Buang Angin Lewat Kemaluan, Batalkah Wudhu?

📆 Selasa, 16 Dzulhijjah 1439H / 28 Agustus 2018

📚 Fiqih dan Hadits

📝 Pemateri: Ustadz Farid Nu'man Hasan, S.S.

Masalah buang angin lewat kemaluan, ada dua pendapat:

1. BATAL Wudhunya

Ini pendapat Syafi'iyah dan Hambaliyah.

Imam An Nawawi mengatakan:

الخارج من قبل الرجل أو المرأة أو دبرهما ينقض الوضوء ، سواء كان غائطا أو بولا أو ريحا أو دودا أو قيحا أو دما أو حصاة أو غير ذلك ، ولا فرق في ذلك بين النادر والمعتاد ، ولا فرق في خروج الريح بين قبل المرأة والرجل ودبرهما ، نص عليه الشافعي رحمه الله في الأم ، واتفق عليه الأصحاب

Sesuatu yg keluar dari kemaluan dan dubur laki-laki dan perempuan adalah membatalkan wudhu, baik itu tinja, kencing, angin,  ulat, nanah, darah, atau lainnya. Tidak beda dalam hal ini baik yang jarang atau kebiasaan. Tidak ada beda antara keluarnya angin dari kemaluan laki-laki dan perempuan, dengan dari duburnya. Demikianlah ungkapan dari Asy Syafi'iy dalam Al Umm dan disepakati para sahabatnya.

(Al Majmu', 2/3)

Imam Ibnu Qudamah Rahimahullah mengatakan:

نقل صالح عن أبيه في المرأة يخرج من فرجها الريح : ما خرج من السبيلين ففيه الوضوء . وقال القاضي : خروج الريح من الذكر وقبل المرأة ينقض الوضوء

Shalih mengutip dari ayahnya (Imam Ahmad bin Hambal) tentang wanita yg mengeluarkan angin dari kemaluannya: "Apa pun yg keluar dari dua jalan (dubur dan kemaluan) adalah membatalkan wudhu." Al Qadhi mengatakan: "Keluarnya angin dari dzakar laki-laki dan kemaluan wanita adalah membatalkan wudhu."

(Al Mughniy, 1/125)

2. TIDAK BATAL

Ini merupakan pendapat Hanafiyah dan Malikiyah.

Imak Ibnu 'Abidin Rahimahullah mengatakan:

لا – ينقض - خروجُ ريح مِن قُبُل وَذَكر ؛ لأنه اختلاج ؛ أي ليس بريح حقيقة ، ولو كان ريحا فليست بمنبعثة عن محل النجاسة فلا تنقض

Tidaklah membatalkan wudhu angin yg keluar dari kemaluan laki-laki dan perempuan, karena itu bukanlah angin yang sebenarnya, kalau pun itu angin itu bukankah berasal dari tempat bersemayamnya najis.

(Raddul Muhtar, 1/136)

Al 'Allamab Ad Dardir Al Malikiy Rahimahullah mengatakan:

إذا خرج الخارج المعتاد من غير المخرجين ، كما إذا خرج من الفم ، أو خرج بول من دبر ، أو ريح من قبل ، ولو قبل امرأة ، أو من ثقبة ، فإنه لا ينقض

Jika ada sesuatu keluar  yg biasa bukan berasal dari dua jalan keluar, seperti keluarnya dari mulut, atau kencing dari dubur, atau angin dari kemaluan, walau kemaluan wanita, atau walau dr lubang kencingnya, maka itu tidak membatalkan wudhu.

(Asy Syarhul Kabir, 1/118)

Mana yg kita ambil? Pendapat pertama lebih hati-hati untuk diambil. Sesuai hadits:

لَا وُضُوءَ إِلَّا مِنْ صَوْتٍ أَوْ رِيحٍ

Tidak ada wudhu kecuali dikarenakan suara atau angin. (HR. At Tirmidzi no. 74, katanya: hasan shahih)

Tapi, jika sudah menjadi penyakit yg tidak bisa dikontrol, semoga itu dimaafkan dan bisa diambil pendapat kedua.

Demikian. Wallahu A'lam