Membangun Optimisme Keluarga Muslim

Allah berfirman dalam surat Ash-Syu'ara' ayat 18 :

قَالَ اَلَمْ نُرَبِّكَ فِيْنَا وَلِيْدًا وَّلَبِثْتَ فِيْنَا مِنْ عُمُرِكَ سِنِيْنَۙ

"Dia (Fir‘aun) menjawab, “Bukankah kami telah mengasuhmu dalam lingkungan (keluarga) kami, waktu engkau masih kanak-kanak dan engkau tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu".

Inilah keluarga Fir'aun. Terdiri atas Ayah yang kafir. Ibu yang taat kepada perintah Allah dan anak yang militan.

Kisah tersebut disampaikan Allah untuk membangun optimisme bagi kaum muslimin. Anak anak harus terus diasah keimanan nya meski apapun halangannya.

Anak anak Islam pastilah lahir dari keluarga Islam. Bila ada anak Islam yang lahir dari keluarga kafir, maka itu adalah hal diluar kelaziman. Dan hanya terjadi beberapa saja dalam kehidupan yang kita temui. Semakin banyak anak anak Islam yang kita inginkan, maka semakin perlu dan urgent membentuk Keluarga Islam.

Keluarga adalah tempat pertama anak anak belajar tentang aturan kehidupan, bercermin dari aturan keluarga. Ada the rule of family yang menjadi bagian ketentuan agama. Aturan Islam yang dikenal anak anak dalam keluarga, akan menumbuhkan kemampuan anak menyelami samudra hikmah dan indahnya Islam. Melihat Islam sebagaimana kebahagiaan yang dirasakan setelah melakukan berbagai aturan itu.

Dari sebuah keluarga, seorang anak akan melihat bagaimana orangtuanya shalat, berpuasa, tilawah Al Qur’an dan lain sebagainya. Sebuah keluarga yang sakinah, mawaddah dan warahmah akan senantiasa menanamkan iman dan membentuk anak-anaknya menjadi pribadi dengan akhlak dan budi pekerti yang baik terutama saat bergaul dalam masyarakat.

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمً

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS Al Isra’ ayat 23).

Berbuat baik kepada ibu bapak di ayat 23 surat Al Isra’, merupakan perintah yang menjadi landasan rule of family. Bayangkan dengan sikap tersebut akan tumbuh kedamaian dan kemuliaan jiwa. Membangun pribadi bermartabat karena akhlaknya.

Keluarga adalah orang terdekat bagi setiap manusia dan tempat mencurahkan segala isi hati maupun masalah. Keluarga juga merupakan tempat berkeluh kesah bagi setiap anggotanya karena hanya keluargalah yang akan - dan senantiasa, memberikan perhatian kepada setiap orang meskipun keadaan keluarga setiap orang memiliki keunikan sendiri.

Dalam Al Qur’an disebutkan bahwa keluarga yang sakinah adalah keluarga yang dipenuhi dengan ketentraman dan ketenangan hati. Dihidupkannya bayangan tentang surga dan juga gambaran tentang neraka, untuk semakin menguatkan fokus tujuan dari berkeluarga.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ

Hai orang-orang beriman ! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari (kemungkinan siksaan) api neraka, yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya adalah para malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan (QS. At Tahrim ayat 6).

Dari ayat tersebut diatas, terasa benar bahwa penjaga neraka saja adalah malaikat yang selalu menjaga dan taat perintah. Meski perintah tersebut tidak enak yaitu menjaga neraka. Namun ini tetap dilakukan untuk mencegah penghuni neraka keluar dari rumah api yang besar yang terdiri dari unggun api disetiap sudutnya. Sehingga rasa tak enak dari gambaran ini diharapkan menumbuhkan rasa ngeri dalam diri keluarga. Ketakutan yang sifatnya positif. Positif karena produktif dalam membangun karakter taat.

Produktif untuk melahirkan amal yang baik baik. Menjaga nama baik keluarga. Menjadi agen kebaikan. Menyebarluaskan kebaikan dengan publikasi dan promosi kebaikan, dari keluarga baik di sekitar lingkungan. Menyengat setiap pendengar dan penonton untuk megikuti jejak kebaikan.

QS Ali-Imran ayat 33

اِنَّ اللّٰهَ اصْطَفٰۤى اٰدَمَ وَنُوْحًا وَّاٰلَ اِبْرٰهِيْمَ وَاٰلَ عِمْرٰنَ عَلَى الْعٰلَمِيْنَۙ

Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga Imran melebihi segala umat (pada masa masing-masing).

Salah satu jejak kebaikan itu adalah kebahagiaan yang ditampilkan dalam rangka mengajak orang untuk menikah. Mengajak berpikir bahwa memiliki keturunan yang baik dan saleh sangat melipatgandakan kebahagiaan. Bukan hanya kebahagiaan yang sifatnya kekinian dan kedisinian saja. In syaa Allah kebahagiaan itu hingga berkumpul kembali di jannah.

Hari ini kita melihat keluarga Islam yang demikian sejuk dan menyejukkan, mulai menjamur. Seperti jamur yang tumbuh di musim hujan. Menjadi energi baru bagi peradaban yang mulai menggeliat bangkit. Anak anak yang gemar tilawah didampingi keluarganya. Keluarga keluarga yang bersemangat agar hadir satu orang penghafal Al Qur’an di rumah rumah mereka.


0 Response to "Membangun Optimisme Keluarga Muslim"

Post a Comment