Amal dan Ajal

Kedudukan As Sunnah An Nabawiyah Dalam Islam (pengantar – bag. 2)

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

Kemarin kita sudah bahas definisi As Sunnah, selanjutnya kita bahas dalil-dalil kenapa kita menggunakan As Sunnah.

Dalil-Dalil Kehujjahan As Sunnah

Berikut ini adalah dalil-dalil kenapa umat Islam menjadikan As Sunnah sebagai salah satu marja’  (referensi) pokok bersama Al Quran.

Dari Al Qur’an:

Ayat 1:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الأمْرِ مِنْكُمْ فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلا

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (QS. An Nisa (4): 59)

Dikeluarkan oleh Abdullah bin Humaid, Ibnu Jarir, dan Ibnu Abi Hatim, dari ‘Atha, bahwa ayat ‘Taatlah kepada Allah dan Rasul’ adalah mengikuti Al Kitab dan As Sunnah. (Imam Asy Syaukany, Fathul Qadir, 2/166. Mawqi’ Ruh Al Islam)

Athi’uur rasul artinya khudzuu bisunnatihi (ambillah sunahnya). (Imam Ibnu Katsir, Jilid 1, hal. 518. Darul Kutub Al Mishriyah)

Ayat kedua:

فَلَا وَرَبِّكَ لَا يُؤْمِنُونَ حَتَّى يُحَكِّمُوكَ فِيمَا شَجَرَ بَيْنَهُمْ ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Muhammad) sebagai hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (QS. An Nisa (4): 65)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menerangkan:

يُقْسِمُ تَعَالَى بِنَفْسِهِ الْكَرِيمَةِ الْمُقَدَّسَةِ: أَنَّهُ لَا يُؤْمِنُ أَحَدٌ حَتَّى يُحَكم الرَّسُولَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي جَمِيعِ الْأُمُورِ، فَمَا حَكَمَ بِهِ فَهُوَ الْحَقُّ الَّذِي يَجِبُ الِانْقِيَادُ لَهُ بَاطِنًا وَظَاهِرًا؛ وَلِهَذَا قَالَ: {ثُمَّ لَا يَجِدُوا فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا قَضَيْتَ وَيُسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} أَيْ: إِذَا حَكَّمُوكَ يُطِيعُونَكَ فِي بَوَاطِنِهِمْ فَلَا يَجِدُونَ فِي أَنْفُسِهِمْ حَرَجًا مِمَّا حَكَمْتَ بِهِ، وَيَنْقَادُونَ لَهُ فِي الظَّاهِرِ وَالْبَاطِنِ فَيُسَلِّمُونَ لِذَلِكَ تَسْلِيمًا كُلِّيًّا مِنْ غَيْرِ مُمَانِعَةٍ وَلَا مُدَافِعَةٍ وَلَا مُنَازِعَةٍ، كَمَا وَرَدَ فِي الْحَدِيثِ: “وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يَكُونَ هَوَاهُ تَبَعًا لِمَا جِئْتُ بِهِ”

Allah ﷻ bersumpah dengan diriNya yang mulia dan suci, bahwasanya tidaklah seseorang itu beriman sampai dia berhukum kepada Rasulullah ﷺ disemua urusan, maka apa-apa yang diputuskannya adalah kebenaran yang wajib ditaati baik  bathin dan zhahir. Oleh karena itu firmanNya (“kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”) yaitu jika mereka berhukum kepadamu (Muhammad) dan mentaatimu dalam bathin mereka dan mereka tidak ada kesempitan hati pada keputusanmu, dan tidak ada kontradiksi antara bathin dan zhahir mereka, maka mereka menerima secara total tanpa ada penolakan, perlawanan, dan perdebatan, sebagaimana terdapat dalam hadits: “Demi yang jiwaku ada di tanganNya, tidaklah seseorang di antara kamu beriman sampai dia menjadikan hawa nafsunya mengikuti apa-apa yang aku bawa.” (Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 2/349)

Ayat ketiga:

مَنْ يُطِعِ الرَّسُولَ فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ

“Barangsiapa yang mentaati Rasul itu, sesungguhnya ia telah mentaati Allah…” (QS. An Nisa (4): 80)

Imam Ibnu Katsir Rahimahullah mengomentari;

يخبر تعالى عن عبده ورسوله محمد صلى الله عليه وسلم بأنه من أطاعه فقد أطاع الله، ومن عصاه فقد عصى الله،وما ذاك إلا لأنه ما ينطق عن الهوى، إن هو إلا وحي يوحى

Allah Ta’ala mengabarkan tentang hamba dan RasulNya, bahwa barangsiapa yang taat kepadanya, maka itu termasuk taat juga kepada Allah, barangsiapa yang bermaksiat kepadanya maka itu termasuk bermaksiat kepada Allah, dan tidaklah hal itu melainkan bahwa apa yang dikatakannya bukan berasal dari hawa nafsunya, melainkan wahyu kepadanya. (Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 1. hal. 528)

Dan masih banyak ayat lainnya.

Wallahu A’lam

Bersambung … Insya Allah dalil-dalil As Sunnah sendiri.


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Kapan Mulai Takbiran?

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

Dalam Majmu’ Syarah al Muhadzdzab dijelaskan tentang hal ini sebagai berikut:

(ﻓﺼﻞ) ﻭاﻣﺎ ﺗﻜﺒﻴﺮ اﻻﺿﺤﻰ ﻓﻔﻰ ﻭﻗﺘﻪ ﺛﻼﺛﺔ ﺃﻗﻮاﻝ (ﺃﺣﺪﻫﺎ) ﻳﺒﺘﺪﺉ ﺑﻌﺪ اﻟﻈﻬﺮ ﻣﻦ ﻳﻮﻡ اﻟﻨﺤﺮ اﻟﻲ اﻥ ﻳﺼﻠﻰ اﻟﺼﺒﺢ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ اﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻭاﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻲ اﻧﻪ ﻳﺒﺘﺪﺉ ﺑﻌﺪ اﻟﻈﻬﺮ ﻗﻮﻟﻪ ﻋﺰ ﻭﺟﻞ (ﻓﺈﺫا ﻗﻀﻴﺘﻢ ﻣﻨﺎﺳﻜﻜﻢ ﻓﺎﺫﻛﺮﻭا اﻟﻠﻪ) ﻭاﻟﻤﻨﺎﺳﻚ ﺗﻘﻀﻲ ﻳﻮﻡ اﻟﻨﺤﺮ ﺿﺤﻮﺓ ﻭاﻭﻝ ﺻﻼﺓ ﺗﻠﻘﺎﻫﻢ اﻟﻈﻬﺮ ﻭاﻟﺪﻟﻴﻞ ﻋﻠﻲ اﻧﻪ ﻳﻘﻄﻌﻪ ﺑﻌﺪ اﻟﺼﺒﺢ اﻥ اﻟﻨﺎﺱ ﺗﺒﻊ ﻟﻠﺤﺎﺝ ﻭﺁﺧﺮ ﺻﻼﺓ ﻳﺼﻠﻴﻬﺎ اﻟﺤﺎﺝ ﺑﻤﻨﻰ ﺻﻼﺓ اﻟﺼﺒﺢ ﺛﻢ ﻳﺨﺮﺝ (ﻭاﻟﺜﺎﻧﻰ) ﻳﺒﺘﺪﺉ ﺑﻌﺪ ﻏﺮﻭﺏ اﻟﺸﻤﺲ ﻣﻦ ﻟﻴﻠﺔ اﻟﻌﻴﺪ ﻗﻴﺎﺳﺎ ﻋﻠﻰ ﻋﻴﺪ اﻟﻔﻄﺮ ﻭﻳﻘﻄﻌﻪ ﺇﺫا ﺻﻠﻰ اﻟﺼﺒﺢ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ اﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻟﻤﺎ ﺫﻛﺮﻧﺎﻩ (ﻭاﻟﺜﺎﻟﺚ) ﺃﻥ ﻳﺒﺘﺪﺉ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ اﻟﺼﺒﺢ ﻣﻦ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻭﻳﻘﻄﻌﻪ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ اﻟﻌﺼﺮ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ اﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻟﻤﺎ ﺭﻭﻯ ﻋﻤﺮ ﻭﻋﻠﻲ ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ﺃﻥ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ” ﻛﺎﻥ ﻳﻜﺒﺮ ﻓﻲ ﺩﺑﺮ ﻛﻞ ﺻﻼﺓ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ اﻟﺼﺒﺢ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﺇﻟﻰ ﺑﻌﺪ ﺻﻼﺓ اﻟﻌﺼﺮ ﻣﻦ ﺁﺧﺮ اﻳﺎﻡ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ” *

jadi ada tiga pendapat, dalam madzhab Syafi’i:

1. Mulai takbiran dari zuhur hari penyembelihan sampai dengan subuh hari tasyriq yang terakhir

2. Seteleh tenggelam matahari malam hari raya, seperti malam ini, qiyas dengan malam takbiran Idul Fitri, sampai dengan subuh akhir tasyriq

3. Mulai dari ba’da subuh hari arafah sampai dengan ba’da ashar akhir tasyriq

Mana yang paling kuat?

ﻓﺎﻟﺤﺎﺻﻞ ﺃﻥ اﻷﺭﺟﺢ ﻋﻨﺪ ﺟﻤﻬﻮﺭ اﻷﺻﺤﺎﺏ اﻻﺑﺘﺪاء ﻣﻦ ﻇﻬﺮ ﻳﻮﻡ اﻟﻨﺤﺮ ﺇﻟﻰ ﺻﺒﺢ ﺁﺧﺮ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻭاﺧﺘﺎﺭﺕ ﻃﺎﺋﻔﺔ ﻣﺤﻘﻘﻲ اﻷﺻﺤﺎﺏ اﻟﻤﺘﻘﺪﻣﻴﻦ ﻭاﻟﻤﺘﺄﺧﺮﻳﻦ ﺃﻧﻪ ﻳﺒﺪﺃ ﻣﻦ ﺻﺒﺢ ﻳﻮﻡ ﻋﺮﻓﺔ ﻭﻳﺨﺘﻢ ﺑﻌﺼﺮ ﺁﺧﺮ اﻟﺘﺸﺮﻳﻖ ﻣﻤﻦ اﺧﺘﺎﺭﻩ ﺃﺑﻮ اﻟﻌﺒﺎﺱ اﺑﻦ ﺳﺮﻳﺞ ﺣﻜﺎﻩ ﻋﻨﻪ اﻟﻘﺎﺿﻲ ﺃﺑﻮ اﻟﻄﻴﺐ ﻓﻲ اﻟﻤﺠﺮﺩ ﻭﺁﺧﺮﻭﻥ ﻗﺎﻝ اﻟﺒﻨﺪﻧﻴﺠﻲ ﻫﻮ اﺧﺘﻴﺎﺭ اﻟﻤﺰﻧﻲ ﻭاﺑﻦ ﺳﺮﻳﺞ ﻗﺎﻝ اﻟﺼﻴﺪﻻﻧﻲ ﻭاﻟﺮﻭﻳﺎﻧﻲ ﻭﺁﺧﺮﻭﻥ ﻭﻋﻠﻴﻪ ﻋﻤﻞ اﻟﻨﺎﺱ ﻓﻲ اﻷﻣﺼﺎﺭ ﻭاﺧﺘﺎﺭﻩ اﺑﻦ اﻟﻤﻨﺬﺭ ﻭاﻟﺒﻴﻬﻘﻲ ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ﻣﻦ ﺃﺋﻤﺔ ﺃﺻﺤﺎﺑﻨﺎ اﻟﺠﺎﻣﻌﻴﻦ ﺑﻴﻦ اﻟﻔﻘﻪ ﻭاﻟﺤﺪﻳﺚ ﻭﻫﻮ اﻟﺬﻱ اﺧﺘﺎﺭﻩ *

Ternyata pendapat  1, yaitu  di mulai sejak zuhur ketika 10 Dzulhijah …

Tapi, ini pendapat mayoritas Syafi’iyah saja … madzhab lain tidak jauh beda dari 2 pendapat lain di atas.

Sayyid Sabiq memilih dari tanggal 9 Dzulhijah sampai dengan 13 ba’da ashar.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Allahu Robbul Alamin

Takbiran 3x

📝 Pemateri: Farid Nu’man Hasan, SS

Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi berkata dalam kitabnya Al-Muhadzab:

والسنة في التكبير أَنْ يَقُولُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ اللَّهُ أَكْبَرُ ثلاثا لما روى عن ابن عباس انه قال ” الله اكبر ثلاثا ” وعن عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدِ بْنِ أَبِي بَكْرِ بْنِ عَمْرِو بْنِ حَزْمٍ قَالَ رَأَيْت الْأَئِمَّةَ رضى الله عنهم يكبرون أيام التشريق بعد الصلاة ثلاثا وعن الحسن مثله

“Yang sesuai sunnah dalam Takbir adalah mengucapkan Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. Allahu Akbar.. sebanyak tiga kali berdasarkan riwayat dari Ibnu Abbas bahwa beliau mengatakan: Allahu Akbar sebanyak tiga kali.Abdullah bin Muhamad bin Abu Bakr bin Amr bin Hazm mengatakan: Saya melihat para imam bertakbir pada hari-hari Tasyriq setelah shalat sebanyak tiga kali. Riwayat dari Al-Hasan pun demikian.”

قال في الام وان زاد زيادة فليقل بعد الثلاث:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعَدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

“Dalam kitab Al-Umm disebutkan:Seandainya ada yang ingin menambah bacaan maka hendaknya ia membacanya setelah takbir tiga kali tersebut:

اللَّهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا وَالْحَمْدُ لِلَّهِ كَثِيرًا وَسُبْحَانَ اللَّهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَلَا نَعْبُدُ إلَّا إيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ صَدَقَ وَعَدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَهَزَمَ الْأَحْزَابَ وَحْدَهُ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ وَاَللَّهُ أَكْبَرُ

“Allahu akbar kabiran, wal hamdulillahi katsiran, wa subhanallahi bukrotan wa ashilan, la ilaha illallahu, wa la na’budu illa iyyahu, mukhlishina lahud dina, wa lau karihal kafiruna, la ilaha illallahu wahdahu, shodaqo wa’dahu, wa nashoro ‘abdahu, wa hazamal ahzaba wahdahu, la ilaha illallahu, wallahu akbar.”(Allahu Maha Besar sebesar-besarnya, Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya. Maha suci Allah di waktu pagi dan sore hari. Tidak ada tuhan selain Allah dan kita tidak menyembah selain-Nya secara ikhlas hanya untuk-Nya agama ini meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya. Tidak ada tuhan selain Allah saja. Dia menepati janji-Nya, menolong hamba-Nya, mengalahkan musuh-Nya seorang diri. Tidak ada tuhan selain Allah. Allah Maha Besar.)

Imam Syafi’i mengatakan:

وما زاد من ذكر الله فحسن

“Tambahan zikir itu baik.”

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Al Qur'an Nutrisi Akal dan Jiwa

Konsep Kebahagiaan Dalam Islam

📝Dr. Wido Supraha

Terminologi bahagia sebagai sebuah realitas hakiki hanya diulang satu kali, sebagaimana jalan cahaya pun hanya satu di antara ragam kezhaliman, merujuk kepada realitas kebenaran yang juga satu bersama satu realitas rahmat Allah yang melahirkan keberkahan yang banyak dan terus menerus.

Allah Swt. berfirman di dalam Surat Huud [11] ayat 105-108,

يَومَ يَأتِ لا تَكَلَّمُ نَفسٌ إِلّا بِإِذنِهِ ۚ فَمِنهُم شَقِيٌّ وَسَعيدٌ
فَأَمَّا الَّذينَ شَقوا فَفِي النّارِ لَهُم فيها زَفيرٌ وَشَهيقٌ
خالِدينَ فيها ما دامَتِ السَّماواتُ وَالأَرضُ إِلّا ما شاءَ رَبُّكَ ۚ إِنَّ رَبَّكَ فَعّالٌ لِما يُريدُ
۞ وَأَمَّا الَّذينَ سُعِدوا فَفِي الجَنَّةِ خالِدينَ فيها ما دامَتِ السَّماواتُ وَالأَرضُ إِلّا ما شاءَ رَبُّكَ ۖ عَطاءً غَيرَ مَجذوذٍ

Di kala datang hari itu, tidak ada seorangun yang berbicara, melainkan dengan izin-Nya; maka di antara mereka ada yang celaka dan ada yang berbahagia; Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik nafas (dengan merintih); Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki; Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya di dalam syurga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain); sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.

Dari rangkaian ayat di atas, Allah Swt menghadirkan terminologi bahagia (sa’adah; happiness) dan celaka (syaqawah;misery), keduanya adalah terminologi yang saling berlawanan. Kata sa’adah digunakan di dalam Al-Qur’an hanya pada rangkaian ayat ini yakni 1 kata benda (sa’idun) dan 1 kata kerja (su’idu) . Kata shaqawah digunakan di dalam Al-Quran pada 12 tempat, 8 tempat dalam bentuk kata benda (shiqwatna, shaqiyyan, shaqiyyun, ashqa-ha, al-ashqa), dan 4 tempat dalam bentuk kata kerja (yashqa, shaqu, litashqa, fatashqa).

Syed Muhammad Naquib al-Attas dalam Prolegomenamenjelaskan bahwa kebahagiaan dalam perspektif Islam diekspresikan dengan terminologi sa’adah, dan terminologi ini sangat terkait dengan dua dimensi eksistensi, akhirat (ukhrawiyyah) dan dunia (dunyawiyyah). Dalam konteks akhirat, sa’adah bermakna kebahagiaan tertinggi tanpa akhir, diberikan hanya kepada manusia yang selama di dunia memberikan penyerahan diri secara total, menjaga dirinya dari apa yang diperintahkan-Nya dan dilarang-Nya. Maka dari pengertian ini, terminologi sa’adah di akhirat sangat terkait sekali dengan kehidupan dunianya, dalam hal ini mencakup tiga hal: 1) jiwa (nafsiyyah) berkenaan dengan ilmu dan karakter baik; 2) jasad (badaniyyah) berkenaan dengan kesehatan fisik dan rasa aman; dan 3) sisi eksternal jiwa dan jasad (kharijiyyah) berkenaan dengan kesuksesan dan kekayaan dan penyebab lain di luar unsur jiwa dan jasad.

Kebahagiaan dapat juga dimaknai dengan memahami lawan katanya, syaqawah, yang mengandung elemen-elemen khauf, huzn, dank, hasrat, hamm, ghamm, dan ‘usr.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Tha-ha [20] ayat 2,

ما أَنزَلنا عَلَيكَ القُرآنَ لِتَشقىٰ

Kami tidak menurunkan Al Qur’an ini kepadamu agar kamu menjadi susah;

Allah Swt. juga berfirman dalam ayat 117,

فَقُلنا يا آدَمُ إِنَّ هٰذا عَدُوٌّ لَكَ وَلِزَوجِكَ فَلا يُخرِجَنَّكُما مِنَ الجَنَّةِ فَتَشقىٰ

Maka Kami berkata: “Hai Adam, sesungguhnya ini (iblis) adalah musuh bagimu dan bagi isterimu, maka sekali-kali janganlah sampai ia mengeluarkan kamu berdua dari surga, yang menyebabkan kamu menjadi celaka.

Allah Swt. juga berfirman dalam ayat 123,

قالَ اهبِطا مِنها جَميعًا ۖ بَعضُكُم لِبَعضٍ عَدُوٌّ ۖ فَإِمّا يَأتِيَنَّكُم مِنّي هُدًى فَمَنِ اتَّبَعَ هُدايَ فَلا يَضِلُّ وَلا يَشقىٰ

Allah berfirman: “Turunlah kamu berdua dari surga bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh bagi sebagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikut petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.

Bersama tiga ayat Surat Tha-ha, manusia akan terbebas dari ‘shaqawah‘ jika menjalani kehidupan berpedoman dengan Al-Qur’an, menjauhi gangguan iblis, dan istiqomah mengikuti petunjuk Allah Swt.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Mukminum [23] ayat 106,

قالوا رَبَّنا غَلَبَت عَلَينا شِقوَتُنا وَكُنّا قَومًا ضالّينَ

Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Maryam [19] ayat 4,

قالَ رَبِّ إِنّي وَهَنَ العَظمُ مِنّي وَاشتَعَلَ الرَّأسُ شَيبًا وَلَم أَكُن بِدُعائِكَ رَبِّ شَقِيًّا

Ia berkata “Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah ditumbuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo’a kepada Engkau, ya Tuhanku.

Allah Swt. juga berfirman pada ayat 32,

وَبَرًّا بِوالِدَتي وَلَم يَجعَلني جَبّارًا شَقِيًّا

Dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka.

Allah Swt juga berfirman dalam ayat 48,

وَأَعتَزِلُكُم وَما تَدعونَ مِن دونِ اللَّهِ وَأَدعو رَبّي عَسىٰ أَلّا أَكونَ بِدُعاءِ رَبّي شَقِيًّا

Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah, dan aku akan berdo’a kepada Tuhanku,mudah-mudahan aku tidak akan kecewa dengan berdo’a kepada Tuhanku”.

Bersama tiga ayat dalam Surat Maryam ini, kita menyaksikan bagaimana para Nabi seperti Nabi Zakaria a.s., Nabi ‘Isa a.s., dan Nabi Ibrahim a.s. sentiasa bermunajat kepada Allah agar terhindar dari ‘syaqawah‘.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Syams [91] ayat 12,

إِذِ انبَعَثَ أَشقاها

Ketika bangkit orang yang paling celaka di antara mereka,

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al A’laa [87] ayat 11,

وَيَتَجَنَّبُهَا الأَشقَى

Dan orang-orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Lail [92] ayat 15,

لا يَصلاها إِلَّا الأَشقَى

Tidak ada yang masuk ke dalamnya kecuali orang yang paling celaka; Yang mendustakan (kebenaran) dan berpaling (dari iman).

Kebahagiaan harus diawali dengan mengenali hakikat diri. Unsur jiwa di dalam Al-Qur’an merupakan substansi  spiritual yang mengacu kepada qalb (hearth), nafs (soul or self),‘aql (intellect), atau ruh (spirit), melibatkan dua aspek, jasad dan ruh, maka di satu sisi kita mengenal al-nafs al-hayawaniyyah dan di sisi lain al-nafs al-natiqah (rational soul). Cara seseorang dalam meraih kebahagiaan tergantung pada aspek mana yang dipilihnya yang paling memberikan pengaruh. Kedua aspek ini melahirkan dua kekuatan, kekuatan nafsu hewan adalah motif dan perseptif, sementara kekuatan rasio adalah aktif dan kognitif.

Kebahagiaan harus selalu dihiasi dengan kebajikan. Kebajikan di dalam Islam mencakup apa yang bersifat zhahir (eksternal) dan bathin (internal). Kebajikan eksternal mencakup lima hal utama yakni ritual ibadah yang benar, pembacaan Al-Qur’an, dzikrullah, do’a, memenuhi seluruh keunikan cara hidup dan akhlak Muslim. Kebajikan internal mengacu pada aktifitas-aktifitas hati yang menggabungkan niyyah, ‘amal, ikhlas, dan shidq. Mengenal diri secara lebih baik akan mengarahkan kepada pengetahuan mana yang berkualitas baik dan buruk. Kebiasaan kita dalam proses pemilihan ini akan melibatkan ragam aktifitas diri mulai dari tafakkur (meditation), taubah (repentance), shabr (patience), syukr (gratitude), raja (hope), khauf (fear), tauhid (divine unity), tawakkal (trust), hingga mahabbah (love of god).

Kebahagiaan sangat erat kaitannya dengan iman, sebagai kata amina bermakna aman, bebas dari segala ketakutan, maka terminologi khauf merupakan lawan kata amnu, jika menggunakan pengertian ketakutan kepada selain Allah. Adapun khauf kepada Allah justru akan menghadirkan ‘iffah (temperance), wara’ (abstinence), taqwa (piety), sidq (truthfulness). Dari sinilah kita menjadi faham mengapa iman sangat terkait dengan kondisi-kondisi tatma’innu, tuma’ninah, sehingga melahirkan al-nafs al-muthma’innah.

Allah Swt. berfirman dalam Surat Al-Ra’d [13] ayat 28,

الَّذينَ آمَنوا وَتَطمَئِنُّ قُلوبُهُم بِذِكرِ اللَّهِ ۗ أَلا بِذِكرِ اللَّهِ تَطمَئِنُّ القُلوبُ

(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.

Keimanan kepada Allah hanya akan melahirkan keyakinan (yaqin) utuh bahwa seluruh hakikat kepastian hanya datang dari Allah semata. Maka terminologi yaqin berlawanan dengan syakk(keraguan) dan zhann (prasangka). Keyakinan dalam Al-Qur’an disebutkan dalam tiga tingkatan: ‘ilm al-yaqin, ‘ayn al-yaqin, dan haqq al-yaqin. Maka yakinlah kebahagiaan akan hadir manakalah iman tidak lagi terganggu dengan keraguan dan prasangka, iman yang dibangun di atas ilmu sehingga menghadirkan bashirah.

Akhirul kalam, Ibn Khaldun mengatakan, “Bahagia itu tunduk dan patuh mengikuti garis-garis yang ditentukan Allah dan perikemanusiaan”, Ibn Khalid mengatakan, “Bahagia itu sentosa perangai, kuat ingatan, bijaksana akal, tenang dan sabar menuju maksud. Maka jadilah orang yang berbahagia (KUN SA’IIDAN) dengan berpegang teguh dalam agama, maka kebahagiaan hakiki akan diraih.

Buya Hamka mengutip sya’ir Hutai’ah,

Bukanlah kebahagiaan itu pada mengumpul harta benda;

Tetap taqwa akan Allah itulah bahagia

Taqwa akan Allah itulah bekal yang sebaik-baiknya disimpan,

Pada sisi Allah sajalah kebahagiaan para orang yang taqwa.


🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸
Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Doa Yang Paling Cepat Diijabah

📝 Dra, Indra Asih

Sebaik-baik do’a adalah do’a hari Arafah (9 Dzulhijjah). Maksudnya, do’a ini paling cepat diijabahi.

Dari ‘Aisyah, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arafah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim).

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya dari kakeknya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ الدُّعَاءِ دُعَاءُ يَوْمِ عَرَفَةَ

“Sebaik-baik do’a adalah do’a pada hari Arafah.” (HR. Tirmidzi).

Apakah keutamaan do’a ini hanya khusus bagi yang wukuf di Arafah?

Apakah berlaku juga keutamaan ini bagi orang yang tidak menunaikan ibadah haji?

Mustajabnya do’a tersebut adalah umum, baik bagi yang berhaji maupun yang tidak berhaji karena keutamaan yang ada adalah keutamaan pada hari.

Sedangkan yang berada di Arafah (yang sedang wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah), ia berarti menggabungkan antara keutamaan waktu dan tempat.

Do’a ini bagi yang wukuf dimulai dari siang hari selepas matahari tergelincir ke barat (masuk shalat Zhuhur) hingga terbenamnya matahari.

Semoga Allah memudahkan kita untuk menyibukkan diri dengan do’a pada hari Arafah.


🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸
Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Amal dan Ajal

Rahasiakan Amalmu

📝Syahroni Mardani, Lc

Amal seorang hamba akan diterima oleh Allah mesti memenuhi dua syarat yaitu Ikhlas dan sesuai dengan tuntunan Rosulullah SAW.

Beramal baik dan menampakannya agar bisa menjadi contoh orang lain memang bukanlah dilarang dan juga bukan berarti kita tidak ikhlas, karena memang ikhlas bukan terletak pada ditampakkan atau tidaknya amalan kebaikan kita, tetapi setidaknya dari kisah-kisah berikut dapatlah kita ketahui “posisi khusus” yang Allah janjikan dan Rasulullah SAW khabarkan bagi mereka yang menyembunyikan amal-amal baiknya.

قال سعد بن أبي وقاص : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول “إن الله يحب العبد التقي الغني الخفي”. (رواه مسلم)

Saad bin Abi Waqqas berkata, Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya Allah swt senang pada hamba-Nya yang bertaqwa, kaya (hatinya) dan suka menyembunyikan amalnya.
(HR Muslim)

“من استطاع منكم أن يكون له  خبء من عمل صالح فليفعل“

“Barang siapa yang dapat memiliki amal soleh yang disembunyikannya, maka lakukanlah”

“اكتم من حسناتك كما تكتم من سيئاتك”

Salamah bin Dinar berkata, “Sembunyikanlah kebaikanmu seperti engkau sembunyikan keburukanmu”

SHALAT SUNNAH DI RUMAH

صلوا أيها الناس في بيوتكم فإن أفضل الصلاة صلاة المرء في بيته إلا المكتوبة (متفق عليه)

“Wahai sahabatku, shalatlah kalian di rumah kalian. Sesung-guhnya sebaik-baik shalatnya seseorang adalah shalat yang dikerjakan di rumahnya sendiri, kecuali shalat wajib (shalat fardhu).  (Muttafaq Alaih)

صلاة الرجل تطوعا حيث لا يراه الناس تعدل صلاته علي أعين الناس خمسا وعشرون  (رواه أبويعلى)

Shalat sunnahnya seseorang jauh dari pandangan manusia (tak ada orang yang melihat) jika dibandingkan dengan shalatnya dihadapan manusia, bandingannya (pahalanya) 25 kali lipat. (HR Abu Ya’la)

MERAHASIAKAN PUASA SUNNAH

“إذا كان يوم  صوم أحدكم فليصبح دهينا مترجلا”

Sahabat Ibnu Abbas berkata, “Jika salah seorang diantaramu sedang berpuasa, maka hendaklah dia memakai minyak wangi da bersisirlah”. (selalu berpenampilan segar, sehingga orang lain tak menyangka kalau dia sedang berpuasa)

MERAHASIAKAN DOA ; MENDOAKAN ORANG LAIN TANPA BILANG BILANG

Dari Abu Darda ra sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, “Doa seorang muslim untuk saudaranya tanpa saudaranya tahu adalah sangat mustajab. Di atas kepala orang yang sedang berdoa ini ada malaikat yang menyertainya. Setiap dia mendoakan kebaikan untuk saudaranya, maka malaikat berkata, “Amin, engkau juga mendapatkan hal yang sama”. (HR Muslim)

العبد المسلم يغفر له وهو نائم

Ummu Darda meriwayatkan bahwa Abu Darda pernah berkata, “Seorang hamba muslim diampuni dosanya padahal dia sedang tidur”. Ummu Darda bertanya, “Bagaimana maksudnya dia diampuni padahal dia sedang tidur?”. Abu Darda menjelaskan, “Saat dia sedang tidur, saudaranya bangun malam untuk qiyamullail dan mendoakan orang yang sedang tidur ini. Doanya dikabulkan Allah. Lalu, orang yang tidur ini bangun dan juga bangun untuk qiyamullail dan juga mendoakan saudaranya yang pertama tadi. Doanya juga dikabulkan Allah”. (HR Bukhari)

من كنوزالبر كتمان المصائب والأمراض والصدقة (رواه أبونعيم)

Rasulullah saw bersabda, “Termasuk perbendaharaan kebaikan adalah merahasiakan musibah, penyakit dan sodaqoh”. (HR Abu Nuaim).

Dari Abu Hurairoh ra dari Nabi saw bersabda, “Ada tujuh golongan yang akan mendapatkan perlindungan dari Allah pada saat tak ada perlindungan lain selain perlindungan Allah swt: … seseorang yang bersedekah dan dia sembunyikan sedekahnya hingga tangan kirinya tak tahu apa yang dikeluarkan oleh tangan kanannya,.. (Muttafaq Alaih)

“الجاهر بالقرآن كالجاهر بالصدقة والمُسِر بالقرآن كالمُسِر بالصدقة”

“Orang yang mengeraskan suara saat membaca Al Quran bagaikan orang yang menampakkan sedekahnya. Dan orang yang merendahkan suaranya saat membaca Al Quran bagaikan orang yang merahasiakan sedekahnya. (HR Ahmad).

Semoga kisah-kisah dalam Sunnah di atas dapat menginspirasikan kita dalam beramal dan semoga Allah menerima segala amal ibadah kita. Aaamiiin.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Gemar Berbuat Baik

Istimrariyah (Kontinyuitas)

📝 Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir, Lc

Istimroriyah artinya berkelanjutan atau bahasa kerennya adalah kontinyuitas. Dia adalah sebuah sikap yang menunjukkan upaya tak kenal henti dalam menekuni satu perbuatan, dalam bahasa kita dikenal istilah kontinyuitas.

Berbicara tentang sebuah cita-cita, harapan, dan keinginan-keinginan yang ingin digapai apalagi menyangkut perkara yang sangat berarti dalam kehidupan, maka istimroriyah mutlak disertakan. Tanpa itu, keinginan hanyalah sebatas keinginan, harapan tinggallah harapan.

Realita kehidupan sering memberikan pelajaran kepada kita bahwa keberhasilan seseorang –dalam berbagai bidangnya – lebih banyak disebabkan oleh keuletannya dan sikap pantang menyerah dalam menggeluti sebuah perbuatan dibanding potensi-potensi lainnya yang dia miliki. Karena sunnatullah dalam kehidupan ini adalah adanya proses sebelum terwujudnya sesuatu, semakin besar sesuatu tersebut, semakin panjang pula proses yang harus dilalui. Itu artinya semakin besar harapan kita, maka proses yang harus dilalui semakin panjang dan berat, di sinilah kita dapat memahami pentingnya istimroriyah.

Pada titik ini pula kita dapat memahami sabda Rasulullah saw,

أَحَبَّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ (متفق عليه)

“Amalan yang paling dicintai adalah yang kontinyu, meskipun sedikit.” (Muttafaq alaih)
Keinginan meraih sebuah harapan, baik urusan dunia maupun akhirat tanpa disertai istimroriyah bak pungguk merindukan bulan.

Dalam kontek dakwah, istimroriyah menjadi kata kunci tersendiri. Ciri bahwa sebuah gerakan dakwah itu sehat adalah adanya sifat istimroriyahnya. Kalau sekedar membangkitkan emosi seseorang untuk berjuang, gemas dengan berbagai bentuk kemungkaran, prihatin dengan berbagai kekurangan dan semacamnya, itu adalah perkara yang relatif mudah. Tetapi bagaimana menjaga stamina agar seseorang terus berada dalam track (jalur) dakwah, terus bergerak, berinovasi tanpa henti. Itulah yang sulit, padahal disitulah letak keberhasilan sebuah dakwah di sisi Allah Ta’ala yang pada akhirnya akan melahirkan keberhasilan yang riil di tengah masyarakat.

Hendaklah kita belajar dari para Nabi bagaimana mereka tak kenal henti berdakwah hingga kesempatan terakhir yang tersedia, betapapun halangan yang mereka dapatkan.

Dan… belajarlah kita dari orang yang paling kita cintai; Rasulullah j, tak kenal henti beliau berjuang, tertutup di sana beliau cari di sini, terhalang di sini beliau upayakan di sana, begitu seterusnya. Bahkan ketika ada tawaran dari malaikat untuk membinasakan kaumnya yang selalu menyakitinya dengan membalikkan gunung di atas mereka, dengan penuh kasih sayang beliau berkata,

بَلْ أَرْجُو أَنْ يُخْرِجَ اللَّهُ مِنْ أَصْلَابِهِمْ مَنْ يَعْبُدُ اللَّهَ وَحْدَهُ لَا يُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا

“Aku masih berharap bahwa nantinya akan lahir anak keturunan mereka yang menyembah Allah semata dan tidak menyekutukannya.” (Muttafaq alaih)
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

berdoa setelah membaca alfatihah

Surat Al Fatihah (Bag. 1)

📝 Pemateri: Ahmad Sahal, Lc

Surat Al-Fatihah adalah makkiyyah (diturunkan sebelum hijrah Nabi Muhammad saw ke Madinah) menurut pendapat yang lebih kuat. Dalilnya adalah bahwa surat Al-Fatihah disebutkan oleh surat Al-Hijr ayat 87:

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung. (Al-Hijr: 87)

Sedangkan para ulama sepakat bahwa surat Al-Hijr termasuk surat makkiyyah.PenamaanBanyak nama yang disematkan untuk surat Al-Fatihah. Dalam pembahasan ini hanya disebutkan beberapa nama yang bersandar dari Al-Qur’an atau Hadits Rasulullah saw saja, diantaranya:

1. Fatihatul Kitab (Pembuka Al-Qur’an) berdasarkan hadits Rasulullah saw:

لاَ صَلاَةَ لِمَنْ لَمْ يَقْرَأْ بِفَاتِحَةِ الْكِتَابِ (رواه البخاري)

Tidak sah shalat bagi siapa yang tak membaca Fatihatul Kitab (HR. Al-Bukhari)

Dinamakan Fatihatul Kitab karena surat ini menjadi pembuka bacaan Al-Quran baik secara lisan  saat dilafalkan maupun secara tulisan di dalam mushaf. Surat ini juga menjadi pembuka bacaan yang wajib dalam shalat.

2. Ummul Qur’an sesuai hadits Rasulullah saw:

مَنْ صَلَّى صَلَاةً لَمْ يَقْرَأْ فِيْهَا بِأُمِّ القُرْآنِ فَهِيَ خِدَاجٌ –ثَلَاثًا- غَيْرُ تَمَامٍ  (رواه مسلم)

Siapa yang melaksanakan shalat tidak membaca ummul qur’an maka ia tidak sempurna – 3x – (HR. Muslim)Berkata Imam Al-Baidhawi:

وتسمى أم القرآن، لأنها مفتتحه ومبدؤه فكأنها أصله ومنشؤه، ولذلك تسمى أساسا. أو لأنها تشتمل على ما فيه من الثناء على الله سبحانه وتعالى، والتعبد بأمره ونهيه وبيان وعده ووعيده. أو على جملة معانيه من الحكم النظرية، والأحكام العملية التي هي سلوك الطريق المستقيم والاطلاع على مراتب السعداء ومنازل الأشقياء

Dinamakan ummul quran karena ialah yang membuka dan memulai (Al-Quran) seolah ia adalah asal dan sumbernya, oleh karena itu ia dinamakan juga asas. Atau karena sesungguhnya ia mengandung sanjungan kepada Allah, ta’abbud (beribadah) dengan perintah & laranganNya serta penjelasan janji & ancamanNya. Atau karena ia mencakup sejumlah nilai-nilai agung berupa hikmah teoritis dan hukum-hukum praktis yang merupakan suluk (perjalanan) menempuh jalan yang lurus, menelaah derajat ketinggian orang-orang yang berbahagia dan level kerendahan orang-orang yang sengsara. (Anwarut Tanzil wa Asrarut Ta’wil (1/25)(3. As-Sab’ul Matsani & Al-Quran Al-Azhim

وَلَقَدْ آتَيْنَاكَ سَبْعًا مِنَ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنَ الْعَظِيمَ

Dan sesungguhnya Kami telah berikan kepadamu tujuh ayat yang dibaca berulang-ulang dan Al-Quran yang agung. (Al-Hijr: 87)Al-Hasan Al-Bashri menjelaskan alasan dinamakan As-Sab’ul-Matsani (tujuh ayat yang diulang-ulang): karena ia diulang-ulang pada setiap rakaat shalat baik yang wajib maupun nafilah (tambahan/sunnah). (Jami’ul Bayan fi Ta’wili Ayil Qur’an, At-Thabari, 1/107-109)

Ada juga yang berpendapat bahwa kata Al-Matsani berasal dari ististna (pengecualian) seperti pendapat Mujahid dan juga diriwayatkan oleh Said bin Jubair dari Ibnu Abbas dengan sanad hasan dan kuat:

سميت مثاني لأن الله استثناها لهذه الأمة فذخرها لهم فلم يعطها أمة قبلهم

Dinamakan matsani karena Allah mengecualikannya (mengkhususkannya) untuk ummat ini (ummat Rasulullah saw) maka Dia menyimpannya untuk mereka tidak diberikanNya kepada ummat sebelum mereka. (Ma’anil Quran, An-Nahhas, 1/18; Tafsir Al-Baghawi 1/1; Mafatihul Ghaib, Ar-Razi, 1/159).Sedangkan nama “Al-Qur’an Al-Azhim untuk surat Al-Fatihah adalah seperti yang juga disebutkan oleh ayat di atas dan beberapa hadits Rasulullah saw, diantaranya:

اَلْحَمْدُ للهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ هِيَ السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالْقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُوْتِيْتُهُ

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin dialah tujuh (ayat) yang diulang-ulang dan Al-Qur’an Al-Azhim yang telah diberikan kepadaku. (HR. Bukhari)

Dinamakan demikian karena ia adalah surat teragung di dalam Al-Qur’an yang mencakup tujuan-tujuan utamanya.

Al-Qurthubi berkata:

سُمِّيَتْ بِذَلِكَ لِتَضَمُّنِهَا جَمِيعَ عُلُومِ الْقُرْآنِ، وَذَلِكَ أَنَّهَا تَشْتَمِلُ عَلَى الثَّنَاءِ عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ بِأَوْصَافِ كَمَالِهِ وَجَلَالِهِ، وَعَلَى الْأَمْرِ بِالْعِبَادَاتِ وَالْإِخْلَاصِ فِيهَا، وَالِاعْتِرَافِ بِالْعَجْزِ عَنِ الْقِيَامِ بِشَيْءٍ مِنْهَا إِلَّا بِإِعَانَتِهِ تَعَالَى، وَعَلَى الِابْتِهَالِ إِلَيْهِ فِي الْهِدَايَةِ إِلَى الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيمِ، وَكِفَايَةِ أَحْوَالِ النَّاكِثِينَ، وَعَلَى بَيَانِهِ عَاقِبَةَ الْجَاحِدِينَ

Dinamakan demikian karena kandungannya meliputi seluruh ilmu-ilmu Al-Qur’an, yakni bahwa ia mencakup pujian kepada Allah azza wajalla dengan sifat-sifat kesempurnaan dan keperkasaanNya, mengandung perintah untuk beribadah dan ikhlas dalam beribadah, pengakuan terhadap kelemahan dalam menegakkan ibadah itu tanpa pertolonganNya, mengandung permohonan disertai kehinaan diri agar memperoleh hidayah ke jalan yang lurus, penjelasan tentang keadaan orang yang menyalahi janji/ikrar (tauhid) dan kesudahan akhir para pembangkang. (Tafsir Al-Qurthubi 1/112).Keutamaan

Diantara fadhail (keutamaan) surat Al-Fatihah adalah:

1. Surat Al-Fatihah hanya diberikan kepada Rasulullah saw dan Allah menjanjikan akan diberikan kepada beliau semua isi kandungannya. Bahwa ia adalah cahaya yang  pada hari ia diturunkan, ada satu pintu langit dibuka yang belum pernah dibuka sebelumnya, dan dari pintu itu turun malaikat ke bumi yang belum pernah turun sebelumnya.

وَعَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ: «بَيْنَمَا جِبْرِيْلٌ قَاعِدٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صلّى اللهُ علَيهِ وسَلّم سَمِعَ نَقِيضًا مِنْ فَوْقِهِ فَرَفَعَ رَأْسَهُ فَقَالَ: هَذَا بَابٌ مِنَ السَّمَاءِ فُتِحَ الْيَوْمَ لَمْ يُفْتَحْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ، فَنَزَلَ مِنْهُ مَلَكٌ فَقَالَ: هَذَا مَلَكٌ نَزَلَ إِلَى الْأَرْضِ لَمْ يَنْزِلْ قَطُّ إِلَّا الْيَوْمَ فَسَلَّمَ وَقَالَ: أَبْشِرْ بِنُوْرَيْنِ أُوْتِيْتَهُمَا لَمْ يُؤْتَهُمَا نَبِيٌّ قَبْلَكَ فَاتِحَةِ الكِتَابِ وَخَوَاتِيمَ سُوْرَةِ البَقَرَةِ لَنْ تَقْرَأَ حَرْفًا مِنْهُمَا إِلَّا أُعْطِيْتَهُ». (رواه مسلم والنسائيّ)

Dari Ibnu Abbas ra ia berkata: Ketika Jibril sedang duduk di sisi Nabi saw, beliau mendengar suara (seperti suara pintu dibuka) di atasnya lalu beliau mengangkat kepalanya. Jibril berkata: ini sebuah pintu di langit telah dibuka hari ini yang belum pernah dibuka kecuali hari ini. Lalu turunlah satu malaikat darinya. Jibril berkata: ini adalah malaikat yang telah turun ke bumi dan belum pernah turun kecuali hari ini, lalu malaikat itu mengucapkan salam dan berkata: bergembiralah dengan dua cahaya yang diberikan kepadamu, belum pernah ada nabi sebelum engkau yang diberikan keduanya: yaitu fatihatul kitab dan khawatim (ayat-ayat terakhir) surat Al-Baqarah. Tidaklah engkau membaca satu huruf dari keduanya kecuali pasti engkau akan diberikan (kandungannya). (HR. Muslim & An-Nasai)2. Surat Al-Fatihah adalah surat teragung dalam Al-Quran ( أَنَّهَا أَعْظَمُ سُوْرَةٍ فِي القُرْآنِ )

Imam Al-Bukhari meriwayatkan dalam Shahihnya sabda Rasulullah saw kepada Abu Said Al-Mu’alla ra:

لَأُعَلِّمَنَّكَ سُوْرَةً هِيَ أَعْظَمُ السُّوَرِ فِي القُرْآنِ قَبْلَ أَنْ تَخْرُجَ مِنَ الْمَسْجِدِ

Aku pasti akan mengajarkanmu sebuah surat yang ia adalah surat paling agung dalam Al-Qur’an sebelum engkau keluar dari masjid..

Kemudian Rasulullah saw menyebutkan surat Al-Fatihah.Ibnu Hajar berkata:

وَالْمُرَادُ بِالْعَظِيمِ عِظَمُ الْقَدْرِ بِالثَّوَابِ الْمُرَتَّبِ عَلَى قِرَاءَتِهَا وَإِنْ كَانَ غَيْرُهَا أَطْوَلَ مِنْهَا وَذَلِكَ لِمَا اشْتَمَلَتْ عَلَيْهِ مِنَ الْمَعَانِي الْمُنَاسِبَةِ لِذَلِكَ

Dan yang dimaksud dengan agung adalah keagungan kadar ganjaran yang diperoleh dari membacanya meskipun selainnya lebih panjang darinya. Hal itu karena ia mengandung nilai-nilai (makna) yang sesuai dengan kadar ganjarannya. (Fathul Bari 9/54)3. Tidak ada surat seperti Al-Fatihah baik di dalam Taurat, Zabur, Injil, maupun Al-Quran

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa Ubay bin Ka’ab ra membaca surat Al-Fatihah di hadapan Nabi Muhammad saw, lalu Rasulullah bersabda:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا أُنْزِلَ فِي التَّوْرَاةِ وَلَا فِي الإِنْجِيْلِ وَلَا فِي الزَّبُورِ وَلَا فِي الفُرْقَانِ مِثْلُهَا إِنَّهَا السَّبْعُ الْمَثَانِي وَالقُرْآنُ العَظِيمُ الَّذِي أُعْطِيْتُ

Dan demi Dzat yang jiwaku berada di tanganNya, tidak pernah diturunkan di dalam Taurat, Injil, Zabur maupun Al-Qur’an yang semisalnya. Ia adalah As-Sab’ul Matsani dan Al-Qur’an Al-Azhim yang telah diberikan kepadaku. (HR. Ahmad, An-Nasai, At-Tirmidzi ia berkata: ini adalah hadits hasan shahih, Al-Hakim ia berkata: ini adalah hadits shahih menurut syarat Muslim sedangkan keduanya (Al-Bukhari & Muslim) tidak meriwayatkannya).

4. Surat Al-Fatihah adalah surat yang wajib dibaca dalam setiap rakaat shalat sehingga shalat tidak sah tanpa membacanya. Shalat adalah aktifitas munajat, dan dipilihnya surat Al-Fatihah agar dibaca dalam setiap rakaat menunjukkan bahwa isinya merupakan munajat terbaik kepada Allah.
Sayid Quthb rahimahullah berkata:

إن في هذه السورة من كليات العقيدة الإسلامية، وكليات التصور الإسلامي، وكليات المشاعر والتوجهات، ما يشير إلى طرف من حكمة اختيارها للتكرار في كل ركعة، وحكمة بطلان كل صلاة لا تذكر فيها..

Sesungguhnya di dalam surat ini terdapat keseluruhan  aqidah islamiyah, keseluruhan gambaran keislaman, keseluruhan perasaan dan arahan yang mengisyaratkan kepada sisi hikmah pemilihannya untuk diulang-ulang pada setiap rakaat, dan hikmah batalnya shalat jika tidak dibaca di dalamnya.. (Fi Zhilal Al-Qur’an 1/21).Tema Sentral

Tema sentral surat Al-Fatihah adalah:

تَحْقِيْقُ العُبُودِيَّةِ للهِ وَحْدَهُ

Realisasi penghambaan hanya kepada Allah semata.Karena ia adalah tujuan agung dan utama penciptaan manusia dan jin, maka amat sesuai jika surat teragung di dalam Al-Quran memiliki tema sentral ini.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepadaKu (Adz-Dzariyat: 56)Sub Tema

Dari tema sentral tersebut, surat Al-Fatihah dapat kita bagi menjadi tiga sub tema:

١- مَعْرِفَةُ اللهِ تَعَالَى الْمَعْبُودِ الْحَقِّ
٢- طَرِيْقُ الْعِبَادَةِ الصَّحِيْحَةِ
٣- بَيَانُ السَّالِكِيْنَ فِي طَرِيْقِ العِبَادَةِ الصَّحِيْحَةِ وَ الْمُنْحَرِفِينَ عَنْهُ

1. Pengenalan terhadap Allah ta’ala al-ma’bud (yang berhak diibadahi) dengan sebenarnya
2. Jalan ibadah yang benar
3. Penjelasan tentang salikin (orang-orang yang menempuh) jalan ibadah yang benar dan munharifin (orang-orang yang menyimpang) darinya

Bersambung …


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

kobarkan semangat jihad

Memaksimalkan Ketersediaan, Mengoptimalkan MedanPerang

📝 Pemateri: DR. Agung Waspodo

Kisah Awal Khalid Menjadi Panglima

Pertempuran Mu’tah – September 629

Pertempuran yang dalam bahasa Arab ditulis معركة مؤتة , غزوة مؤتة atau Ghazwah/Ma’rakah Mu’tah berlangsung pada tanggal 5 Jumadil Awwal 8 Hijriah ini berlangsung dekat desa Mu’tah di sebelah timur sungai Jordan, daerah Karak (Jordan), mempertemukan antara pasukan yang diutus Rasulullah Muhammad (saw) dengan kekuatan Byzantium.

Dalam sejarah ummat Islam, pertempuran ini berkaitan erat dengan upaya membalas tindakan pembunuhan suku Arab dari Banu Ghassan terhadap utusan Rasul (saw). Pertempuran ini dinilai sama kuat dimana kedua pihak mundur ke wilayahnya masing-masing. Tetapi, menurut sejarah Byzantium pasukan Muslimin kalah setelah ketiga pemimpinnya gugur.

Latar Belakang

Perjanjian Huaibiyah memberikan perdamaian sejenak antara kaum Muslimin di Madinah dan kekuatan Quraisy di Makkah. Pada masa itu, gubernur Sassania-Persia untuk Yaman yang dijabat oleh Badhan memeluk Islam sehingga banyak suku-suku Arab di selatan Jazirah Arab yang juga masuk Islam dan menjadi sekutu Madinah.

Pada masa perdamaian inilah Rasul (saw) mengirmkan utusan-utusannya untuk mengajak kepada Islam berbagai pemimpin di Jazirah Arab termasuk gubernur Byzantium untuk Provinsi Arabia. Surat yang dibawa oleh utusan untuk gubernur tersebut sejatinya surat kepada Kaisar Heraclius. Ketika utusan tersebut melintasi kota Bosra ia ditangkap oleh Banu Ghassan dan dieksekusi atas perintah kepala sukunya di dekat desa Mu’tah. Pasukan yang dikirim oleh Rasul (saw) untuk meminta pertanggung-jawaban Banu Ghassan ini adalah kekuatan terbesar yang pernah dimobilisasi di Madinah serta yang pertama dikirim memasuki wilayah Byzantium.

Mobilisasi Pasukan

Menurut sejarawan Muslim, Nabi (saw) memberangkatkan 3.000 pasukan pada bulan Jumadil Awwal 8 Hijriah dengan misi bergerak cepat dengan hirarki kepemimpinan pada Zayd ibn Haritsah (ra), Ja’far ibn Abi Thalib (ra), dan ‘Abdullah ibn Rawahah (ra)

Pemimpin Banu Ghassan telah mengetahui ekspedisi ini sehingga sempat memobilisasai kekuatannya sekaligus mengirim utusan untuk meminta bantuan kepada Byzantium. Kaisar Heraclius mengirimkan bantuan mengingat Banu Ghassan adalah sekutunya di perbatasan Arabia.

Ketika pasukan kaum Muslimin tiba di area tersebut mereka baru mengetahui besarnya jumlah pasukan Byzantium yang dikirim kaisar. Pada awalnya mereka ingin menunggu di tempat sambil meminta bantuan dari Madinah. ‘Abdullah ibn Rawahah (ra) mengingatkan kembali akan nilai tinggi bagi mereka yang gugur sebagai syuhada; hal ini mendorong pasukan berhentu menunggu dan bergerak menuju arah lawan.

Pertempuran

Kaum Muslimin terlibay baku hantam melawan Byzantium di dekat tendanya dan lini-belakangnya di desa Musyarif; namun tidak berimbangnya kekuatan menyebabkan kaum Muslimin harus mundur ke arah desa Mu’tah. Di tempat ini kedua pasukan bertempur kembali. Sember sejarah kaum Muslimin menyebutkan bahwa pertempuran berlangsung di sebuah ebah diantara dua bukit sehingga jumlah pasukan Byzantium menjadi tidak banyak memberikan keunggulan. Dalam pertempuran ini ketiga komandan perang gugur sebagai syuhada’ sesuai urutan hirarkinya.

*Khalid Menjadi Panglima

Dalam shahih al-Bukhari tercatat bahwa pada tubuh Ja’far (ra) ditemukan 50 bekas luka dan tidak ada satupun yang berada di bagian punggung (belakang). Kisah ini tercatat dalam Shahih al-Bukhari: 5/56/560 dari Ibn ‘Umar: “waqafa ‘alā Ja’farin yawma’idzin wa huwa qatīlun fa’adadtuhu bihi khamsīna bayna tha’natin wa dharbatin laysa minhā sya’un fī duburihi ya’nī fī zuhurihi.”

Setelah ketiga panglima yang ditunjuk Rasul (saw) gugur mulai terlihat tanda-tanda kepanikan pada pasukan kaum Muslimin. Seorang sahabat yang bernama Tsabit ibn al-Arqam (ra) memungut panji perang yang sempat terjatuh dan mengibarkannya sambil menyemangati pasukan kaum Muslimin. Inisiatif Tsabit (ra) ini menyelamatkan pasukan dari kepanikan dan pasukan menginginkan dia untuk bangkit memimpin. Tsabit (ra) menolak serta mengatakan bahwa yang lebih tepat adalah Khalid ibn al-Walid (ra).

Khalid (ra) sendiri mengabarkan di kemudian hari bahwa pertempuran Mu’tah begitu dahsyat sehingga ia sempat mengganti pedang sampai 9 kali karena terus patah, yang tertinggal hanyalah pedang tempaan Yaman (Shahih al-Bukhari: 5/59/565 dari Qays: “Laqad duqqa fī yadī yawma Mu’tata tis’atu asyāfin wa shabarat fi yadī shafihatun lī yamāniytun”)

Khalid (ra) menilai bahwa pertempuran ini sangat tidak berimbang dan hasilnya akan memperburuk kondisi kaum Muslimin sehingga ia menyiapkan rencana kemunduran. Untuk menutup rencana tersebut ia mengirimkan kesatuan kecil untuk terus melancarkan serangan terbatas seolah tidak hendak mundur. Namun Khalid (ra) menghindari serangan umum dan ia tercatat berhasil menewaskan seorang komandan Banu Ghassan yang bernama Malik.

*Tipuan Perang Khalid

Pada suatu malam Khalid (ra) merotasi posisi pasukan sehingga ia menempatkan di barisan terdepan mereka yang tadinya di barisan belakang lengkap dengan panji-panji yang baru; guna memberikan impresi datangnya bala bantuan bagi kaum Muslimin dari Madinah. Ia juga memerintahkan pasukan berkudanya untuk mundur ke belakang bukit pada malam hari serta kembali pada siang hari dengan membawa alat tambahan yang ditarik kuda guna menerbangkan debu sebanyak-banyaknya; guna memberikan impresi bahwa bala bantuan tambahan datang lagi. Tipuan-tipuan perang ini berhasil meyakinkan pihak Byzantium untuk mundur sehingga kaum Muslimin dapat mundur juga tanpa ancaman.

Korban yang jatuh pada pihak Muslimin yang tercatat adalah: Zayd ibn Haritsa (ra), Ja’far ibn Abi Thalib (ra), ‘Abdullah ibn Rawahah (ra), Mas’ud ibn al-Aswad (ra), Wahab ibn Saad (ra), ‘Abbad ibn Qais (ra), ‘Amr ibn Sa’d (ra) tetapi bukan anak Sa’d ibn Abi Waqqasy (ra), Harits ibn Nu’man (ra), Suraqah ibn ‘Amr (ra), Abu Kulaib bin Amr (ra), Jabir ibn ‘Amr (ra), dan Amir bin Sa’ad (ra); sedangkan korban lain tidak tercatat.

Pada pihak Byzantium terdapat jumlah korban yang begitu banyak jila dibandingkan dengan kaum Muslimin walau angka persisnya tidak diketahui.

Kesudahan

Sejarah mencatat bahwa pasukan Muslimin yang berhasil kembali ke Madinah mrndapatkan perlakuan yanv tidak sewajarnya karena diduga terhina karema melarikan diri dari pertempuran. Salah seorang komandan dari ekspedisi itu yang bernama Salamah ibn Hisyam (ra) bahkan memilih untuk shalat di rumah daripada harus ke masjid dan menjelaskan kedudukannya. Akhirnya, Rasul (saw) memerintahkan kaum Muslimin di Madinah untuk menghentikan tindakan itu karena pasukan ini akan kembali memerangi Byzantium pada masa yang lain; khalayak menghentikan aksi tidak simpatik itu. Pada masa inilah Rasul (saw) memberikan gelar “Pedang Allah” (Sayfullah) kepada Khalid ibn al-Walid (ra).

Analisis kekinian atas sejarah ini menunjukkan bahwa ia bukam sebuah kekalahan namun sebuah keberhasilan strategik. Salah satu argumentasinya adalah bahwa keberanian berhadapan langsung dengan Byzantium menaikkan pamor umat Islam di kalangan bangsa Arab sekaligus menyampaikan pesan kepada Byzantium bahwa ummat Islam ada. Para syuhada Mu’tah kini mendapatkan penghormatan serta pekuburan layaknya para pahlawan di Jordan. Bahkan sejarawan al-Balazuri mencatat bahwa kaisar Herclius memindahkan markas besarnya dari Damaskus ke Antoich setelah pertempuran ini.

Agung Waspodo, mencatat awal permulaan Khalid (ra) tercatat kejeniusannya sebagai panglima perang yang terlihat pada pengaturan tipuan dan penjatuhan mental lawan.. walau sudah 1.386 tahun yang berlalu.

Lenteng Agung, Jum’at 18 September 2015.. masih di bulan yang sama, di tengah padatnya Commuter-Line pada jam puncak kembalinya para pekerja ibukota ke arah Depok hingga Bogor.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Musafir

Hukum Meninggalkan Shalat Jum’at Tiga Kali Berturut

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Assalamu ‘Alaikum, Wr.Wb. Apa hukumnya meninggalkan shalat Jumat tiga kali berturut-turut kafirkah ? (Hamba Allah)

Jawaban

Oleh: Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Sejak kecil kita memang diberitahu oleh guru agama atau guru ngaji bahwa orang yang meninggalkan shalat jumat 3 kali berturut-turut maka kafir .. tetapi benarkah itu adakah dalilnya?

Dalam sebuah riwayat shahih diceritakan:

رَسُول اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ عَلَى أَعْوَادِ مِنْبَرِهِ لَيَنْتَهِيَنَّ أَقْوَامٌ عَنْ وَدْعِهِمْ الْجُمُعَاتِ أَوْ لَيَخْتِمَنَّ اللَّهُ عَلَى قُلُوبِهِمْ ثُمَّ لَيَكُونُنَّ مِنْ الْغَافِلِينَ

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda: “Hendaklah orang-orang itu menghentikan perbuatannya meninggalkan shalat Jumat, atau kalau tidak, Allah akan menutup mata hati mereka, kemudian mereka akan dimasukkan ke golongan orang-orang yang lalai.”  (HR. Muslim No. 865, An Nasa’i No. 1370,  Ahmad No. 3099, Ad Darimi No. 1611)Apa makna hadits di atas? Imam An NawawiRahimahullah memaparkan:

قَالَ الْقَاضِي : اِخْتَلَفَ الْمُتَكَلِّمُونَ فِي هَذَا اِخْتِلَافًا كَثِيرًا فَقِيلَ : هُوَ إِعْدَام اللُّطْف وَأَسْبَاب الْخَيْر ، وَقِيلَ : هُوَ خَلْق الْكُفْر فِي صُدُورهمْ وَهُوَ قَوْل أَكْثَر مُتَكَلِّمِي أَهْل السُّنَّة . قَالَ غَيْرهمْ : هُوَ الشَّهَادَة عَلَيْهِمْ ، وَقِيلَ : هُوَ عَلَامَة جَعَلَهَا اللَّه تَعَالَى فِي قُلُوبهمْ لِتَعْرِف بِهَا الْمَلَائِكَة مَنْ يُمْدَح وَمَنْ يُذَمّ

“Berkata Al Qadhi: Para Ahli kalam berbeda pendapat dengan perbedaan yang banyak, dikatakan tentang hadis tersebut: maksudnya adalah hilangnya kelembutan dan sebab-sebab kebaikan. Dikatakan pula:  perilaku  kekufuran di dalam dada mereka dan ini merupakan pendapat kebanyakan ahli kalam dari Ahlus Sunnah. Berkata selain mereka: itu adalah kesaksian atas mereka, dan dikatakan pula: itu adalah tanda yang Allah Ta’ala jadikan ke dalam dada mereka yang dengannya malaikat bisa mengetahui siapa yang sedang dicela dan siapa yang dipuji.”   (Al Minhaj Syarh Shahih Muslim, 6/153) Imam Abul Hasan As Sindi berkata:

قَالَ الْقُرْطُبِيّ وَالْخَتْم عِبَارَة عَمَّا يَخْلُقهُ اللَّه تَعَالَى فِي قُلُوبهمْ مِنْ الْجَهْل وَالْجَفَاء وَالْقَسْوَة

“Berkata Imam Al Qurthubi, maksud dari tertutup adalah ungkapan dari apa-apa yang Allah Ta’ala ciptakan dalam hati-hati mereka berupa kebodohan, kasar, dan keras.”   (Imam Abul Hasan As Sindi, Hasyiah As Sindi ‘Ala Sunan An Nasa’i, 3/89) Sekarang hadits yang lainnya:

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ

Bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallambersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat Jumat TIGA KALI, karena menganggap remeh, maka Allah akan tutup hatinya.” (HR.  At Tirmidzi No. 500, katanya: hasan. Abu Daud No. 1052, An Nasa’i No. 1369, Al Hakim, Al Mustadrak  No. 1034, katanya: shahih sesuai syarat Muslim. Dishahihkan pula oleh Imam Ali Al Qari dalam Mirqah Al Mafatih, 3/1024)Apa kata ulama tentang makna hadits ini?

يَمْنَع إِيصَال الْخَيْر إِلَيْهِ ، وَقِيلَ كَتَبَهُ مُنَافِقًا

“Tercegahnya kebaikan yang  sampai kepadanya, dan dikatakan: dia ditetapkan sebagaimunafiq.”   (Imam Ali Al Qari, Mirqah Al Mafatih, 3/1024. Imam Abul ‘Ala Abdurrahman Al Mubarkafuri, Tuhfah Al Ahwadzi, 3/11)Para Ulama mengkategorikan Munafiq adalah kafir juga, mereka Allah Ta’ala sejajarkan di neraka jahanam (lihat At Taubah: 68)

Imam Abul Hasan As Sindi berkata tentang hadits tersebut:

أَيْ خَتَمَ عَلَيْهِ وَغَشَّاهُ وَمَنَعَهُ الْأَلْطَاف وَالطَّبْع بِالسُّكُونِ الْخَتْم وَبِالْحَرَكَةِ الدَّنَس وَأَصْله الدَّنَس وَالْوَسَخ يَغْشَيَانِ السَّيْف مِنْ طَبَعَ السَّيْف ثُمَّ اُسْتُعْمِلَ فِي الْآثَام وَالْقَبَائِح

“Yaitu Allah menutup atas hatinya, dan menutupi dan mencegahnya dari kelembutan, dan tertutup dengan begitu melekat,  oleh gerakan  kotoran, dan dasarnya telah kotor dan kusam  yang keduanya menutupi pedang  yang tertutup oleh kotoran (karat),   kemudian digunakan dalam perbuatan dosa dan keburukan.”   (Hasyiah As Sindi ‘Ala Sunan An Nasa’i, 3/88)Nah, jadi tidak ada hadits yang mengatakan kafir bagi yang meninggalkan shalat Jumat tiga kali tanpa ‘udzur,   itu hanya salah satu tafsir ulama atas hadits tersebut yang menyebutnya sebagai munafiq.

Demikian. Wallahu A’lam


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678