Semua Suku Bisa Disuap! Kisah Pilu Menjelang Tergusurnya Turki Utsmani dari Hijaz, Palestina, hingga Suriah

📆 Kamis, 18 Dzulhijjah 1439H / 30 Agustus 2018

📚 SIROH  DAN TARIKH ISLAM

📝 Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Ketika suku-suku Arab Badawi pendukung pasukan pemberontak Feisal ibn Hussein ibn Ali yang berasal dari wilayah selatan Hijaz mulai berangsur kembali ke daerah mereka, maka berdatanganlah suku-suku Arab Badawi bagian utara. Diantara mereka suku Huweitat, Syararat, Banu Athiyah, serta Rawalla. Mereka ini suku yang mendiami wilayah Syam (Suriah) serta perbatasan selatan.

Para kepala sukunya, seperti Auda Abu Tayyi* berikut para nasionalis Arab sekuler seperti Nasib al-Bakri** dan  Zaki Drubi*** semua menganjurkan Feisal untuk mengobarkan pemberontakan ke wilayah Palestina dan Suriah. Pucuk dicinta ulam tiba, Feisal juga sudah lama menginginkan wilayahnya meliputi kedua tanah subur di utara itu.

Diluar dugaan, dan bacaan saya sebelumnya, atau karena saya kurang teliti, bahwa Feisal dan pemimpin pemberontakan Arab lainnya sudah mendapatkan "bocoran" (sejak Mei 1917) tentang kesepakatan rahasia antara Perancis dan Inggris yang dikenal sebagai Perjanjian Sykes-Picot (Februari 1916). Perjanjian ini hendak membagi bekas wilayah Turki Utsmani di Timur Tengah pasca perang tanpa melibatkan bangsa Arab, bahkan menipu Lawrence agennya sendiri.

Walau sebenarnya menurut Lawrence penyerangan ke arah utara oleh Arab Northern Army yang digagasnya adalah strategi yang terlalu cepat. Namun, Feisal mendesak agar segera menguasai daerah tersebut dengan harapan setelah Perang Dunia Pertama usai ada kekuatan politik yang dapat dimainkan. Akhirnya Lawrence pun sepakat, entah karena desakan Feisal atau karena dia juga baru tahu di-double-cross oleh dinas intelijen Inggrisnya sendiri.

Lawrence mengarahkan untuk menyerang al-Aqaba sebagai kota pelabuhan terakhir yang masih di tangan Turki Utsmani di sepanjang Laut Merah. Pasukan pemberontak Arab akan lebih mudah mendapatkan logistik dari Royal Navy. Jika kota al-Aqaba dapat direbut ini sekaligus juga memperbesar peluang balatentara Inggris di Mesir dan Sinai untuk mengalahkan Turki Utsmani di Palestina dan Suriah secara keseluruhan.

Sebenarnya angkatan laut Inggris sudah pernah menembaki kota al-Aqaba, namun mengingat meriam pantai yang dimiliki Turki Utsmani terlalu kuat maka opsi pendaratan amfibi dicoret. Kedatangan suku Arab Badawi dari utara membuka peluang penyerangan atas kota tersebut dari arah yang tidak diduga-duga. Yaitu, lewat darat.

Untuk menyerang kota al-Aqaba secara mendadak perlu perencanaan yang matang. Oleh sebab itu dinilai perlu ada serangan pengalihan ke tempat lain. Lawrence dan Kolonel Joyce menyerang pertahanan Turki Utsmani di Ma'an. Pada saat yang hampir bersamaan juga dikerahkan pasukan Kolonel Newcombe ke al-Ula.

Untuk serbuan sebesar kota al-Aqaba dibutuhkan bantuan suku Arab Badawi dalam jumlah yang cukup. Lawrence telah menyiapkan uang emas senilai £ 20 ribu untuk "membujuk" suku Arab Badawi di sekitar wilayah al-Aqaba, daerah pengaruh Suku Huweitat.

Agung Waspodo, merasakan betapa banyaknya revisi pandangan serta kesimpulan sejarah dengan bertambahnya bacaan.

Depok, 16 Dzul-Hijjah 1439 Hijriyah
---

* Auda Abu Tayyi adalah kepala suku Huweitat
* Nasib al-Bakri turut mendirikan organisasi rahasia nasional al-Fatat yang ingin melepaskan Suriah dari kekhilafahan Turki Utsmani