Apa Alasan Rasul Berperang?

0
104

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz… Saya mau bertanya. Apa alasan Rasul berperang? dan apa bedanya dengan perang di masa kekhalifahan Islam?

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Jawaban

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وعليكم السلام ورحمة الله وبركاته

Jika kita lihat dalam sejarah Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka perang itu defensif, bukan offensif. Inilah yang diakui oleh mayoritas ulama baik Hanafiyah, Malikiyah, dan Hambaliyah, kecuali Syafi’iyah yang berpendapat jihad itu offensif.

Di fase Mekkah, saat masih sedikit dan lemah, tapi gangguan kepada umat Islam sangat kuat, mulai dari pengusiran, siksaan, bahkan pembunuhan. Kaum muslimin masih diperintahkan untuk menahan diri, mendirikan shalat, dan berzakat.

Allah Ta’ala berfirman:

أَلَمۡ تَرَ إِلَى ٱلَّذِينَ قِيلَ لَهُمۡ كُفُّوٓاْ أَيۡدِيَكُمۡ وَأَقِيمُواْ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتُواْ ٱلزَّكَوٰةَ

Tidakkah engkau memperhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ”Tahanlah tanganmu (dari berperang), laksanakanlah shalat dan tunaikanlah zakat!”

-Surat An-Nisa’, Ayat 77

Perang diizinkan karena mereka dizalimi, bukan mereka yang menzalimi, yaitu setelah kondisi telah dianggap kuat utk mempertahankan diri.

Allah Ta’ala berfirman:

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَٰتَلُونَ بِأَنَّهُمۡ ظُلِمُواْۚ وَإِنَّ ٱللَّهَ عَلَىٰ نَصۡرِهِمۡ لَقَدِيرٌ

Diizinkan (berperang) kepada orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka dizhalimi. Dan sungguh, Allah Mahakuasa menolong mereka itu.

(QS. Al-Hajj, Ayat 39)

Dalam As Siyaasah Asy Syar’iyyah, Imam Ibnu Taimiyah berkata:

…لأن القتال هو لمن يقاتلنا إذا أردنا إظهار دين الله كما قال الله تعالى : { وقاتلوا في سبيل الله الذين يقاتلونكم ولا تعتدوا إن الله لا يحب المعتدين }

“…. Karena sesungguhnya peperangan adalah bagi siapa saja yang memerangi kita,  jika kita menghendaki kemenangan bagi agama Allah, sebagaimana firman Allah Ta’ala: Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. Al Baqarah (2): 190)

Syaikhul Islam juga mengatakan:

وذلك أن الله تعالى أباح من قتل النفوس ما يحتاج إليه في صلاح الخلق كما قال الله تعالى : { والفتنة أكبر من القتل } أي أن القتل وإن كان فيه شر وفساد ففي فتنة الكفار من الشر والفساد ما هو أكبر منه

Dengan demikian Allah Ta’ala membolehkan pembunuhan jika itu dibutuhkan bagi kemaslahatan hamba. Sebagaimana firman Allah Ta’ala: fitnah itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan. (QS. Al Baqarah (2): 217) yaitu bahwa jika pada pembunuhan  memiliki keburukan dan kerusakan, maka fitnah yang dilakukan oleh orang kafir (karena menyerang kita, pen) adalah lebih buruk dan lebih merusak dari pada pembunuhan (terhadap orang kafir,pen)  itu sendiri. (Imam Ibnu Taimiyah, As Siyaasah Asy Syar’iyyah, Hal. 159. Darul Ma’rifah)

Syaikh Hasan al Banna Rahimahullah mengatakan:

فها هم الآن يعترفون بأن الاستعداد هو أضمن طريق للسلام . فرض الله الجهاد علي المسلمين لا آداه العدوان ولا وسيلة للمطامع الشخصية ولكن ضمان للسلام وآداه للرسالة الكبرى التي حمل عبئها المسلمون ، رسالة هداية الناس إلي الحق والعدل ، وإن الإسلام كما فرض القتال شاد بالسلام فقال تبارك وتعالي : (وَإِنْ جَنَحُوا لِلسَّلْمِ فَاجْنَحْ لَهَا وَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ) (لأنفال:61)

“Sekarang mereka mengakui bahwa mempersiapkan diri untuk perang merupakan cara yang paling menjamin terwujudnya perdamaian. Allah Ta’ala mewajibkan berperang atas kaum muslimin bukan untuk menebar permusuhan, bukan sebagai alat pemusnah manusia, tetapi merupakan sebagai pelindung bagi dakwah dan jaminan bagi perdamaian, selain sebagai media untuk untuk menunaikan risalah agung yang diembankan di pundak kaum muslimin, yaitu risalah yang menunjukkan kepada manusia jalan menuju kebenaran dan keadilan. Sebagaimana Islam sangat perhatian dengan jihad, Islam juga sangat perhatian dengan perdamaian. Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

“Dan jika mereka condong kepada perdamaian, Maka condonglah kepadanya dan bertawakkal-lah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui.” (QS. Al Anfal (8): 61).”

(Majmu’ Ar Rasail, Hal. 297. Al Maktabah At Taufiqiyah)

Demikian. Wallahu a’lam

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

Subscribe YouTube MANIS : https://youtube.com/c/MajelisManisOfficial

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
wa.me/6285279776222
wa.me/6287782223130

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here