Surat Al-Ikhlash

📆 Selasa, 08 Dzulhijjah 1437 H/ 10 September 2016

📕 Sirah

📝 Ustadzah Ida Faridah

📖 Surat Al-Ikhlash
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Assalamu’alaikum adik-adik MFT, ketemu lagi dengan materi Al-Qur’an, kali ini kita akan membahas tafsir surat Al-Falaq

Surat makkiyah, tetapi ada pula yang mengatakan madaniyyah, terdiri atas lima ayat, dan salah satu dari dua surat perlindungan tentang meminta perlindungan Allah SWT.ِِ
ِ قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ. مِنْ شَرِّ مَا خَلَقَ. وَمِنْ شَرِّ غَاسِقٍ إِذَا وَقَبَ. وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثَاتِ فِي الْعُقَدِ. وَمِنْ شَرِّ حَاسِدٍ إِذَا حَسَدَ

“Katakanlah, ‘Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh dari kejahatan makhluk-Nya, dari krjahatan malam ketika telah gelap gulita, dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul, dan dari kejahatan pendengki ketika ia dengki’.”

Riwayatnya tentang orang yahudi yang menyihir Nabi SAW hingga beliau sakit selama tiga hari. Sakit beliau sangat parah sampai tidak sadar akan perbuatanya. Jibrilpun datang dan memberitahunya tentang bagian yang terkena sihir. Setelah itu, dibacakan Jibril surat An-Nas dan Al-Falaq kepada beliau hingga akhirnya sadar seperti semula.

Namun, riwayat ini tidak benar seperti pendapat para ulama kecuali celotehan orang yahudi dengan tujuan agar manusia ragu terhada Nabi SAW dan menganggap beliau benar-benar terkena sihir. Padahal, Allah SWT berfirma,

“Allah memelihara kamu dari gangguan manusia.” (QS. Al-Maidah:67)

“Sesungguhnya kami memeliharamu dari (kejahatan) manusia yang memperolok-olokan (kamu).” (Al-Hijr:95)

Katakan kepada mereka, (ya, muhammad), “Aku berlindung kepada Tuhan seluruh alam yang dapat membelah tanah dan langit. Aku berlabuh kepada-Nya dari semua kejahatan malam jika telah gelap gulita dan menutupi seluruh alam karena kegelapan malam menjadi tabir bagi setiap orang yang melampaui batas dan pendosa.

Aku berlindung kepada-Mu dari wanita peniup buhul tali yang mereka ikat (seperti dijelaskan tadi, tetapi maksud sebenarnya adalah berlindung kepada-Mu dari kejahatan pengadu domba yang memutuskan hubungan cinta kasih.

Dengan demikian ta’ pada َالنَّفَّاثَاتَِ bermakna hiperbol dan bukan menunjukkan ta’nits (feminim). Jadi, maknanya orang yang berusaha mengadu domba dengan mengarahkan segenap upaya untuk menyakiti orang lain.

Tidak ada jalan untuk mendapatkan ridha dari orang semacam itu. Tidak ada cara lain menghadapi orang itu kecuali dengan menghadap kepada Allah SWT agar berkenan memelihara kita dari kejahatannya. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Komunikasi

Jum’at, 07 Dzulhijjah 1437 H/ 09 September 2016

📙Pengembangan Diri dan Motivasi

📝 Ustadzah Heni, Ustadzah Dina, Ustadzah Wiwit

📖 Komunikasi
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺

Assalamualaikum

Pa kabar semuanya?

Semoga Allah selalu memberikan Rahmat dan hidayah kepada kita semua. Aamin

Materi psikologi kali ini tentang komunikasi

Apa sih komunikasi??
Yuukk….kita belajar bareng

Komunikasi adalah “suatu proses dimana seseorang atau beberapa orang, kelompok, organisasi, dan masyarakat menciptakan dan menggunakan informasi agar terhubung dengan lingkungan dan orang lain”. Pada umumnya, komunikasi dilakukan secara lisan atau verbal yang dapat dimengerti oleh kedua belah pihak. Dikatakan dapat mengerti bila kedua belah pihak telah paham atas informasi yang dimaksud.

Bagaimana bila tidak dapat dimengerti oleh kedua belah pihak?

Terjadilah kesalahpahaman bahkan bisa jadi sampai ke pertengkaran.

Apa solusinya agar tidak sampai begitu?

✅ Konfirmasi, perlu mengkonfirmasi ulang informasi yang di dapat supaya informasi cukup jelas untuk dipahami.

✅Gunakan bahasa yang sesuai dengan lawan bicara. Bedakan bahasa bicara teman dengan orang tua

✅Gunakan nada kalimat yang sesuai pula dengan lawan bicara.

✅Gunakan bahasa yang mudah dipahami. Kalau terbiasa bahasa daerah…pake saja bahasa daerah.

✅Bila berkomunikasi melalui socmed, pilih kata yang mudah dipahami.

✅Ada bahasa tubuh, lukisan dan sarana lainnya sebagai alat berkomunikasi, gunakanlah dengan tepat.

Sudah paham semuanya❓❓

Semoga bermanfaat 😎😎

Semoga bermanfaat ya…

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
💽 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
💾 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Sholatnya Orang Sakit

Kamis, 06 Dzulhijjah 1437 H/ 08 September 2016

📘Fiqih Ibadah

📝 Ustadzah Suci Susanti S.SoS.I

📖 Sholatnya Orang Sakit
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺

Assalammu’alaikum adik-adik MFT yang dirahmati Allah 😊 bagaimana kabarnya ?

Semoga selalu dalam lindungan Allah swt dan istiqomah di jalan Allah swt. Aamiin.

Adik-adik sholeh dan sholehah, sebagai umat Islam, kita semua wajib melaksanakan shalat. Seperti yang diperintahkan Allah swt.

Allah swt berfirman,

وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآَتُوا الزَّكَاةَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ta’atlah kepada rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (QS. An Nur [24] : 56)

Dalam ayat di atas, Allah swt memerintahkan kepada para hamba-Nya yang beriman untuk melaksanakan shalat. Shalat merupakan satu bentuk peribadahan terhadap Allah swt, Rabb Yang Maha Esa yang tidak ada sekutu baginya.

Perintah Allah swt kemudian dipertegas lagi dalam sabda Rasulullah saw.

Dalam hadits Mu’adz disebutkan,

رَأْسُ الأَمْرِ الإِسْلاَمُ وَعَمُودُهُ الصَّلاَةُ وَذِرْوَةُ سَنَامِهِ الْجِهَادُ

“Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat, dan puncak perkaranya adalah jihad” (HR. Tirmidzi no. 2616. Tirmidzi mengatakan bahwa hadits ini hasan shahih. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan bahwa hadits ini hasan).

Dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

” إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ بِهِ العَبْدُ يَوْمَ القِيَامَةِ مِنْ عَمَلِهِ صَلَاتُهُ فَإِنْ صَلَحَتْ فَقَدْ أَفْلَحَ وَأَنْجَحَ وَإِنْ فَسَدَتْ فَقَدْ خَابَ وَخَسَرَ فَإِنِ انْتَقَصَ مِنْ فَرِيْضَتِهِ شَيْءٌ قَالَ الرَّبُّ تَبَارَكَ وَتَعَالَى : انَظَرُوْا هَلْ لِعَبْدِي مِنْ تَطَوُّعٍ ؟ فَيُكْمَلُ بِهَا مَا انْتَقَصَ مِنَ الفَرِيْضَةِ ثُمَّ يَكُوْنُ سَائِرُ عَمَلِهِ عَلَى ذَلِكَ ” . وَفِي رِوَايَةٍ : ” ثُمَّ الزَّكَاةُ مِثْلُ ذَلِكَ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ حَسَبَ ذَلِكَ ” .

“Sesungguhnya amal hamba yang pertama kali akan dihisab pada hari kiamat adalah shalatnya. Apabila shalatnya baik, dia akan mendapatkan keberuntungan dan keselamatan. Apabila shalatnya rusak, dia akan menyesal dan merugi. Jika ada yang kurang dari shalat wajibnya, Allah Tabaroka wa Ta’ala  mengatakan, ’Lihatlah apakah pada hamba tersebut memiliki amalan shalat sunnah?’ Maka shalat sunnah tersebut akan menyempurnakan shalat wajibnya yang kurang. Begitu juga amalan lainnya seperti itu.” (HR. Abu Daud no. 864, Ahmad 2: 425, Hakim 1: 262, Baihaqi, 2: 386).

Tapi sebagai manusia, kita tentunya mengalami sakit. Baik sakit ringan ataupun sakit berat. Lalu bagaimana cara shalatnya orang sakit ?

Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits Imran Bin Husain Radhiyallahu ‘anhu:

كَانَتْ بِي بَوَاسِيرُ فَسَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنْ الصَّلَاةِ فَقَالَ صَلِّ قَائِمًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَقَاعِدًا فَإِنْ لَمْ تَسْتَطِعْ فَعَلَى جَنْبٍ

“Pernah penyakit wasir menimpaku, lalu aku bertanya kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang cara shalatnya. Maka beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: Shalatlah dengan berdiri, apabila tidak mampu, maka duduklah dan bila tidak mampu juga maka berbaringlah” [HR al-Bukhari no. 1117]

 Ukuran sakit seberapa parahnya, di sini kembali pada kesulitan yang adik-adik hadapi.

Misalnya, sekarang kan musim hujan, kalau sakit demam batuk pilek bagaimana shalatnya ?

Kembali pada adik-adik. Masih kuat berdiri ngga? Kalau karena demam dan kepala sangat pusing, adik-adik bisa shalat sambil duduk. Kalau ngga sanggup duduk bagaimana ? Adik-adik bisa shalat sambil berbaring.

Nah adik-adik, jadi shalat wajib tidak boleh kita tinggalkan walau dalam keadaan sakit sekalipun.

Semoga kita semua selalu diberi kesehatan oleh Allah swt. Aamiin

Have a nice day 😊

Wassalammu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh

==============

Fikih Sunnah Jilid 1 Sayyid Sabiq
Tafsir Ibnu Katsir

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
💽 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
💾 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Menghindari Ujub

👳🏽Ustadz Menjawab
📝Ustadz Shafwan Husein el-Lomboki
===============================
🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Ustadz, saya mau tanya, bagaimana caranya menghindari rasa ujub? Terima kasih

Ustman 1
=========
Jawaban

تواضع تكن كالنجم لاح لناظر
على صفحات الماء وهو رفيع ولا تكن كالدخان يعلو بنفسه # على طبقات الجو وهو وضيع

“Rendah hatilah…jadilah laksana bintang bercahaya yang tampak di bayangan air yang rendah, padahal sebenarnya dia berada di ketinggian. Jangan menjadi laksana asap, yang membumbung tinggi dengan sendirinya di lapisan udara yang tinggi, padahal sebenarnya dia rendah.”

Ujub adalah penyakit yang berbahaya yang dapat merusak hidup seseorang. Ujub adalah sifat yang dapat mengalihkan seseorang dari bersyukur kepada Allah ta’ala, kepada bersyukur atas dirinya sendiri. Dari memuji Allah ta’ala kepada memuji diri sendiri. Dari rendah diri di hadapan Allah ta’ala kepada takabbur dengan amal yang sudah dilakukan. Dari menghormati dan menghargai orang lain kepada menghina dan merendahkan orang lain.

Pengertian Ujub

Ujub adalah bangga diri, menganggap sudah berbuat lebih dan menisbatkan keberhasilan beramalnya itu kepada diri sendiri, sehingga lupa kepada Yang Telah Memberinya nikmat, yaitu Allah azza wajalla.

Akibat Ujub

Di antara kejelekan sifat ujub adalah menggugurkan pahala amal shalehnya, menghilangkan kebaikan, dan mendapat kehinaan. Al-Mawardi berkata, “Ujub itu menghilangkan kebaikan, menampakkan kejelekan, mendapat kehinaan, menghalangi seseorang dari kemuliaan. Menghasilkan amarah dan kebodohan. Hingga ujub itu pun bisa memadamkan kebaikan yang pernah ia lakukan, menghapus keindahan pekerti yang pernah dikenal manusia. Pada akhirnya ia dibuat marah dan dengki disebabkan ujubnya itu.”

Hukum Ujub

Ujub adalah perbuatan yang diharamkan. Karena ujub adalah salah satu dari kesyirikan. Syaikh Ibnu Taymiyah rahimahullah ta’ala berkata, “Riya’ dan ujub itu tidak jauh beda. Riya’ adalah syirik dengan menyertakan orang lain dalam ibadah kepada Allah ta’ala. Sedangkan ujub adalah syirik dengan menyertakan diri sendiri dalam ibadah kepada Allah ta’ala. Kedua sifat ini termasuk kesombongan. Orang yang riya’ tidak mengamalkan firman Allah ta’ala ‘Iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in’ (hanya kepada-Mu lah kami menyembah). Sedangkan orang yang ujub tidak mengamalkan firman Allah ta’ala ‘wa iyyaka nasta’in’ (dan hanya kepada-Mu lah kami meminta pertolongan). Siapa saja yang mengamalkan dua firman Allah tersebut, maka dia telah bebas dari penyakit riya dan ujub.”

Abu Ahmad Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Ketahuilah bahwa ujub adalah sifat tercela. Di dalam firman Allah ta’ala,

…ٍ ۙوَيَوْمَ حُنَيْنٍ ۙ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الْأَرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ)

“Dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai.” (QS. At-Taubah:25)

Firman Allah ta’ala:

…ِ ۚمَا ظَنَنْتُمْ أَنْ يَخْرُجُوا ۖ وَظَنُّوا أَنَّهُمْ مَانِعَتُهُمْ حُصُونُهُمْ مِنَ اللَّهِ فَأَتَاهُمُ اللَّهُ مِنْ حَيْثُ لَمْ يَحْتَسِبُوا ۖ وَقَذَفَ فِي قُلُوبِهِمُ الرُّعْبَ ۚ يُخْرِبُونَ بُيُوتَهُمْ بِأَيْدِيهِمْ وَأَيْدِي الْمُؤْمِنِينَ فَاعْتَبِرُوا يَا أُولِي الْأَبْصَارِ)

“Kamu tiada menyangka, bahwa mereka akan keluar dan mereka pun yakin, bahwa benteng-benteng mereka akan dapat mempertahankan mereka dari (siksaan) Allah; maka Allah mendatangkan kepada mereka (hukuman) dari arah yang tidak mereka sangka-sangka.” (QS. Al-Hasyr:2)

Firman Allah ta’ala:

الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا

“Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi:104)

وقال صلى الله عليه وسلم (( ثلاث مهلكات : شحُّ مطاع ، وهوى متبع ، وإعجاب المرء بنفسه )). [ أخرجه البيهقي وحسنه الألباني ].

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga penghacur adalah kikir yang ditaati, nafsu yang diikuti, dan orang yang bangga dengan dirinya sendiri.” (HR. Al Bayhaqi dihasankan oleh Al Albani)

 بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 5789; Muslim, no. 2088; dan ini lafazh Muslim)

  جاء في الفتح لابن حجر : قال القرطبي : [ إعجاب المرء بنفسه هو ملاحظته لها بعين الكمال ، مع نسيان نعمة الله ، فإن احتقر غيره مع ذلك فهو الكبر المذموم.

Di dalam Fathul Bari, Al-Qurthubi berkata, “Rasa bangga seseorang terhadap dirinya sendiri terjadi karena dia memandang lebih dirinya, dan melupakan nikmat Allah. Apabila disertai dengan meremehkan orang lain maka itu adalah kibr (kesombongan) yang tercela.”

 ومن الأدلة كذلك على ذم العجب حديث أبي ثعلبة الخشني رضي الله عنه ، فعن أبي أمية الشعباني قال : أتيت أبا ثعلبة الخشني فقلت له : كيف تصنع بهذه الآية ؟ قال : أيّةُ آية؟ قال : قوله تعالى {يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ عَلَيْكُمْ أَنفُسَكُمْ لاَ يَضُرُّكُم مَّن ضَلَّ إِذَا اهْتَدَيْتُمْ } [105: سورة المائدة].

Di antara dalil lainnya pula tentang tercelanya sifat ujub, terdapat di dalam hadith Abi Tsa’labah Al-Khasyni radhiyallahu ‘anhu. Dari Abu Umayyah As-Sya’bani dia berkata, “Aku menemui Abi Tsa’labah Al-Kasyni dan bertanya, “Apa yang kamu perbuat dengan ayat ini?.” Dia bertanya, “Ayat yang mana?.” Aku berkata, “Hai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu; tiadalah orang yang sesat itu akan memberi mudarat kepadamu apabila kamu telah mendapat petunjuk.” (QS. Al-Maidah: 105)

 قال أبو ثعلبة : أما والله لقد سألت عنها خبيراً ، سألت عنها رسول الله صلى الله عليه وسلم فقال : (( بل ائتمروا بينكم بالمعروف وتناهوا عن المنكر ، حتى إذا رأيت شَّحاً مطاعاً ، وهوىً متبعاً ، ودنيا مؤثَرة ، وإعجاب كل ذي رأي برأيه ، فعليك بخاصة نفسك ودع العوامَّ ، فإن من ورائكم أياماً الصبر فيهن كالقبض على الجمر ، للعامل فيهن مثل أجر خمسين رجلاً يعملون مثل عملكم )) [ رواه الترمذي وقال : حسن غريب وضعفه الألباني ].

Abu Tsa’labah menjawab, “Demi Allah, kamu bertanya dengan orang yang tahu, aku pernah menanyakannya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu beliau menjawab: “Akan tetapi, perintahkanlah kebaikan dan cegahlah kemungkaran hingga kamu melihat kekikiran yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti, kehidupan dunia lebih diprioritaskan dan kekaguman setiap orang dengan pendapatnya, engkau harus (berpegangan) terhadap mata hatimu dan tinggalkan orang-orang awam, karena dibalik kalian akan ada suatu masa dimana kesabaran saat itu laksana memegang bara api, orang yang beramal saat itu sama seperti pahala limapuluh orang yang melakukan seperti amalan kalian.” Abdullah bin Al Mubarak berkata; Selain ‘Utbah menambahiku: Dikatakan; “Wahai Rasulullah, pahala lima puluh orang dari kami atau dari mereka?” Beliau menjawab: “Bahkan pahala lima puluh orang dari kalian.” (HR. At-Tirmidzi, hadist Hasan gharib, didhaifkan oleh Al Albani).

Perkataan Salaf tentang Ujub

1. قال ابن مسعود رضي الله عنه : الهلاك في اثنين : القنوط والعجب.

Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata, “Kehancuran itu ada dua: putus asa dan bangga diri (ujub).”

2. قال أبو حامد : وإنما جمع بينهما ؛ لأن السعادة لا تنال إلا بالسعي والطلب والجد والتشمير ، والقانط لا يسعى ولا يطلب ، والمعجب يعتقد أنه قد سعد وقد ظفر بمراده فلا يسعى.

Abu Hamid berkata, “Ibnu Mas’ud mengumpulkan keduanya, bahwa orang putus asa dan orag yang ujub keduanya tidak pernah bahagia. Karena orang yang putus asa tidak lagi berusaha dan tidak pula mencari kebahagiaan karena sudah putus asa. Sedangkan orang yang ujub juga tidak berusaha mencari kebahagiaan karena menyangka bahwa dia telah meraihnya.”

 3. وقال مطرف : لأن أبيت نائماً وأصبح نادماً أحب إليّ من أن أبيت قائماً وأصبح معجباً.

Al-Matraf berkata, “Jika aku tidur dan aku menyesal di pagi harinya karena tidak sholat malam, itu lebih aku sukai dari pada aku bangun malam tapi pagi harinya aku ujub.”

 4. وكان بشر بن منصور من الذين إذا رءُوا ذُكِرَ الله تعالى والدار الآخرة ، لمواظبته على العبادة ، فأطال الصلاة يوماً ، ورجل خلفه ينتظر ، ففطن له بشر ، فلما انصرف عن الصلاة قال له : لا يعجبنك ما رأيت مني ، فإن إبليس لعنه الله قد عبد الله مع الملائكة مدة طويلة ، ثم صار إلى ما صار إليه.

Sesungguhnya Bisyr bin Manshur adalah orang yang jika dipandang mengingatkan orang lain akan Allah ta’ala dan akhirat, karena saking tekunnya ia beribadah kepada Allah ta’ala. Suatu hari saat Bisyr memanjangkan shalatnya, ternyata ada seseorang memperhatikannya. Bisyr merasa terganggu dengan kehadiran orang itu. Setelah shalat ia berkata, “Janganlah kamu takjub dengan apa yang kau lihat dari shalatku. Karena Iblis –laknatullah ‘alayhi- telah menyembah Allah ta’ala bersama malaikat Allah yang lain sudah sejak lama. Kemudian dia menjadi apa yang sudah terjadi pada dirinya!.”

 5. وقيل لعائشة رضي الله عنها : متى يكون الرجل مسيئاً ؟ قالت : إذا ظن أنه محسن.

Dikatakan kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, “Kapan seseorang dikatakan celaka?.” ‘Aisyah menjawab, “Jika dia mengira bahwa dia telah berbuat baik.”

 6. وقال علي بن أبي طالب رضي الله عنه : الإعجاب ضدّ الصواب ، وآفة الألباب.

Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu berkata, “Ujub itu adalah lawan dari kebenaran. Dan kehancuran bagi akal.”

 7. وقال بزدجمهر : النعمة التي لا يحسد صاحبها عليها التواضع ، والبلاء الذي لا يرحم صاحبه منه : العجب.

Bazdu Jamhar berkata, “Nikmat yang pemiliknya tidak bisa didengki adalah At-Tawadhu’ (rendah hati). Adapun bencana yang pemiliknya tidak dikasihani adalah ujub.”

Antara Ujub dan Kufuran

Ujub yang berlebihan bisa mengeluarkan seseorang dari Islam, sebagaimana Iblis yang takjub dengan penciptaannya dan ibadahnya kepada Allah ta’ala. Kemudian rasa ujubnya itu membuatnya sombong dan tidak mau mentaati perintah Allah untuk sujud kepada Adam.

 وعبد الله بن زياد بن ظبيان التميمي ، خوّف أهل البصرة أمراً فخطب خطبة أوجز فيها، فنادى الناس من المسجد : أكثر الله فينا مثلك . فقال : لقد كلفتم الله شططاً !!

Abdullah bin Ziyad Dzibyan At-Tamimi berkhutbah saat masyarakat Bashroh ketakutan atas suatu perkara. Maka orang-orang berkata, “Semoga Allah ta’ala memperbanyak orang sepertimu.” Abdullah berkata, “Kalian telah bebuat semberono kepada Allah ta’ala!.”

 ومعبد بن زرارة ؛ كان ذات يوم جالساً في الطريق ، فمرت به امرأة فقالت له : يا عبد الله ! كيف الطريق إلى موضع كذا ؟ فقال : ياهناه ! مثلي يكون من عبيد الله ؟!!

Ma’bad bin Zaroroh duduk di jalanan. Lalu seorang wanita lewat di depannya dan berkata, “Wahai Abdullah! Kemana arah ke tempat ini?.” Ma’bad berkata, “Wahai, orang sepertiku lebih pantas dipanggil ubaidillah (hamba Allah yang kecil)!!!”

 يا مظهرَ الكبر عجاباً بصورته *** انظر خلاك فإن النتن تثريب  لو فكر الناس فيما في بطونهم ***
ما استشعر الكبر شبان ولا شيب  هل في ابن آدم مثل الرأٍس مكرُمةً *** وهو بخمس من الأقذار مضروب  أنف يسيل وأذن ريحها سهك *** والعين مرفضة الثغر ملعوب  يابن التراب ومأكول التراب غداً ***
 أقصر فإنك مأكول ومشروب

Wahai yang sombong karena bangga dengan yang dimilikinya **** Lihatlah darahmu sesungguhnya kebusukannya itu amat menyengat. Seandainya manusia memikirkan apa yang ada di dalam perutnya **** Niscaya dia tidak merasa sombong, pemudakah dia atau orang tua. Apakah kepala anak adam ada kemuliaan **** Sedangkan kepalanya itu memikul lima kotoroan Hidung beringus, telinga berbau tak sedap **** Mata tempat mengalirnya airWahai anak yang berasal dari tanah dan nanti akan makan tanah **** Berhentilah menyombongkan diri karena engkau akan dimakan dan diminum nanti.

Sebab-sebab Ujub.

1.Kebodohan.
Abu Ahmad berkata, “Sebab ujub adalah jahl (kebodohan). Obat yang mujarab adalah lawan dari kata bodoh itu, yaitu ilmu.” Jadi, orang yang berpenyakit ujub sebetulnya adalah orang yang bodoh. Dia harus banyak belajar lagi agar dia bisa semakin merunduk, dan rendah hati.
2. Sedikitnya taqwa dan keshalihannya.
3. Kurang merasa diawasi Allah azza wajalla.
4. Sedikit mendengar nasihat.
5. Niat yang jelek.
6. Banyak dipuji manusia sehingga syaithan mengganggunya melalui pintu pujian.
7. Mengejar dunia dan mengikuti hawa nafsu.
8. Sedikit merenungi nikmat Allah ta’ala.
9. Sedikitnya dzikir.
10. Tidak mentadabburi Al-Qur’an dan Sunnah Nabawiyah.
11. Merasa aman dari hukuman Allah ta’ala, serta banyak bersandar pada Kemahamaafan Allah ta’ala.

Ciri-ciri orang Ujub

1. Menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.
2. Memalingkan muka dari manusia.
3. Jarang sharing atau konsultasi kepada orang-orang yang ahli.
4. Berjalan dengan kesombongan.
5. Merasa lebih dan banyak beramal.
6. Sombong dengan ilmunya.
7. Memincingkan mata dan suka mencela.
8. Bangga dengan garis keturunannya, kedudukannya dan fisiknya.
9. Sengaja berbeda dari orang lain untuk meninggikan dirinya.
10. Tidak perhatian kepada ulama dan orang-orang bertakwa.
11. Memuji dirinya sendiri.
12. Melupakan dosa-dosanya atau meremehkannya.
13. Selalu mengira dia pantas mendapatkan kebaikan, ampunan, dan do’a-do’anya diijabahi
14. Terus-menerus dalam berbuat salah yang sama.
15. Malas beramal karena dia mengira bahwa ibadahnya telah sempurna.
16. Suka meremehkan, bermaksiat dan berbuat fasik. 17. Merasa berhak menjadi orang unggul padahal dia tidak melakukan pekerjaannya dengan benar.
18. Jarang mendengarkan nasihat dari orang-orang berilmu.

Cara Mengobati Penyakit Ujub

• Ujub terhadap Kelebihan Fisik.
Ujub terhadap fisiknya karena kebagusannya, ketampanannya, keindahan suaranya, kemudian melupakan bahwa semua itu adalah nikmat dari Allah ta’ala. Solusinya: hendaknya dia berpikir tentang apa yang ada di dalam perutnya yang menjijikkan, dan merenungkan tentang bagaimana kelak semua kebagusan itu akan sirna di dalam tanah nanti.

• Ujub dengan Kemampuan dan Kekuatan.
Seperti kaum ‘Aad yang berkata, “Adakah orang yang lebih kuat dari pada kamu?.” (QS. Fusshilat:15) Solusinya: Hendaknya dia bersyukur atas nikmat Allah ta’ala yang telah menganugerahkannya akal. Hendaknya dia berpikir bagaimana jika akalnya itu hilang atau rusak? Dan hendaknya ia tahu bahwa  perkara yang tidak dia tahu itu lebih banyak dari pada perkara yang dia tahu.

• Ujub dengan Garis Keturunan.
Ujub terhadap keturunan. Mulai dari yang berbangga dengan nasabnya sampai ada yang berpikiran bahwa dia akan selamat dari dosa karena dia berasal dari keturunan yang sholeh. Solusinya: hendaknya ia tahu bahwa keturunan itu tidak menyebabkan seseorang menjadi mulia. Akan tetapi yang menjadikan mulia itu adalah ilmu dan ketaatan kepada Allah ta’ala. Karena Allah ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian adalah orang yang bertaqwa di antra kalian.” (QS. Al-Hujurot:13).

• Berbangga dengan Banyaknya Anak.
Berbangga dengan banyaknya keturunan, kerabat, anggota atau pengikut. Sebagaimana firman-Nya, “Dan mereka berkata: “Kami lebih banyak mempunyai harta dan anak-anak (daripada kamu) dan kami sekali-kali tidak akan diazab.” (QS. Saba: 35) Solusinya: hendaknya dia memperhatikan bahwa setiap orang punya kelemahan, mereka semua adalah hamba Allah ta’ala yang lemah, mereka tidak bisa memberi manfaat dan mudharat. Bagaimana ia bisa bangga dengan banyak jumlah mereka padahal kematian akan memisahkannya dengan mereka? Ia akan menjadi seorang diri di dalam kubur tidak ada yang menemani kecuali amal perbuatannya.

• Berbangga dengan Harta.
Allah ta’ala berfirman, “Dan dia mempunyai kekayaan besar, maka ia berkata kepada kawannya (yang mukmin) ketika ia bercakap-cakap dengan dia: “Hartaku lebih banyak dari pada hartamu dan pengikut-pengikutku lebih kuat”. (QS. Al-Kahfi:34) Solusinya: hendaknya ia memikirkan bencana yang harta yang banyak, karena banyaknya hak yang harus ditunaikan. Hendaknya ia merenungkan bahwa kelak orang-orang fakir lebih dulu masuk syurga karena sedikitnya hisab hartanya. Serta waspada terhadap kesombongan yang akan mencelakakannya: Rasulullah shallalahu ‘alayhi wa sallam juga bersabda,

 بَيْنَمَا رَجُلٌ يَتَبَخْتَرُ يَمْشِي فِي بُرْدَيْهِ قَدْ أَعْجَبَتْهُ نَفْسُهُ فَخَسَفَ اللَّهُ بِهِ الْأَرْضَ فَهُوَ يَتَجَلْجَلُ فِيهَا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

“Ketika seorang laki-laki sedang bergaya dengan kesombongan berjalan dengan mengenakan dua burdahnya (jenis pakaian bergaris-garis; atau pakaian yang terbuat dari wol hitam), dia mengagumi dirinya, lalu Allah membenamkannya di dalam bumi, maka dia selalu terbenam ke bawah di dalam bumi sampai hari kiamat.” (HR. Bukhari, no. 5789; Muslim, no. 2088; dan ini lafazh Muslim)

• Ujub dengan Pendapat yang Keliru.
Allah ta’ala berfirman, “Maka apakah orang yang dijadikan (setan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh setan)? maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.” (QS. Fathir:8)

Firman Allah ta’ala: Katakanlah: “Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?” Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi:103-104). Mereka adalah ahlu bid’ah yang merasa benar dengan pendapat mereka yang salah. Solusinya: Hendaknya dia senantiasa mencurigai pendapatnya dalam rangka untuk memperoleh dalil yang benar dalam beramal. Hendaknya ia mengambil dalil yang shahih dan kuat, dan menyadari bahwa mengikuti hawa nafsu adalah kehancuran yang tidak disadari.

Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘alaa alihi wa shahbihi wa sallam.

🍃🍃🌸🍃🍃🌸🍃🍃🌸

Dipersembahkan oleh:
🌍 Website: www.iman-islam.com
📲 Telegram: https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page: https://m.facebook.com/majelismanis/
📸Instagram: httpz://twitter.com/majelismanis/
🕹 Play Store: https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
📮 Twitter: https://twitter.com/grupmanis

Syurutu Qabulisy Syahadatain

📆 Rabu, 05 Dzulhijjah 1437 H/ 07 September 2016

📗 Aqidah

📝 Ustadzah Novria Flaherti, S.si.

📖 Syurutu Qabulisy Syahadatain
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Assalamu’alaikum warahmatullahi Wabarakatuhu

Adik-adik MFT..  Kita semua mengaku muslim bukan? Mengapa kita mengaku muslim? Karena kita mengucapkan syahadatain..  Syahadat yang kita ucapkan ini adalah pembeda kita dengan orang kafir, karena syahadatain yang kita ucapkan maka kita sudah masuk kedalam islam.. Karena syahadat yang kita ucapkan ini merupakan sebuah pernyataan kepercayaan dalam keesaan Allah SWT dan Muhammad SAW sebagai Rasulullah. Syahadat adalah azas/landasan/dasar dari rukun Islam. Syahadat merupakan rumah dan inti dari seluruh ajaran Islam.

Karena syahadat merenungkan syarat utama masuk Islam, maka kita tidaklah bisa asal-asalan dalam pengucapannya. Ada beberapa syarat agar syahadat yang kita ucapkan diterima oleh Allah SWT..

Syarat yang mesti dimiliki oleh seseorang yang telah mengikrarkan syahadatnya. Di antaranya adalah:

1⃣ Ilmu yang menolak kebodohan

Seseorang yang bersyahadat mesti memiliki ilmu tentang syahadatnya. Ia wajib memahami arti dua kalimat ini (Laa Ilaha Illa Allah, Muhammadur Rasulullah) serta bersedia menerima hasil ucapannya. Dari kalimat syahadatain tersebut, maka seorang muslim juga harus memiliki ilmu tentang Allah SWT, ma’rifatullah (mengenal Allah), dan ilmu tentang Rasulullah SAW. Mengenal secara baik terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya menjadikan seseorang dapat memberikan ketaatan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Sebaliknya, tidak mengenal (bodoh) terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya menyebabkan seseorang tidak mampu menunaikan hak-hak Allah SWT dan Rasul-Nya. Allah SWT berfirman:

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS. Muhammad: 19)

Orang yang jahil atau bodoh tentang makna syahadatain tidak mungkin dapat mengamalkan dua kalimat syahadat tersebut.

2⃣ Keyakinan yang menolak keraguan
 
Syahadat yang diikrarkan juga harus dibarengi dengan keyakinan terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya. Yakin bahwa Allah SWT sebagai Pencipta, Pemberi Rezki, Ma’bud (Yang layak disembah), dan lain sebagainya, serta yakin bahwa Rasulullah SAW adalah nabi terakhir yang diutus Allah SWT. Seseorang yang bersyahadat mesti meyakini ucapannya sebagai suatu yang diimaninya dengan sepenuh hati tanpa keraguan. Keyakinan membawa seseorang pada istiqamah dan mendorong seseorang melakukan konsekuensinya, sedangkan ragu-ragu menimbulkan kemunafikan.

Iman yang benar adalah yang tidak bercampur dengan keraguan sedikit pun tentang ketauhidan Allah SWT, sebagaimana dalam firman-Nya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (QS. Al-Hujurat: 15)

Selain itu, keyakinan kepada Allah SWT menjadikan seseorang terpimpin dalam hidayah. Allah SWT berfirman:

“Dan kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar. Dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (QS. As-Sajadah: 24)

Keyakinan kepada Allah SWT menuntut keyakinan kepada firman-Nya yang tertulis pada kitab-kitab yang diturunkan kepada para nabi dan rasul. Allah SWT menurunkan kitab-kitab itu sebagai petunjuk hidup. Dan di antara ciri mukmin adalah tidak ragu terhadap kebenaran Kitabullah dan yakin terhadap hari Akhir. Sebagaimana dalam firman-Nya:

“Alif laam miim. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa, (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezki yang kami anugerahkan kepada mereka. Dan mereka yang beriman kepada Kitab (Al-Qur’an) yang telah diturunkan kepadamu dan kitab-kitab yang telah diturunkan sebelummu, serta mereka yakin akan adanya (kehidupan) akhirat. Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka, dan merekalah orang-orang yang beruntung.” (QS. Al-Baqarah: 1-5)

Bersambung ya… 😊

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Kekuatan Tekad

📆 Selasa, 04 Dzulhijjah 1437 H/ 06 September 2016

📕 Sirah

📝 Ustadz Noorahmat

📖 Kekuatan Tekad
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

🖌 Assalamu’alaikum wr wb adik-adik..
🖌 Pada kesempatan kali ini kita bahas mengenai apa itu kekuatan tekad yang ternyata kaitannya sangat erat dalam melahirkan kesungguhan dan keberanian dalam diri kita untuk memperjuangkan target tujuan dalam kehidupan..

🖌 Ada sebuah kisah yang cukup melegenda..khususnya di kalangan kita, Ummat Islam.
Ingin tahu ceritanya? …. Saya yakin semua pernah mendengar kisahnya, tapi tak mengapa kalau diulang kembali ya…. boleh? ☺

🖇 Ketika itu, Rasulullah SAW menghadapi berbagai marabahaya dan malapetaka secara sekaligus. Semua terkait aktifitas dakwah beliau di Mekkah. Diantara meningkatnya ekskalasi perlawanan dan kecaman dari kaum kafir Quraisy, maka Abu Thalib, berbicara kepada kemenakannya…Rasulullah Muhammad SAW.

🖇 “Tidak bisakah kau berhenti dari semua ini?”..
“Yakini saja semuanya untuk dirimu sendiri, tapi jangan usik orang lain!”..
“Jangan kau buat murka para penguasa dan membahayakan dirimu serta kita semua dengan menyebarkannya!”

🖇 Dengan penuh keberanian dan percaya diri..Rasulullah SAW menjawab
“Demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku dan bulan di tangan kiriku, lalu menyuruhku untuk meninggalkan tugas ini, aku tidak akan meninggalkannya..!!!”

🖌 Adik-adik….
🖇 Jawaban yang diungkapkan Rasulullah SAW terhadap paman beliau yang sangat beliau cintai ini menunjukkan kekuatan Ilahiyyah yang dimiliki beliau. Ungkapan tersebut pun menunjukkan bahwa beliau tidak pernah menunjukkan kelemahan dalam memperjuangkan tugas yang beliau emban. Dengan penuh totalitas, Rasulullah SAW menjalankan misi sebagai pengemban Risalah dengan kesungguhan dan sepenuh kekuatan tekad.

🖌 Masih perlu kisah lain yang menunjukkan keutamaan kekuatan tekad?
Lanjut ya..

🖇 Suatu saat, Rasulullah SAW pernah bersabda, “Demi Dia yang menggenggam nyawaku, seandainya bukan karena segolongan mukminin akan merasa tidak puas karena aku meninggalkan mereka tetap di belakangku, sehingga aku dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, tentu aku tidak akan tetap tinggal tatkala ada ekspedisi berangkat di jalan Allah SWT. Demi Dia yang menggenggam nyawaku, aku berharap terbunuh dan dihidupkan kembali, lalu terbunuh kembali”

🖇 Ka’ab bin Malik pernah mengisahkan bahwa, jika Rasulullah SAW berniat untuk ikut melakukan melakukan perjalanan ekspedisi tempur, beliau selalu terlebih dahulu seakan pergi ke suatu tempat lain hingga tiba waktu ekspedisi tersebut dimulai. Misalnya ketika ekspedisi Tabuk. Rasulullah SAW menjalankankannya di bawah terik panas matahari yang luar biasa, menempuh perjalanan panjang dan kemudian menyongsong musuh yang besar. Beliau menunjukkan dengan jelas kepada kaum Muslimin, apa yang harus mereka lakukan agar dapat mempersiapkan perlengkapan perjalanan, dengan mengatakan kepada mereka ke mana beliau akan pergi.

🖇 Ada pula kisah legendaris lainnya yang menunjukkan kegigihan dan kekuatan tekad Rasulullah SAW. Dalam Perang Badr Al-Kubra, beliau berhadapan dengan 1000 pasukan bersenjata lengkap sementara pasukan beliau hanya berjumlah 313 dengan perlengkapan seadanya. Namun, beliau tetap tidak pernah menunjukkan rasa takut atau kecil hati. Beliau menghadapi tantangan berat itu dengan keberanian yang luar biasa sehingga dapat memenangkan pertempuran dahsyat tersebut.

🖇 Belum lagi ketika perang Uhud, ketika kemenangan berubah menjadi separuh kekalahan karena kesalahan beberapa anggota pasukan pemanah yang tidak disiplin. Ditambah pasukan muslim berlarian panik setelah mendengar isu hoax terkait kematian Nabi SAW….tapi beliau Rasulullah SAW tetap tenang saja sebagaimana biasa. Beliau terus melanjutkan perlawanan dengan diiringi para sahabat setianya, hingga sebagian gigi beliau tanggal.. Kepemimpinan beliau yang gagah berani di medan perang Uhud akhirnya menyatukan pasukan muslim hingga kemudian musuh pun mundur tanpa kejelasan hasil perang..

🖌 Ada lagi kisah legendaris lainnya….
🖇 Ketika dalam perang Hunain, para muallaf melarikan diri terbirit-birit dari medan perang di bawah siraman hujan anak panah. Belum lagi hembusan fitnah dari segolongan munafik diantara pasukan. Hanya tinggal Rasulullah SAW dan diiringi sahabat setia beliau yang tetap tegar, hingga akhirnya dengan kepemimpinan dan kekuatan tekad Rasulullah SAW, beliau berhasil kembali mengatur serangan dan melakukan perlawanan sengit yang berujung pada kemenangan bagi pasukan Muslim.

🖇 Saksi mata dalam perang Hunain (Bara’ bin ‘Azib) menyampaikan, “Ya benar aku sempat melarikan diri, tetapi aku menyaksikan Rasulullah SAW tetap tegar bediri dan tetap tegak di tempatnya berdiri. Demi Allah, ketika perang makin sengit, kami berlindung disisi beliau dan orang-orang yang paling berani diantara kami berdiri disamping beliau.”

🖌 Ketahuilah adik-adikku….
🖇 Anas bin Malik pernah pula menyampaikan bahwa Rasulullah SAW merupakan sosok yang paling berani diantara semuanya..

Pernah, suatu kali tersiar khabar di Madinah bahwa Pasukan Musuh telah datang menyerang dan siap berperang. Siapakah orang Madinah pertama yang maju? Ya benar…Rasulullah SAW menjadi orang pertama di Madinah yang tanpa menunggu pelana terpasang langsung memacu kuda beliau untuk mencari tahu kebenaran berita tersebut..

🖌 Kesungguhan tekad Rasulullah SAW dalam melaksanakan amanah mengemban Risalah Islam menjadikan beliau secara totalitas memenuhi setiap episode kehidupan yang beliau jalani dengan penuh keberanian.

🖌 Keberanian itu bukan berarti tanpa rasa takut lho adik-adik… Keberanian itu sebenarnya merupakan keteguhan untuk bertindak dan melangkah maju meskipun diiringi rasa takut.

🖌 Dari kisah-kisah yang diambil dari teladan mulia, Rasulullah SAW. Maka, kita bisa melihat bahwa Islam yang terus berkembang hingga saat ini merupakan buah dari kesungguhan tekad Rasulullah SAW dalam melaksanakan amanah Risalah dari Sang Penguasa Alam.

🖌 Nah adik-adik…
Kalian tentu punya target dan cita-cita bukan?
Sudah seberapa kuatkan tekad adik-adik untuk mewujudkannya?
Sudah sejauh manakah persiapannya?
Sudah seberapa beranikah adik-adik menghadapi tantangan yang merintangi?

🖌 Yuk kita kokohkan lagi cita-cita kehidupan kita dan selaraskan dengan cita-cita Islam agar kita semakin kokoh dalam memperjuangkan cita-cita kita dengan penuh harapan mendapatkan Ridha Allah Azza wa Jalla.

🖌 Sebagai penutup, silahkan adik-adik sekalian simak secara mandiri QS. Al-Baqarah ayat 249-250. Nanti jangan lupa diskusikan di WAG kesan-kesannya ya…InsyaAllah kita sambung lain waktu dengan urusan disiplin dan keshabaran.

🖌 Wassalam..😊

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
📮 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
📸 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Aku Cinta Islam

📆 Senin, 03 Dzulhijjah 1437 H/ 05 September 2016

📓 Akhlaq

📝 Ustadz M. Shafwan Husein El-Lomboki

📖 Aku Cinta Islam
============================
🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺

Allah adalah Tuhanku, Muhammad adalah Nabiku, Al-Quran adalah Kitabku, Islam adalah Agamaku.

Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Dengan agama inilah Allah menutup agama-agama sebelumi Islam datang. Allah telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-hambaNya. Dengan agama Islam ini pula Allah menyempurnakan nikmat atas mereka. Allah hanya meridhoi Islam sebagai agama yang harus mereka peluk. Oleh sebab itu tidak ada suatu agama pun yang diterima selain Islam.

Allah ta’ala juga berfirman,
“Pada hari ini Aku telah sempurnakan bagi kalian agama kalian, dan Aku telah cukupkan nikmat-Ku atas kalian dan Aku pun telah ridha Islam menjadi agama bagi kalian.” (QS. Al Maa’idah: 3)

Allah ta’ala juga berfirman,
 “Sesungguhnya agama yang benar di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS. Ali Imran: 19)

Allah ta’ala berfirman,
“Dan barang siapa yang mencari agama selain Islam maka tidak akan pernah diterima darinya dan di akhirat nanti dia akan termasuk orang-orang yang merugi.” (QS. Ali ‘Imran: 85)

Yang harus menjadi perhatian kita sekarang adalah, “cintakah kita kepada Islam, bagaiamana cara mempertahankan cinta itu dan bagaimana pula cara membuktikan cinta kita kepadanya?”

Cara mempertahankan Islam ialah dengan mengamalkannya. Cara mencintai Islam ialah dengan memperjuangkannya. Inilah hakikatnya. Namun, berapa banyak orang Islam yang mengaku mempertahankan Islam tetapi tidak mengamalkan ajaran Islam secara sepenuhnya dan menyeluruh.

Mana yang dirasakan sesuai dengan keinginannya, diterima dan diamalkan. Manakala yang dirasakan merugikan dan mengancam kedudukan, dipinggirkan.

Sebab itu, kita lihat banyak orang yang begitu marah dengan Zionis karena menyerang Islam, tetapi tingkah laku dan cara hidup mereka persis musuh yang mereka benci itu.

Betapa banyak pula yang mengaku mencintai Islam tetapi membiarkan Islam dihina dan dijadikan bahan olokan.

Apalagi membalas hinaan dan olokan orang, mempertahankannya pun tidak mau. Sedangkan, kata Hasan al-Banna, “Kemanisan beragama hanya dapat dirasai oleh orang yang memperjuangkannya.” Bagaimana mungkin kita bisa mencintai Islam sedangkan kita tidak merasakan kemanisannya, dan bagaimana pula kita akan dapat kemanisannya tanpa memperjuangkannya?

Islam untuk diamalkan, bukan untuk dislogankan. Islam untuk ditegakkan dalam realita masa kini, bukan hanya untuk dikenang sebagai nostalgia masa silam. Islam perlu keluar dari “kandang orang salah” yang terpaksa menjawab pelbagai dakwaan dan mulai menyerang musuh yang selama ini menghinanya. Namun, jawaban terbaik ialah tindakan bukan lisan. Malah tindakan yang paling berkesan ialah akhlak yang baik.

Perangi musuhmu dengan senjata kasih sayang. Dengan kasih sayang kita bukan saja menawan fikiran tetapi yang penting dapat menawan hati. Betapa ramai, orang yang menang dalil, tetapi tetap ditolak kerana hati orang yang dihadapinya tidak tertarik dengan akhlaknya. Berapa ramai pula orang yang kalah dalil-dalil tetapi menang pengaruh kerana akhlaknya yang menawan.

Melalui sejarah perjuangan Rasulullah SAW kita bisa melihat dan merasai betapa indahnya praktik Islam dalam menghadapi pelbagai situasi dan kondisi. Islam tidak perlu disesuaikan mengikut zaman karena Islam memang sesuai untuk sepanjang zaman. Realita budaya, bahasa dan bangsa yang berbeda bukan alasan untuk menolak Islam. Islam itu mesra budaya, bangsa, bahasa dan warna kulit.

Komputer dicipta agar bersifat “user friendly”. Bentuk, sifat dan cara pengendaliannya memang untuk memudahkan. Bayangkan, itu hanya komputer yang dicipta oleh manusia yang punya pelbagai kelemahan. Sedangkan Islam ialah ciptaan Allah, Yang Maha Sempurna. Islam tidak ada sebarang cela dan kecacatan. Percayalah, jika Islam dilihat tidak indah, maka mata hati yang melihat itulah yang tidak indah.

Agama islam mengajarkan aku selalu berbuat baik
Agama islam selalu mengajarkan mencintaiMu, Ya Allah
Agama islam mengantarkan aku akan RidhoMu
Agama islam membawaku pada sebuah kebenaran
Ku cinta agama islam, Ku bangga agama islam
Agama islam adalah agamaku

والله أعلم بالصواب

🍃🍃🌺🍃🍃🌺🍃🍃🌺

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

📲Sebarkan! Raih pahala
============================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram : https://is.gd/3RJdM0
🖥 Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
💽 Twitter : https://twitter.com/grupmanis
💾 Instagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
🕹 Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

Sholat Jama’ Qashar

*Ustadz Menjawab*
_Senin, 03 Oktober 2016_

🌿🌺🍄 *Sholat Jama’ Qashar*

Assalamualaikum ,afwn mau tanya ketika dalam perjalanan maka ada  ruksoh utk menjama’ qashar ( bermalam) .tapi ketika tdk bermalam tdk di bolehkan mengqhasar ,adakah dalil yg menguatkan ? Jzkh
# A 40

===============
Jawaban

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Sholat jama’ qashar itu artinya sholat jama’ yang bilangan raka’atnya dipendekkan bukan bermalam

Mengqasar sholat ditetapkan dalam al-qur’an, sunnah dan ijmak, Rasulullah saw bersabda “Mengqasar sholat adalah sedekah yang Allah berikan kepadamu, maka terimalah sedekah yang Allah berikan itu”.

📌Jika bepergian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu qashar, tidak ada keterangan yang kuat yang menyebutkan bahwa beliau shalat empat rakaat jika bepergian.

📌 Karena itu, tidak sedikit para sahabat Nabi yang menyatakan bahwa qashar hukumnya wajib.

📌 Mereka yang berpendapat wajib adalah Umar bin Khathab, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Masud, Abdullah bin Umar, Abdullah bin Abbas, dan Jabir bin Abdullah. Kalangan madzhab Hanafi menguatkan pendapat ini.

📌 Adapun kalangan Maliki mengatakan bahwa qashar adalah sunnah muakkadah (sangat dianjurkan), bahkan menurut mereka lebih utama dibanding shalat berjamaah. Makruh hukumnya shalat secara sempurna.

📌 Sedangkan kalangan Hambali mengatakan qashar itu mubah (boleh) tetapi lebih utama dibanding shalat sempurna. Demikian juga menurut  pendapat kalangan Syafi’i. Ini semua jika sudah pada jarak dibolehkannya qashar.

Para ulama menetapkan sholat jama’ qashar itu boleh dilakukan jika perjalanan sudah mencapai 83 km, jika jarak berjalan kaki selama 83 km itu ditempuh dengan kendaraan maka tetap berlaku sholat jama’ qashar.

Wallaahu A’lam

🌿🌺🍄🍀🌷🌹🌻

Dipersembahkan Oleh:
Website : www.iman-manis.com
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

💼Sebarkan! Raih Bahagia….

Puasa Sunah Asyura (Bag. 1)

📆 Senin, 2 Muharrom 1438H / 3 Oktober 2016

📚 *HADITS DAN FIQIH*

📝 Pemateri: *Ustadz Farid Nu’man Hasan.*

📋 *Puasa Sunah Asyura (Bag. 1)*

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

📌 Tidak Sedikit manusia bertanya, bagaimanakah puasa sunah ‘Asyura itu? Dan kapankah pelaksanaannya?

Dalil-Dalilnya:

  Berikut ini adalah dalil-dalil puasa tersebut:

1⃣ Hadits Dari Muadz bin Jabal Radhiallahu ‘Anhu:

 فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَصُومُ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَيَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ إِلَى قَوْلِهِ طَعَامُ مِسْكِينٍ } فَمَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَ صَامَ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يُفْطِرَ وَيُطْعِمَ كُلَّ يَوْمٍ مِسْكِينًا أَجْزَأَهُ ذَلِكَ

  📌“Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dahulu berpuasa tiga hari pada tiap bulannya dan berpuasa pada hari ‘Asyura, lalu Allah Ta’ala menurunkan wahyu: “Diwajibkan atas kalian berpuasa (Ramadhan) sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian”  hingga firmanNya: “memberikan makanan kepada orang miskin” maka sejak itu barang siapa yang ingin berpuasa (puasa tiga hari tiap bulan dan ‘Asyura) maka silahkan dia berpuasa, dan barang siapa yang ingin berbuka maka silahkan dia berbuka, dan memberikan kepada orang miskin setiap hari yang demikian itu akan mendapatkan ganjaran.” (HR. Abu Daud No. 507. Dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 507)

2⃣ Hadits dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

 كَانَ يَوْمُ عَاشُورَاءَ تَصُومُهُ قُرَيْشٌ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُهُ فَلَمَّا قَدِمَ الْمَدِينَةَ صَامَهُ وَأَمَرَ بِصِيَامِهِ فَلَمَّا فُرِضَ رَمَضَانُ تَرَكَ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَمَنْ شَاءَ صَامَهُ وَمَنْ شَاءَ تَرَكَهُ

📌“Hari ‘Asyura adalah hari yang pada masa jahiliyah orang-orang Quraisy melaksanakan puasa, saat itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga berpuasa. Ketika Beliau  sampai ke Madinah beliau berpuasa dan memerintahkan manusia agar berpuasa pada hari itu. Maka, tatkala diwajibkan puasa Ramadhan, dia meninggalkan puasa ‘Asyura. Maka, barang siapa yang mau silahkan dia puasa dan barang siapa yang tidak maka tinggalkanlah.” (HR. Bukhari No. 2002, 4504, Muslim No. 1125)

3⃣ Dari ‘Aisyah Radhiallahu ‘Anha, katanya:

 كَانُوا يَصُومُونَ عَاشُورَاءَ قَبْلَ أَنْ يُفْرَضَ رَمَضَانُ وَكَانَ يَوْمًا تُسْتَرُ فِيهِ الْكَعْبَةُ  فَلَمَّا فَرَضَ اللَّهُ رَمَضَانَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ شَاءَ أَنْ يَصُومَهُ فَلْيَصُمْهُ وَمَنْ شَاءَ أَنْ يَتْرُكَهُ فَلْيَتْرُكْهُ

📌“Dahulu mereka berpuasa pada hari ‘Asyura sebelum diwajibkannya Ramadhan dan saat itu hari ditutupnya Ka’bah. Ketika Allah Ta’ala mewajibkan Ramadhan, bersabdalah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Barang siapa yang mau puasa (‘Asyura) silahkan, barang siapa yang mau meninggalkannya, silahkan.” (HR. Bukhari No. 1592, Ath Thabarani dalam Al Awsath No. 7495, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 9513)

  Dan lain-lain.

  Dari tiga hadits di atas, kita dapat memahami bahwa dahulu puasa ‘Asyura adalah   rutinitas Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya. Lalu,  puasa itu menjadi ‘opsi’ (pilihan) saja setelah diwajibkannya puasa Ramadhan, bagi yang menghendakinya.

  Al Hafizh Ibnu Hajar Al ‘Asqalani menjelaskan, bahwa sebagaian ulama, yakni kalangan Hanafiyah mengatakan dahulu puasa ‘Asyura itu wajib, mereka berdalil dengan zahir hadits bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memerintahkan hal itu:

  “ …. ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sampa ke Madinah beliau berpuasa dan memerintahkan manusia agar berpuasa pada hari itu.”

  Lalu, ketika diwajibkan puasa Ramadhan, kewajiban puasa ‘Asyura di hapus (mansukh). Namun mayoritas ulama mengatakan bahwa tidak ada satu pun puasa yang wajib, sebelum diwajibkannya   puasa Ramadhan, mereka berdalil dari hadits Mu’awiyah Radhiallahu ‘Anhu secara marfu’: “Allah tidak mewajibkan berpuasa (‘Asyura) atas kalian.”.  Ada pun perintah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pada hadits tersebut tidak menunjukkan kewajiban, tetapi anjuran saja. (Lihat Fathul Bari, 4/103. Darul Fikr)

  Yang shahih –Insya Allah- adalah pendapat jumhur ulama. Hadits yang dimaksud adalah dari Mu’awiyah bin Abu Sufyan Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

إن هذا يوم عاشوراء، ولم يكتب عليكم صيامه، وأنا صائم، فمن شاء صام، ومن شاء فليفطر

📌  “Sesungguhnya ini adalah hari ‘Asyura, dan kalian tidaklah diwajibkan berpuasa padanya, dan saya sedang puasa, jadi barangsiapa yang mau puasa silahkan, yang mau buka juga silahkan.” (HR. Muttafaq ‘Alaih)

  Hadits ini diucapkan juga sebelum diwajibkannya puasa Ramadhan, maka jelaslah bahwa sebelum wajibnya puasa Ramadhan, tidak ada puasa wajib termasuk ‘Asyura.

Bersambung …

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh:
www.iman-islam.com

Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis

🗳Sebarkan dan raihlah pahala …

Larangan Jual Beli Najsyi

 Ahad, 01 Muharram 1438H / 02 Oktober 2016
 MUAMALAH

 Pemateri: Ustadz Rikza Maulan, Lc., M.Ag.

   Larangan Jual Beli Najsyi

A. Hadits:
عَنْ ابْنِ عُمَر رضي الله عنهَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى عَنْ النَّجْشِ (رواه البخاري)
Dari Ibnu Umar ra, “bahwasanya Rasulullah Saw melarang (praktik) jual beli najsyi (tipuan).” (HR. Bukhari)
B. Hikmah Hadits:
1. Luasnya cakupan ajaran agama Islam, yang tidak hanya mengatur urusan ibadah antara seorang hamba dengan Allah Swt semata, melainkan juga mangatur aspek muamalah, diantaranya adalah aspek perdagangan (bisnis) antara sesama manusia.
2. Diantara aturan terkait dengan muamalah, adalah sebagaimana dijelaskan dalam hadits diatas yaitu larangan praktik jual beli najsy.
Jual beli najsy adalah jual beli dimana penjual menggunakan tenaga teman-temannya untuk berpura-pura menawar barang dagangan miliknya dengan harga yang tinggi, untuk mengelabui atau mempengaruhi “image” pembeli yang sesungguhnya terkait dengan masalah harga, dengan maksud “menipu” pembeli, supaya ia (pedagang) mendapatkan keuntungan yang lebih besar.
3. Cara seperti ini jelas dilarang dalam syariah, karena mengandung unsur penipuan kepada pembeli, sehingga pembeli membayar barang yang lebih mahal dari harga yang seharusnya.
Dalam kehidupan kontemporer, jual beli seperti ini dapat terjadi misalnya pada praktek tender fiktif, dimana sesama peserta tender saling sepakat untuk meninggikan penawaran harga, lalu ada salah satu peserta tender yg sedikit menurunkan harga agar proyek tersebut jatuh ke tangannya.
Praktik seperti ini adalah bathil, bahkan dalam sebuah riwayat Nabi Saw bersabda, ‘Barang siapa yang berbuat curang diantara kami, maka ia bukan termasuk golongan kami.’ (HR. Muslim)
Wallahu A’lam bis Shawab

Dipersembahkan oleh:
http://www.iman-islam.com
Ikuti Kami di:
Telegram : https://is.gd/3RJdM0
Fans Page : https://m.facebook.com/majelismanis/
Twitter : https://twitter.com/grupmanis
Istagram : https://www.instagram.com/majelismanis/
Play Store : https://play.google.com/store/apps/details?id=id.manis
Sebarkan dan raihlah pahala …