📝 Khutbah Jum’at Oleh: Ustadz Muhammad Mujari, S.T, L.c, M.Pd.
[Sekretrasi 2, PW Ikadi DIY]
🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🌹
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي جَعَلَ الْمَالَ قِوَامًا لِلْأَنَامِ، وَسَبَبًا لِنَيْلِ الْفَوْزِ وَالسَّلَامِ
وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، الْمَلِكُ الْعَلَّامُ، الَّذِي أَمَرَنَا بِطَلَبِ الْحَلَالِ وَتَرْكِ الْحَرَامِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، كَسَّر الْأَصْنَام، وَأَزَالَ الظَّلاَم
اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَيْهِ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ الْكِرَامِ، وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الزِّحَامِ. أَمَّا بَعْد؛
فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ السَّلَام، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْن. قَالَ اللَّهُ تَعَالَى فِي كِتَابِهِ الْمُبِينِ: ((يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ)).
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian agar senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah Swt. Takwa bukan sekadar menjalankan ibadah ritual, tetapi menjadikan seluruh aktivitas hidup sebagai jalan menuju ridha Allah, termasuk ketika kita mencari, mengelola, dan membelanjakan harta.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hampir setiap hari kita bangun pagi untuk satu tujuan, yaitu mencari rezeki. Ada yang berangkat ke sawah, ke kantor, ke pasar, ke sekolah, ke pabrik, atau membuka usaha. Kita rela menghabiskan tenaga, pikiran, bahkan waktu bersama keluarga demi mendapatkan rezeki untuk menopang perekonomian keluarga. Hal tersebut merupakan hal yang baik, karena Islam tidak pernah mengajarkan umatnya menjadi pemalas. Rasulullah Saw. bahkan memuji orang yang bekerja dengan tangannya sendiri dan mencari rezeki yang halal. Namun, di tengah kesibukan mengejar dunia, ada satu pertanyaan yang sangat penting untuk kita renungkan: Apakah harta yang kita kumpulkan benar-benar akan ikut bersama kita menuju akhirat?
Coba bayangkan saat seseorang meninggal dunia. Rumah yang dibangunnya bertahun-tahun tetap berdiri. Mobil yang dibelinya masih berada di garasi. Rekening bank, kebun, sawah, toko, bahkan perusahaan yang dirintisnya akan berpindah tangan kepada ahli waris. Tidak ada satu lembar uang pun yang ikut masuk ke liang kubur. Yang mengiringinya hanyalah selembar kain kafan dan amal perbuatannya.
Rasulullah Saw. telah menjelaskan hakikat ini melalui sabdanya:
يَقُولُ ابْنُ آدَمَ: مَالِي مَالِي، وَهَلْ لَكَ مِنْ مَالِكَ إِلَّا مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ، أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ، أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ
“Anak Adam berkata, ‘Hartaku, hartaku.’ Padahal yang benar-benar menjadi miliknya hanyalah apa yang dimakan hingga habis, apa yang dipakai hingga usang, dan apa yang disedekahkan sehingga menjadi simpanan abadi baginya.” (H.r. Muslim)
Hadits ini harus mampu mengubah cara pandang kita terhadap harta. Sebagian orang menganggap harta yang tersimpan di rekening adalah miliknya sepenuhnya. Padahal belum tentu. Bisa jadi esok hari dia meninggal, lalu semuanya menjadi milik ahli waris. Justru harta yang kita infakkan di jalan Allah itulah yang benar-benar menjadi milik kita yang hakiki, karena telah Allah simpan sebagai pahala yang akan kita temukan pada Hari Kiamat.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Langkah pertama agar harta dapat menjadi bekal menuju surga adalah memastikan bahwa harta tersebut tidak melalaikan kita dari mengingat Allah. Allah SWT mengingatkan dalam firman-Nya:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تُلْهِكُمْ أَمْوَالُكُمْ وَلَا أَوْلَادُكُمْ عَن ذِكْرِ اللَّهِ ۚ وَمَن يَفْعَلْ ذَٰلِكَ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْخَاسِرُونَ
“Wahai orang-orang yang beriman, janganlah harta-hartamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Barang siapa berbuat demikian, mereka itulah orang-orang yang rugi.” (Q.s. Al-Munafiqun: 9)
Perhatikanlah, Allah tidak melarang kita menjadi kaya atau memiliki usaha yang besar. Yang dilarang adalah ketika harta menguasai hati, sehingga membuat kita lalai dari shalat, malas membaca Al-Qur’an, enggan bersedekah, dan lupa kepada Allah. Banyak orang yang dulu rajin ke masjid dan mudah bersedekah, tetapi setelah hartanya bertambah justru semakin sibuk dan berat mengeluarkan zakat. Itulah tanda bahwa harta telah berpindah dari tangan ke dalam hati. Padahal, tempat Allah di dalam hati tidak boleh digantikan oleh cinta dunia.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Allah juga mengingatkan bahwa harta bukanlah tanda kemuliaan, melainkan sebuah ujian. Allah Ta’ala berfirman:
إِنَّمَا أَمْوَالُكُمْ وَأَوْلَادُكُمْ فِتْنَةٌ ۚ وَاللَّهُ عِندَهُ أَجْرٌ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya harta dan anak-anakmu hanyalah cobaan, sedangkan di sisi Allah terdapat pahala yang besar.” (Q.s. At-Taghabun: 15)
Sebagian orang diuji dengan kemiskinan, sedangkan sebagian lainnya diuji dengan kekayaan. Jangan pernah mengira bahwa menjadi kaya berarti Allah pasti mencintai seseorang. Tidak sedikit orang yang diberi kekayaan justru semakin jauh dari Allah. Sebaliknya, banyak pula hamba yang Allah lapangkan rezekinya karena Allah mengetahui bahwa ia akan menjadikan hartanya sebagai jalan menuju surga.
Abdurrahman bin Auf radhiyallahu ‘anhu adalah sahabat mulia yang saat hijrah meninggalkan seluruh hartanya di Makkah. Di Madinah, ia menolak tawaran separuh harta dari saudaranya dari Anshar dan memilih bekerja sendiri dari nol. Allah memberkahi usahanya hingga ia menjadi kaya raya, namun kekayaan tak pernah menguasai hatinya. Ia selalu bersedekah, bahkan menyumbang ratusan unta penuh muatan untuk perjuangan Islam. Baginya, harta yang disedekahkan lebih abadi pahalanya daripada disimpan di dunia.
Jamaah Jum’at yang dimuliakan Allah,
Prinsip berikutnya adalah memastikan bahwa setiap harta yang kita peroleh berasal dari jalan yang halal. Rasulullah Saw. bersabda:
إِنَّ اللَّهَ طَيِّبٌ لَا يَقْبَلُ إِلَّا طَيِّبًا
“Sesungguhnya Allah Mahabaik dan tidak menerima kecuali yang baik.” (H.r. Muslim)
Harta yang halal mungkin tidak sebanyak harta yang diperoleh dengan cara curang, namun keberkahannya jauh lebih besar. Sebaliknya, harta yang berasal dari riba, korupsi, suap, penipuan, manipulasi, dan berbagai bentuk kezaliman mungkin tampak melimpah, tetapi akan menjadi penyesalan mendalam pada Hari Kiamat. Jangan sampai kita memberi makan keluarga dengan sesuatu yang tidak diridhai Allah, sebab setiap daging yang tumbuh dari harta haram lebih pantas disentuh api neraka.
Jika kita ingin membawa harta sampai surga, maka jadikanlah harta sebagai sarana ibadah dan membantu sesama. Allah Swt. berfirman:
وَمَا تُقَدِّمُوا لِأَنفُسِكُم مِّنْ خَيْرٍ تَجِدُوهُ عِندَ اللَّهِ
“Apa saja kebaikan yang kamu kerjakan untuk dirimu, niscaya kamu mendapatkannya di sisi Allah.” (Q.s. Al-Baqarah: 110)
Segala bentuk pengeluaran di jalan Allah tidak pernah berkurang nilainya. Ketika kita membangun masjid, membantu pesantren, mewakafkan Al-Qur’an, menyantuni anak yatim, membantu fakir miskin, membiayai dakwah, atau mendukung pendidikan generasi Islam, sejatinya kita sedang memindahkan sebagian harta dari rekening dunia menuju tabungan akhirat.
Pada tahun 18 Hijriah, saat terjadi ‘Amur Ramaadah (tahun paceklik), Sahabat Utsman bin Affan radhiyallahu ‘anhu memiliki kafilah dagang berisi barang pokok yang sangat besar. Para pedagang menawar dengan keuntungan berlipat, tetapi Utsman menolak karena ia lebih percaya pada keuntungan dari janji Allah yang jauh lebih besar. Seluruh barang dagangannya ia sedekahkan untuk masyarakat yang kelaparan. Ia lebih memilih keberkahan daripada keuntungan dunia sementara. Karena itulah Utsman dikenang bukan sekadar karena kekayaannya, melainkan karena kedermawanannya yang tiada tanding.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Sebaliknya, Al-Qur’an juga menghadirkan contoh nyata orang yang gagal membawa hartanya menuju surga, yaitu Qarun. Qarun diberi kekayaan luar biasa oleh Allah, sampai-sampai kunci-kunci gudang tempat penyimpanannya saja sangat berat dipikul oleh banyak orang yang kuat. Namun saat dinasihati agar bersyukur, ia menyombongkan diri dengan berkata, “Aku diberi harta ini semata-mata karena ilmuku sendiri.” Ia lupa bahwa semua nikmat datang dari Allah. Akibat kesombongannya, Allah menenggelamkan Qarun beserta seluruh hartanya ke dalam bumi. Tiada segram emas pun yang bisa menyelamatkannya. Kisah ini mengingatkan kita bahwa harta yang melahirkan kesombongan justru akan membawa kebinasaan.
Karena itu, seorang mukmin harus memiliki sifat qana’ah, yaitu merasa cukup dengan apa yang Allah berikan. Rasulullah Saw. bersabda: “Bukanlah kekayaan itu karena banyaknya harta, tetapi kekayaan yang hakiki adalah hati yang merasa cukup.” (H.r. Al-Bukhari & Muslim). Orang yang qana’ah tetap bekerja keras, tetapi hatinya tidak diperbudak oleh dunia. Ia bersyukur ketika diberi dan tetap tenang serta berprasangka baik ketika belum memiliki.
Demikian pula ketika Allah mengambil kembali sebagian harta yang telah dititipkan kepada kita. Bisa melalui kebakaran, banjir, pencurian, kegagalan usaha, atau sebab lainnya. Seorang mukmin menyadari bahwa semua hanyalah titipan Allah. Karena itu ia mengucapkan sebagaimana yang diajarkan di dalam Al-Qur’an:
إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali.” (Q.s, Al-Baqarah: 156)
Kesabaran ketika kehilangan harta merupakan tanda keimanan yang kuat. Apa yang diambil Allah hanyalah titipan-Nya, sedangkan pahala kesabaran akan tetap menjadi milik kita dan mengalir selama-lamanya.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Sebelum kita mengakhiri khutbah ini, marilah kita bertanya kepada diri masing-masing. Seandainya Allah memanggil kita hari ini, berapa banyak harta yang telah kita kirimkan ke surga? Berapa banyak sedekah yang telah kita keluarkan? Berapa banyak fakir miskin yang telah kita bantu? Berapa banyak anak yatim yang telah kita bahagiakan? Berapa banyak amal jariyah yang akan terus mengalir pahalanya setelah kita masuk ke liang kubur?
Jangan sampai seluruh umur kita habis hanya untuk mengumpulkan harta, tetapi tidak pernah mengubahnya menjadi bekal akhirat. Jangan sampai seluruh kekayaan kita hanya berpindah kepada ahli waris, sementara kita datang menghadap Allah dengan tangan kosong.
Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang memperoleh rezeki yang halal, menggunakannya untuk ibadah, menolong sesama, dijauhkan dari kesombongan, dikaruniai hati yang qana’ah, serta diberikan kesabaran ketika Allah mengambil kembali apa yang menjadi milik-Nya.
Dengan demikian, harta yang kita miliki benar-benar menjadi kendaraan berkah yang mengantarkan kita menuju surga Allah Subhanahu wa Ta’ala.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِي الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْم، أَقُوْلُ مَا تَسْمَعُوْنَ، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ فَاسْتَغْفِرُوْه، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْم
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُوْلَهُ بِالْهُدَى وَدِيْنِ الْحَقِّ لِ يُظْهِرَهُ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُوْنَ
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا، يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ، وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيْدَه، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الشُّكْرُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيْمِ سُلْطَانِكَ
اَللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا وَحَبِيْبِنَا وَشَفِيْعِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدٍ سَيِّدِ الْأَوَّلِيْنَ وَالْآخِرِيْنَ، وَسَلِّمْ وَرَضِيَ اللَّهُ تَعَالَى عَنْ كُلِّ صَحَابَةِ رَسُوْلِ اللَّهِ أَجْمَعِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعَوَاتِ، فَيَا قَاضِيَ الْحَاجَاتِ
رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدِيْنَا وَارْحَمْهُمْ كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا
اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا، وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا،
وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِيْ كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ دُعَاءِ لَا يُسْتَجَابُ لَهُ
اَللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاخْذَلْ مَنْ خَذَلَ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَنَا دَوْلَةً كَرِيْمَةً، يُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامُ وَأَهْلُهُ، وَيُذَلُّ بِهَا النِّفَاقُ وَأَهْلُهُ، وَتَجْعَلُنَا فِيْهَا مِنَ الدُّعَاةِ إِلَى طَاعَتِكَ، وَالْقَادَةِ إِلَى سَبِيْلِكَ، وَتَرْزُقُنَا بِهَا كَرَامَةَ الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَحَبِّبْ إِلَيْهِمُ الْإِيْمَانَ وَزَيِّنْهُ فِيْ قُلُوْبِهِمْ، وَكَرِّهْ إِلَيْهِمُ الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْهُمْ مِنَ الرَّاشِدِيْنَ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ، وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، أَقِيْمُوا الصَّلَاةَ..
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃
Dipersembahkan oleh : www.manis.id
Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial
Follow Media Sosial MANIS :
IG : https://www.instagram.com/majelis_manis/?igshid=YmMyMTA2M2Y%3D
FB: http://fb.com/majelismanis
TikTok https://www.tiktok.com/@majelis_manis_
📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis
💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Iman Islam
No Rek BSI : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287782223130







