Agoes Salim, Rencana Snouck, dan Doa Ibu Antara Batavia dan Mekkah - Bagian Pertama

Ketika menyisiri halaman pada buku Batavia saya terhenti pada halaman gedung Gymnasium Willem III yang sekarang menjadi bagian dari kompleks Gedung Perpustakaan Nasional, Salemba. Seingat saya Agoes Salim pernah sekolah di sini. Lalu, saya terbawa mundur ke waktu yang lalu.

Pahlawan nasional Agoes Salim dilahirkan dengan nama Masjhoedoelhak Salim (مشهود الحق سليم) di Kota Gadang, 8 Oktober 1884, Sumatera Barat. Beliau lahir dari ayah, Soetan Mohammed Salim seorang pejabat hakim (Kadi) di Tanjung Pinang, Riau. Sebagai pegawai Belanda, ayahnya  melawan tradisi Minang yang cenderung menjauhi institusi Belanda sejak kekalahan Perang Paderi, dengan menyekolahkan Agus Salim muda ke sekolah Belanda.

Mendapatkan perhatian dari guru Belandanya, Salim  mengadopsi nama Eropa dengan julukan August, kemudian menjadi Agus. Agus Salim meneruskan sekolah ke Gymnasium Willem III di Weltevreden, Batavia, yang telah dibuka sejak 1860. Sekolah elit ini diperuntukkan bagi anak keluarga Eropa yang berpenghasilan menengah serta dari kalangan Eurasia yang mukim di Batavia, Hindia Belanda.

Pada tahun 1901, setelah melalui proses yang panjang, pidato Ratu Wilhelmina menyinggung pentingnya perhatian pada kesejahteraan koloni Belanda, khususnya pulau Jawa. Sebuah pidato yang melahirkan kebijakan yang kemudian dikenal luas sebagai Ethical Policy, Kebijakan Etis. Tentu ada tujuan terselubung, mengingat kebijakan ini tidak lepas dari masukan Prof. Dr. Christiaan Snouck Hurgronje yang mengepalai urusan kepribumian di Hindia Belanda sejak 1891.

Tujuan terselubung Snouck adalah menimbulkan "emansipasi pendidikan" agar pribumi Indonesia  keluar dari, apa yang ia istilahkan, varian Islam Abad Pertengahan. Snouck Hurgronje yang telah menghabiskan banyak waktu memata-matai jama'ah haji Hindia Belanda ketika ia ditugaskan di Jeddah pada akhir dekade 1880an.  Bahkan Snouck tidak segan berpura-pura masuk Islam dengan nama Syeh Abdul Gafar dan belajar Islam untuk mengelabui petugas Turki Utsmani di Makkah.

Perangkat lainnya, sebagai penguat dari tujuan Snouck Hurgronje di atas menurut Prof. Dr. Husnul Aqib Suminto (1985:4-6) adalah dengan  mengangkat dan menguatkan kembali kepala adat serta adat-istiadat lokal pra-Islam untuk  membenturkannya dengan sekaligus  menggerus peran ulama dalam menanamkan Islam sebagai sendi kebudayaan Indonesia.

Dalam kehidupan intelektual, Agus Salim sempat terpana dengan dr. Abdul Rivai, juga asal Sumatera Barat, yang mengepalai majalah bulanan Bintang Hindia. Dr. Abdul Rivai menggagas pemikiran Bangsawan Pikiran (intellectual aristocrats) yang sejalan dengan tujuan emansipasi pendidikan ala Snouck Hurgronje. Pemikiran dr. Abdul Rivai digandrungi oleh siswa pribumi yang bersekolah di institusi pendidikan Belanda. Bahkan Agus Salim pernah bertekad untuk sekolah di Belanda mengikuti jejak dr. Abdul Rivai pujaannya. Bahkan menurut Cote (1992), Kartini pun pernah terkesima dengan dr. Abdul Rivai.

Agus Salim yang lulus dari KW III School, nama lain Gymnasium Willem, sebagai siswa terbaik mendapatkan perhatian dari HCC Clockener Brousson. Brousson adalah rekan Rivai yang bekerja di Batavia. Brousson pernah menulis satu kolom khusus tentang Agus Salim pada Bintang Hindia dengan pujian: "Seorang pemuda yang periang dengan cita-cita hidup yanh tinggi dengan bakat yang nampak sebagai pembelajar cepat" Bintang Hindia vol. 1, no. 20, terbit 3 Oktober 1903.
Hati-hati terhadap pujian!

Dengan segudang prestasi serta keternamaan, Agus Salim muda belum juga mendapatkan peluang sekolah ke Belanda yang ia idamkan. Atas saran dari Snouck Hurgronje untuk masuk ke Kantor Kolonial, Agus Salim diarahkannya untuk bekerja sebagai pegawai Belanda. Keluarganya merasa senang, ketika Agus Salim mendapatkan rekomendasi dari Snouck untuk magang sebagai trainee penerjemah (dragoman) di kantor Konsulat Hindia Belanda di Jeddah.

Pada awalnya, pejabat Residence Sumatera Barat, keberatan dengan rekomendasi Snouck Hurgronje ini. Hal itu disebabkan karena khawatir Agus Salim muda bertemu dengan kerabatnya,  Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi ulama Sumatera Barat yang mukim di Makkah, yang tekenal anti Belanda. Khusus untuk menjawab kekhawatiran ini, Prof. Dr. Snouck Hurgronje mewawancari Agus Salim muda.  Hasil beberapa kali wawancara khusus keislaman oleh profesor Orientalis yang juga Islamophobe tersebut menyimpulkan bahwa "Agus Salim tidak cukup Islami untuk terpengaruh oleh pamannya." Betapa kelirunya assessment Snouck Hurgronje kali ini!

Sebenarnya Agus Salim muda ragu-ragu untuk berangkat karena ia tahu betapa kecilnya gaji seorang trainee di Jeddah. Namun doa dan dukungan ibunya yang mendorongnya berangkat melalui Singapura.  Betapa berkahnya doa seorang ibu yang shalihah. Interaksi Agus Salim dengan Syekh Ahmad Khatib inilah yang kelak mengembalikan beliau dari pemikiran sekuler ala Belanda menuju nasionalis relijius yang kita lebih kenal atas beliau.

Agung Waspodo, menasihati dirinya bahwa doa, apalagi doa ibu, adalah senjata yang amat ampuh, the rest is history, selebihnya sudah kita kenal sebagai sejarah!

Depok, 7 Syawwal 1439 Hijriyah
---
Sumber:
* Laffan, Between Batavia and Mecca - Images of Agoes Salim from the Leiden University Library, 2003
* Merrilees, Batavia in Ninteenth Century Photographs, 2004
* Suminto, Politik İslam Hindia Belanda, 1985