Tadabbur Surat An-Naba’ (Bag. 2)

πŸ“† Senin, 9 Sya'ban 1437H / 16 Mei 2016 M
πŸ“š Tadabbur Al-Qur'an

πŸ“ Dr. Saiful Bahri, M.A

πŸ“‹ Tadabbur Surat An-Naba’ (Bag. 2)

πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸ

πŸ“š *Hari yang Ditunggu-Tunggu*

            Bila hari penentuan itu datang, semuanya menjadi berubah. Karena saat itu para manusia sudah tak lagi dibebani dengan tugas dan taklif.

πŸ“Œ   _"Sesungguhnya hari keputusan adalah suatu waktu yang ditetapkan. Yaitu hari (yang pada waktu itu) ditiup sangkakala lalu kamu datang berkelompok-kelompok. Dan dibukalah langit, maka terdapatlah beberapa pintu. Dan dijalankanlah gunung-gunung maka ia menjadi fatamorgana"_  (QS. 78: 17-20)

            Bila datang hari kebangkitan, manusia pun segera terjaga dari kematian. Kehidupan sesungguhnya baru akan dimulai. Hari pembalasan menanti mereka. Mereka dibangkitkan secara berkelompok sesuai dengan perilaku dan amal mereka ketika hidup di dunia([7]). Masing-masing kelompok terdapat pemimpinnya, yang mereka ikuti ketika di dunia. Hal ini senada ungkapan Allah dalam firman-Nya,

πŸ“Œ _“(Ingatlah) suatu hari (yang di hari itu) kami panggil tiap umat dengan pemimpinnya; dan barangsiapa yang diberikan kitab amalannya di tangan kanannya maka mereka Ini akan membaca kitabnya itu, dan mereka tidak dianiaya sedikitpun”_ (QS. 17: 71)”

            Langit-langit pun membuka diri atas titah Tuhan-Nya. Di dalamnya terdapat pintu-pintu yang sangat banyak. Gunung-gunung yang menjadi pasak bumi pun terserabut terbang dan dijalankan Allah bagai bulu. Ia pun seperti fatamormana. Ada keberadaannya tapi seolah terlihat tidak di alam nyata. Karena gunung yang demikian kokohnya terseret juga oleh arus dan mesti mengikuti titah dan perintah Tuhannya. Gunung-gunung itu menjadi seperti fatamorgana. Seperti ada dan seperti tiada. Seolah menjadi demikian ringannya. Ini adalah satu dari sekian gambaran kedahsyatan hari kemusnahan dan kiamat. Dan setelahnya diikuti dengan datangnya hari kebangkitan kemudian dilanjutkan dengan pembalasan.

πŸ“š *Hari Pembalasan*

            Hari kebangkitan membawa misi keadilan. Agar setiap manusia mendapatkan balasan yang setimpal dan adil atas semua perbuatannya yang dilakukannya ketika ia hidup di bumi.

πŸ“Œ           _”Sesungguhnya neraka Jahannam itu (padanya) ada tempat pengintai. Lagi menjadi tempat kembali bagi orang-orang yang melampaui batas. Mereka tinggal di dalamnya berabad-abad lamanya. Mereka tidak merasakan kesejukan di dalamnya dan tidak (pula mendapat) minuman. Selain air yang mendidih dan nanah. Sebagai pambalasan yang setimpal. Sesungguhnya mereka tidak berharap (takut) kepada hisab. Dan mereka mendustakan ayat-ayat kami dengan sesungguhnya. Dan segala sesuatu telah kami catat dalam suatu kitab. Karena itu rasakanlah. dan kami sekali-kali tidak akan menambah kepada kamu selain daripada azab”_ (QS. 78: 21-30)

            Orang-orang zhalim yang melampau batas kewajaran, yang zalim, penindas yang lemah, culas dan serakah. Bagi mereka neraka jahannam. Seburuk-buruk tempat kembali di akhirat kelak. Yaitu neraka yang selalu ada pengintainya. Menjaga mereka tanpa belas kasihan sama sekali. Sekali-kali takkan pernah mereka merasakan kenyamanan dan kesejukan. Al-Farra’ menafsirkannya dengan kenyamanan beristirahat dari panasnya hawa neraka sehingga disebut dengan _”la bardan”_ , takkan ada kesejukan dan kenyamanan dari siksa neraka yang tak kenal ampun([8]). Bahkan sekedar mendapatkan hembusan angin pun tidak, seperti tutur Az-Zajjaj dalam tafsirnya([9]). Tidak juga mereka mendapatkan sesuatu yang bisa mengusir dahaga dan haus karena menahan panas yang sangat luar biasa. Tak ada air. Kecuali air yang menggelegak atau nanah yang sangat menjijikkan dan baunya menyengat.

            Itulah balasan yang setimpal bagi perbuatan mereka. Yaitu mendustakan ayat-ayat dan tanda kebesaran serta kekuasaan Allah. Bumi, langit, ditidurkannya manusia, gunung-gunung, awan dan air serta berbagai tanda yang lainnya seperti yang disebutkan. Seolah tak memberikan bekas dan pengaruh bagi mereka. Padahal kesempatan taubat yang berulang-ulang dibuka oleh Allah tak juga digunakan dengan baik sampai akhirnya datang masa yang tak lagi bisa diperdengarkan alasan dan udzur.

 Akibatnya, orang-orang yang melampaui batas tersebut berlaku zhalim. Menindas yang lemah, menipu, culas, ringan melakukan kesalahan, berbuat semaunya dengan memperturutkan hawa nafsunya. Karena mereka sudah berkeyakinan takkan ada pembalasan. Namun anggapan tersebut tidaklah benar. Semua bahkan terekam dalam catatan amal yang kelak tak lagi bisa dipungkiri, karena malaikat pencatat pun disertai saksi anggota tubuh manusia sendiri yang berbicara atas titas keagungan Allah. Saat itu, takkan lagi ada pendusta yang sanggup berdusta. Dan orang-orang yang zhalim tersebut tak laik mendapatkan tambahan melainkan kepedihan adzab yang tak terperikan.

πŸ“š *Kemuliaan dan Kemenangan Orang Bertaqwa*
πŸ”ΉBersambungπŸ”Ή
πŸŒΏπŸŒΊπŸ‚πŸ€πŸŒΌπŸ„πŸŒ·πŸπŸŒΉ

Dipersembahkan:
www.iman-islam.com

πŸ’Ό Sebarkan! Raih pahala...