Jalinan Ukhuwah Lillah

📆 Rabu, 02 Muharram 1440 H / 12 September 2018

📚 Motivasi
 
📝 Pemateri: Ustadzah Rochma Yulika

Mari mengekspresikan indahnya kebersamaan agar hidup bertambah hidup. Hiduplah hidup berada dalam satu jalan. Hiduplah hidup berada dalam naungan. Hiduplah hidup untuk bersapaan. Hiduplah hidup berada dalam kebersamaan.

Keindahan dunia tak kan bisa kita nikmati kala kesendirian. Bila sepi melanda teman perlu dihadirkan. Inilah saatnya kita ambil peran. Saling menolong sudah menjadi kebiasaan. Hidup bermasyarakat kan jadi tuntutan. Ajaran kebaikan selalu jadi pedoman.

Rasulullah pernah ditanya tentang amal apa yang banyak memasukkan orang ke dalam surga, demikian Abu Hurairah meriwayatkan, lalu Nabi saw menjawab, “Taqwa kepada Allah dan berakhlak yang baik.” (Hr. Tirmidzi dan Ibn Hibban).

Bencana terbesar bagimu adalah Allah telah memberimu kesempatan yang sama untuk berbuat baik, tapi engkau memilih perbuatan yang buruk dengan sadar. Jika kamu berbuat baik atau buruk, maka sesungguhnya perbuata itu untuk dirimu sendiri.

Kawan itu bak cermin dalam kehidupan kita. Adanya saling mengingatkan, tiadanya saling meninggalkan jejak kebaikan. Perbaikilah kamu dan perbaiki aku, saling mengingatkan. Karena setiap kebaikan akan menyebar dan menghadirkan kebaikan yang lain. Hal itu tidak akan mungkin terjadi tanpa kita berada dalam kebersamaan. Maka jangan pernah berniat sedikit pun meninggalkan kebersamaan ini. 

Tapi tak mudah memang mencari sahabat yang sejati. Sahabat yang selalu menemani dalam suka dan duka. Mengerti apa yang harus terisi di hati. Merasa apa yang membuat ia tak kuasa. Memenuhi harapan dan mencukupi keinginan. Mencari sahabat sejati sering diawali dengan kesiapan diri untuk memberi, bukan menerima. Lantaran seseorang yang diberi lebih mudah menjadi sahabat sejati.

Ketika pun terjadi pada kita, kita membutuhkan orang lain. Kita membutuhkan ada orang yang mendengarkan keluh isi hati ini. Ketika seseorang mengeluarkan isi hatinya, menumpahkan segala asa, menjadi plong jiwanya. Beban itu terkurangi, mungkin malah terlepaskan. Soal memberi solusi itu bagian lain yang diharapkan. Bagilah beban pada orang yang dapat dipercaya, shohib, atau sahabat. Sahabat sejati selalu jadi cermin bagi yang lainnya.

Seindah sabda Nabi yang dikisahkan Imam Bukhari; “Seorang mukmin adalah cermin dari saudaranya. Seorang mukmin itu bersaudara dengan mukmin lainnya. Dia tidak akan membiarkannya disia-siakan dan dicampakkan, dan dia akan menjaganya dari belakang.”

Namun ingin menjadi shalihah bersama itu tak mudah bahkan butuh perjuangan bahkan kadang harus ada yang berkorban. Seberapa pun tangguhnya seorang Muslimah, ia tak mungkin bisa hidup sendiri. Ketangguhan atau kerapuhan seseorang itu memang pilihan hidup. Tapi, kebutuhan akan hadirnya orang lain dan bersama-sama di tengah kita adalah cara yang paling efektif untuk mewujudkan dan menjaga ketangguhan itu.

“Meski yang menghubungkanku dengan orang lain hanya seutas benang, maka akan kujaga jalinannya. Bila ia mengendurkan aku akan mengencangkan, dan bila ia mengencangkan aku akan mengendurkannya hingga tak putus ikatannya.” 

Kata itu sederhana tapi teramat dalam maknanya. Terucap dari seorang shahabat Nabi sekaligus negarawan yang tak perlu diragukan keislamannnya, Mu’awiyah ibnu Sufyan r.a. Inilah seni berteman. Menjaga, merawat, memelihara jauh lebih sulit daripada mengawali pertemanan dan persaudaraan. Mengawali sangat mudah karena kita masih tahu sisi-sisi baiknya saja, benturan belum ada, keasliannya belum tampak. Yang tampak baru sedikit, itu pun indah-indah saja.

Sesulit apa pun, jalin persaudaraan dengan siapa pun. Dengan harapan banyak kebaikan yang akan kita peroleh bila bisa berinteraksi dengannya. Apalagi kita tahu sekiranya berteman dengannya akan membuat ter-upgrade keimanan dan ketakwaan kita. Kenapa kita butuh untuk mencari teman? Tak perlu bekernyit dahi mengulas teori manusia makhluk sosial. Adalah sangat manusiawi jika kita memang butuh teman. Kita butuh teman bicara. Kita butuh teman untuk saling mengisi. Tak hanya itu, tentunya kita memilih teman yang baik agar bisa saling menasihati. 

Seperti perumpamaan dalam sebuah hadits Rasulullah saw yang menjelaskan tentang pengaruh teman. Sabda Rasulullah, “Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi (percikan apinya) mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari 5534 dan Muslim 2628).

Maka menjaga indahnya ukhuwah agar keshalihan terjaga.Hidup dalam kebersamaan pasti berbenturan dengan kepentingan masing-masing orang. Setiap kepala berbeda yang dipikirkannya. Jangankan beda kepala, satu kepala saja banyak yang dipikirkan, sekiranya mana yang akan didahulukan dari keinginan yang muncul.

Saya jadi teringat Imam Syafi’i pernah memberi nasihat, ”Kalau ternyata nafsumu mendorong untuk membalas seseorang atas dirimu, maka renungkan kebaikan-kebaikan yang pernah ia lakukan untukmu, lalu gugurkan satu dari padanya sebagai balasan atas dosanya. Tapi jangan sekali-kali mengurangi kebaikan-kebaikan hanya karena dosa yang satu ini, karena itulah kezaliman yang sesungguhya. Jika kamu memiliki sahabat dekat maka peganglah erat-erat. Karena mencari sahabat amatlah susah, sedangkan memutuskan sahabat itu mudah.”(Shifatushafwah:1/234).

Cari sahabat dalam kebaikan butuh proses. kenalan dulu…. terus ngobrol makin dekat terus dan semakin dekat. kadang sebulan baru bisa dekat. Tapiiii….

Coba saja mau cari musuh. lepas sepatu lempar orang lewat… nah dapat tuh musuh kan….. apalagi sepatunya hak tinggi lempar pas kepala. Sekejap udah jadi musuh. Maka…..

Seperti tadi bagaimana muawiyah kasih nasihat. agar senantiasa terjaga keshalihan diantara kita. saling mengerti, menasihati, memberi ruang, memotivasi. Menjaga, merawat itu jauh lebih berat dibanding memulai. Bila diukur dengan materi, persahabatan dan persaudaraan itu sangat mahal harganya. Tak terbeli oleh materi. Tak tertukar oleh dolar. Tak tergoyah oleh rupiah. Persaudaraan hakiki berasal dari hati. Dan keikhlasan dari semua yang terjadi porosnya adalah hati.

Hidup dalam kebersamaan. Tak mudah seperti apa yang dibayangkan kadang butuh pengorbanan dan saling menjaga perasaan. Yang terpenting dari kita bila bergaul dengan siapa saja lakukan dengan tulus dari lubuk hati yang terdalam. Kejujuran dan selalu bersikap apa adanya dengan orang lain menjadi bumbu indahnya persaudaraan. Beginilah ukhuwah. Bila ada kesalahan temanmu tuliskan di atas pasir biarlah angin menerpanya. Namun bila kau lihat kebaikan yang ada pada dirinya tuliskan di atas batu biar mampu dikenang sepanjang masa. Mengingat setiap kebaikan yang ia perbuat dan menghapus segala khilaf dan alpa dari saudara kita. Kita harus menyadari keberadaannya hingga tanpa ia sadari khilaf dan lupa terlahirkan begitu saja.

Wallahul musta’an