah di atas yang mengiringi QS Al Munafiquun ini memberikan gambaran mengenai aktifitas kemunafiqan yang suka mengadu domba ditengah-tengah Ummat Islam.  Masih segar dalam ingatan kita mengenai upaya-upaya memecah soliditas Ummat Islam di negeri ini yang dilakukan sebagian orang yang mengaku muslim namun secara dzhahir kita bisa melihat kedengkian mereka kepada persatuan Ummat.

Semoga materi hari ini bisa menjadi wasilah bagi kita semua agar Allah Azza wa Jalla melindungi kita dari sifat-sifat kemunafiqan.

Wassalam

Ibu Menahan Membagi Warisan

Ustadzah Dra. Indra Asih

Assalamu’alaikum ustadzah,,
Semoga Allah SWT selalu memberikan keberkahan dalam kehidupan ustadzah dan keluarga,,,Aaminn

Saya ingin bertanya sesuatu hal mengenai sikap terhadap seorang ibu,

Sebelumnya perkenankan saya menceritakan kronologisnya

Saya istri dari suami dengan 1 kakak laki-laki dan 2 adik perempuan.
Bapak mertua saya meninggal beberapa tahun yang lalu, meninggalkan tanah puluhan meter, ratusan juta uang kematian mobil dan rumah.

Semua harta sepeninggalan almarhum tidak dibagikan karena di hak semua oleh ibu mertua, awalnya suami saya tidak mempermasalahkan harta waris karena memang sifat mamah mertua selalu kasar dan marah berapi-api kalo membahas masalah harta waris.

Waktupun berlalu dari tahun ketahun dan akhirnya semua harta habis kecuali rumah yang ditinggali sekarang.

Harta waris yang habis itu tidak jelas diperuntukkan kemaslahatannya, malah dominan kepada foya-foya dan mamah mertua selalu mendatangi orang pintar, bayaran orang pintar itu juta-jutaan bahkan sampai puluhan juta (itu informasi yang di dapat).

Sekarang rencana mamah mertua itu mau menjual rumah yang ditinggali, selanjutnya mau beli rumah yang lebih  kecil dari sekarang dan sisa dari hasil jual rumah mau diperuntukkan biaya hidup mamah mertua..

Sebelumnya  mamah mertua pernah tertipu sama pacar brondongnya sampai menggadaikan SK JHT, jadi penghasilan bulanannya terpotong oleh cicilan dan sebagian biaya hidup mamah mertua dibantu oleh anak-anaknya.

Kalo menurut analisa saya penghasilan mamah mertua lebih dari cukup hanya karena gaya hidup yang menjadikan kurang dan kurang (mohon tegur saya apabila saya lancang menganalisa orang tua)

Dari kronologis diatas,
suami saya rencananya mau meminta mamah untuk membagikan hasil dari penjualan rumah tersebut sesuai dengan aturan agama, apapun reaksi mamah dengan dasar ingin meluruskan dan melindungi harta waris agar tidak dipakai yang tidak jelas.

Hanya saja, saya menahan keputusan suami ini karena beberapa hal.

Sebelumnya pernah timbul konflik mengenai harta waris ini,,,
Sampai mamah mencak-mencak,  memaki, sumpah serapah bahkan mengeluarkan kata anak durhaka..

Karena mamah punya pikiran: “ini semua punya mamah, kalo anak-anak mau harta waris kudu nunggu mamah meninggal”.

Bagaimana menurut ustadzah kalo kondisinya seperti ini?

Apa suami saya tetep lanjut untuk meminta dibagikan? Atau diam saja seperti yang sudah-sudah?

Jazzakillah khairan khatsira sebelumnya..sudah mau meluangkan waktu untuk membaca curhatan saya..
Wassalamu’alaikum  [Manis_A13]

JAWABAN:
—————–

1. Sebaiknya penerapan syariat dilakukan karena semua yang terkait paham.

2. Langkah yang didahulukan adalah memberikan pemahaman. Semaksimal mungkin.

3. Hindari keburukan yang lebih besar dibandingkan mengambil manfaat.

4. Kewajiban anak untuk menyayangi dan menyantuni orang tua (apalagi untuk anak laki-laki) tetap prioritas apapun kondisinya.

5. Usaha menyayangi dan menyantuni dilakukan dengan cara terus menasehati dan mendekati, hingga dengan izin Allah, mudah-mudahan kesadaran dan hidayah ibu muncul.

6. Semoga Allah mudahkan usaha birrul walidain kita, hingga menjadi sarana ibu kita mendapatkan hidayah, siap menjalankan syariat dan ketaatan di usia tuanya dan husnul khotimah.

Allahu A’lam Bisshawab

Tuntutan Ketika Selesai Berdoa

Ustadz Farid Nu’man Hasan S.S

Assalamu’alaikum ustadz/ah….
Apakah ada tuntutan ketika selesai berdoa, untuk mengusap wajah dengan kedua telapak tangan?  A34

Jawaban
—————

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته ،

Mengusap Wajah Setelah Berdoa
Secara umum ada dua kelompok ulama dalam memposisikan ini; melarang dan membolehkan. Berikut ini rinciannya.

📚Para ulama yang  melarang, baik memakruhkan bahkan membid’ahkan

1. Imam Sufyan Ats Tsauri Radhiallahu ‘Anhu.
Tertulis dalam kitab Mukhtashar Kitab Al Witr:

وسئل عبد الله رضي الله عنه عن الرجل يبسط يديه فيدعو ثم يمسح بهما وجهه فقال كره ذلك سفيان

Abdullah -yakni Abdullah bin Al Mubarak- ditanya tentang seorang laki-laki menengadahkan kedua tangannya dia berdoa, lalu mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, Beliau menjawab: “Sufyan memakruhkan hal itu.” (Mukhtashar Kitab Al Witr, Hal. 162)

2. Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu
Imam Ahmad bin Ali Al Muqrizi menceritakan:

وسئل مالك رحمه الله تعالى عن الرجل يمسح بكفيه وجهه عند الدعاء فأنكر ذلك وقال: ما علمت

Imam Malik Rahimahullah ditanya tentang seorang laki-laki yang mengusap wajahnya dengan kedua tangannya ketika berdoa, lalu dia mengingkarinya, dan berkata: “Aku tidak tahu.” (Mukhtashar Kitab Al Witri, Hal. 152)

3. Imam Abdullah bin Al Mubarak Radhiallahu ‘Anhu
Imam Al Baihaqi meriwayatkan dalam As Sunan Al Kubra:

عَلِىُّ الْبَاشَانِىُّ قَالَ : سَأَلَتُ عَبْدَ اللَّهِ يَعْنِى ابْنَ الْمُبَارَكِ عَنِ الَّذِى إِذَا دَعَا مَسَحَ وَجْهَهُ ، قَالَ : لَمْ أَجِدْ لَهُ ثَبَتًا. قَالَ عَلِىٌّ : وَلَمْ أَرَهُ يَفْعَلُ ذَلِكَ. قَالَ : وَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ يَقْنُتُ بَعْدَ الرُّكُوعِ فِى الْوِتْرِ ، وَكَانَ يَرْفَعُ يَدَيْهِ.

Ali Al Basyani berkata: Aku bertanya kepada Abdullah –yakni Abdullah bin Al Mubarak- tentang orang yang jika berdoa mengusap wajahnya, Beliau berkata: “Aku belum temukan riwayat yang kuat.” Ali berkata: “Aku tidak pernah melihatnya melakukannya.” Aku melihat Abdullah melakukan qunut setelah ruku dalam witir, dan dia mengangkat kedua tangannya. (As Sunan Al Kubra No. 2970).
Imam Ibnul Mulaqin mengutip dari Imam Al Baihaqi sebagai berikut:

ثمَّ رَوَى بِإِسْنَادِهِ عَن ابْن الْمُبَارك أَنه سُئِلَ عَن مسح الْوَجْه إِذا دَعَا الْإِنْسَان قَالَ : لم أجد لَهُ شَاهدا . هَذَا آخر كَلَام الْبَيْهَقِيّ .

Kemudian Beliau (Al Baihaqi) meriwayatkan dengan isnadnya, dari Ibnul Mubarak bahwa dia ditanya tentang mengusap wajah jika manusia berdoa, Beliau menjawab: “Saya belum temukan syahid-(hal yang menguatkan)nya.” Inilah akhir ucapan Al Baihaqi (Imam Ibnul Mulaqin, Al Badrul Munir, 3/640)

4. Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu ‘Anhu
Imam Ibnul Mulaqin Rahimahullah menuliskan:

وَقَالَ أَحْمد : لَا يعرف هَذَا أَنه كَانَ يمسح وَجهه بعد الدُّعَاء إِلَّا عَن الْحسن

Berkata Imam Ahmad: “Tidak diketahui hal ini, tentang mengusap wajah setelah doa, kecuali dari Al Hasan.” (Ibid, 3/639)

5. Imam Al Baihaqi Rahimahullah
Beliau berkata:

فأما مسح اليدين بالوجه عند الفراغ من الدعاء فلست أحفظه عن أحد من السلف في دعاء القنوت وإن كان يروي عن بعضهم في الدعاء خارج الصلاة وقد روي فيه عن النبي صلى الله عليه و سلم حديث فيه ضعف وهو مستعمل عند بعضهم خارج الصلاة وأما في الصلاة فهو عمل لم يثبت بخبر صحيح ولا أثر ثابت ولا قياس فالأولى أن لا يفعله ويقتصر على ما فعله السلف رضي الله عنهم من رفع اليدين دون مسحهما بالوجه في الصلاة وبالله التوفيق

Ada pun mengusap wajah dengan kedua tangan setelah selesai doa, maka tak ada satu pun yang saya hafal dari kalangan salaf yang melakukan pada doa qunut, kalau pun ada adalah riwayat dari mereka pada doa di luar shalat. Telah diriwayatkan dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam hadits dhaif tentang masalah ini. Sebagian mereka menggunakan hadits ini untuk berdoa di luar shalat, ada pun dalam shalat itu adalah perbuatan yang tidak dikuatkan oleh riwayat yang shahih, tidak pula atsar yang kuat, dan tidak pula qiyas. Maka, yang lebih utama adalah tidak melakukannya, dan hendaknya mencukupkan dengan apa yang dilakukan para salaf –Radhiallahu ‘Anhum- berupa mengangkat kedua tangan tanpa mengusap wajah dalam shalat. Wa billaahit taufiq. (As Sunan Al Kubra No. 2968)

6. Imam ‘Izzuddin bin ‘Abdissalam Rahimahullah
Imam Al Munawi Rahimahullah menyebutkan dari Imam ‘Izzuddin bin Abdissalam, kata Beliau:

لا يمسح وجهه إلا جاهل

Tidak ada yang mengusap wajah melainkan orang bodoh. (Faidhul Qadir, 1/473. Lihat juga Mughni Muhtaj, 2/360)

7. Imam An Nawawi Rahimahullah
Imam An Nawawi menyatakan yang benar adalah berdoa mengangkat kedua tangan tetapi tanpa mengusap wajah, berikut ini ucapannya:

والحاصل لاصحابنا ثلاثة أوجه (الصحيح) يستحب رفع يديه دون مسح الوجه (والثاني) لا يستحبان (والثالث) يستحبان وأما غير الوجه من الصدر وغيره فاتفق أصحابنا علي أنه لا يستحب بل قال ابن الصباغ وغيره هو مكروه والله أعلم

Kesimpulannya, para sahabat kami (Syafi’iyah) ada tiga pendapat; (yang shahih) disunnahkan mengangkat kedua tangan tetapi tanpa mengusap wajah, (kedua) tidak disunnahkan keduanya, (ketiga) disunnahkan keduanya. Ada pun selain wajah, seperti dada dan selainnya, para sahabat kami sepakat bahwa hal itu tidak dianjurkan, bahkan Ibnu Ash Shabagh mengatakan hal itu makruh. Wallahu A’lam (Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab, 3/501)

8. Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah
Beliau berkata:

وَأَمَّا رَفْعُ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ: فَقَدْ جَاءَ فِيهِ أَحَادِيثُ كَثِيرَةٌ صَحِيحَةٌ، وَأَمَّا مَسْحُهُ وَجْهَهُ بِيَدَيْهِ فَلَيْسَ عَنْهُ فِيهِ إلَّا حَدِيثٌ، أَوْ حَدِيثَانِ، لَا يَقُومُ بِهِمَا حُجَّةٌ، وَاَللَّهُ أَعْلَمُ.

Ada pun Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengangkat kedua tangan ketika berdoa, hal itu telah diterangkan dalam banyak hadits shahih, sedangkan mengusap wajah dengan kedua tangannya, maka tidak ada yang menunjukkan hal itu kecuali satu hadits atau dua hadits yang keduanya tidak bisa dijadikan hujjah. Wallahu A’lam (Al Fatawa Al Kubra, 2/219, Majmu’ Al Fatawa, 22/519, Iqamatud Dalil ‘Ala Ibthalit Tahlil, 2/408)

9. Fatwa Syaikh Abdul Muhsin Al ‘Abbad Al Badr Hafizhahullah
Berikut fatwa ini Beliau:

السؤال: ذكرتم حكم رفع اليدين في الدعاء، فما القول في مسح الوجه بهما؟ الجواب: لم يثبت، وقد ورد فيه أحاديث ضعيفة، والسنة أن ترفع الأيدي ثم تنزل بدون مسح

Pertanyaan:
Anda telah menyebutkan hukum tentang mengangkat kedua tangan ketika doa, lalu apa pendapat Anda tentang mengusap wajah dengan keduanya?

Jawaban:
Tidak shahih, hadits-hadits yang ada tentang hal itu adalah lemah, dan sunnahnya adalah Anda mengangkat kedua tangan kemudian menurunkannya dengan tanpa mengusap wajah. (Syarh Sunan Abi Daud, 15/145).
Pada halaman lain juga tertulis demikian:

السؤال: هل ننكر على من يمسح وجهه بعد الدعاء؟ الجواب: لم ترد في هذا سنة عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، فيبين لمن يعمل ذلك أنه ما ثبت في هذا شيء، إنما الثابت هو رفع اليدين، وأما مسح الوجه باليدين بعد الدعاء فقد وردت فيه أحاديث ضعيفة.

Pertanyaan:
Apakah kita mesti mengingkari orang yang mengusap wajahnya setelah berdoa?

Jawaban:
Tidak ada sunah yang valid dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang masalah ini, maka hendaknya dijelaskan kepada orang yang melakukannya bahwa hal itu tidak ada satu pun yang kuat haditsnya. Yang kuat adalah mengangkat kedua tangan, ada pun mengusap wajah dengan kedua tangan setelah doa telah ada hadits-hadits lemah yang membicarakannya. (Ibid, 15/474)

10. Fatwa Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid Hafizhahullah
Beliau berkata:

وأما مسح الوجه عقب الدعاء فلم يثبت فيه حديث صحيح ، بل إن بعض أهل العلم نصوا على بدعيته انظر معجم البدع (ص 227) .

فلا تفعل أنت البدعة ولا تُشارك فيها ولكن انصح وأمر بالسنّة وذكّر النّاس وأخبرهم بالحكم الشّرعي

Ada pun mengusap wajah setelah berdoa, tidak ada hadits kuat lagi shahih tentang hal itu, bahkan sebagian ulama ada yang menyebutkan bid’ahnya hal itu. Lihat Mu’jam Al Bida’ (Hal. 227).

Maka, jangan Anda lakukan bid’ah, dan jangan berpartisipasi di dalamnya, tetapi hendaknya menasihatkan dan memerintahkan dengan sunah, serta mengingatkan manusia dan mengabarkan mereka terhadap hukum-hukum syar’i. (Fatawa Al Islam Sual wa Jawab, Hal. 5538)

11. Fatwa Syaikh Abdullah Al Faqih Hafizhahullah
Beliau berkata:

وأما مسح الوجه بعد الدعاء فمسألة خلافية بين العلماء، منهم من استحبه ومنهم من منعه، والأمر واسع في ذلك وإن كنا نرجح من باب الورع عدم المسح، لأن الحديث الوارد في المسح لا يخلو من كلام، ولعدم اشتهار ذلك عند السلف. والله أعلم.

Ada pun mengusap wajah setelah doa, maka ini adalah persoalan yang diperselisihkan para ulama. Di antara mereka ada yang menyunahkannya dan ada pula yang melarangnya. Dan, masalah ini adalah masalah yang lapang. Sedangkan kami menguatkan diri sisi kehati-kehatian untuk tidak mengusap, karena hadits-hadits yang ada dalam masalah ini tidak kosong dari perbincangan para ulama, serta tidak ada yang masyhur dari kalangan salaf yang melakukan hal ini. Wallahu A’lam (Fatawa Asy Syabakah Al Islamiyah No. 36932)

12. Fatwa Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi Rahimahullah
Berikut ini fatwanya:

سئل الشيخ : ما حكم مسح الوجه باليدين بعد الانتهاء من الدعاء وهل ورد فيه حديث عن النبى صلى الله عليه وسلم ؟

فقال الشيخ – رحمه الله – : ليس مسح الوجه بعد الدعاء من السنة بل هو بدعة لان مسح الوجه باليدين عقب دعاء يعتبر نسك وعبادة وهو لم يثبت ان النبي صلى الله عليه وسلم فعله فيكون بدعة فى الدين والحديث الذى ورد فى هذا ضعيف ولم يصح .

Syaikh ditanya: Apa hukum mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa, apakah ada hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tentang ini?

Syaikh Rahimahullah menjawab:
Mengusap wajah setelah berdoa bukan termasuk sunah, bahkan itu adalah bid’ah, karena mengusap wajah dengan kedua tangan setelah berdoa telah dianggap sebagai ibadah. Hal itu tidak ada yang shahih dilakukan oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka itu adalah bid’ah dalam agama. Sedangkan hadits yang membicarakan ini adalah lemah dan tidak shahih. (Fatawa Asy Syaikh Abdurrazzaq ‘Afifi, Hal. 315)

13. Fatwa Syaikh Sulaiman bin Wail At Tuwaijiri
Beliau berkata:

مسح الوجه بعد الدعاء ورد فيه أحاديث، ورجال الجرح والتعديل طعنوا فيها، فهي لا ترتقي إلى درجة العمل بها، ويبقى الأمر على ما هو الأصل فيه وهو عدم المسح؛ لأن الأحاديث الواردة في المسح ليست بصحيحة، ولا ترتقي إلى درجة الاحتجاج بها. انظر مثلاً ما رواه أبو داود (1485)، وابن ماجة (1181) من حديث ابن عباس -رضي الله عنهما- بإسناد ضعيف.

Telah datang sejumlah hadits tentang mengusap wajah setelah doa, dan para ulama Al Jarh wat Ta’dil telah mengkritiknya, sehingga hadits tersebut tidak terangkat mencapai derajat yang layak diamalkan, jadi masalah ini dikembalikan kepada hukum asalnya yaitu tidak mengusap wajah, karena hadits-hadits tentang mengusap wajah tidak ada yang shahih, dan tidak terangkat sampai derajat yang bisa dijadikan hujjah. Lihat misalnya riwayat Abu Daud (1485), Ibnu Majah (1181) dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, dengan isnad yang dhaif. (Fatawa Istisyaraat Al Islam Al Yaum, 14/224).

Wallahu a’lam.

Definisi Iman menurut Al Qur-an dan As Sunnah

Pemateri: Ustadz Aus Hidayat Nur

📚 Definisi Iman menurut Al Qur-an

Al Qur-an mendefinisikan Iman dengan ayat-ayat yang sangat jelas tentang ciri-ciri orang-orang beriman.    

Jika kita cermati ayat-ayat ini selalu menghubungkan iman sebagai aktifitas hati dengan  amal saleh (kerja yang baik atau amalan produktif) sebagai aktifitas.

1. Orang-orang yang memiliki kecintaan kepada Allah dan Kitab Suci-Nya sehingga selalu membaca Al Qur-an , mengkaji kandungannya, dan mengamalkan isinya. Mereka juga menunaikan rukun Islam : menegakkan syahadat, mendirikan sholat, berzakat, dan lain-lain.

Firman Allah:

{إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ إِذَا ذُكِرَ اللَّهُ وَجِلَتْ قُلُوبُهُمْ وَإِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ آيَاتُهُ زَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَعَلَىٰ رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ –
الَّذِينَ يُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنفِقُونَ [الأنفال : 2-3]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman ialah mereka yang bila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada Tuhanlah mereka bertawakkal. (yaitu) orang-orang yang mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari rezki yang Kami berikan kepada mereka. (AL Anfaal: 2-3)

2. Mereka  yang tidak ragu dalam keyakinannya dengan dibuktikan selalu siap berjihad (berjuang) di jalan Allah,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ [الحجرات : 15]

Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar. (Al Hujaarat: 15)

3. Mereka  yang komitmen untuk taat dan patuh kepada Allah (Al Qur-an) dan Rasul-Nya (as sunnah),

Sesungguhnya jawaban oran-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “Kami mendengar, dan kami patuh.” Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.

4. Mereka  yang beriman kepada Allah, Para Malaikat, Kitab-kitab, dan Rasul-rasul-Nya, meyakini hari Akhirat dengan sikap mendengar dan mentaati setiap perintah Allah dan Rasul-Nya..

{آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ ۚ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِّن رُّسُلِهِ ۚ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۖ غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ – (البقرة : 285)

Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.” (Al Baqarah: 285)

📚Definisi Iman menurut Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam.

Para ulama umumnya berpendapat bahwa iman itu adalah : pembenaran dengan hati, pengakuan dengan lisan, dan amal dengan anggota badan.

Para ulama salaf –semoga Allah merahmati mereka- menjadikan amal termasuk unsur keimanan. Oleh sebab itu iman bisa bertambah dan berkurang, sebagaimana amal juga bertambah dan berkurang.

Dalam mendefinisikan iman Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda,
Iman adalah pengetahuan (keyakinan) di dalam hati, ungkapan lisan, dan amal dengan anggota badan (HR. Ibnu Majah)

Jibril bertanya ”katakan kepadaku tentang iman!?”

Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam  menjawab, “Engkau beriman kepada Allah, Malaikat-malaikat-NyaKitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, dan Hari Akhir, juga engkau beriman kepada taqdir yang baik maupun yang buruk. (HR. Muslim)

Penjelasan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam tentang iman dalam hadits di atas disepakati oleh ulama sebagai Arkanul Iman (rukun iman) yang enam.

Selanjutnya Nabi juga menyebutkan tentang kualitas iman
 “Iman itu terdiri  69 atau 79 bagian cabang atau lebih, bagian yang tertinggi adalah ucapan “Laailaha illa-Llah  dan  yang paling rendah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan dan”. Dan malu (berbuat keburukan) sebagian dari iman” (HR. Bukhari).

Iman dalam Islam tidak hanya “percaya” di lisan tetapi wajib diiringi dengan hati yang membenarkan serta  pembuktian kata-kata dan amal perbuatan.

Iman bukan hanya aktifitas hati atau lisan, atau amal tetapi ketiganya sekaligus.

Jika Anda menyingkirkan batu di jalan karena sadar bahwa ini merupakan kewajiban yang  diajarkan Nabi – bukan semata menghindarkan orang dari gangguan – maka itulah iman dengan tingkat paling rendah.

Sedangkan ucapan kalimat tawhid “laa ilaha illa-Llah” khususnya yang dibaca dalam tasyahud setiap sholat merupakan bentuk iman yang paling tinggi.

Karena itu, tidak dapat dikatakan beriman orang-orang yang sengaja meninggalkan sholat lima waktu atau mengingkari kewajiban sholat lima waktu. Atau tidak menyesal dan sedih manakala dia tidak mendirikan sholat berjamaah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam mengatakan ,
“Sholat seseorang berjamaah di Masjid lebih tinggi nilainya 27 derajat tenimbang sholatnya sendirian di tempat dia berkerja atau di rumahnya” (HR. Bukhari)

Di hadits  lain disebutkan bahwa satu derajat dengan lainnya berjarak 500 tahun atau sama dengan lima abad!
27 Derajat artinya 13.500 tahun (13,5 abad) di setiap sholat yang dikerjakan. Inilah pernyataan Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam yang wajib Kita imani. Bayangkan mereka yang sholat jamaahnya rutin 5 waktu dalam sehari derajatnya naik 67.500 tahun, bagaimana jika dihitung dalam setahun.

Tentu orang yang sholat sendirian dan sering telat seolah-olah tidak sholat dibanding mereka yang selalu berjamaah di masjid.

Namun dalam kenyataannya, banyak yang melalaikan sholat berjamaah di Masjid  dan menganggap bahwa tidak ada perbedaan antara shalat di berjamaah dengan shalat sendirian.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam  telah menentukan tingginya nilai berbakti kepada dua orangtua sebagai realisasi dari keimanan Allah.

Namun Anak-anak sekarang lebih menghormati teman-teman gaulnya tenimbang orangtuanya. Ada seorang ibu yang sedang sakit minta ditemani berobat ditolak oleh anak lelakinya dengan  alasan dia mau ketemu wanita yang akan menjadi pasangan hidupnya (pacar).

Dia bahkan berani memarahi orang tuanya untuk mendapatkan keredhaan orang yang belum menjadi pasangannya. Jasa orangtua puluhan tahun membesarkan dan mendidiknya seakan tidak berarti demi meraih keingan hawa nafsunya. Padahal memenuhi panggilan orang tua, apalagi sedang sakit sangat besar nilainya di sisi Allah.

Di zaman Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam ada seorang pemuda yang ingin turut berjihad bersama Nabi. Namun ditolak oleh Beliau karena ibunya lebih memerlukan perawatan dan perhatian anak muda tersebut.

Apakah anak itu telah lupa sabda Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam

“Al jannatu tahta aqdaamil ummahaat”
(Syurga itu berada di bawah telapak kaki ibu), dan

“ridhollah fi ridhol walidain”
(Keredhaan Allah berada dalam keredhaan dua orangtua)?

Wallahu A’lam

Shalat Tidak Khusyu .. Mestikah Ulang?

Bagaimana kalau kita merasa sholat kita ga khusyu, apakah sebaiknya diulang kembali (Yolan)

Bismillah wal Hamdulillah ..
Tidak khusyu’ bukan penyebab batalnya shalat. Khusyu bukan rukun shalat. Memikirkan hal duniawi dalam shalat selama tidak berdampak secara gerakan dan bacaan dalam shalat, termasuk kategori yang bisa terjadi, namun sbaiknya dihilangkan.

Umar bin Al Khathab Radhiallahu ‘Anhu berkata:

 إِنِّي لَأُجَهِّزُ جَيْشِي وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ

“Sesungguhnya saya mempersiapkan pasukan saya, pada saat itu saya sedang  shalat.” (Riwayat Bukhari)

Tentang ucapan Umar Radhiallahu ‘Anhu ini, Imam Bukhari membuat judul:  *Bab Yufkiru Ar Rajulu Asy Syai’a fish shalah*

Dari ‘Uqbah bin Al Harits Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

صَلَّيْتُ مَعَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْعَصْرَ فَلَمَّا سَلَّمَ قَامَ سَرِيعًا دَخَلَ عَلَى بَعْضِ نِسَائِهِ ثُمَّ خَرَجَ وَرَأَى مَا فِي وُجُوهِ الْقَوْمِ مِنْ تَعَجُّبِهِمْ لِسُرْعَتِهِ فَقَالَ ذَكَرْتُ وَأَنَا فِي الصَّلَاةِ تِبْرًا عِنْدَنَا فَكَرِهْتُ أَنْ يُمْسِيَ أَوْ يَبِيتَ عِنْدَنَا فَأَمَرْتُ بِقِسْمَتِهِ

“Aku shalat ashar bersama Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika Beliau salam, beliau berdiri cepat-cepat lalu masuk menuju sebagian istrinya, kemudian  Beliau keluar dan memandang kepada wajah kaum yang nampak terheran-heran lantaran ketergesa-gesaannya. Beliau bersabda: *“Aku teringat biji emas yang ada pada kami ketika sedang shalat, saya tidak suka mengerjakannya sore atau kemalaman,  maka saya perintahkan agar emas itu dibagi-bagi.”* (HR. Bukhari No. 1221, Ahmad No. 16151, Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al Ahadits Wal Matsani No. 477)

  Walau hal ini dibolehkan, namun tetaplah dihindari demi kebagusan kualitas shalat. Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

ومع أن الصلاة في هذه الحالة صحيحة مجزئة   فإنه ينبغي للمصلي أن يقبل بقلبه على ربه ويصرف عنه الشواغل بالتفكير في معنى الايات والتفهم لحكمة كل عمل من أعمال الصلاة فإنه لا يكتب للمرء من صلاته إلا ما عقل منها.

“Meskipun shalatnya tetap sah dan mencukupi, tetapi seharusnya orang yang shalat itu menghadapkan hatinya kepada Allah dan melenyapkan segala godaan dengan memikirkan ayat-ayat dan memahami hikmah setiap perbuata shalat, karena yang dicatat dari perbuatan itu hanyalah apa-apa yang keluar dari kesadaran.” (Fiqhus Sunnah, 1/267)

Nabi Shallalahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إنّ الرّجُلَ لَيَنْصَرِفُ وَمَا كُتِبَ لَهُ إلاّ عُشْرُ صلاتِهِ تُسْعُها ثُمْنُهَا سُبْعُهَا سُدُسُهَا خُمُسُهَا رُبُعُهَا ثُلُثُهَا نِصْفُهَا
“Sesungguhnya ada orang yang selesai shalatnya tetapi tidak mendapatkan melainkan hanya sepersepuluh, sepersembilan, seperdelapan, sepertujuh, seperenam, seperlima seperempat, sepertiga, dan setengah dari shalatnya.” (HR. Abu Daud No. 211, dihasankan Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 211). Sekian.

Ada pun shalat yang tidak tuma’ninah, sehingga gerqkannya sangat cepat, maka itu dianjurkan untuk diulang berdasarkan riwayat berikut.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم دَخَلَ الْمَسْجِدَ , فَدَخَلَ رَجُلٌ فَصَلَّى , ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : ارْجِعْ فَصَلِّ , فَإِنَّك لَمْ تُصَلِّ . فَرَجَعَ فَصَلَّى كَمَا صَلَّى , ثُمَّ جَاءَ فَسَلَّمَ عَلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَقَالَ : ارْجِعْ فَصَلِّ , فَإِنَّك لَمْ تُصَلِّ – ثَلاثاً – فَقَالَ : وَاَلَّذِي بَعَثَكَ بِالْحَقِّ لا أُحْسِنُ غَيْرَهُ , فَعَلِّمْنِي , فَقَالَ : إذَا قُمْتَ,  إلَى الصَّلاةِ فَكَبِّرْ , ثُمَّ اقْرَأْ مَا تَيَسَّرَ معك مِنْ الْقُرْآنِ , ثُمَّ ارْكَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ رَاكِعاً , ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَعْتَدِلَ قَائِماً , ثُمَّ اُسْجُدْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ سَاجِداً, ثُمَّ ارْفَعْ حَتَّى تَطْمَئِنَّ جَالِساً . وَافْعَلْ ذَلِكَ فِي صَلاتِكَ كُلِّهَا .

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, masuklah seorang laki-laki ke masjid lalu dia shalat, lalu dia datang ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengucapkan salam, Beliau bersabda:

“Kembalilah, dan shalatlah, sesungguhnya kamu tadi belum shalat!”

Lalu dia kembali dan shalat sebagaimana shalat sebe
lumnya, lalu dia datang lagi ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengucapkan salam, Beliau bersabda:

“Kembalilah, dan shalatlah, sesungguhnya kamu tadi belum shalat!”

Lalu dia kembali dan shalat sebagaimana shalat sebelumnya, lalu dia datang lagi ke Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mengucapkan salam, Beliau bersabda:

 “Kembalilah, dan shalatlah, sesungguhnya kamu tadi belum shalat!”  Diulangi 3 kali. (HR. Muttafaq ‘Alaih)

Kisah ini, kata Imam An Nawawi, menjadi dalil bagi mayoritas ulama wajibnya tuma’niha, baik saat ruku’, sujud, duduk diantara dua sujud, kecuali menurut Abu Hanifah yang tidak mewajibkannya. Demikian.

 Wallahu A’lam

Sekolah Pengawal Peradaban – Sekolah Menengah Atas Militer

🌐 _Delapan pelajaran dari sejarah institusi pendidikan militer dari era kekhilafahan hingga republik_

Sekolah Menengah Atas Militer Kuleli didirikan pada tanggal 21 September 1845 pada Era Turki Utsmani. Nama aslinya adalah Mekteb-i Fünun-ı İdadiye dan bertempat di Barak umum militer Maçka dan markas kavaleri, kekhilafahan Turki Utsmani, İstanbul.

Selama waktu perluasan dan peremajaan gedung, proses pendidikan dilangsungkan pada kios berjajar Çinili Köşk. Gedung ini pula menjadi markas Band Militer Kenegaraan, Mızıka-i Hümayun. Karena keterbatasan tempat, maka kios tersebut juga menjadi markas Kesatuan Logistik dan Komunikasi, Zülüflü Baltacılar Ocağı. Setelah gedung utama rampung, proses pendidikan baru dilaksanakan pada tahun kedua dengan prosesi peresmian langsung oleh Sultan Abdul Majid pada tanggal 10 Oktober 1846.

💡 *Lesson #1* peradaban memerlukan pengawalan.

Pada tahun 1868 keempat sekolah menengah atas militer digabungkan dengan nama barunya Umum Mekteb-i İdadî Şahane. Sekolah gabungan ini menempati barak Galatasaray. Namun upaya penyatuan ini kandas dan keempat sekolah dipecah lagi.  Kedua sekolah Mekteb-i Fünun-ı İdadîye dan Sekolah Menengah Atas Kelautan, Deniz İdadîsi, menempati barak Kuleli pada tahun 1872. Penggabungan keduanya diberi nama baru Kuleli İdadîsi.

💡 *Lesson #2* spesialisasi sekolah militer sesuai cabang kematraan.

Pada perang Russia-Turki Utsmani tahun 1877-78 sekolah ini diubah fungsi menjadi rumah-sakit militer karena berada di tapi Selat Bosphorus yang strategis. Para siswa dipindahkan ke gedung kadet Akademi Militer di Pagaltı, bagian İstanbul lainnya. Setelah perang usai para siswa dipulangkan, tapi ke gedung di Çengelköy. Di gedung tersebut mereka kembali digabung kali ini dengan siswa Sekolah Menengah Atas Kemiliteran Medik, Askeri Tıbbiye İdadîsi, pada tahun 1879.

💡 *Lesson #3* selalu ada kesiapan multi fungsi dan fleksibilitas peruntukan bangunan.

Sebagian bangsal rumah-sakit militer yang berada di gedung tepi selat juga direalokasi ke tempat ini karena semakin padat. Untuk menjaga ketertiban dan sanitasi, akhirnya rumah-sakit militer tersebut seluruhnya dipindahkan ke Istana Beylerbeyi. Untuk kepentingan spesialisasi, maka sekolah Menengah Atas Militer Medik kembali dipisahkan dan menempati lokal baru di area Haydarpaşa pada tahun 1910.

💡 *Lesson #4* pendidikan tidak boleh berhenti dengan alasan apapun.

Pada Perang Balkan 1912-13, barak Kuleli kembali diubah fungsi menjadi rumah-sakit militer. Siswa sekolah menengah atas kembali dipisah. Sebagian ditempatkan di Sekolah Menengah Atas Putri Adile di Kandili, lainnya ke Istana Beylerbeyi. Pada akhir peperangan semua kembali ke gedungnya masing-masing pada tahun 1913.

💡 *Lesson #5* membiasakan siswa kadet militer hidup prihatin itu perlu.

Sepanjang Perang Dunia Pertama, sekolah ini dipindahkan ke Rumah Yatim milik Greek Orthodox di Pulau Büyükada Island, lepas pantai kota İstanbul. Pada akhir Perang Dunia Pertama, siswa kembali dipindahkan. Kali ini atas perintah Inggris sesuai ketentuan Perjanjian Mudros. Pulau tersebut menjadi tempat transit bagi anak yatim dan pengungsi Armenia yang dideportasi keluar dari wilayah Turki.

💡 *Lesson #6* kekalahan bukan sebuah pilihan yang positif dalam perang; namun belajar dari kekalahan adalah mutlak.

Siswa sekolah menengah atas militer kembali berpidah-pindah dari tenda-tenda di bawah Jembatan Sünnet di Kağıthane, sebulan kemudian ke markas polisi di Maçka. Karena gedung polisi tersebut akan diduduki Inggris, siswa dipindahkan lagi ke Sekolah Polisi Gendarmerie dekat Istana Beylerbeyi pada tanggal 26 Desember 1920. Setelah Turki berhasil menang dalam Perang Kemerdekaan 1919-22 maka dicapailah Perjanjian Lausanne 1923. Salah satu butir perjanjian adalah Inggris memgevakuasi diri dari barak Kuleli. Siswa kembali ke rumah awal mereka dengan bangga pada tanggal 6 Oktober 1923.

💡 *Lesson #7* siswa kadet sejatinya adalah pejuang.

Sekolah bersejarah ini berubah menjadi Sekolah Menengah Atas Sipil berdasarkan peraturan pendidikan Tevhid-i Tedrisat pada tahun 1924. Sekolah tersebut diubah namanya menjadi Sekolah Menengah Atas Kuleli. Tidak lama, pada akhir tahun 1924, sekolah ini kembali menjadi sekolah militer atas pertimbangan nasionalisme dengan nama Sekolah Menengah Atas Kuleli hingga kini.

💡 *Lesson #8* sekularisasi militer yang sudah menyusup sejak lama dalam tubuh kekhilafahan semakin menjadi setelah kehancuran kekhilafahan.

Sepanjang netralitas Republik Turki pada Perang Dunia Kedua, sekolah ini dipindahkan ke kota Konya mulai bulan Mei 1941. Perpindahan ini sejalan dengan rencana mobilisasi darurat. Gedung yang ditinggalkan siswa kembali menjadi rumah-sakit militer berkapasitas 1000 tempat tidur. Di tempat yang sama, juga ditempatkan Pusat Komando Transportasi Militer Bosphorus.

Sekolah kembali ke tempatnya semua pada penghujung perang, persisnya pads tanggal 18 Agustus 1947. Sekolah bersejarah ini menerapkan kurikulum sains pada tahun akademik 1975-76. Setelah itu, secara bertahap menerapkan sistem pra perguruan tinggi. Masa studi ditingkatkan dari 3 menjadi 4 tahun dengan penambahan kelas persiapan unuversitas.

❔ Bagaimana dengan sekolah-sekolah kita, seberapa besar perjuangannya?