Gemar Berbuat Baik

Kedudukan As Sunnah Nabawiyah dalam Islam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐ŸŒน

๐Ÿ‘ค Ustadz Farid Nu’man Hasan

1๏ธโƒฃย Definisi

๐Ÿ“ Secara bahasa (Lughatan โ€“ Etimologis):

๐Ÿ‘‰ As Sunnah jamaknya adalah As Sunan, Al Qadhi โ€˜Iyadh mengatakan artinya Ath Thariiq (jalan/cara/metode). (Al Qadhiโ€™ Iyadh, Ikmal Al Muโ€™allim, 8/80. Lihat juga Imam Al โ€˜Aini, โ€˜Umdatul Qari, 35/436).

๐Ÿ‘‰ Lalu, Imam Abul Abbas Al Qurthubi mengatakan: Ath Thariiq Al Masluukah (jalan yang dilewati). (Imam Abul Abbas Al Qurthubi, Al Mufhim Lima Asykala Min Talkhishi fi Kitabi Muslim, 22/53)

๐Ÿ‘‰Juga bisa berarti As Siirah (peri kehidupan/perjalanan) (lihat Syaikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Hujjah As Sunnah An Nawawiyah, Hal.ย  88) Juga berarti perilaku. (Kamus Al Munawwir, Hal. 669)

๐Ÿ‘‰ Dalam Al Munjid disebutkan makna As Sunnah, yakni: As Sirah (perjalanan),ย  Ath Thariqah (jalan/metode), Ath Thabiโ€™ah (tabiat/watak), Asy Syariโ€™ah (syariat/jalan). (Al Munjid fil Lughah wal Aโ€™lam, hal. 353)

Hal ini nampak dariย  hadits berikut:

Dari Abu Said Al Khudri Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:

“ู„ูŽุชูŽุชู‘ูŽุจูุนูู†ู‘ูŽ ุณูŽู†ูŽู†ูŽ ู…ูŽู†ู’ ู‚ูŽุจู’ู„ูŽูƒูู…ู’ ุดูุจู’ุฑู‹ุง ุจูุดูุจู’ุฑู ูˆูŽุฐูุฑูŽุงุนู‹ุง ุจูุฐูุฑูŽุงุนู ุญูŽุชู‘ูŽู‰ ู„ูŽูˆู’ ุณูŽู„ูŽูƒููˆุง ุฌูุญู’ุฑูŽ ุถูŽุจู‘ู ู„ูŽุณูŽู„ูŽูƒู’ุชูู…ููˆู‡ู ู‚ูู„ู’ู†ูŽุง ูŠูŽุง ุฑูŽุณููˆู„ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุงู„ู’ูŠูŽู‡ููˆุฏูŽ ูˆูŽุงู„ู†ู‘ูŽุตูŽุงุฑูŽู‰ ู‚ูŽุงู„ูŽ ููŽู…ูŽู†ู’ุŸ “

โ€œKalian akan benar-benar mengikuti sunan (JALAN-JALAN) orang sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sampai-sampai walau mereka melewati lubang biawak, kalian akan menempuhnya juga.โ€ Kami berkata: โ€œWahai Rasulullah, apakah mereka adalah Yahudi dan Nasrani?โ€ Beliau bersabda: โ€œYa Siapa lagi?โ€ (HR. Bukhari No. 3269, 6889, Muslim No. 2669, Ibnu Hibban No. 6703 , Ahmad No. 11800)

Disebutkan dalam sebuah hadits terkenal:

ู…ูŽู†ู’ ุณูŽู†ู‘ูŽ ูููŠ ุงู„ุฅูุณู’ู„ุงู…ู ุณูู†ู‘ูŽุฉู‹ ุญูŽุณูŽู†ูŽุฉู‹ ููŽู„ูŽู‡ู ุฃูŽุฌู’ุฑูู‡ูŽุง ูˆูŽุฃูŽุฌู’ุฑู ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุจูู‡ูŽุง ุจูŽุนู’ุฏูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ู‚ูุตูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูุฌููˆุฑูู‡ูู…ู’ ุดูŽูŠู’ุกูŒ ุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ุณูŽู†ู‘ูŽ ูููŠ ุงู„ุฅูุณู’ู„ุงู…ู ุณูู†ู‘ูŽุฉู‹ ุณูŽูŠู‘ูุฆูŽุฉู‹ ูƒูŽุงู†ูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูุฒู’ุฑูู‡ูŽุง ูˆูŽูˆูุฒู’ุฑู ู…ูŽู†ู’ ุนูŽู…ูู„ูŽ ุจูู‡ูŽุง ู…ูู†ู’ ุจูŽุนู’ุฏูู‡ู ู…ูู†ู’ ุบูŽูŠู’ุฑู ุฃูŽู†ู’ ูŠูŽู†ู’ู‚ูุตูŽ ู…ูู†ู’ ุฃูŽูˆู’ุฒูŽุงุฑูู‡ูู…ู’ ุดูŽูŠู’ุกูŒ

โ€œBarangsiapa dalam Islam memulaiย  KEBIASAAN baik, maka tercatat baginya pahala dan pahala orang yang mengikutinya setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka yang mengikutinya. Barangsiapa dalam Islam memulai kebiasaan buruk, maka tercatat baginya dosa dan dosa orang yang mengikutinya setelahnya, tanpa mengurangi dosa-dosa mereka.โ€ (HR. Muslim, No. 1017, At Tirmidzi No. 2675, An Nasaโ€™i No. 2554, Ibnu Majah No. 203)

Imam Abul Abbas Al Qurthubi Rahimahullah mengomentari kalimat : Man sanna fil Islam sunnatan hasanah โ€ฆ, katanya:

ู…ู† ูุนู„ ูุนู„ุงู‹ ุฌู…ูŠู„ุงู‹

โ€œBarangsiapa yang mengerjakan fiโ€™l (perbuatan/perilaku) yang bagus ..โ€ (Al Mufhim, 9/33)

๐Ÿ“ Makna Secara Istilah (Ishthilahan -Terminologis):

Syaikh Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani menyebutkan makna As Sunnah:

ูˆุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจุงู„ุณู†ุฉ : ุงู„ุทุฑูŠู‚ุฉ ุงู„ุชู‰ ูƒุงู† ุนู„ูŠู‡ุง ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ูˆูŽุณูŽู„ู‘ูŽู…ูŽ ูˆ ุฃุตุญุงุจู‡ ูˆู…ู† ุชุจุนู‡ู… ุจุฅุญุณุงู† ุฅู„ู‰ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ

Yang dimaksud dengan As Sunnah adalah: jalan yang Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, para
sahabatnya, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik berada di atasnya sampai hari kiamat. (Syaikh Said bin Ali bin Wahf Al Qahthani, Syarh Al โ€˜Aqidah Al Wasathiyah, Hal. 10. Mu-asasah Al Juraisi)
Selain itu dalam perkembangannya, makna As Sunnah terbagi menjadi beberapa bagian sesuai disiplin ilmu yang mengikatnya.

๐Ÿ“œ Menurut Ahli Ushul

Imam Ibnul Atsir Rahimahullah mengatakan:

ูˆุฅุฐุง ุฃุทู„ู‚ุช ููŠ ุงู„ุดุฑุนุŒ ูุฅู†ู…ุง ูŠุฑุงุฏ ุจู‡ุง ู…ุง ุฃู…ุฑ ุจู‡ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู…ุŒ ูˆู†ู‡ู‰ ุนู†ู‡ุŒ ูˆู†ุฏุจ ุฅู„ูŠู‡ ู‚ูˆู„ุงุŒ ูˆูุนู„ุง ู…ู…ุง ู„ุง ูŠู†ุทู‚ ุจู‡ ุงู„ูƒุชุงุจ ุงู„ุนุฒูŠุฒุŒ ูˆู„ู‡ุฐุง ูŠู‚ุงู„: ููŠ ุฃุฏู„ุฉ ุงู„ุดุฑุน ุงู„ูƒุชุงุจ ูˆุงู„ุณู†ุฉ. ุฃูŠ ุงู„ู‚ุฑุขู† ูˆุงู„ุญุฏูŠุซ

โ€œJika dilihat dari sudut pandang syaraโ€™, maka maksudnya adalah apa-apa yang diperintahkan dan dilarang Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, dan apa yang dianjurkannya baik perkataan, perbuatan yang tidak dibicarakan oleh Al Quran. Maka, dikatakan: tentang dalil-dalil Syaraโ€™ adalah Al Kitab dan As Sunnah, yaitu Al Quran dan Al
Hadits.โ€ (An Nihayah, 1/186)

Syaikh Abdul Qadir As Sindi Rahimahullah mengatakan:

ุนุจุงุฑุฉ ุนู…ุง ุตุฏุฑ ุนู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ุง ุนุฏุง ุงู„ู‚ุฑุขู† ุงู„ูƒุฑูŠู… ู…ู† ู‚ูˆู„, ุฃูˆ ูุนู„, ุฃูˆ ุชู‚ุฑูŠุฑุŒ ููŠุฎุฑุฌ ู…ู† ุงู„ุณู†ุฉ ุนู†ุฏู‡ู… ู…ุง ุตุฏุฑ ู…ู† ุบูŠุฑู‡ ุนู„ูŠู‡ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุงู„ุณู„ุงู… ุฑุณูˆู„ุง ูƒุงู† ุฃูˆ ุบูŠุฑ ุฑุณูˆู„ุŒ ูˆู…ุง ุตุฏุฑ ุนู†ู‡ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู‚ุจู„ ุงู„ุจุนุซุฉ

โ€œKeterangan tentang apa yang berasal dari Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam selain dari Al Quran Al Karim, berupa perkataan, perbuatan, atau persetujuannya. Yang tidak termasuk dari As Sunnah menurut mereka adalah apa yang selain dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, baik dia seorang rasul atau selain rasul, dan apa-apa yang berasal dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam sebelum masa biโ€™tsah (masa diutusย  menjadi rasul).โ€

(Syaikh Abdul Qadir bin Habibullah As Sindi, Hujjah As Sunnah An Nawawiyah, Hal.ย  88. 1975M-1395H. Penerbit: Al Jamiโ€™ah Al Islamiyah – Madinah)

Jadi, menurut para ahli ushul, As sunnah adalah semua yang datang dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, bukan dari selainnya dan bukan pula dari Al Quran, khususnya yang berimplikasi kepada hukum syaraโ€™, baik berupa perintah, larangan, dan anjuran.

๐Ÿ“œ Menurut Fuqaha (Ahli Fiqih)

Berkata Syaikh Abdul Qadir As Sindi:

ูู‡ูŠ ุนู†ุฏู‡ู… ุนุจุงุฑุฉ ุนู† ุงู„ูุนู„ ุงู„ุฐูŠ ุฏู„ ุงู„ุฎุทุงุจ ุนู„ู‰ ุทู„ุจู‡ ู…ู† ุบูŠุฑ ุฅูŠุฌุงุจุŒ ูˆูŠุฑุงุฏูู‡ุง ุงู„ู…ู†ุฏูˆุจ ูˆุงู„ู…ุณุชุญุจุŒ ูˆุงู„ุชุทูˆุนุŒ ูˆุงู„ู†ูู„ุŒ ูˆุงู„ุชูุฑู‚ุฉ ุจูŠู† ู…ุนุงู†ูŠ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃู„ูุงุธ ุงุตุทู„ุงุญ ุฎุงุต ู„ุจุนุถ ุงู„ูู‚ู‡ุงุกุŒ ูˆู‚ุฏ ุชุทู„ู‚ ุนู„ู‰ ู…ุง ูŠู‚ุงุจู„ ุงู„ุจุฏุนุฉ ู…ู†ู‡ ู‚ูˆู„ู‡ู… ุทู„ุงู‚ ุงู„ุณู†ุฉ ูƒุฐุงุŒ ูˆุทู„ุงู‚ ุงู„ุจุฏุนุฉ ูƒุฐุงุŒ ูู‡ู… ุจุญุซูˆุง ุนู† ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ุตู„ุฉ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุงู„ุฐูŠ ุชุฏู„ ุฃูุนุงู„ู‡ ุนู„ู‰ ุญูƒู… ุดุฑุนูŠ

โ€œMaknanya menurut mereka adalahย  istilah tentang perbuatan yang menunjukkan perkataanย  perintah selain
kewajiban. Persamaannya adalah mandub (anjuran), mustahab (disukai), tathawwuโ€™ (suka rela), an nafl (tambahan). Perbedaanย  makna pada lafaz-lafaz istilah ini, memiliki makna tersendiri bagi sebagian fuqaha. Istilah ini juga digunakan sebagai lawan dari bidโ€™ah, seperti perkataan mereka: thalaq sunah itu begini, thalaq bidโ€™ah itu begini . Jadi,ย  pembahasan mereka pada apa-apa yang datang dari Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam
yang menunjukkan perbuatannya itu sebagai hukum syarโ€™i.โ€ (Ibid)

๐Ÿ“œ Menurut Muhadditsin (Ahli Hadits)

Beliau juga mengatakan:

ุงู„ุฑุฃูŠ ุงู„ุณุงุฆุฏ ุจูŠู†ู‡ู… – ูˆู„ุง ุณูŠู…ุง ุงู„ู…ุชุฃุฎุฑูŠู† ู…ู†ู‡ู… – ุฃู† ุงู„ุญุฏูŠุซ ูˆุงู„ุณู†ุฉ ู…ุชุฑุงุฏูุงู† ู…ุชุณุงูˆูŠุงู† ูŠูˆุถุน ุฃุญุฏู‡ู…ุง ู…ูƒุงู† ุงู„ุขุฎุฑ

Pendapat utama di antara mereka โ€“apalagi kalangan mutaโ€™akhirin- bahwa Al Hadits danย  As Sunnah adalah muradif (sinonim-maknanya sama), yang salah satunya diletakkan pada posisi yang lain. (Ibid)
Sedangkan hadits adalah โ€“sebagaimana dikatakan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullah:

ุงู„ุญุฏูŠุซ ุงู„ู†ุจูˆูŠ ู‡ูˆ ุนู†ุฏ ุงู„ุฅุทู„ุงู‚ ูŠู†ุตุฑู ุฅู„ู‰ ู…ุง ุญูุฏู‘ูุซ ุจู‡ ุนู†ู‡ ุจุนุฏ ุงู„ู†ุจูˆุฉ : ู…ู† ู‚ูˆู„ู‡ ูˆูุนู„ู‡ ูˆุฅู‚ุฑุงุฑู‡ุŒ ูุฅู† ุณู†ุชู‡ ุซุจุชุช ู…ู† ู‡ุฐู‡ ุงู„ูˆุฌูˆู‡ ุงู„ุซู„ุงุซุฉ

โ€œAl Hadits An Nabawi adalah berangkat dari apa-apa yang diceritakan darinya setelah masa kenabian: berupa perkataan, perbuatan, dan persetujuannya. Jadi, sunahnya ditetapkan dari tiga hal ini.โ€ (Majmuโ€™ Al Fatawa, 18/6)

Syaikh Dr. Mahmud Ath Thahhan mendefinisikan Al Hadits:

ู…ุง ุงุถูŠู ุฅู„ู‰ ุงู„ู†ุจู‰ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู…ู† ู‚ูˆู„ ุงูˆ ูุนู„ ุงูˆ ุชู‚ุฑูŠุฑ ุงูˆ ุตูุฉ

โ€œApa saja yang dikaitkan kepada Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam berupa perkataan, atau perbuatan, atau persetujuan, atau sifatnya.โ€ (Taysirย ย  Mushthalahul Hadits, Hal. 14. Tanpa tahun)

Jadi, makna As Sunnah dalam pandangan ahli hadits adalah semua yang disandarkan kepada Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam setelah diutusnya menjadi Rasul, baik perkatan, perbuatan, persetujuan, dan sifatnya, tanpa dibedakan mana yang mengandung muatan syariat atau bukan, semuanya adalah As Sunnah.

Namun dalam pemakaian sehari-hari, istilah Al Hadits โ€“walau maknanya sama dengan As Sunnah- lebih sering dikaitkan dengan perkataan (Qaul) nabi saja. Maka, sering kita dengar manusia mengatakan sebuah kalimat:

โ€œDalam sebuah hadits nabi bersabda โ€ฆ.โ€, jarang sekali kita dengar manusia mengatakan: โ€œDalam sebuah sunah nabi bersabda โ€ฆโ€

Hal ini dikatakan oleh Prof. Dr. โ€˜Ajaj Al Khathib, dalam kitab Ushulul Hadits, sebenarnya Al Hadits merupakan sinonim dari As Sunnah, yaitu segala sesuatu yang berasal dari Rasulullah baik ucapan, perbuatan, dan taqrir.

Namun, dalam pemakaiannya Al Hadits lebih sempit maknanya, yaitu identik dengan qauliyah (ucapan) Rasulullah Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, sebagaimana yang ditetapkan oleh para Ahli Ushul. (Prof. Dr.Muhammad โ€˜Ajaj Al Khathib, Ushulul Hadits, hal. 8)

๐Ÿ”ˆ Bersambung…..


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Berbuat Kebajikan

Keutamaan Bulan Dzulhijjah

๐ŸŒน๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒท๐ŸŒน๐ŸŒท

๐Ÿ‘ค Ustadz Farid Nu’man Hasan
——————–

1โƒฃ Salah Satu Bulan-Bulan Haram

Rasulullah ๏ทบ bersabda:
ุงู„ุณู†ุฉ ุงุซู†ุง ุนุดุฑ ุดู‡ุฑุงู‹ุŒ ู…ู†ู‡ุง ุฃุฑุจุนุฉูŒ ุญุฑู…ูŒ: ุซู„ุงุซูŒ ู…ุชูˆุงู„ูŠุงุชูŒ ุฐูˆ ุงู„ู‚ุนุฏุฉุŒ ูˆุฐูˆ ุงู„ุญุฌุฉ ูˆุงู„ู…ุญุฑู…ุŒ ูˆุฑุฌุจ ู…ุถุฑ ุงู„ุฐูŠ ุจูŠู† ุฌู…ุงุฏู‰ ูˆุดุนุจุงู†
โ€œSetahun ada 12 bulan, di antaranya terdapat 4 bulan haram: tiga yang awal adalah DzulQaโ€™dah, DzulHijjah, dan Muharam. Sedangkan Rajab yang penuh kemuliaan antara dua Jumadil dan Syaโ€™ban.โ€ (HR. Bukhari No. 3025)
Allahย  ๏ทป berfirman:
ูŠูŽุง ุฃูŽูŠูู‘ู‡ูŽุง ุงู„ูŽู‘ุฐููŠู†ูŽ ุขูŽู…ูŽู†ููˆุง ู„ูŽุง ุชูุญูู„ูู‘ูˆุง ุดูŽุนูŽุงุฆูุฑูŽ ุงู„ู„ูŽู‘ู‡ู ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ุดูŽู‘ู‡ู’ุฑูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฑูŽุงู…
ูŽ
โ€œHai orang-orang yang beriman, janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah , dan jangan melanggar kehormatan bulan-bulan haram โ€ฆโ€ (QS. Al Maidah (5): 2)
Maksud dari โ€œJangan melanggar kehormatan bulan-bulan haramโ€ adalah larangan berperang di bulan-bulan itu. Sebagian imam ahli tafsir menyebutkan bahwa, hukum berperang pada bulan-bulan haramย  adalah dibolehkan, sebab ayat ini telah mansukh (direvisi) secara hukum oleh ayat: โ€œPerangilah orang-orang musyrik di mana saja kalian menjumpainya โ€ฆ.โ€.ย  Sementara, ahli tafsir lainnya mengatakan, bahwa ayat ini tidak mansukh, sehingga larangan berperang pada bulan itu tetap berlaku kecuali darurat. Dan, Imam Ibnu Jarir lebih menguatkan pendapat yang menyatakan bahwa ayat ini mansukh (direvisi) hukumnya. (Jamiโ€™ Al Bayan, 9/478-479. Darul Kutub Al โ€˜Ilmiyah)ย  Imam Ibnu Rajab mengatakan kebolehan berperang pada bulan-bulan haram adalah pendapat jumhur (mayoritas ulama), pelarangan hanya terjadi pada awal-awal Islam. (Lathaif Al Maโ€™arif Hal. 116. Mawqiโ€™ Ruh Al Islam)

2โƒฃ Sepuluh hari pertama yang penuh kemuliaan

Yaitu tanggal 1 โ€“ 10 Dzulhijjah, di mana Allah ๏ทป berfirman:
ูˆูŽุงู„ู’ููŽุฌู’ุฑู (1) ูˆูŽู„ูŽูŠูŽุงู„ู ุนูŽุดู’ุฑู (2)
Demi fajar,ย ย  dan malam yang sepuluh. (QS. Al Fajr (89): 1-2)
Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan maknanya:
ูˆุงู„ู„ูŠุงู„ูŠ ุงู„ุนุดุฑ: ุงู„ู…ุฑุงุฏ ุจู‡ุง ุนุดุฑ ุฐูŠ ุงู„ุญุฌุฉ. ูƒู…ุง ู‚ุงู„ู‡ ุงุจู† ุนุจุงุณุŒ ูˆุงุจู† ุงู„ุฒุจูŠุฑุŒ ูˆู…ุฌุงู‡ุฏุŒ ูˆุบูŠุฑ ูˆุงุญุฏ ู…ู† ุงู„ุณู„ู ูˆุงู„ุฎู„ู
(Dan demi malam yang sepuluh): maksudnya adalah sepuluh hari pada Dzulhijjah. Sebagaimana dikatakan
Ibnu Abbas, Ibnu Az Zubeir, Mujahid, dan lebih dari satu kalangan salaf dan khalaf. (Tafsir Al Quran Al โ€˜Azhim, 8/390. Dar Ath Thayyibah)
Ada juga yang mengatakan maksudnya adalah sepuluh hari awal Muharram, ada juga ulama yang memaknai sepuluh hari awal Ramadhan. Namun yang benar adalah pendapat yang pertama. (Ibid)ย  yakni sepuluh awal bulan Dzulhijjah.

3โƒฃ Amal shalih sepuluh hari pertama setara dengan derajat syahid

Dari Ibnu Abbas Radhiallahu โ€˜Anhuma, bahwasanya Rasulullahย  ๏ทบ bersabda:

ู…ูŽุง ุงู„ู’ุนูŽู…ูŽู„ู ูููŠ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูŽูู’ุถูŽู„ูŽ ู…ูู†ู’ู‡ูŽุง ูููŠ ู‡ูŽุฐูู‡ู ู‚ูŽุงู„ููˆุง ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ู’ุฌูู‡ูŽุงุฏู ู‚ูŽุงู„ูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ุงู„ู’ุฌูู‡ูŽุงุฏู ุฅูู„ู‘ูŽุง ุฑูŽุฌูู„ูŒ ุฎูŽุฑูŽุฌูŽ ูŠูุฎูŽุงุทูุฑู ุจูู†ูŽูู’ุณูู‡ู ูˆูŽู…ูŽุงู„ูู‡ู ููŽู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฑู’ุฌูุนู’ ุจูุดูŽูŠู’ุก

โ€œTidak ada amal yang lebih afdhal dibanding amal pada hari-hari ini.โ€ Mereka bertanya: โ€œTidak juga jihad?โ€ Beliau menjawab: โ€œTidak pula oleh jihad, kecuali seseorang yang keluar untuk mengorbankan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak kembali dengan sesuatu apa pun.โ€ (HR. Bukhari No. 969)
Imam Ibnu Katsir mengatakan maksud dari โ€œpada hari-hari iniโ€ adalah sepuluh hari Dzulhijjah. (Tafsir Al Quran Al โ€˜Azhim, 8/390. Lihat Syaikh Sayyid Ath Thanthawi, Al Wasith, 1/4497. Mawqiโ€™ At Tafasir)
Maka, silahkan kita shaum, tilawah,ย  shalat sunah, sedekah, dan amal shalih lainnya di tanggal-tanggal itu sejauh yang kita mampu.

4โƒฃ Shaum โ€˜Arafah (9 Dzulhijjah)

Dari Qatadah Al Anshari Radhiallahu โ€˜Anhu, katanya:
ูˆูŽุณูุฆูู„ูŽ ุนูŽู†ู’ ุตูŽูˆู’ู…ู ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุฑูŽููŽุฉูŽ ููŽู‚ูŽุงู„ูŽ ูŠููƒูŽูู‘ูุฑู ุงู„ุณู‘ูŽู†ูŽุฉูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุงุถููŠูŽุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุจูŽุงู‚ููŠูŽุฉ
Nabi ditanya tentang puasa hari โ€˜Arafah, beliau menjawab: โ€œMenghapuskan dosa tahun lalu dan tahun kemudian.โ€
(HR. Muslim No. 1162, At Tirmidzi No. 749, An Nasaโ€™i dalam As Sunan Al Kubra No. 2805, Ath Thabari dalam Tahdzibul Atsar No. 763, Ahmad No. 22535, 22650. Ibnu Khuzaimah No. 2117, dan ini adalah lafaz Imam Muslim)
Hadits ini menunjukkan sunahnya puasa โ€˜Arafah. Imam At Tirmidzi Rahimahullah mengatakan:
ูˆู‚ุฏ ุงุณุชุญุจ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ุตูŠุงู… ูŠูˆู… ุนุฑูุฉ ุฅู„ุง ุจุนุฑูุฉ
Para ulama telah menganjurkan berpuasa pada hari โ€˜Arafah, kecuali bagi yang sedang di โ€˜Arafah. (Sunan At Tirmidzi, komentar hadits No. 749)

5โƒฃ Shalat โ€˜Id dan Berqurban

Perintah keduanya disebutkanย  firman Allah ๏ทป;

ููŽุตูŽู„ู‘ู ู„ูุฑูŽุจู‘ููƒูŽ ูˆูŽุงู†ู’ุญูŽุฑ

โ€œMaka dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berkorbanlah.โ€ (QS. Al Kautsar: 2)
Shalat Idul Adha (juga Idhul Fitri) adalah sunah muakadah. Berkata Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah:
ุดุฑุนุช ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนูŠุฏูŠู† ููŠ ุงู„ุณู†ุฉ ุงู„ุงูˆู„ู‰ ู…ู† ุงู„ู‡ุฌุฑุฉุŒ ูˆู‡ูŠ ุณู†ุฉ ู…ุคูƒุฏุฉ ูˆุงุธุจ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุนู„ูŠู‡ุง ูˆุฃู…ุฑ ุงู„ุฑุฌุงู„ ูˆุงู„ู†ุณุงุก ุฃู† ูŠุฎุฑุฌูˆุง ู„ู‡ุง
Disyariatkannya shalat โ€˜Idain (dua hari raya) pada tahun pertama dari hijrah, dia adalah sunah muakadah yang
selalu dilakukan oleh Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam, Beliau memerintahkan kaum laki-laki dan wanita
untuk keluar meramaikannya. (Fiqhus Sunnah, 1/317)
Bagi Malikiyah dan Syafiโ€™iyah adalah sunnah, sedangkan Hanafiyah mengatakan wajib, tapi maksud wajib dalam madzhab Hanafi adalah antara fardhu dan sunnah, sedangkan Hambaliyah mengatakan fardhu kifayah. (Al Mausuโ€™ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 27/240, secara ringkas)
Shalat โ€˜Id dan berqurban, bagi yang sedang tidak haji, merupakanย  amalย  yang mudah diingatย  di bulan Dzulhijjah bagi masyarakat.
Untuk qurban,ย  dari Abu Hurairah Radhiallhu โ€˜Anhu bahwa Rasulullahย  ๏ทบย  bersabda:
ู…ูŽู†ู’ ูƒูŽุงู†ูŽ ู„ูŽู‡ู ุณูŽุนูŽุฉูŒ ูˆูŽู„ูŽู…ู’ ูŠูุถูŽุญู‘ู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุจูŽู†ู‘ูŽ ู…ูุตูŽู„ู‘ูŽุงู†ูŽุง
โ€œBarangsiapa yang memiliki kelapangan (rezeki) dan dia tidak berkurban, maka jangan dekati tempat shalat kami.โ€ย  (HR. Ibnu Majah No.ย  3123, Al Hakim No. 7565, Ahmad No. 8273, Ad Daruquthni No. 53, Al Baihaqi dalamย  Syuโ€™abul Imanย  No. 7334)
Hadits ini dishahihkan oleh Imam Al Hakim dalam Al Mustadraknya No. 7565, katanya: โ€œShahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tapi keduanya tidak meriwayatkannya.โ€ Imam Adz Dzahabi menyepakati hal ini.
Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Shahihul Jamiโ€™ No. 6490, namun hanya menghasankan dalam kitab lainnya seperti At Taโ€™liq Ar Raghib, 2/103, dan Takhrij Musykilat Al Faqr, No. 102.
Sementara Syaikh Syuโ€™aib Al Arnauth mendhaifkan hadits ini, dan beliau mengkritik Imam Al Hakim dan Imam Adz Dzahabi dengan sebutan: โ€œwa huwa wahm minhuma โ€“ ini adalah wahm (samar/tidak jelas/ragu) dari keduanya.โ€ Beliau juga menyebut penghasanan yang dilakukan Syaikh Al Albani dengan sebutan: โ€œfa akhthaโ€™a โ€“ keliru/salah.โ€ (Lihat Taโ€™liq Musnad Ahmad No. 8273)
Para ulama berbeda pendapat tentang hukumnya. Imam Abu Hanifah mengatakan wajib bagi yang sedang lapang rezeki, sedangkan mayoritas ulama mengatakan sunnah. Imam Ash Shanโ€™ani Rahimahulah mengatakan:
ูˆูŽู„ูุถูŽุนู’ูู ุฃูŽุฏูู„ู‘ูŽุฉู ุงู„ู’ูˆูุฌููˆุจู ุฐูŽู‡ูŽุจูŽ ุงู„ู’ุฌูู…ู’ู‡ููˆุฑู ู…ูู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉู ูˆูŽุงู„ุชู‘ูŽุงุจูุนููŠู†ูŽ ูˆูŽุงู„ู’ููู‚ูŽู‡ูŽุงุกู ุฅู„ูŽู‰ ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ุณูู†ู‘ูŽุฉูŒ ู…ูุคูŽูƒู‘ูŽุฏูŽุฉูŒ ุจูŽู„ู’ ู‚ูŽุงู„ูŽ ุงุจู’ู†ู ุญูŽุฒู’ู…ู ู„ูŽุง ูŠูŽุตูุญู‘ู ุนูŽู†ู’ ุฃูŽุญูŽุฏู ู…ูู†ู’ ุงู„ุตู‘ูŽุญูŽุงุจูŽุฉู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ูŽุง ูˆูŽุงุฌูุจูŽุฉูŒ
Dan karenaย  lemahnya alasan mereka yang mewajibkannya, makaย  madzhab jumhur (mayoritas) dari sahabat, tabiโ€™in, dan ahli fiqih, bahwaย  menyembelih qurban adalah sunah muโ€™akkadah, bahkan Imam Ibnu Hazm mengatakan tidak ada yang shahih satu pun dari kalangan sahabat yang menunjukkan kewajibannya.โ€ (Subulus Salam, 4/91)
6โƒฃ Tidak Berpuasa pada Hari Raya ( 10 Dzulhijah) dan hari Tasyriq (11, 12, 13 Dzul Hijjah)
Dari โ€˜Uqbah bin โ€˜Amir Radhiallahu โ€˜Anhu, bahwa Rasulullahย  ๏ทบ bersabda:
ูŠูŽูˆู’ู…ู ุนูŽุฑูŽููŽุฉูŽ ูˆูŽูŠูŽูˆู’ู…ู ุงู„ู†ู‘ูŽุญู’ุฑู ูˆูŽุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุนููŠุฏูู†ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ูŽ ุงู„ู’ุฅูุณู’ู„ูŽุงู…ู ูˆูŽู‡ููŠูŽ ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูŽุดูุฑู’ุจู
Hari โ€˜Arafah, hari penyembelihan qurban, hari-hari tasyriq, adalah hari raya kita para pemeluk islam, itu adalah hari-hari makan dan minum. (HR. At Tirmidzi No. 773, katanya: hasan shahih, Ad Darimi No. 1764, Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: isnaduhu shahih. Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 1586, katanya: โ€œShahih sesuai syarat Bukhari dan Muslim, tetapi mereka tidak meriwayatkannya.โ€ )
Dari Nubaisyah Al Hudzalli, katanya: bahwa Rasulullahย  ๏ทบ bersabda:
ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูŽุดูุฑู’ุจู
Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No. 1141)
Inilah di antara dalil agar kita tidak berpuasa pada hari raya dan hari-hari tasyriq, karena itu adalah hari untuk makan dan minum. Sedangkan untuk puasa pada hari โ€˜Arafah sudah dibahas pada bagian sebelumnya.
Pada saat itu dibolehkan mengadakan beragam acara (haflah) makan-makanย  dan minum, karena memang kaum muslimin sedang berbahagia. Hal itu sama sekali bukan perbuatan yang dibenci. Al Hafizh Ibnu Hajar memberikan penjelasan terhadap hadits ini, katanya:
ูˆุฃู† ุงู„ุฃูƒู„ ูˆุงู„ุดุฑุจ ููŠ ุงู„ู…ุญุงูู„ ู…ุจุงุญ ูˆู„ุง ูƒุฑุงู‡ุฉ ููŠู‡
Sesungguhnya makan dan minum pada berbagai acara adalah mubah dan tidak ada kemakruhan di dalamnya. (Fathul Bari, 4/238)

7โƒฃ Berdzikir Kepada Allah Taโ€™ala pada hari-hari Tasyriq

Dalam riwayat Imam Muslim, dari Nubaisyah Al Hudzalli, bahwa Nabi Shallallahu โ€˜Alaihi wa Sallam bersabda:
ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุงู„ุชู‘ูŽุดู’ุฑููŠู‚ู ุฃูŽูŠู‘ูŽุงู…ู ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูŽุดูุฑู’ุจู
Hari-hari tasyriq adalah hari-hari makan dan minum. (HR. Muslim No.ย  1141), dan dalam riwayat Abu Al Malih ada tambahan: โ€œdan hari berdzikir kepada Allah.โ€ (HR. Muslim No. 1141)
Pada hari-hari tasyriq kita dianjurkan banyak berdzikir, karena Nabi juga mengatakan hari tasyriq adalah hari berdzikir kepada Allah Taโ€™ala. Agar kebahagian dan pesta kaum muslimin tetap dalam bingkai kebaikan, dan tidak berlebihan.
Imam Ibnu Habib menjelaskan tentang berdzikir pada hari-hari tasyriq:
ูŠูŽู†ู’ุจูŽุบููŠ ู„ูุฃูŽู‡ู’ู„ู ู…ูู†ู‹ู‰ ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ุฃูŽู†ู’ ูŠููƒูŽุจู‘ูุฑููˆุง ุฃูŽูˆู‘ูŽู„ูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู ุซูู…ู‘ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุงูุฑู’ุชูŽููŽุนูŽ ุซูู…ู‘ูŽ ุฅูุฐูŽุง ุฒูŽุงู„ูŽุชู’ ุงู„ุดู‘ูŽู…ู’ุณู ุซูู…ู‘ูŽ ุจูุงู„ู’ุนูŽุดููŠู‘ู ูˆูŽูƒูŽุฐูŽู„ููƒูŽ ููŽุนูŽู„ูŽ ูˆูŽุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุฃูŽู‡ู’ู„ู ุงู„ู’ุขููŽุงู‚ู ูˆูŽุบูŽูŠู’ุฑูู‡ูู…ู’ ููŽูููŠ ุฎูุฑููˆุฌูู‡ูู…ู’ ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุตูŽู„ู‘ูŽู‰ ูˆูŽูููŠ ุฏูุจูุฑู ุงู„ุตู‘ูŽู„ูŽูˆูŽุงุชู ูˆูŽูŠููƒูŽุจู‘ูุฑููˆู†ูŽ ูููŠ ุฎูู„ูŽุงู„ู ุฐูŽู„ููƒูŽ ูˆูŽู„ูŽุง ูŠูŽุฌู’ู‡ูŽุฑููˆู†ูŽ
Hendaknya bagi penduduk Mina dan selain mereka untuk bertakbir pada awal siang (maksudnya pagi, pen), lalu ketika matahari meninggi, lalu ketika matahari tergelincir, kemudian pada saat malam, demikian juga yang dilakukan. Ada pun penduduk seluruh ufuk dan selain mereka, pada setiap keluarnya mereka ke tempat shalat dan setelah shalat hendaknya mereka bertakbir pada saat itu,ย  dan tidak dikeraskan. (Imam Abul Walid Al Baji, Al Muntaqa Syarh Al Muwaththaโ€™, 2/463)
Maka, boleh saja bertakbir saat hari-hari tasyriq (11, 12, 13 Dzulhijjah) sebagaimana yang kita lihat pada sebagian masjid dan surau, yang mereka lakukan setelah shalat. Hal ini berbeda dengan Idul Fithri yang bertakbirnya hanya sampai naiknya khatib ke mimbar ketika shalat Idul Fithri, yaitu takbir dalam artian โ€˜takbiranโ€™-nya hari raya. Ada pun sekedar mengucapkan takbirย  (Allahu Akbar) tentunya bolehย  kapan pun juga.
Demikian. Semoga bermanfaat …….
Wallahu Aโ€™lam

Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

๐Ÿ“ฑInfo & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

๐Ÿ’ฐ Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678