KEAKRABAN ANAK, SUAMI DAN ISTRI

0
29

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

πŸ“ Pemateri: Ustadz Bendri Jaisyurrahman

Kadang keakraban itu tak melulu diwujudkan dalam kata-kata mesra dan sikap manis. Ledakan, canda jail atau konflik ego bisa juga bermakna akrab. Sebagai bekal tumbuhnya cinta.

Saat kakak iseng menggoda sang adik, atau sebaliknya adik yang memeletkan lidah kepada sang kakak hingga berujung kepada pertengkaran, jangan buru-buru simpulkan bahwa tak ada cinta di antara mereka. Kemudian membayangkan, “Jika mereka dewasa jangan-jangan mereka akan berantem memperebutkan warisan Tupper**** (salah satu merek peralatan rumah tangga ternama) satu-satunya milik Ibunda.” No…!!!

Resiko kedekatan batin adalah konflik. Hal ini karena masing-masing jiwa sudah tidak ada barrier (penghalang). Tak lagi canggung atau sungkan ungkapkan perasaan.

Seperti yang dialami oleh baginda Nabi. Saat Ummul Mukminin Aisyah r.a. cemburu mendapati kiriman makanan dari istri beliau yang lain; seraya membanting piring tersebut di hadapan Rasul. Beliau pun mencoba memahami seraya mengatakan di hadapan para sahabat, “Ibu kalian sedang cemburu.” Ada makna lain dari sikap istri beliau tersebut, yakni: rasa nyaman mengungkapkan perasaan.

Saking nyaman dan akrabnya Aisyah terhadap Nabi, maka ia tak sungkan untuk mengekspresikan perasaannya. Inilah sisi positif dari adanya sikap menyebalkan pasangan di hadapan kita yang berujung kepada konflik.

Mereka merasa nyaman. Akrab. Kadang tak sungkan ngupil atau kentut di depan kita. Makanya, indikasi suami istri nyaman biasanya saling berbalas kentut. Kesal namun dibarengi tawa. Tanda keakraban.

Beda halnya jika salah satu dari pasangan bersikap otoriter dan kasar. Suami mengancam istri, “Kalau kentut, talak satu !!!” Kebayang nasib sang istri. mencoba senyum saat perut mules di hadapan suami. Karena takut jatuh talak.

Begitu juga dengan anak-anak. Percayalah, jika mereka konflik, jangan intervensi terlalu lebay. Cukup senyum kemudian dengarkan ungkapan perasaan kesal mereka. Tak perlu memihak. Lama-lama mereka akur kembali.

Anak yang terbiasa konflik dengan saudaranya akan menemukan formula penyelesaiannya. Kelak di saat dewasa akan tumbuh sikap saling membela dan melindungi sebagai bagian dari cinta yang telah tumbuh matang buahnya, lewat proses konflik yang wajar sedari kecil.

Wallahu a’lam bish showab

Wasalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh.

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

Sebarkan! Raih Pahala

πŸƒπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸƒπŸŒΊπŸƒπŸƒ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

πŸ“±Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/gabungmanis

πŸ’° Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287782223130

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here