Memaknai Ujian Kehidupan (Bagian ke-1)

Pemateri: Ustadzah Bunda Rochma Yulika

❣Hidup ini indah….
Namun akan menjadi indah
bila kita mampu meraih hidayah

❣Hidup ini susah…
Namun akan semakin susah
bila kita tak bisa mengambil hikmah

Allah Menguji dan Allah yang akan beri Solusi.
Allah datangkan ujian,  Allah pula yang menyediakan jawaban.

Masihkah kita ragu akan kuasa Nya?
Masihkah pula kita enggan untuk menghamba?
Masihkah kita lalai menjalankan kewajiban kita?
Dan masihkah kita malas membaca kalam Nya?

Maka nikmat mana yang masih kita dustakan?

❣Sahabat surgaku…
Mari bersegera kita menakar diri
Seberapa lemah diri kita ini
Seberapa besar kuasa Ilahi Rabbii
Bersegera tinggalkan rasa tinggi hati
Menuju hati yan selalu mengabdi

❣Sahabat surgaku…
Sudah saatnya kita berbenah
Tundukkan diri dengan jiwa pasrah
Agar Allah ridla untuk hadirkan berkah
Hidup mulia atau mati khusnul khatimah

❣Sahabat surgaku…
Sudah saatnya bergerak tuk raih kemenangan
Ayunkan langkah tuk segera sambut seruan
Agar Allah Ridla tuk kabulkan segala harapan

❣Selamat berjuang Sahabat Surgaku….
Semoga Allah senantiasa melapangkan jalan kita tuk menyeru kebenaran.
         🔹     🔹     🔹

📚 Menyikapi Peristiwa Kehidupan

Adalah kehidupan bila nampak berjuta warna di depan mata.
Pelangi tak kan menjadi indah bila hanya ada satu warna.
Paduan berbagai warna menambah indah di pandangan kita.

Kadang hidup kita merah, kadang biru, kadang pula hitam. Kita harus bisa menikmatinya.

Tabiat manusia akan siap bila menerima anugerah dibanding dengan musibah.

Tapi agama mengajarkan kita bahwa dalam keadaan apa pun harus tetap siap karena kita akan menjalani setiap takdir yang akan ada.

Muhammad SAW teladan bagi kita. Ujian yang ia terima dari kaum kafir Qurays kala menjalankan perintah Allah swt.

Cacian dan makian juga lemparan kotoran binatang pun diterima olehnya. Namun Rasul tak pernah mundur sedikit pun untuk tetap menjalankan amanah yang harus dijalankannya.

Bagi kita mendengar kata “ujian” yang terbayang di depan kita yang ada hanya kesulitan, kesedihan, kegagalan, pun kenestapaan. Karena ujian dipandang sebagai masalah yang sulit, berat, susah, membosankan, repot, pasti menyelesaikannya harus dengan dahi berkerut.

Persepsi yang seperti itu sudah mendarah daging sehingga sulit untuk dihilangkan.

Padahal, ujian itu tak hanya yang mampu membuat kita sedih dan berderai air mata. Namun kekayaan yang membuat mata silau dan segala kenyamanan sebenarnya juga merupakan ujian.

Mungkin kita akan lebih teruji bila di hadapan kita terbentang kesulitan, namun akan menjadi semakin terjerumus bila kita diberi kemudahan.

Hidup ini ibarat fatamorgana. Bila kita berjalan di padang yang tandus kala itu kita sedang kehausan nampaklah dari jauh sumber mata air yang segar namun setelah kita mendatanginya hanya tanah kering lantaran terik matahari yang menyengat.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (Q.s. Ali ’Imran [3]: 14).

Sejenak kita ingat kala bahtera mengarungi lautan badai, ombak senantiasa akan datang tanpa kita tahu. Sebagai nahkoda harus siaga dengan setiap kemungkinan yang mendatanginya.

Tak ubahnya dengan pohon, semakin tinggi semakin besar anginnya. Akar yang kokoh menghunjam ke tanah yang akan membuat pohon tetap tegak berdiri meski angin besar menerpanya.
Begitu juga seperti layang-layang ia akan terbang tinggi ke udara. Tarik ulur dari tali atau benang yang membuat layang-layang itu semakin terbang tinggi. Nampaklah pemandangan yang indah kala layang-layang itu tak goyah lantaran tiupan angin yang tak kencang.

Namun bila tiba-tiba angin kencang datang tak ayal lagi bila layang-layang akan terombang-ambing di udara bahkan bila putus talinya layang-layang akan terhempas begitu saja tanpa jelas dimana ia akan terhempas.

Namun kehidupan manusia tak begitu saja bisa disamakan dengan terbangnya layang-layang. Meski kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga dari layang-layang.

Karunia akal tak lain seyogyanya kita optimalkan sedemikian rupa sehingga kita mampu membaca fenomena yang kita lihat, dengar, dan rasa.

Tak pernah sang Pencipta alam semesta ini memberikan suatu ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Allah sangat mengerti kadar kemampuan seorang hamba. Badai pun pasti akan berlalu dari kehidupan kita. Roda pun akan berputar sesuai dengan kodratnya.

Tak kan ada duka derita yang berkepanjangan menghampiri sang hamba. Beginilah tabiat ujian dan kehidupan manusia.
Besar kecilnya ujian tak  berpengaruh bagi kita bila kita sangat memahami tabiat perjalanan Gagal dan berhasil dalam ujian juga hal yang wajar saja, yang penting justru bagaimana cara kita menyikapi ujian itu. Ini pula yang nanti membedakan antara mereka yang berhasil dan yang gagal dalam menjalani ujian. Bagi yang arif menyikapi kegagalan, ujian dipandang sebagai sarana untuk mendewasakan diri dan tempat menempa untuk mempercepat menuju insan kamil.

Bagi yang tidak arif, kebanyakan mencari pelarian yang tidak sedikit berakhir dengan bunuh diri.

Duka dan bahagia kan selalu mengiringi langkah manusia. Canda tawa, derai airmata, akan silih berganti menyapa. Tak ada yang abadi dalam hidup kita. Semua serba sementara. Hanya keyakinan di dada atas segala titah Nya akan menjadikan kita manusia yang kuat, tegar dalam menjalani hidup ini.

(Bersambung, insya Allah)

Perayaan Ulangtahun

Oleh: Ustadz Dr.Wido Supraha

Assalamualaikum.. Ustad. Saya mau tanya.. Apa hukumnya merayakan ulang tahun? Apakah dalam Islam ada perayaan ulang tahun? Syukron atas jawaban ustad.

JAWABAN:

—————–

Wa’alaikum salam wr wb
Ulang tahun tidak dikenal dalam tradisi Islam, karena hakikatnya tambah tahun. Bahkan setiap detik sejatinya usia bertambah, yg berarti kesempatan peluang hidup berkurang. Maka korelasinya seharusnya adalah kesedihan karena kesempatan persiapannya untuk akhirat semakin sedikit. Kalaupun ia bergembira lebih karena waktu pertemuan dengan Allah Swt yang dirindukannya semakin dekat.

Islam menganjurkan umatnya untuk senantiasa muhasabah, introspeksi, dan kemudian beramal lebih baik lagi.

Tentunya ini berbeda dengan sebagian manusia yang merayakan pertambahan tahunnya dengan hura-hura dan jauh dari upaya muhasabah, bahkan tidak sedikit yang diisi dengan kemaksiatan dan menghamburkan uang. Tentunya ini berbeda dengan makna bersyukur atas seluruh rizqi yang telah diterimanya.

Oleh itu, hendaknya kita bangun tradisi introspeksi diri daripada definisi ulang tahun dalam perspektif masyarakat kebanyakan.

Wallahu a’lam.

Kisah Ummu Kajjah

Oleh: Pemateri: *Ustadzah Eko Yuliarti Siroj, S.Ag*

Ummu Kajjah adalah istri Sa’ad bin Rabi’

Pergilah sang suami bersama Rasulullah Saw di perang Badar. Sementara istri tercinta ditinggal dalam kondisi hamil tua menanti saat kelahiran. Ummu Kajjah bersedih…bukan karena ditinggal suami, akan tetapi karena ia tidak bisa ikut berpartisipasi. Biasanya ia ikut dalam rombongan pasukan untuk menyediakan makanan, mengobati mereka yang terluka dan kegiatan lainnya.

Tibalah saat melahirkan tanpa kehadiran sang suami. Ummu Kajjah sangat mengharapkan kehadiran anak laki-laki, akan tetapi taqdir Allah menentukan ia mendapat anak perempuan. Pada saat si bayi lahir, ternyata hari itu bersamaan dengan kepulangan pasukan Badar dengan kemenangan. Suaminya yang tahu kekecewaan sang istri, dengan penuh cinta dan kasih mengatakan :”Ia (anak itu) adalah rizki dari Allah.” Kemudian ia membacakan ayat

{لِلَّهِ مُلْكُ السَّمَوَاتِ وَالأرْضِ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ يَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ إِنَاثًا وَيَهَبُ لِمَنْ يَشَاءُ الذُّكُورَ
“Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, Dia menciptakan apa yang Dia kehendaki, Dia memberikan anak-anak perempuan kepada siapa yang Dia kehendaki dan memberikan anak-anak lelaki kepada siapa yang Dia kehendaki, atau Dia menganugerahkan kedua jenis laki-laki dan perempuan (kepada siapa yang dikehendaki-Nya)” (QS As Syuro:49)
Dan suaminya membantu mengerjakan pekerjaan-pekerjaan rumah tangga pasca sang istri bersalin.

Tibalah waktu perang Uhud. Suami Ummu Kajjah telah bersiap ke medan perang. Demikian juga dengan Ummu Kajjah. Ia menyiapkan banyak tempat minum untuk memberi minum orang-orang yang berperang. Suaminya bertanya:”Dengan siapa engkau tinggalkan anak-anak kita yang masih kecil?”. Ia menjawab:”Aku titipkan mereka kepada ibuku.”

Taqdir menentukan suami Ummu Kajjah menemui syahid di medan perang Uhud. Pulanglah Ummu Kajjah yang lelah, menemui 3 putrinya yang kini yatim. Ummu Kajjah berduka, kini ia seorang janda yang menjadi tulang punggung keluarga. Ia terhibur ketika menemukan harta simpanan yang ditinggalkan suaminya. Cukuplah harta itu menemani 3 yatimnya dalam pertumbuhan untuk masa depan mereka.

Belum sirna kegelisahan dan kebahagiaan Ummu Kajjah ketika tiba-tiba datang anak saudara suaminya dan mengambil seluruh harta milik suaminya.

Dengan hati luka, Ummu Kajjah bersama ketiga putrinya menemui Rasulullah Saw dan menceritakan kejadian yang dialaminya. Maka turunlah ayat
لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا تَرَكَ الْوَالِدَانِ وَالْأَقْرَبُونَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ أَوْ كَثُرَ  نَصِيبًا مَفْرُوضًا  ﴿النساء:٧﴾

“Bagi orang laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, dan bagi orang wanita ada hak bagian (pula) dari harta peninggalan ibu-bapa dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bahagian yang telah ditetapkan.” (QS An Nisa :7)

يُوصِيكُمُ اللَّهُ فِي أَوْلَادِكُمْ  لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْأُنْثَيَيْنِ  فَإِنْ كُنَّ نِسَاءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ  وَإِنْ كَانَتْ وَاحِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ  وَلِأَبَوَيْهِ لِكُلِّ وَاحِدٍ مِنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ إِنْ كَانَ لَهُ وَلَدٌ  فَإِنْ لَمْ يَكُنْ لَهُ وَلَدٌ وَوَرِثَهُ أَبَوَاهُ فَلِأُمِّهِ الثُّلُثُ  فَإِنْ كَانَ لَهُ إِخْوَةٌ فَلِأُمِّهِ السُّدُسُ  مِنْ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُوصِي بِهَا أَوْ دَيْنٍ  آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ لَا تَدْرُونَ أَيُّهُمْ أَقْرَبُ لَكُمْ نَفْعًا  فَرِيضَةً مِنَ اللَّهِ  إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلِيمًا حَكِيمًا  ﴿النساء:١١﴾

“Allah mensyari´atkan bagimu tentang (pembagian pusaka untuk) anak-anakmu. Yaitu: bahagian seorang anak lelaki sama dengan bagahian dua orang anak perempuan; dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan; jika anak perempuan itu seorang saja, maka ia memperoleh separo harta. Dan untuk dua orang ibu-bapa, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak; jika orang yang meninggal tidak mempunyai anak dan ia diwarisi oleh ibu-bapanya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga; jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) sesudah dipenuhi wasiat yang ia buat atau (dan) sesudah dibayar hutangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih dekat (banyak) manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS An Nisa:11).

_”Ketentuan pembagian harta waris menurut syari’at Islam adalah merupakan ketentuan terbaik dan teradil dalam pembagian warisan yang datang dari Allah Yang Maha Mengetahui segala urusan hambaNya. Setiap keluarga muslim wajib meyakini dan mengimplementasikan dalam kehidupan.”_

Wallahu a’lam bish showab

Jabat Tangan Dengan Bukan Muhrim

Oleh: Ustadzah Dra Indra  Asihp

Asalamu’alaikum ustadz/ah..
Saya mau bertanya. seperti yang kita ketahui dilarang berjabat tangan dengan orang bukan muhrim. Bila seorang perempuan yang sudah dewasa ini sudah menghindari berjabat tangan dengan laki-laki. Namun ia tetap berjabat tangan dengan orang yang lebih tua, seperti dosennya yg sudah tua, orangtua dengan tujuan untuk menghormati yang lebih tua dan terkadang ia segan menolaknya karena bapak2 tersebut sudah mengulurkan tangannya menganggap si perempuan seperti anaknya. Apakah itu baik atau seharusnya dihindari?? Mohon penjelasannya.member🅰3⃣3⃣.                            
                                                                                               Jawaban nya.                    
                                                                                                         Wa’alaikumussalam wr wb
DR Yusuf Qardhawi (Ketua Persatuan Ulama Internasional) dalam bukunya Fatwa-fatwa Kontemporer (terbitan Gema Insani Pres) menjelaskan dengan detil terkait hukum berjabat tangan dengan lawan jenis yang bukan mahram.

Kutipan kesimpulannya sbb:

(disarankan untuk mengkaji/membaca secara lengkap  di http://media.isnet.org/islam/Qardhawi/Kontemporer/Jabat1.html )

“Sesungguhnya ditusuknya kepala salah seorang diantara kamu dengan jarum besi itu lebih baik daripada ia menyentuh wanita yang tidak halal baginya.” [HR Thabrani-Baihaqi]

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan berkenaan dengan pengambilan hadits di atas sebagai dalil:

1. Bahwa imam-imam ahli hadits tidak menyatakan secara jelas akan kesahihan hadits tersebut, hanya orang-orang seperti al-Mundziri dan al-Haitsami yang mengatakan, “Perawi-perawinya adalah perawi-perawi kepercayaan atau perawi-perawi sahih.”

Perkataan seperti ini saja tidak cukup untuk menetapkan kesahihan hadits tersebut, karena masih ada kemungkinan terputus jalan periwayatannya (inqitha’) atau terdapat ‘illat (cacat) yang samar. Karena itu, hadits ini tidak diriwayatkan oleh seorang pun dari penyusun kitab-kitab yang masyhur, sebagaimana tidak ada seorang pun fuqaha terdahulu yang menjadikannya sebagai dasar untuk mengharamkan berjabat tangan antara laki-laki dengan perempuan dan sebagainya.

2. Andaikata kita terima bahwa hadits itu sahih dan dapat digunakan untuk mengharamkan suatu masalah, maka saya dapati petunjuknya tidak jelas. Kalimat “menyentuh kulit wanita yang tidak halal baginya” itu tidak dimaksudkan semata-mata bersentuhan kulit dengan kulit tanpa syahwat, sebagaimana yang biasa terjadi dalam berjabat tangan. Bahkan kata-kata al-mass (massa – yamassu – mass: menyentuh) cukup digunakan dalam nash-nash syar’iyah seperti Al-Qur’an dan As-Sunnah dengan salah satu dari dua pengertian, yaitu:

– Bahwa ia merupakan kinayah (kiasan) dari hubungan biologis (jima’) sebagaimana diriwayatkan Ibnu Abbas dalam menafsirkan firman Allah: “Laamastum an-Nisa” (Kamu menyentuh wanita). Ibnu Abbas berkata, “Lafal al-lams, al-mulaamasah, dan al-mass dalam Al-Qur’an dipakai sebagai kiasan untuk jima’ (hubungan seksual). Secara umum, ayat-ayat Al-Qur’an yang menggunakan kata al-mass menunjukkan arti seperti itu dengan jelas, seperti firman Allah yang diucapkan Maryam:

– Bahwa yang dimaksud ialah tindakan-tindakan dibawah kategori jima’, seperti mencium, memeluk, merangkul, dan lain-lain yang merupakan pendahuluan bagi jima’ (hubungan seksual). Ini diriwayatkan oleh sebagian ulama salaf dalam menafsirkan makna kata mulaamasah.

Dari Aisyah, ia berkata:

“Sedikit sekali hari (berlalu) kecuali Rasulullah saw. mengelilingi kami semua – yakni istri-istrinya – lalu beliau mencium dan menyentuh yang derajatnya dibawah jima’. Maka apabila beliau tiba di rumah istri yang waktu giliran beliau di situ, beliau menetap di situ.”

Karena itu, Syeikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Fatawa-nya melemahkan pendapat orang yang menafsirkan lafal “mulaamasah” atau “al-lams” dalam ayat tersebut dengan semata-mata bersentuhan kulit walaupun tanpa syahwat.

Dalam menutup pembahasan ini ada dua hal yang perlu saya tekankan:

Pertama, bahwa berjabat tangan antara laki-laki dan perempuan itu hanya diperbolehkan apabila tidak disertai de
ngan syahwat serta aman dari fitnah (fitnah seperti: dituduh selingkuh, menjalin asmara). Apabila dikhawatirkan terjadi fitnah terhadap salah satunya, atau disertai syahwat dan taladzdzudz (berlezat-lezat) dari salah satunya (apa lagi keduanya) maka keharaman berjabat tangan tidak diragukan lagi.

Bahkan seandainya kedua syarat ini tidak terpenuhi – yaitu tiadanya syahwat dan aman dari fitnah – meskipun jabatan tangan itu antara seseorang dengan mahramnya seperti bibinya, saudara sesusuan, anak tirinya, ibu tirinya, mertuanya, atau lainnya, maka berjabat tangan pada kondisi seperti itu adalah haram.

Bahkan berjabat tangan dengan anak yang masih kecil pun haram hukumnya jika kedua syarat itu tidak terpenuhi.

Kedua, hendaklah berjabat tangan itu sebatas ada kebutuhan saja, seperti yang disebutkan dalam pertanyaan di atas, yaitu dengan kerabat atau semenda (besan) yang terjadi hubungan yang erat dan akrab diantara mereka; dan tidak baik hal ini diperluas kepada orang lain, demi membendung pintu kerusakan, menjauhi syubhat, mengambil sikap hati-hati, dan meneladani Nabi saw.

Dan yang lebih utama bagi seorang muslim atau muslimah – yang komitmen pada agamanya – ialah tidak memulai berjabat tangan dengan lain jenis. Tetapi, apabila diajak berjabat tangan barulah ia menjabat tangannya.

Saya tetapkan keputusan ini untuk dilaksanakan oleh orang yang memerlukannya tanpa merasa telah mengabaikan agamanya, dan bagi orang yang telah mengetahui tidak usah mengingkarinya selama masih ada kemungkinan untuk berijtihad.

Wallahu a’lam.                                                    

Karakter Munafiq dalam QS. Al-Munafiquun (I-c)

By: Ust Noorahmat

Assalamu’alaikum warrahmatullahi wabarakaatuhu.

Adik-adik MFT yang disayang Allah Ar Rahmaan…
Alhamdulillah kita bertemu kembali hari ini. Sejak kesempatan pekan lalu hingga beberapa pekan kedepan, kita akan membahas karakter-karakter yang ditunjukkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam Al Qur’an surat Al Munafiquun. Surat ke 63 dan bagian dari Juz 28.

Mempersingkat tulisan, kita langsung saja ya….

Adik-adik yang dirahmati Allah Ar Rahmaan, sebelum kita lanjutkan kajian kita pekan lalu, kita ingatkan kembali empat ayat pertama dari QS Al Munafiquun…

Allah Azza wa Jalla berfirman

إِذَا جَاءَكَ الْمُنَافِقُونَ قَالُوا نَشْهَدُ إِنَّكَ لَرَسُولُ اللَّهِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ إِنَّكَ لَرَسُولُهُ وَاللَّهُ يَشْهَدُ إِنَّ الْمُنَافِقِينَ لَكَاذِبُونَ
Apabila orang-orang munafik datang kepadamu, mereka berkata, “Kami mengakui, bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul Allah.” Dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya kamu benar-benar Rasul-Nya; dan Allah mengetahui bahwa sesungguhnya orang-orang munafik itu benar-benar orang pendusta.

اتَّخَذُوا أَيْمَانَهُمْ جُنَّةً فَصَدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنَّهُمْ سَاءَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Mereka itu menjadikan sumpah mereka sebagai perisai, lalu mereka menghalangi (manusia) dari jalan Allah. Sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan.

ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ آمَنُوا ثُمَّ كَفَرُوا فَطُبِعَ عَلَى قُلُوبِهِمْ فَهُمْ لَا يَفْقَهُونَ
Yang demikian itu adalah karena bahwa sesungguhnya mereka telah beriman, kemudian menjadi kafir (lagi), lalu hati mereka dikunci mati; karena itu mereka tidak dapat mengerti.

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ كَأَنَّهُمْ خُشُبٌ مُسَنَّدَةٌ يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata, kamu mendengarkan perkataan mereka. Mereka adalah seakan-akan kayu yang tersandar. Mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka. Mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?

☄Nah setelah dua pekan sebelum ini kita membahas ayat pertama hingga ketiga, hari ini kita bahas bagian kelanjutannya yaitu ayat keempat…. bertahap ya…

Firman Allah Swt.:

وَإِذَا رَأَيْتَهُمْ تُعْجِبُكَ أَجْسَامُهُمْ وَإِنْ يَقُولُوا تَسْمَعْ لِقَوْلِهِمْ…
Dan apabila kamu melihat mereka, tubuh-tubuh mereka menjadikan kamu kagum. Dan jika mereka berkata kamu mendengarkan perkataan mereka…

Adik-adik MFT yang dirahmati Allah Azza Ar Rahmaan…
Orang-orang munafiq banyak diantara mereka yang memiliki penampilan yang baik-baik, pandai berbicara, dan berlisan fasih. Apabila perkataan mereka didengar, maka pendengarnya akan terpesona oleh perkataan mereka yang memiliki keindahan tersendiri dari sisi sastra dan bahasa. Padahal kenyataannya hati mereka sangat lemah, rapuh, mudah sok, penakut, dan pengecut. Karena itulah disebutkan dalam firman berikutnya:

…يَحْسَبُونَ كُلَّ صَيْحَةٍ عَلَيْهِمْ…
…mereka mengira bahwa tiap-tiap teriakan yang keras ditujukan kepada mereka…

Yakni manakala terjadi suatu peristiwa atau suatu kejadian atau hal yang menakutkan, maka mereka berkeyakinan bahwa hal itu akan menimpa diri mereka, hal ini disebabkan hati mereka yang pengecut lagi penakut. Apa ya istilahnya di zaman ini?

☄Nah…betul adik-adik. Istilah kekinian yang menunjukkan lemahnya hati mereka adalah BAPER alias bawa perasaan. Sedikit-sedikit dibawa perasaan. Karena mungkin ada ketakutan berlebih yang tertanam jauh di dalam lubuk hatinya akan adzab Allah Ta’ala yang sangat pedih bagi kaum munafiq.

Hal serupa sangatlah mirip dengan apa yang disebutkan oleh Allah Azza wa Jalla dalam ayat lain di QS Al Ahzab ayat 19.

أَشِحَّةً عَلَيْكُمْ فَإِذَا جَاءَ الْخَوْفُ رَأَيْتَهُمْ يَنْظُرُونَ إِلَيْكَ تَدُورُ أَعْيُنُهُمْ كَالَّذِي يُغْشَى عَلَيْهِ مِنَ الْمَوْتِ فَإِذَا ذَهَبَ الْخَوْفُ سَلَقُوكُمْ بِأَلْسِنَةٍ حِدَادٍ أَشِحَّةً عَلَى الْخَيْرِ أُولَئِكَ لَمْ يُؤْمِنُوا فَأَحْبَطَ اللَّهُ أَعْمَالَهُمْ وَكَانَ ذَلِكَ عَلَى اللَّهِ يَسِيرًا
Mereka bakhil terhadapmu, apabila datang ketakutan (bahaya), kamu lihat mereka itu memandang kepadamu dengan mata yang terbalik-balik seperti orang yang pingsan karena akan mati; dan apabila ketakutan telah hilang, mereka mencaci kamu dengan lidah yang tajam, sedangkan mereka bakhil untuk berbuat kebaikan. Mereka itu tidak beriman, maka Allah menghapuskan(pahala) amalnya. Dan yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.
Mereka adalah orang-orang yang baik dalam berpenampilan saja, tetapi dalamnya kosong sama sekali. Karena itulah maka disebutkan dalam bagian akhir dari ayat keempat QS Al Munafiquun:

…هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ.
…mereka itulah musuh (yang sebenarnya), maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)?

Adik-adik bisa kaitkan tafsiran QS Al Munafiquun dengan kondisi negeri yang carut marut ini. Aksi perlawanan para Ulama-Habaib terhadap penistaan Islam yang terjadi akhir-akhir ini diopinikan secara massive oleh media massa sebagai upaya merusak kebhinnekaan dan memecah belah NKRI. Padahal para Ulama dan Habaib hanya menuntut keadilan hukum, namun tampaknya banyak sekali yang tokoh-tokoh negeri yang banyak diantaranya adalah muslim seakan diselimuti ketakutan yang teramat sangat. Adakah mereka sudah terjangkiti penyakit kemunafiqan akut? Wallahua’lam.

Lalu bagaimanakah mereka itu sampai dipalingkan oleh Allah Azza wa Jalla dari selimut Hidayah kepada kesesatan?

Melalui sebuah hadits yang diriwayatkan Imam Ahmad bin Hambal, Rasulullah SAW pernah bersabda

إِنَّ لِلْمُنَافِقِينَ عَلَامَاتٍ يُعْرَفُونَ بِهَا: تَحِيَّتُهُمْ لَعْنَةٌ، وَطَعَامُهُمْ نُهبَة، وَغَنِيمَتُهُمْ غُلُولٌ، وَلَا يَقَرَبُونَ الْمَسَاجِدَ إِلَّا هُجْرا وَلَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا دُبْرا، مُسْتَكْبِرِينَ لَا يألَفون وَلَا يُؤلَفون، خُشُبٌ بِاللَّيْلِ، صُخُب بِالنَّهَارِ

Sesungguhnya orang-orang munafik itu mempunyai ciri-ciri khas yang dapat diketahui, yaitu salam penghormatan mereka berupa laknat, makanan mereka adalah hasil rampokan, dan ganimah mereka adalah hasil penggelapan. Mereka tidak mendekati masjid-masjid melainkan menjauhinya, dan mereka tidak mendatangi salat kecuali paling belakang. Mereka bersikap sombong, tidak bersikap rukun dan tidak pula bersikap simpatik. Mereka di malam hari bagaikan kayu (yang tersandar) dan di siang hari gaduh. (HR Ahmad)

Tampak dari hadits diatas bahwa ciri khas orang-orang munafiq yang dapat diketahui adalah sebagai berikut:
1⃣ Salam penghormatan mereka adalah laknat (تَحِيَّتُهُمْ لَعْنَةٌ)
Diantara mereka tidak suka mengucap salam. Kalaupun mengucap dengan fasih kadangkala diiringi seringai melaknat nan melecehkan. Mukmin yang berhati jernih akan mampu mengidentifikasi karakter ini. Semoga Allah Ta’ala mengkaruniai kita hati yang jernih. Aamiin.

2⃣ Makanan mereka hasil dari perampokan (طَعَامُهُمْ نُهبَة)
Mereka makan dengan cara yang memanipulasi, menipu, mengakali bahkan membodohi khalayak. Diantara mereka ada yang berupaya sekuat tenaga memonopoli seluruh sumber daya untuk kemudian memainkan harganya demi keuntungan pribadi. Akibatnya masyarakat tercekik karena tidak ada pilihan untuk memenuhi kebutuhan hidup kecuali membeli dengan harga yang sudah dimainkan oleh perampok-perampok kerah putih ini. Semoga Allah Azza wa Jalla menjauhkan negeri ini dari keberadaan orang-orang semacam ini. Aamiin.

3⃣ Ghanimah mereka dari hasil penggelapan (غَنِيمَتُهُمْ غُلُولٌ)

Ghanimah….ya…seakan pampasan perang….padahal harta itu didapat dari menggelapkan harta yang sejatinya milik ummat. Istilah sederhananya adalah Korupsi, karena menggunakan fasilitas negara dan uang negara yang bersumber dari pajak yang dibayar oleh seluruh rakyat untuk kepentingan pribadi maupun golongan tertentu. Semoga aparat penegak hukum kita dikuatkan Allah Al Aziz untuk memberantas tindak korupsi di negeri ini tanpa pandang bulu. Aamiin.

4⃣ Menjauhi masjid (لَا يَقَرَبُونَ الْمَسَاجِدَ إِلَّا هُجْرا)

Sangat jarang diantara orang-orang munafiq ini yang semangat menghidupkan masjid. Mereka hanya mendatangi masjid ketika ada kepentingan untuk keuntungan pribadi. Semoga kita semua yang membaca tulisan ini selalu bersemangat menghidupkan dan memakmurkan masjid. Aamiin.

5⃣ Mendatangi shalat paling belakang (لَا يَأْتُونَ الصَّلَاةَ إِلَّا دُبْرا)

Semoga Allah Azza wa Jalla menjauhkan kita dari keinginan menunda shalat hingga menjelang akhir waktu. Aamiin.

6⃣ Bersikap sombong (مُسْتَكْبِرِينَ)
Semoga Allah Azza wa Jalla memusnahkan sifat sombong dari hati kita. Aamiin.

7⃣ Tidak suka bahkan antipati terhadap kerukunan Ummat (لَا يألَفون وَلَا يُؤلَفون)

Senantiasa mencibir dan nyinyir ketika ada seruan untuk menjalin kerukunan Ummat. Bagi orang-orang munafiq, bersatunya kekuatan Ummat Islam hingga berbaris rapih di belakang ulama-ulama shalih, merupakan ancaman nyata bagi ketenteraman kaum munafiq. Sehingga orang-orang munafiq ini selalu berupaya sekuat tenaga memecah kesatuan ummat dengan menggunakan segala kekuatan yang mereka miliki. Yaa Rabb….kuatkan ikatan ukhuwah Ummat Islam di Indonesia dan di seluruh dunia…Aamiin.

8⃣Bagai kayu yang tersandar di malam hari (خُشُبٌ بِاللَّيْلِ)

Kayu adalah benda mati yang tidak mampu secara mandiri melakukan sesuatu. Kayu yang teronggok di malam hari tidak akan digubris siapapun. Permisalan yang menunjukkan bahwa orang-orang munafiq ini tidak memiliki pegangan hakiki dalam kehidupan.

9⃣ Membuat kegaduhan di siang hari (صُخُب بِالنَّهَارِ)

Karena tidak memiliki pegangan hakiki dalam kehidupannya, maka orang-orang munafiq ini menimbulkan kegaduhan-kegaduhan untuk mendapatkan perhatian demi meloloskan kepentingan jahat yang disembunyikan di dalam hatinya.

Adik-adik….
🔟 ciri khas orang-orang munafiq di atas ternyata dinampakkan oleh Allah Azza wa Jalla secara gamblang di negeri ini. Kegaduhan di negeri ini sedikit banyak diakibatkan oleh kemunafiqan-kemunafiqan yang menguasai negeri kita tercinta. Semoga kita tidak memiliki satupun diantara karakter-karakter itu sehingga negeri ini dijauhkan dari orang-orang munafiq… Aamiin.

Nah demikianlah adik-adik MFT pembahasan kita pada hari ini…

Semoga Allah Azza wa Jalla menguatkan pemahaman kita semua dan memberi kemampuan bagi kita untuk mengamalkan apa-apa yang sudah kita pahami. Aamiin.

InsyaAllah pekan depan kita akan membahas tafsir bagian kedua sebagai kelanjutan dari Tafsir QS Al Munafiquun.

Barakallahu fiikum ajma’iin.

Wassalam.

Berdamai Dengan Stres

By: Ustadzah Dina Farihani

Bro en Sist, siapa sih yang ngga pernah stress??  Wuiih hebat deh kalo ngga pernah stress 😃

☄ *Stress itu apa sih?*
>> kondisi mental atau emosional atau tekanan yang dialami sebagai hasil dari keadaan yang tidak diinginkan, menyakitkan, atau penuh tuntutan.

Salah satu penelitian di Amerika menemukan bahwa 42% remaja tidak melakukan apapun untuk mengatasi stress yang dialami, atau tidak tau bagaimana cara mengatasi stress yang dialami.

💥 *Apa sih Dampak Stress?*
Stress memiliki dampak yang signifikan pada kesehatan mental remaja, dan seringkali menimbulkan masalah-masalah dalam keluarga.

✍🏽 *Trus, gimana caranya mengatasi stress?*
Nah, ini ada beberapa tehnik untuk mengatasi stress yang bisa kamu coba :

🔹Do Some Exercise ; hasil penelitian menemukan bahwa berolahraga bisa membantu menurunkan tingkat stress yang dialami

🔹Get some Sleep ; tidur malam yang cukup, kurangi nonton TV sampai larut, hindari minum kopi/kafein, dan tidak melakukan aktifitas tubuh yang berat saat menjelang waktu tidur.

🔹Fokus pada Kekuatan Diri yang kamu miliki; lakukan hal-hal yang menjadi keahlianmu, bakat, keterampilan, dan seterusnya

🔹Talk to someone ; bercerita, berdiskusi dengan orang lain akan membantumu mengalihkan dari stress yang mengganggu. Selain itu, dengan saling bercerita bisa jadi kamu juga bisa menemukan solusi untuk masalah yang kaku alami.

🔹Doing things that make you Happy 😃 ; kamu bisa lakukan hobi, atau hal-hal menyenangkan yang positif dan membuatmu bersemangat kembali 💪🏻💪🏻💪🏻

🔹And then… sebagai seorang Muslim, bersyukur sekali kita punya panduan Al-Quran dan Sunnah, yang manjur banget untuk mengatasi stress yang dialami…. kalau kita Yakin dan selalu yakin pada janji Allah SWT.

Seperti ungkapan seorang ulama (Al Ustadz Musyaffa Ad Dariny) berikut ini…

🎀 Tiada yang bisa menghiburku, melebihi ayat-ayat ini..

وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ

“Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal itu *lebih baik* bagi kalian”. [Al-Baqarah: 216]

فَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّهُ فِيهِ خَيْرًا كَثِيرًا

“… Bisa jadi kalian membenci sesuatu, padahal Allah jadikan *banyak kebaikan* padanya. [An-Nisa’: 19].

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا * إنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

“… Pada setiap kesulitan, pasti ada kemudahan ** Pada setiap kesulitan, pasti ada kemudahan”. [Al-Sharh 5-6].

Sungguh keyakinan kita pada ayat-ayat di atas, akan sangat menghibur kita.. Karena apapun yang menimpa, kita akan memandang, itulah yang lebih baik bagi kita.. Dan apapun kesulitan yang menghadang, kita yakin akan ada kemudahan-kemudahan yang dijanjikan Allah daripadanya..

Wallahua’lam…

Penghalang-Penghalang Jihad.., Adakah Kita Mengalaminya?

By: Ustadz Farid Nu’man Hasan

◈ Allah Ta’ala berfirman:

قُلْ إِنْ كَانَ آبَاؤُكُمْ وَأَبْنَاؤُكُمْ وَإِخْوَانُكُمْ وَأَزْوَاجُكُمْ وَعَشِيرَتُكُمْ وَأَمْوَالٌ اقْتَرَفْتُمُوهَا وَتِجَارَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَادَهَا وَمَسَاكِنُ تَرْضَوْنَهَا أَحَبَّ إِلَيْكُمْ مِنَ اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَجِهَادٍ فِي سَبِيلِهِ فَتَرَبَّصُوا حَتَّىٰ يَأْتِيَ اللَّهُ بِأَمْرِهِ ۗ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِينَ

Katakanlah:

1. “Jika bapak-bapak,
2. anak-anak,
3. saudara-saudara,
4. isteri-isteri,
5. kaum keluargamu,
6. harta kekayaan yang kamu usahakan,
7. bisnis yang kamu khawatiri kerugiannya,
8. dan tempat tinggal yang kamu sukai,

adalah lebih kamu cintai dibanding Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik.

(QS. At-Taubah: 24)

⇨ Dalam ayat ini, Allah Ta’ala menyebutkan urusan-urasan yang biasanya membuat manusia meninggalkan perjuangan. Mereka lebih suka, cinta, dan ridha, itu semua dibanding Allah, Rasul, dan Jihad. Allah Ta’ala mengancam dengan kalimat “fatarabbashu hatta ya’tiyallahu bi amrih …”  apa maksudnya?

⇨ Syaikh Wahbah Az Zuhailiy Rahimahullah mengatakan:

“Tunggulah sampai Allah mendatang “urusannya” merupakan ancaman bagi mereka, dan urusan di sini adalah hukuman baik yang disegerakan atau yang ditunda.”
(Dr. Wahbah Mushthafa Az Zuhailiy, At Tafsir Al Munir, 10/148.  Cet. 2, 1418H. Darul Fikr Al Mu’ashir, Damaskus)

⇨ Begitu pula dikatakan Syaikh Ali Ash Shabuni Rahimahullah:

{ فَتَرَبَّصُواْ } أي انتظروا وهو وعيد شديد وتهديد { حتى يَأْتِيَ الله بِأَمْرِهِ } أي بعقوبته العاجلة أو الآجلة

“Yaitu tunggulah oleh kalian ancaman yang keras dan menakutkan, yaitu berupa hukumanNya yang disegerakan atau ditunda.”

(Syaikh Ali Ash Shabuni, Shafwatut Tafasir, 1/386)

Wallahu A’lam

#AksiBelaIslam3
#TangkapdanPenjarakanPenista

Harta = Kebaikan

Pemateri: Ustadz Abdullah Haidir Lc.

Dalam Al Quran Allah SWT berfirman:

وَإِنَّهُ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيدٌ

“Sesungguhnya manusia sangat bakhil karena kecintaannya terhadap hartanya.” (QS. Al-‘Aadiyaat: 8)

Ayat ini berbicara tentang sebuah kenyataan tentang tabiat manusia secara umum terkait dengan hartanya. Yaitu bahwa manusia sangat cinta terhadap hartanya.

Ada pula yang menafsirkan bahwa kecintaannya terhadap harta, mendorong manusia untuk bersifat bakhil, enggan mengeluarkannya di jalan Allah.

Yang menarik dari ayat tersebut adalah bahwa Allah menyebutkan harta dengan ungkapan (الخير) yang secara harfiah artinya ‘kebaikan’.

Para ulama tafsir sepakat bahwa yang dimaksud ‘kebaikan’ dalam ayat di atas adalah harta.

Begitu pula kata yang sama untuk makna yang sama terdapat dalam Surat Al-Baqarah: 180.

“Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu-bapak dan karib kerabatnya secara ma’ruf, (ini adalah) kewajiban atas orang-orang yang bertakwa.”

Abu Bakar Al-Jazairi mengatakan bahwa harta disebut dengan istilah ‘kebaikan’ berdasarkan urf (kebiasaan), maksudnya sudah dikenal di tengah bangsa Arab bahwa yang dimaksud (الخير) adalah harta, juga karena dengan harta akan dapat dilakukan berbagai kebaikan jika dikeluarkan di jalan Allah. (Tafsir Muyassar, Al-Jazairi)

Dari sini setidaknya dapat disimpulkan bahwa sebenarnya harta secara langsung bukanlah ‘sumber keburukan’, meskipun kenyataannya banyak manusia yang tergelincir karenanya.

Maka, enggan mencari harta dengan alasan agar tidak tergelincir bukanlah jawaban yang tepat, bahkan bisa jadi itu menjadi sebab ketergelinciran dari pintu yang lain.

Karena, banyak juga keburukan yang terjadi akibat kekurangan harta.

Namun yang harus diluruskan adalah sikap kita terhadap harta, bahwa dia bukanlah tujuan dan sumber kebahagiaan itu sendiri, tapi sarana untuk mendapakan kemuliaan dalam kehidupan dan merelisasikan kebaikan untuk meraih kebahagiaan.

Dengan paradigma seperti ini seseorang akan semangat berusaha meraih harta dan menyalurkannya dengan cara yang halal.

Bahkan dalam surat Al-Araf ayat 32, Allah mengisyarat kan bahwa tujuan Dia menciptakan harta (perhiasan dunia) pada hakekatnya adalah untuk orang beriman.

Katakanlah: “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah: “Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat”.
Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui.”

Maka, ‘cinta harta’ atau ‘mengejar harta’ tidak dapat secara mutlak dikatakan buruk.

Sebab, selain cinta harta memang dasarnya adalah fitrah, diapun dapat menjadi pintu kebaikan yang banyak selama digunakan dengan benar.

Imam Bukhari meriwayat kan dalam Al-Adabul Mufrad-nya, dari Amr bin Ash, dia berkata,

“Rasulullah saw memerintahkan aku untuk menemuinya dengan membawa perlengkapan pakaian dan senjata.
Maka aku datang menghadap beliau saat beliau sedang berwudhu, lalu dia memandangiku dari atas hingga bawah. kemudian berkata,
“Wahai Amr, aku ingin mengutusmu dalam sebuah pasukan, semoga Allah memberimu ghanimah dan aku ingin engkau mendapatkan harta yang baik.”

Maka aku berkata, “Sungguh, aku masuk Islam bukan karena ingin harta. Tapi aku masuk Islam karena Islam dan agar aku dapat bersama Rasulullah saw.”

Maka Rasulullah saw bersabda,

يا عَمْرو ، نِعْمَ المَالُ الصَّالِحُ للمَرءِ الصَالِحِ

“Wahai Amr, sebaik-baik harta, adalah milik orang yang saleh.”

Ucapan Rasulullah saw ini setidaknya memberikan dua pesan kepada kita;

❣ Semangat membina diri agar menjadi orang saleh dan

❣ Semangat berusaha agar menjadi orang kaya…

Abdullah bin Mubarak, seorang ulama besar dan zuhud, suatu hari menjamu makan orang-orang miskin, lalu setelah itu dia berkata,

لَوْلاَكَ وَأَصْحَابَكَ مَا اتَّجَرْتُ

“Kalau bukan kalian dan orang-orang seperti kalian, saya tidak akan berdagang….”

Selain sebagai ulama, beliau memang terkenal sebagai pedagang besar… (Siyar A’lam An-Nubala)

Wallahu A’lam

Mati Syahid

By: Ustadz Farid Nu’man Hasan

Assalamualaikum wr wb ustadz/ah…Saya mau bertanya, tentang mati syahid. Mati seperti apa sajakah yg termasuk mati syahid? Dan mohon penjelasan nya tentang macam2 mati syahid. Terima kasih….. 🅰2⃣8⃣

Jawaban;
—————–

Wa’alaikumsalam wr wb
Bismillah wal Hamdulillah …
Orang-orang yang mati syahid itu banyak, di antaranya:

1⃣ Dibunuh Karena Amar Ma’ruf Nahi Munkar Kepada Penguasa Zalim

Dari Jabir radhiallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam  bersabda,

 سيد الشهداء حمزة بن عبد المطلب ، ورجل قال إلى إمام جائر فأمره ونهاه فقتله

“Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan orang yang berkata benar kepada penguasa kejam, ia melarang dan memerintah, namun akhirnya ia mati terbunuh.”   (HR. Al Hakim, Al  Mustdarak-nya, Ia nyatakan shahih, tetapi Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya.  Adz Dzahabi menyepakatinya. Syaikh Al Albany mengatakan hasan, dia memasukkannya dalam kitabnya As Silsilah Ash Shahihah,  No. 374)

3⃣  Dibunuh Karena Melindungi Harta

Dari Ibnu Umar Radhiallahu ‘Anhuma, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

”Barangsiapa yang dibunuh karena hartanya, maka dia syahid.”   (HR. Al Bukhari No. 2348)

3⃣  Dibunuh karena membela agama, keluarga, dan darahnya (kehormatan)

Dari Sa’id bin Zaid Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

مَنْ قُتِلَ دُونَ مَالِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دِينِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ دَمِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ قُتِلَ دُونَ أَهْلِهِ فَهُوَ شَهِيدٌ

Barangsiapa yang dibunuh karena hartanya maka dia syahid, barangsiapa dibunuh karena agamanya maka dia syahid, barangsiapa yang dibunuh karena darahnya maka dia syahid, barangsiapa yang dibunuh karena membela keluarganya maka dia syahid.”   (HR. At Tirmidzi, No. 1421, katanya: hasan shahih. Abu Daud, No. 4177. An Nasa’i,  No. 4095. Ahmad, Juz.  4, Hal. 76, No. 1565. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih At Targhib wat Tarhib, Juz. 2, Hal. 75, No. 1411)

4⃣  Mati karena penyakit tha’un, sakit perut, dan tenggelam

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

  مَا تَعُدُّونَ الشَّهِيدَ فِيكُمْ قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ قَالَ إِنَّ شُهَدَاءَ أُمَّتِي إِذًا لَقَلِيلٌ قَالُوا فَمَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ مَنْ قُتِلَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الطَّاعُونِ فَهُوَ شَهِيدٌ وَمَنْ مَاتَ فِي الْبَطْنِ فَهُوَ شَهِيدٌ قَالَ ابْنُ مِقْسَمٍ أَشْهَدُ عَلَى أَبِيكَ فِي هَذَا الْحَدِيثِ أَنَّهُ قَالَ وَالْغَرِيقُ شَهِيد

Siapa yang kalian anggap sebagai syahid? Mereka menjawab: “Orang yang dibunuh di jalan Allah, itulah yang syahid.” Nabi bersabda: “Kalau begitu syuhada pada umatku sedikit.” Mereka bertanya: “Siapa sajakah mereka wahai Rasulullah?” Nabi menjawab: “Siapa yang dibunuh di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati di jalan Allah dia syahid, siapa yang mati karena tha’un dia syahid, siapa yang mati karena sakit perut maka dia syahid.” Ibnu Miqsam berkata: “Aku bersaksi atas ayahmu, pada hadits ini bahwa Beliau bersabda: “Orang yang tenggelam juga syahid.” (HR. Muslim No. 1915)

5⃣ Juga karena melahirkan, tertiban, dan terbakar. Sebagaimana hadits berikut:

الشَّهَادَةُ سَبْعٌ سِوَى الْقَتْلِ فِى سَبِيلِ اللَّهِ الْمَطْعُونُ شَهِيدٌ وَالْغَرِقُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ ذَاتِ الْجَنْبِ شَهِيدٌ وَالْمَبْطُونُ شَهِيدٌ وَصَاحِبُ الْحَرِيقِ شَهِيدٌ وَالَّذِى يَمُوتُ تَحْتَ الْهَدْمِ شَهِيدٌ وَالْمَرْأَةُ تَمُوتُ بِجُمْعٍ شَهِيدٌ ».

Mati syahid itu ada tujuh golongan, selain yang  terbunuh fi sabilillah: “Orang yang kena penyakit  tha’un, tenggelam, luka-luka di tubuh, sakit perut, terbakar, tertiban, dan wanita melahirkan.” (HR. Abu Daud No. 3113, shahih)

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah berkata:

قال العلماء:المراد بشهادة هؤلاء كلهم، غير المقتول في سبيل الله، أنهم يكون لهم في الآخرة ثواب الشهداء، وأما في الدنيا، فيغسلون، ويصلى عليهم.
 
  Berkata para ulam
a: Yang dimaksud   syahadah (mati syahid) adalah bagi mereka semua,  selain karena terbunuh di jalan Allah,   dan sesungguhnya bagi mereka di akhirat akan mendapatkan ganjaran syuhada, ada pun di dunia mereka tetap dimandikan dan dishalatkan. (Fiqhus Sunnah, 2/633)
Demikian. Wallahu A’lam

Wallahu a’lam.

Pionir Aplikasi Teknologi Syuhada Kedirgantaraan Khilafah

Pemateri: *Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP*

Pernah ke Damaskus dan Ziarah ke Pusara Sultan Shalahuddin al-Ayyubi? Pernah Melihat Tiga Kuburan Bersimbol Turki Utsmani di Dekatnya?

Begini ceritanya.. ketiga jenazah yang dikuburkan di dalam kompleks pusara sultan Shalahuddin al-Ayyubi itu bukan sembarangan tentunya. Mereka adalah Letnan Laut (Bahriye Yuzbaşısı) Fethi Bey, Letnan Satu Artileri (Topçu Mülazım-ı Ula) Sadık Bey, dan Letnan Dua Artileri (Topçu Mulazım-ı Saniye) Nuri Bey.

💡 *Lesson #1* jadilah syahid, insyaaAllah dekat dengan  para syuhada.

Mereka bertiga adalah pionir angkatan udara Turki Utsmani yang ditugaskan untuk terbang dari İstanbul ke perbatasan Mesir untuk mengintai persiapan Sekutu menjelang meletusnya Perang Dunia Pertama.

💡 *Lesson #2* Kaum Muslimin harus menguasai setiap matra kemiliteran.

Namun takdir menentukan lain, pada etape ke-10 dari misi panjangnya tersebut terjadi kesalahan teknis yang menyebabkan kedua pesawat yang mereka tumpangi jatuh. Pesawat pertama, Blériot XI, yang dipiloti oleh Fethi Bey dan navigator Sadık Bey jatuh tidak jauh dari Danau Tiberias, 27 Februari 1914.

💡 *Lesson #3* perhitungkan risiko dan siapkan perbekalan, namun serahkan dirimu kepada Allah dengan sepenuh hati.

Pesawat kedua, Deperdussin B, yang dipiloti İsmail Hakki Bey dan navigator Nuri Bey yang meneruskan penerbangan pengintaian jatuh karena sebab teknis di laut Mediterranean tak jauh dari pantai kota Jaffa, 11 Maret 1914. Hanya Nuri Bey yang wafat dalam kecelakaan ini.

💡 *Lesson #4* syahidnya rekan seperjuangan tidak boleh menyurutkan, justru mengobarkan, semangat juang.

Turki Utsmani mengumumkan perang pada bulan November 1914 kepada pihak Sekutu setelah banyak keputusan politik dunia dan pertimbangan regional. Para syuhada dirgantara telah memberikan teladan sebelum pecah perang dunia tersebut.

Setelah dishalatkan di Masjid Umayyah di Damaskus, mereka bertiga dimakamkan di tempat terhormat tersebut sebagai bentuk penghargaan tinggi kepada ketiga pionir penerbangan dalam sejarah Dunia Islam.

💡 *Lesson #5* monumen maupun prasasti kepahlawanan adalah untuk menyemangati mereka yang masih hidup dan berjuang; adapun para syuhada sudah mendapatkan tempat yang layak disisiNya.

Mereka diantar dengan kawalan militer dan penghormatan tinggi dari penduduk yang memadati lokasi pekuburan. Mereka berdua adalah syuhada pertama dari angkatan udara, sebuah cabang angkatan perang yang masih baru dalam teknologi dunia.

Tugu peringatannya juga dibangun di distrik Fatih di kota İstanbul pada 2 April 1914 dan baru selesai pada tahun 1916. Tugu tersebut dikenal sebagai Monumen Syuhada Penerbangan (Aviation Martyr’s Monument) yang awalnya disebut “Tayyare Şehitleri Abidesi” lalu diubah pada menjadi “Hava Şehitleri Anıtı.”

💡 *Lesson #6* bumi Syam adalah tanah yang bersimbah darah para syuhada; tidak ada tempat untuk pemimpin syi’ah Nusairiyah di sana.

❔ Jika terobosan teknologi dan aplikasinya dalam berbagai bidang ilmu terapan merupakan sesuatu yang Islami maka Turki Utsmani sudah memulainya. Apakah kita juga?