Pujian Ulama Kepada Ulama

📆 Selasa, 23 Dzulhijjah 1439H / 04 September 2018

📚 Adab

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu'man Hasan, S.S.

Ada pelajaran sangat baik para ulama terdahulu untuk para ulama, ustadz, dan muballigh zaman sekarang, yaitu saling memuji diantara mereka karena kebaikan, ilmu, akhlak, perjuangan, ibadah dan kedermawanannya. Ini merupakan salah satu obat mujarrab untuk membunuh rasa dengki yg biasa muncul dihati orang-orang yang ditokohkan.

Mereka walau berbeda dalam pendapat, fatwa, metodelogi berfikir dan berfiqih, tetap saling memberikan pujian dan testimoni positif satu sama lain. Tidak menyerang kepribadiannya, atau membunuh katakter, agar orang lain menjauhinya; demarketing.

Berikut ini saya tampilkan pujian para imam kepada imam lainnya.

1. Imam Abu Hanifah dan Imam Sufyan Ats Tsauriy Rahimahumallah

Mereka berdua hidup sezaman, bedanya Abu Hanifah pernah berjumpa beberapa sahabat nabi, Sufyan tidak. Mereka berdua kerap terlibat dalam perbedaan dalam fiqih, tapi hal itu tidak membuat mereka terhalang untuk saling mencintai dan memuji kelebihan satu sama lain.

Muhammad bin Bisyr berkata: Aku pernah bergantian mengunjungi Sufyan Ats Tsauri dan Abu Hanifah. Ketika aku mendatangi Abu Hanifah dia bertanya: “Dari mana kamu?” Aku jawab: “Aku datang dari sisi Sufyan Ats Tsauri.”

Abu Hanifah menjawab: “Engkau datang dari sisi seorang laki-laki yang sendainya ‘Alqamah dan Al Aswad melihat semisal orang itu (maksudnya Sufyan), maka mereka berdua akan berhujjah dengannya.”

Lalu aku mendatangi Sufyan Ats Tsauri, dia bertanya: “Dari mana kamu?” Aku jawab: “Aku datang dari sisi Abu Hanifah.” Sufyan menjawab: “Engkau datang dari sisi seorang  yang paling faqih di antara penduduk bumi.”

(Tarikh Baghdad, 15/459)

2. Imam Asy Syafi'iy dan Imam Ahmad bin Hambal Rahimahumallah

Imam Asy Syafi'iy adalah guru dari Imam Ahmad bin Hambal. Walau Imam Ahmad tidak selalu sejalan dengan gurunya tapi mereka saling mencintai dan memuji.

Imam Ahmad bin Hambal berkata:

كان الفقه قفلا علي اهله حتي فتحه الله بالشافعى

Dahulu ilmu fiqih tergembok atas pemiliknya, sampai akhirnya Allah bukakan melalui Asy Syafi'iy.

(Tahdzibul Asma wal Lughat, 1/61)

Beliau juga berkata:

لولا الشافعي ما عرفنا فقه الحديث

Seandainya bukan karena Asy Syafi'iy niscaya kami tidak tahu bagaimana memahami hadits. (Ibid)

Sementara Imam Asy Syafi'iy dengan rendah hati memuji muridnya dengan kalimat yang luar biasa:

خرجت من بغداد وما خلفت بها أفقه ولا أزهد ولا أورع ولا أعلم من أحمد بن حنبل

Aku keluar dari Baghdad, dan tidaklah aku tinggalkan padanya manusia yang lebih faqih, lebih zuhud, lebih wara', dan lebih berilmu dibanding Ahmad bin Hambal. (Tarikh Baghdad, 4/419)

Beliau juga berkata:

أحمد بن حنبل إمام في ثمان خصال: إمام في الحديث، إمام في الفقه، إمام في اللغة، إمام في القرآن، إمام في الفقر، إمام في الزهد، إمام في الورع، إمام في السنة

Ahmad bin Hambal adalah imam dalam delapan hal: Imam dalam ilmu  hadits,  fiqih, bahasa, Al Quran, kefakiran, zuhud, wara', dan sunnah.

(Thabaqah Al Hanabilah, 1/5)

3. Imam Malik Rahimahullah

Imam Abdullah bin Al Mubarak berkata:

لو قيل لى : اختر للامة اماما اخترت لها مالكا

Seandainya dikatakan kepadaku: "Pilihlah seorang imam untuk umat ini! Niscaya aku pilihkan bagi mereka Malik sebagai imam."

Imam Abdurrahman bin Al Mahdi berkata:

ما بقي على وجه الأرض آمن على حديث رسول الله من مالك

Tidak ada di muka bumi ini yang lebih dipercaya tentang hadits Rasullullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam dibandingkan Malik.

(Mausu'ah Syuruh Al Muwatha', 1/24)

4. Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baaz Rahimahullah dan Syaikh Yusuf Al Qaradhawiy Hafizhahullah

Mereka berdua pernah berbeda pendapat dalam menyikapi perjanjian damai Palestina dan Zionis Israel di Oslo tahun 1993M. Di mana Syaikh Abdul Aziz bin Baaz menerima perjanjian damai itu seperti yang Beliau tulis di harian Al Muslimun, sementara Syaikh Al Qaradhawiy menentang perjanjian itu dan mengkritik fatwa Syaikh Ibnu Baaz di majalah Al Mujtama'. Mereka saling mengkoreksi sampai 2 kali membuat tulisan masing-masing di tahun 1995M. Tentang hal ini bisa kita lihat di Fatawa Al Mu'ashirah Jilid 3.

Di situ, Syaikh Al Qaradhawiy memujinya dengan sebutan sebagai ulama besar, al 'allamah (yang luas ilmuanya) ..

Syaikh Ibnu Baaz pun memuji Syaikh Al Qaradhawiy sebagai Al Fadhil  Asy Syaikh  ..., dalam kesempatan yang lain menyebutnya sebagai orang yang karyanya berbobot dan berpengaruh di dunia Islam. Tidak seperti sebagian orang yang mulutnya tajam dan kasar  kepada Syaikh Al Qaradhawiy hanya karena tidak setuju dengan fatwa-fatwanya.

Demikianlah, perbedaan pendapat di antara mereka tidak membuat mereka kehilangan etika dan tatakrama terhadap sesama muslim apalagi terhadap ulama.  Semoga kita dapat mengambil banyak pelajaran dari mereka.

Wallahul Muwaffiq ilaa aqwamith Thariq