Menyikapi Hadiah Non Muslim kepada Kita

Assalamu'alaikum, ustadz/ustadzah ....bagaimana menanggapi Undangan Imlek dr saudara atau tetangga? Keluarga jg ada turunan Cina

Jawaban
--------------

‌و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته

Sekitar th 2007 saya pernah tanya ke salah satu tokoh Etnis Tionghoa di Pontianak, bahwa Imlek itu bukan sekedar tahun baru atau budaya tapi ada nilai teologis dan ideologisnya, yaitu ada unsur keyakinan tertentu kpd dewa-dewa  Cina .. ​Maka, kita hrs berlepas diri dgn perayaan2 sprti itu, apa pun bentuknya​ ...

Ada pun menerima hadiah dari mereka .. pernah dibahas waktu bulan Desember lalu ..

💢💢💢💢💢💢
Ustadz
Bagaimana sikap terbaik dlm islam, terhadap tentangga kita yg akan merayakan natal
Mereka tetangga yg baik dan santun
Ketika lebaran, mereka berkunjung ke rumah kami.
Terkadang memberi makanan, apa boleh kami makan?
Kami belum tau makanan itu pesan atau buat sendiri, dan tidak tau apakah mereka meng konsumsi yg diharamkan dlm islam.
Mohon penjelasan ustadz🙏🏼
----------------------------------------
Bismillah wal Hamdulillah ..

Hendaknya tetap berbuat baik dalam  momen yg lain, yg bukan ritual keagamaan.

Menerima hadiah dari mereka saat hari raya mereka, selama makanan halal, barang halal, bukan makanan acara ritualnya, tidak apa-apa.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid  mengatakan:

أما قبول الهدية من الكافر في يوم عيده ، فلا حرج فيه ، ولا يعد ذلك مشاركة ولا إقرارا للاحتفال ، بل تؤخذ على سبيل البر ، وقصد التأليف والدعوة إلى الإسلام ، وقد أباح الله تعالى البر والقسط مع الكافر الذي لم يقاتل المسلمين ، فقال : ( لا يَنْهَاكُمُ اللَّهُ عَنِ الَّذِينَ لَمْ يُقَاتِلُوكُمْ فِي الدِّينِ وَلَمْ يُخْرِجُوكُمْ مِنْ دِيَارِكُمْ أَنْ تَبَرُّوهُمْ وَتُقْسِطُوا إِلَيْهِمْ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ ) الممتحنة/8.
لكن البر والقسط لا يعني المودة والمحبة ؛ إذ لا تجوز محبة الكافر ولا مودته ، ولا اتخاذه صديقا أو صاحبا

Ada pun menerima hadiah dari mereka saat hari rayanya, tidak apa-apa. Itu tidak dinilai ikut serta dalam perayaan dan menyetujui acara mereka.

Bahkan itu bisa dijadikan sarana kebaikan dan ajakan kepada Islam. Allah Ta'ala telah membolehkan berbuat baik dan adil kepada orang yang tidak memerangi kaum muslimin:

​Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.​ (QS. Al Mumtahanah: 8)

Tetapi berbuat baik dan adil bukan berarti menumbuhkan kasih sayang dan Mahabbah (cinta), sebab kasih sayang dan cinta terlarang kepada orang kafir, serta terlarang menjadikan sebagai sahabat dekat.

​(Fatawa Al Islam Su'aal wa Jawaab   no. 85108)​

Imam Ibnu Taimiyah mengatakan:

وأما قبول الهدية منهم يوم عيدهم فقد قدمنا عن علي بن أبي طالب رضي الله عنه أنه أتي بهدية النيروز فقبلها .

​Ada pun menerima hadiah dari mereka saat hari raya mereka, dulu kami telah jelaskan dari Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu 'Anhu bahwa dia diberikan hadiah pada hari raya Nairuz, dan dia menerimanya.​

​(Iqtidha Shirath al Mustaqim, Hal. 251)​

Ibnu Abi Syaibah menceritakan:

أن امرأة سألت عائشة قالت إن لنا أظآرا [جمع ظئر ، وهي المرضع] من المجوس ، وإنه يكون لهم العيد فيهدون لنا فقالت : أما ما ذبح لذلك اليوم فلا تأكلوا ، ولكن كلوا من أشجارهم

Bahwa ada seorang wanita bertanya kepada Aisyah, katanya: ​"Kami memiliki wanita-wanita yang menyusui anak kami, dan mereka Majusi, mereka memberikan kami hadiah."​

Aisyah menjawab: ​"Ada pun makanan yg disembelih karena hari raya itu (makanan ritual), maka jangan kalian makan, tetapi makanlah yang sayuran."​ ​(Ibid)​

​Bagaimana kalau kita yg memberikan hadiah?​

Jika tidak terkait hari raya tidak apa-apa, bahkan bagus untuk mendakwahkan mereka. Dahulu Aisyah ​Radhiyallahu 'Anha​  membawakan makanan kepada ibunya yang masih musyrik, dan Nabi ​Shallallahu 'Alaihi wa Sallam​ membolehkannya.

Tapi pemberian itu jika terkait hari raya, itu tidak boleh.

Syaikh Muhammad Shalih Al Munajjid menjelaskan:

يجوز للمسلم أن يهدي للكافر والمشرك ، بقصد تأليفه ، وترغيبه في الإسلام ، لاسيما إذا كان قريبا أو جارا ، وقد أهدى عمر رضي الله عنه لأخيه المشرك في مكة حلة (ثوبا) . رواه البخاري (2619).

​Boleh bagi seorang muslim memberikan hadiah kepada orang kafir dan musyrik, dengan tujuan mengikat hatinya dan mengajaknya kepada Islam. Apalagi jika dia kerabat dekat atau tetangga. Umar bin Khattab Radhiyallahu Anhu pernah memberikan hadiah kepada saudaranya yg musyrik di Mekkah. (HR. Bukhari no. 2619)​

لكن لا يجوز أن يهدي للكافر في يوم عيد من أعياده ، لأن ذلك يعد إقرارا ومشاركة في الاحتفال بالعيد الباطل .

_Tapi tidak boleh memberikan hadiah kepada orang kafir di hari raya me

reka. Sebab itu dihitung sebagai ikut serta dan pengakuan atas acara hari raya mereka yg batil._

وإذا كانت الهدية مما يستعان به على الاحتفال كالطعام والشموع ونحو ذلك ، كان الأمر أعظم تحريما ، حتى ذهب بعض أهل العلم إلى أن ذلك كفر .

​Jika hadiah itu dapat membantu perayaan tersebut baik berupa makanan, minuman, dan lainnya. Maka, itu keharamannya besar, sampai ada sebagian ulama berpendapat ini adalah kafir.​

​(Fatawa Al Islam Su'aal wa Jawaab   no. 85108)​

📓 Jadi, kesimpulannya:

- Secara umum menerima atau memberi hadiah kepada non muslim boleh, selama barang dan makanan halal

- Termasuk menerima hadiah dr mereka saat hari raya mereka, selama harta dan makanan halal, bukan barang dan makanan ritual. Ini tidak termasuk ikut membantu acara mereka.

- Kecuali memberikan hadiah saat mereka hari raya, ini terlarang. Sebab termasuk membantu mensukseskan acara mereka.
Demikian.

Wallahu a'lam.


0 Response to "Menyikapi Hadiah Non Muslim kepada Kita"

Post a Comment