Ketawa Emak-emak Seorang Penjual Pecel

0
115

πŸ“ Pemateri: Ustadz Solikhin Abu Izzuddin

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸŒΉ

Mari duduk sejenak. Menyimak sebuah kisah. Kisah seorang bocah yang merasa telah berbakti pada orang tua dan keluarganya. Dengan segenap potensi unggul yang dimiliki daya upaya telah dan selalu diberikan sang bocah ini mempersembahkan untuk kebahagiaan dan keharuman keluarga.

Orang Jawa bilang “Biso mikul dhuwur mendhem jero” Dapat mengangkat derajat harkat martabat setinggi mungkin untuk kemuliaan orang tua dan menyimpan keburukan sedalam dalamnya. Orang tua, saudara-saudari, tetangga, sanak famili sangat kagum bangga sama si bocah ini…

Sebagaimana bocah-bocah pada umumnya memiliki asa, obsesi, harapan, keinginan dan cita-cita… terpancar pada wajah sang bocah…

Orang tuanya yang sangat mengenal sang bocah sejak dari guo garbo atau sejak dalam kandungan hingga tumbuh kembang punya arahan tersendiri yang ternyata tak sesuai dengan keinginan sang Bocah ini.

Tentu arahan orang tua atas pertimbangan kearifan kebijakan yang didapat dari telah lamanya makan asam dan garam serta ilmu yang dimiliki sebagai orang tua yang diberikan pada anak-anaknya.

Merasa telah dengan segenap keunggulan potensinya didarmabaktikan pada orang tua dan keluarganya, maka sang bocah tak terima dan marah dengan perlakuan dan arahan orang tuanya itu. Merasa diperlakukan tak adil kenapa tugas itu tak diberikan padanya tapi malah diberikan pada saudaranya yang lain. Bukankah dirinya yang selama ini telah begitu kerja keras? Bukankah yang telah berdarma bakti adalah dirinya???

“Orang tua nggak bener Neh”, begitu gumam dalam hatinya…

Mulailah kemarahan dia tunjukkan pada orang tuanya. Bocah ini mulai tak mau mengerjakan tugasnya yang diberikan… Dia nampak sering murung. Seringkali suka bicara yang muluk-muluk tentang barang-barang yang mahal. Mengomel dimana-mana di tempat tetangga. Di lapangan sepakbola. Nglayab ke berbagai tempat dan berbagai ekspresi kemarahan apapun dia lakukan dan tunjukkan untuk mendapatkan perhatian.

Sehingga orang tua tak lagi sabar melihat tingkah polahnya. Karena sudah tidak sesuai harapan keluarga. Dia nasehati sang bocah, ditegur, diperingatkan hingga suatu waktu sang bocah menyatakan dirinya sudah tak betah di rumah lagi dan minggat.

Mulailah perjalanan minggat dari rumah detik berubah menit. Menit demi menit berubah menjadi jam. Hingga penat, lapar, lemah, lunglai, lemas dia rasakan. Mulailah sang bocah merasakan bahwa betapa butuh perjuangan untuk hidup dan terus hidup. Sampai di suatu waktu lapar begitu mendera tak terkira, padahal kantong kosong tanpa uang di sakunya.

Mulai memberanikan diri di pagi hari, saat dia tidak lagi mampu menahan diri. Perut yang sakit melilit begitu pedih dan perih. Dia mendatangi seorang ibu penjual pecel, “Bu, aku kelaparan…sudikah memberiku satu suap nasi pecel untuk saya…”

Tanpa ba-bi-bu emak emak penjual pecel mengambilkan satu porsi nasi pecel lengkap dengan lauk pauknya…

Si Bocah berkata, “Bu banyak banget ini Bu. Lauknya juga lengkap begini? Harus bayar pakai apa aku ini nanti?.

Sang emak penjual pecel tersenyum sembari berkata, “Dah nikmati saja. Kan kamu tadi minta, Nah emak kasih…

Bocah ini mulai berpikir dan membandingkan dengan orang tuanya selama ini. Hingga tidak sadar dia bergumam,

“Duh baik sekali Ibu ini. Nggak kayak orang tuaku. Sudah saya bantu luar biasa dengan seluruh potensi saya. Nah pas ada enaknya dikasih saudaraku yang lain. Boro-boro ngeladeni kayak ibu begini…”

Mendengar gumaman bocah ini, sang emak penjual pecel tertawa geli. “He he he he he…” Ketawa geli emak penjual pecel pada si bocah membuat si bocah yang sedang makan pecel jadi heran.

“Gimana kamu to nang-nang… Emak cuma ngasih pecel sekali ini saja, koq kamu bandingkan sama orang tuamu yang semenjak ada di perut menyayangi kamu..? “Ingatlah, setelah lahir merawatmu dengan berpeluh-peluh…”

“Berurai air mata berharap sehatmu saat sakit…” “Menyuapimu hingga kamu bisa makan sendiri…” ‘Dan masih sangat buanyak bentuk kasih sayang yang orang tuamu berikan padamu. Coba kamu buka kenanganmu bersama orang tuamu lagi… begitu sang emak mengingatkan si bocah ini.

Tercekat bocah ini. Dia berhenti sejenak dari mengunyah nasi pecel pemberian emak penjual pecel. Mulailah bergetar tubuhnya.. Berlinang air matanya. Hingga dia letakkan pecel itu dan berlari sang bocah hendak menuju rumahnya.

Dari kejauhan samar-samar rumah mulai nampak. Bahkan ada sosok orang tua yang duduk termangu di depan rumah seolah sedang menanti kedatangan seseorang… Sang bocah tak kuasa menahan derasnya air matanya, “Ibu, aku anakmu Buk…Nang…”

Sang bocah menubruk tubuh kokoh sang ibu. Dia peluk erat erat ibunya sambil mengucapkan rasa cintanya pada ibunya. Serasa bersimpuh mohon maaf dan ampunan pada orang tuanya… Ibunya pun menyambutnya dengan penuh cinta kasih sayang. Sebagaimana saat pelukan pertama anak ini dilahirkan.

“Selamat datang kembali yaa Qurrota A’yuun…”

Oh ibuku
Kau bimbinglah
Diri ini yang mengharap ridho-Nya. Aku lemah. Aku jahil tanpa bimbingan darimu

Kau penyabar, kau penyantun, kepada anak anakmu. Kasam mukaku
Kau balas dengan senyummu

Ibu … maafkanlah
bila aku kecewakanmu. Ibu … syahadahmu
Mengantarkan cita citaku

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

πŸ“±Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

πŸ’° Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here