ilmu tasawauf

Bagaimana Hukum Mempelajari Ilmu Tasawuf?

Pertanyaan

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Ustadz, saya mau bertanya, ketika tarikat (tasawuf) itu merupakan sesuatu yang menjadi penyempurna ibadah, apa hukum mempelajarinya apakah wajib atau bagaimana?

Jawaban

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Oleh: Ustadz Farid Nu’man Hasan

وَعَلَيْكُمْ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Bismillahirrahmanirrahim

Ilmu Tasawwuf (ahli tasawwuf disebut sufi) adalah “lembaga” keilmuan sebagaimana yang lainnya seperti ilmu fiqih, ilmu aqidah, ilmu sejarah, ilmu tafsir, ilmu hadits, dan lainnya.

Ilmu tasawwuf menitikberatkan pada pembinaan akhlak dan spiritualitas (tarbiyah akhlaqiyah wa ruhiyah). Inilah bagian yang luput dari perhatian para ulama yang umumnya menitikberatkan hukum-hukum lahiriyah. Sebagian orang ada yang lebih menyukai penamaannya adalah ilmu akhlak dan jiwa. Sebab, penamaan tasawwuf dianggap sesuatu yang bercitra negatif lantaran perilaku sebagian sufi, khususnya sufi di abad pertengahan yang telah keluar dari rel sufi generasi pertama.

Tidak ada sepakat para sejarawan dari mana asal muasal istilah tasawwuf. Ada yang menyebutnya dari Ash Shuf (wol) karena pakaian yang mereka pakai terbuat dari bahan wol dan kasar yang menunjukkan ketidakcintaan mereka kepada dunia. Ada juga yang mengatakan berasal dari kata: Ahlush Shufah, yaitu sekelompok sahabat nabi yang hidup sederhana di emperan masjid nabawi.

Ada baiknya, kita mencermati dahulu perjalanan tasawwuf. Syaikh Hasan al-Banna bercerita:

حين اتسع عمران الدولة الإسلامية في صدر القرن الأول، وكثرت فتوحاتها وأقبلت الدنيا على المسلمين من كل مكان، وحببت إليهم ثمرات كل شيء، وكان خلفيتهم بعد ذك يقول للسحابة في كبد السماء: شرقي أو غربي فحيثما وقع قطرك جاءني خراجه. وكان طبيعيا أن يقبلوا على هذه الدنيا يتمتعون بنعيمها ويتذوقون حلاوتها وخيراتها في اقتصاد أحيانا وفي إسراف أحيانا أخرى، وكان طبيعيا أمام هذا التحول الاجتماعي، من تقشف عصر النبوة الزاهر إلى لين الحياة ونضارتها فيما بعد ذلك، أن يقوم من الصالحين الأتقياء العلماء الفضلاء دعاة مؤثرون يزهدون الناس في متاع هذه الحياة الزائل، ويذكرونهم بما قد يسره من متاع الآخرة الباقي: “وإن الدار الآخرة لهي الحيوان لو كانوا يعلمون” ومن أول هؤلاء الذين عرفت عنهم هذه الدعوة – الإمام الواعظ الجليل – الحسن البصري، وتبعه على ذلك كثير من أضرابه الدعاة الصالحين، فكانت طائفة في الناس معروفة بهذه الدعوة إلى ذكر الله واليوم الآخر. والزهادة في الدنيا، وتربية النفوس على طاعة الله وتقواه. وطرأ على هذه الحقائق ما طرأ على غيرها من حقائق المعارف الإسلامية فأخذت صورة العلم الذي ينظم سلوك الإنسان ويرسم له طريقا من الحياة خاصا: مراحله الذكر والعبادة ومعرفة الله، ونهايته الوصول إلى الجنة ومرضاة الله

“Ketika kemakmuran pemerintahan Islam telah melebar luas pada permulaan abad pertama, penaklukan berbagai negara pun banyak berlangsung. Masyarakat dari berbagai penjuru dunia memberikan perhatiannya kepada kaum muslimin. Segala jenis buah telah tergenggam dan bertumpuk di tangan mereka. Khalifah ketika itu berkata kepada awan dan langit, ‘Barat maupun Timur entah bagian bumi mana pun yang mendapat tetesan air hujan-Mu, pasti akan datang kepadaku membawa upeti’.”

Suatu hal yang lumrah jika ada umat manusia ketika menerima nikmat dunia, mereka menikmati kelezatan dan anugerah yang ada. Memang ada yang menikmatinya dengan kesahajaan. Ada pula yang menikmatinya dengan berlebihan. Sudah menjadi hal yang lumrah pula perubahan sosial itu terjadi. Dari kesahajaan hidup masa kenabian, kini telah sampai pada masa kemewahan.

Melihat kenyataan itu, bangkitlah dari kalangan ulama yang shalih dan bertakwa serta para dai yang menghimbau umat manusia untuk kembali kepada kehidupan zuhud terhadap kesenangan duniawi yang fana sekaligus mengingatkan mereka pada berbagai hal yang dapat melupakan dirinya dari nikmat akhirat yang kekal abadi. Sungguh, kampung akhirat itulah kehidupan yang kekal lagi sempurna jika mereka mengetahui.

Satu yang saya ketahui adalah seorang Imam pemberi petuah yang mulia, Hasan al Bashri. Meski akhirnya diikuti pula sekian banyak orang shalih lainnya semisal beliau. Terbentuklah sebuah kelompok di tengah-tengah umat yang dikenal dengan dakwahnya untuk selalu mengingat Allah Ta’ala dan mengingat akhirat, zuhud di dunia, serta men-tarbiyah diri untuk selalu menaati Allah Ta’ala dan bertakwa kepada-Nya.

Dari fenomena itu, lahirlah format keilmuan seperti disiplin ilmu keislaman lainnya. Dibangunlah suatu disiplin ilmu yang mengatur tingkah laku manusia dan melukiskan jalan kehidupannya yang spesifik. Tahapan jalan itu adalah zikir, ibadah, dan ma’rifatullah. Sedangkan hasil akhirnya adalah surga Allah dan ridha-Nya.”

(Imam Hasan al-Banna, Mudzakkirat ad-Da’wah wad-Da’iyyah, Hal. 24)

Demikianlah tasawwuf. Pada mulanya, ia adalah suatu yang mulia. la mengisi kekosongan yang dilupakan fuqaha (ahli fiqh), muhadditsin (ahli hadis), dan mutakallimin (ahli kalam). Yaitu kekosongan ruhiyah (jiwa) dan akhlak. Secara jujur harus diakui, inti ajaran Islam adalah akhlak yang menjadi tujuan diutusnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menyempurnakannya. Penerapan syariat Islam dari lingkup terkecil, individu, sampai terbesar, pergaulan antar bangsa, dan semuanya memiliki dimensi akhlak. “Pada hakikatnya, tasawwuf adalah akhlak. Siapa yang bertambah baik akhlaknya, bertambah baik pula tasawwuf-nya.” Demikian kata Imam Ibnu Qayyim al Jauziyah. Di sisi ini, adalah hal yang bagus jika seorang muslim mempelajarinya baik dinamakan dengan tasawwuf atau tarbiyah ar ruhiyah wal akhlaqiyah atau apa pun. Selama tidak mengandung penyimpangan sebagai tasawwuf yang dianut sebagian tokohnya yang sudah tercampur ajaran filsafat (sufi falsafi).

Dalam kitab-kitab madzhab Maliki dan lainnya, tersebar perkataan yang masyhur dari Imam Malik Rahimahullah:

مَنْ تَفَقَّهَ وَلَمْ يَتَصَوَّفْ فَقَدْ تَفَسَّقَ، وَمَنْ تَصَوَّفَ وَلَمْ يَتَفَقَّهْ فَقَدْ تَزَنْدَقَ، وَمَنْ جَمَعَ بَيْنَهُمَا فَقَدْ تَحَقَّقَ

Siapa yang berfiqih tapi tidak bertasawwuf maka dia akan fasiq, siapa yang bertasawwuf tapi tidak berfiqih maka dia akan zindiq, siapa yang menggabungkan keduanya maka dia telah benar.

(Imam Ali al ‘Adawi, Hasyiyah al ‘Adawi, 3/195, Imam Ali al Qari, Mirqah al Mafatih, 1/335. Imam asy Sya’rani, ath Thabaqat al Kubra, 1/417)

Imam al’ Ajluni Rahimahullah menyebutkan bahwa Imam asy Syafi’i Rahimahullah berkata:

وأنا حبب إلي من دنياكم ثلاث: ترك التكلف، وعشرة الخلق بالتلطف، والاقتداء بطريق أهل التصوف

Ada tiga hal yang jadi kesukaanku atas dunia kalian: meninggalkan sikap memberatkan diri, bergaul dengan makhluk dengan kelembutan, dan mengikuti jalan ahli tasawwuf.

(Kasyful Khafa, 1/394)

Imam Ibnul Qayyim Rahimahullah mengutip dari Imam asy Syafi’i Rahimahullah yang mengatakan:

صَحِبْتُ الصُّوفِيَّةَ فَمَا انْتَفَعْتُ مِنْهُمْ إِلَّا بِكَلِمَتَيْنِ سَمِعْتُهُمْ يَقُولُونَ: الْوَقْتُ سَيْفٌ. فَإِنْ قَطَعْتَهُ وَإِلَّا قَطَعَكَ. وَنَفْسُكَ إِنْ لَمْ تَشْغَلْهَا بِالْحَقِّ، وَإِلَّا شَغَلَتْكَ بِالْبَاطِلِ

Aku bersahabat dengan golongan sufi, tidaklah aku mendapatkan manfaat dari mereka kecuali dua ucapan yang aku dengar dari mereka. Mereka berkata: “Waktu adalah pedang, jika kamu tidak bisa mengendalikannya maka dia akan menebasmu. Dirimu jika sedang tidak sibuk dalam kebaikan, maka niscaya dia akan menyibukkanmu dengan kebatilan.” (Madarij as Salikin, 3/125)

Imam Amin al Kurdi Rahimahullah menceritakan tentang Imam Ahmad bin Hambal Rahimahullah:

إنه كان يقول لولده عبد الله قبل مصاحبة الصوفية: ” يا ولدي عليك بالحديث، وإياك ومجالسة هؤلاء الذين سموا أنفسهم بالصوفية، فإنهم ربما كان أحدهم جاهلاً بأحكام دينه، فلما صحب (أبا حمزة البغدادي الصوفي)، وعرف أحوال القوم أصبح يقول لولده: يا ولدي. عليك بمجالسة هؤلاء القوم، فإنهم زادوا علينا بكثرة العلم والمراقبة والخشية والزهد، وعلو الهمة “

Imam Ahmad bin Hambal berkata kepada anaknya di saat dia belum bergaul dengan majelisnya sufi: “Wahai anakku, peganglah hadits, dan jauhilah majelisnya orang-orang yang menamakan diri mereka dengan sufiyah karena bisa jadi mereka bodoh terhadap hukum-hukum agamanya.”

Namun saat dia bersahabat dengan Abu Hamzah al Baghdadi seorang sufi, maka dia menjadi tahu kondisi sufi, dan dia berkata: “Wahai anakku, hendaknya engkau bermajelis bersama kaum itu, karena mereka menambah untuk kita banyak ilmu, muraqabah, rasa takut, zuhud, dan cita-cita yang tinggi.”

(Tanwir al Qulub, Hal. 405)

Demikian. Wallahu a’lam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸


Dipersembahkan oleh : www.manis.id

Follow IG MANIS : http://instagram.com/majelismanis

📱Info & Pendaftaran member : https://bit.ly/Joinmanis

💰 Donasi Dakwah, Multi Media dan Pembinaan Dhuafa
An. Yayasan Manis
No Rek BSM : 7113816637
Konfirmasi:
+62 852-7977-6222
+62 822-9889-0678

Leave A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *