Nadzar....Bagaimana melaksanakannya??


๐Ÿ‘ณUSTADZ MENJAWAB ๐Ÿ‘ณ
✏Ustadz Farid Nu'man Hasan, S.S

๐Ÿ“†Rabu, 18 Mei 2016 M
                 11 Sya'ban 1437 H
๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ๐ŸŒป๐ŸŒผ๐ŸŒธ๐Ÿ€๐ŸŒท๐ŸŒน

Assalamu'alaikum Wr wb
Mohon izin bertanya..
Ada seorang wanita yg dahulu ketika masih pelajar bernazar akan puasa 2 pekan jika diterima masuk Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Tapi nazar tersebut belum sempat dilaksanakan hingga sekarang sudah menikah dan punya anak. (Sekarang sedang masa menyusui).

Pertanyaannya : apakah nazar tersebut bisa digantikan dengan membayar kafarat? Mengingat keadaan sekarang yg belum mampu melaksanakan puasa karena sedang menyusui. Khawatir jika tidak ada umur, maka apakah diperkenankan membayar kafarat?
Mohon penjelasannya. Jazakalloh khoiron.Wassalamu'alaikum.wr.wb.
#i 09

Jawaban :
----------------

 _Wa'alaikumussalam wa Rahmatullah wa Barakatuh. Bismillah wal hamdulillah wash shalatu was Salamu 'ala Rasulillah wa Ba'd:_

Sebaiknya nadzar  dengan yang mudah dan mungkin dilaksanakan seperti menyembelih qurban, hindari dengan yang berat dan menyulitkan,  tetapi jika dia merasa mampu menjalankannya silahkan saja.

Hal ini sesuai riwayat berikut:

ูˆَุนَู†ْ ุฌَุงุจِุฑٍ - ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ - - ุฃَู†َّ ุฑَุฌُู„ุงً ู‚َุงู„َ ูŠَูˆْู…َ ุงَู„ْูَุชْุญِ: ูŠَุง ุฑَุณُูˆู„َ ุงَู„ู„َّู‡ِ! ุฅِู†ِّูŠ ู†َุฐَุฑْุชُ ุฅِู†ْ ูَุชَุญَ ุงَู„ู„َّู‡ُ ุนَู„َูŠْูƒَ ู…َูƒَّุฉَ ุฃَู†ْ ุฃُุตَู„ِّูŠَ ูِูŠ ุจَูŠْุชِ ุงَู„ْู…َู‚ْุฏِุณِ, ูَู‚َุงู„َ: "ุตَู„ِّ ู‡َุง ู‡ُู†َุง" . ูَุณَุฃَู„َู‡ُ, ูَู‚َุงู„َ: "ุตَู„ِّ ู‡َุง ู‡ُู†َุง". ูَุณَุฃَู„َู‡ُ, ูَู‚َุงู„َ: "ุดَุฃْู†ُูƒَ ุฅِุฐًุง" - ุฑَูˆَุงู‡ُ ุฃَุญْู…َุฏُ, ุฃَุจُูˆ ุฏَุงูˆُุฏَ, ูˆَุตَุญَّุญَู‡ُ ุงَู„ْุญَุงูƒِู…ُ

Dari Jabir Radhiallahu ‘Anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata pada hari Fathul Makkah: “Wahai Rasulullah, aku telah bernadzar jila Allah menaklukan kota Mekkah untukmu, aku akan shalat di Baitul Maqdis (Masjidil Aqsha).” Nabi bersabda: “Shalat di sini saja.” Orang itu meminta lagi. Nabi menjawab: “Shalat di sini saja.” Orang itu masih meminta lagi. Maka Nabi menjawab: “Kalau begitu terserah kamu.”
*(HR. Ahmad, Abu Daud, dan dishahihkan oleh Al Hakim)*

Jika akhirnya tidak mampu melaksanakan nadzarnya, dia boleh membatalkan nadzarnya dengan melakukan _Kaffarat Nadzar_ sebagaimana kaffarat sumpah, sebagaimana hadits:

ูƒَูَّุงุฑَุฉُ ุงู„ู†َّุฐْุฑِ ูƒَูَّุงุฑَุฉُ ุงู„ْูŠَู…ِูŠู†ِ

_Kaffarat nadzar itu sama dengan kaffarat sumpah._
(HR. Muslim No. 1645)

*๐Ÿ“ŒBagaimana caranya?*

1. Dengan memberikan makan kepada 10 fakir miskin masing-masing sebanyak satu mud gandum (atau disesuaikan dengan makanan dan takaran masing-masing negeri), atau mengundang mereka semua dalam jamuan makan malam atau siang sampai mereka puas dan kenyang, dengan makanan yang biasa kita makan.

2. Atau memberikan pakaian yang sah untuk shalat. jika fakir miskin itu seorang wanita, maka sebagusnya mesti dengan kerudungnya juga.

3. Atau memerdekakan seorang budak

4. Jika semua tidak sanggup, maka shaum selama tiga hari, boleh berturut-turut atau tidak.

Ketetapan ini sesuai firman Allah Ta’ala sebagai berikut:

 _Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)._ (QS. Al Maidah: 89)

Kaffarat ini bukan hanya bagi orang yang tidak sanggup menjalankan nadzarnya, tetapi juga bagi orang yang masih bingung menentukan nadzarnya mau ngapain lalu dia putuskan membatalkannya, juga bagi yang  nadzar dengan maksiat.

Hal ini sebagaimana hadits berikut dari Ibnu Abbas secara marfu’:

ู…َู†ْ ู†َุฐَุฑَ ู†َุฐْุฑًุง ู„َู…ْ ูŠُุณَู…ِّู‡ِ، ูَูƒَูَّุงุฑَุชُู‡ُ ูƒَูَّุงุฑَุฉُ ูŠَู…ِูŠู†ٍ، ูˆَู…َู†ْ ู†َุฐَุฑَ ู†َุฐْุฑًุง ูِูŠ ู…َุนْุตِูŠَุฉٍ، ูَูƒَูَّุงุฑَุชُู‡ُ ูƒَูَّุงุฑَุฉُ ูŠَู…ِูŠู†ٍ، ูˆَู…َู†ْ ู†َุฐَุฑَ ู†َุฐْุฑًุง ู„َุง ูŠُุทِูŠู‚ُู‡ُ ูَูƒَูَّุงุฑَุชُู‡ُ ูƒَูَّุงุฑَุฉُ ูŠَู…ِูŠู†ٍ، ูˆَู…َู†ْ ู†َุฐَุฑَ ู†َุฐْุฑًุง ุฃَุทَุงู‚َู‡ُ ูَู„ْูŠَูِ ุจِู‡ِ»

Barang siapa yang bernadzar dan dia belum tentukan, maka kafaaratnya sama dnegan kaffarat sumpah. Barang siapa yang bernadzar dalam hal maksiat, maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah, *_dan barang siapa yang nadzar dengan hal yang dia tidak sanggup maka kaffaratnya sama dengan kaffarat sumpah_*, dan siapa yang nadzarnya dengan sesuatu yang dia mampu, maka hendaknya dia penuhi nadzarnya.
(HR. Abu Daud No. 3322. Hadits ini didhaifkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan Abi Daud No. 3322. Sementara Imam Ibnu Hajar mengatakan dalam Bulughul Maram: “Isnadnya shahih, hanya saja para huffazh lebih menguatkan bahwa ini hanyalah mauquf.” Mauquf maksudnya terhenti sebagai ucapan sahabat nabi saja, yakni Ibnu Abbas, bukan marfu’ /ucapan nabi.  )
Wallahu A’lam

๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒธ๐ŸŒท๐ŸŒธ

www.iman-islam.com

๐ŸŽ’Sebarkan! Raih pahala....