Berkata Baik atau Diam​

Assalamu 'alaikum warahmatullah,

Alhamdulillah, washshalatu wassalamu 'ala rasulillah, wa 'ala alihi washahbihi wa man walahu, laa haula wa laa quwwata illaa billah,

Materi yang akan dibahas kali ini adalah

Berkata yang baik atau diam
Studi kasus: Komika

🍂 ​Al-Qur'an

Pertama kita coba tadabburi 3 (tiga) ayat Allah:

➡ ​Surat Al-Isra’ [17] ayat 36:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَٰئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُوولًا

‘Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggung-jawaban.’

➡ ​Surat Qaf [50] ayat 18:

مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ

‘Tiada suatu kalimat pun yang diucapkan melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.’

➡ ​Surat Al-Infithar [82] ayat 10-12:

وَإِنَّ عَلَيْكُمْ لَحَافِظِينَ( )كِرَامًا كَاتِبِينَ( )يَعْلَمُونَ مَا تَفْعَلُونَ

‘Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu), yang mulia (di sisi Allah), dan yang mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.’

🌙 Dari ketiga ayat ini Allah ﷻ menguatkan hamba-Nya agar menghadirkan perasaan selalu diawasi oleh-Nya, dan keyakinan bahwa setiap geraknya ada yang mencatat, yakni malaikat yang mulia lagi taat.

🍃 ​As-Sunnah

➡ ​Dari Sahl bin Sa’id r.a., Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَنْ يَضْمَنَّ لِي مَابَيْنَ لِحْيَيْهِ وَمَا بَيْنَ رِجْلَيْهِ أَضْمَنْ لَهُ الْجَنَّةَ

“Barang siapa bisa memberikan jaminan kepadaku (untuk menjaga) sesuatu yang ada di antara dua janggutnya dan dua kakinya, kuberikan kepadanya jaminan masuk surga.”​ (HR. Al-Bukhari No. 6474)

➡ ​Dari Abu Hurairah r.a., Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”​ (HR. Al-Bukhari No. 6018)

➡ ​Dari Abdullah ibn ‘Umar r.a., Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ

“Seorang muslim adalah seseorang yang orang muslim lainnya selamat dari ganguan lisan dan tangannya.”​ (HR. Al-Bukhari No. 10)

💫 Dari ketiga hadits yang mulia ini, Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan kepada kita akan nikmat Allah berupa otot yang paling kuat dalam jasad, yakni lidah. Keberadaannya akan membawa manusia ke Jannah, tapi keberadaannya pun dapat membawa manusia ke Neraka.

🌾 Jika dihayati lebih mendalam, setiap muslim jika mengikuti tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka akan membawa dirinya pada sosok manusia cerdas (al-kayyis), karena terbiasa dengan:

Berpikir dahulu sebelum berbicara, bukan berbicara dahulu baru kemudian berpikir.

Para 'ulama telah mengingatkan kita dengan kata-kata mutiaranya yang luar biasa,

1⃣ Banyak yang menyesal karena bicara dan sedikit yang menyesal karena diam (Ibn Hibban)

2⃣ 🌾 Jika dihayati lebih mendalam, setiap muslim jika mengikuti tuntunan Al-Qur'an dan As-Sunnah, maka akan membawa dirinya pada sosok manusia cerdas (al-kayyis), karena terbiasa dengan:

Berpikir dahulu sebelum berbicara, bukan berbicara dahulu baru kemudian berpikir.

Para 'ulama telah mengingatkan kita dengan kata-kata mutiaranya yang luar biasa,

1⃣ Banyak yang menyesal karena bicara dan sedikit yang menyesal karena diam (Ibn Hibban)

2⃣ Dia perlu menyadari bahwa dia diberi dua telinga, sedangkan diberi hanya satu mulut, supaya dia lebih banyak mendengar daripada berbicara. (Ibn Hibban)

3⃣ Apabila seseorang tengah berbicara maka perkataan-perkataannya akan menguasai dirinya. Sebaliknya, bila tidak sedang berbicara maka dia akan mampu mengontrol perkataan-perkataannya.

Jika demikian adanya, bolehkah kita menggunakan lisan ini untuk bercanda?

Terdapat beberapa keterangan tentang senangnya Nabi ﷺ bercanda,

➡ Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ الْعَبْدُ الإِيمَانَ كُلَّهُ حَتَّى يَتْرُكَ الْكَذِبَ فِى الْمُزَاحَةِ وَيَتْرُكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ صَادِقاً

“Seseorang tidak dikatakan beriman seluruhnya sampai ia meninggalkan dusta saat bercanda dan ia meninggalkan debat walau itu benar.”​ (HR. Ahmad 2:352)


➡ Dari ‘Abdullah ibn Umar r.a., Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

إِنِّي لأَمْزَحُ , وَلا أَقُولُ إِلا حَقًّا

“Aku juga bercanda namun aku tetap berkata yang benar.”​ (HR. Thabrani dalam Al-Kabir 12: 391)

➡ Dari ayah dari Bahz bin Hakim r.a., Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

لاَ تُكْثِرُ الضَّحَكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحَكِ تُمِيْتُ القَلْبَ

“Celakalah bagi yang berbicara lantas berdusta hanya karena ingin membuat suatu kaum tertawa. Celakalah dia, celakalah dia.”​ (HR. Abu Daud no. 4990)


➡ Dari Abu Hurairah r.a., Nabi Muhammad ﷺ bersabda,

لاَ تُكْثِرُ الضَّحَكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحَكِ تُمِيْتُ القَلْبَ

“Janganlah banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan hati.”​ (Shahihul Jami’ no. 7345)

💫 Bercanda ternyata dibutuhkan agar hidup tidak monoton, membangkitkan semangat, menguatkan persaudaraan, meningkatkan rasa cinta, dan menghilangkan kepenatan, rasa bosan, dan kelesuan, sehingga hidup lebih bergairah. Namun Islam juga mengingatkan bahwa terlalu sering bercanda, bahkan menyebabkan gelak tawa yang berlebihan justeru akan mematikan hati, pada saat itu hati menjadi keras, dan khawatir sulit menerima ilmu.

Pada akhirnya, segala sesuatu yang terlalu kurang dan terlalu lebih menyebabkan ketidakseimbangan.

Terakhir, Ibn Hibban pernah berkata, "Menarik diri dari perkataan yang belum diucapkan itu lebih mudah daripada menarik perkataan yang telah terlanjur diucapkan."

Bagaimana agar bercanda menjadi indah dalam Islam?

1. Meluruskan Tujuan
Seperti jika melihat ummahat yang sedang sedih, bimbang, galau, maka hendaknya ada yang datang untuk membahagiakannya dari sahabat wanitanya.

2. Jangan Melewati Batas
Batasi secukupnya hingga sahabat kita kembali riang gembira dan terbuka.

3. Pastikan mereka senang dicandai
Jangan lakukan untuk mereka yang baru antum kenal, lihat juga situasi yang tepat.

4. Jangan bercanda pada hal yang serius
Jangan lakukan jika situasi sedang membahas hal yang serius karena menjadi perkara yang kontra produktif.

5. Jangan menakut-nakuti
Tidak boleh bercanda seperti menyembunyikan sepatu, senjata perang, atau barang-barang yang dimiliki sehingga lahir ketakutan.

6. Tinggalkan berdusta
Jangan berdusta.

7. Jangan melecehkan agama
Jangan menjadikan agama sebagai permainan.

Lihat Q.S. At-Taubah [9] ayat 64-65:

يَحۡذَرُ ٱلۡمُنَٰفِقُونَ أَن تُنَزَّلَ عَلَيۡهِمۡ سُورَةٞ تُنَبِّئُهُم بِمَا فِي قُلُوبِهِمۡۚ قُلِ ٱسۡتَهۡزِءُوٓاْ إِنَّ ٱللَّهَ مُخۡرِجٞ مَّا تَحۡذَرُونَ ٦٤ وَلَئِن سَأَلۡتَهُمۡ لَيَقُولُنَّ إِنَّمَا كُنَّا نَخُوضُ وَنَلۡعَبُۚ قُلۡ أَبِٱللَّهِ وَءَايَٰتِهِۦ وَرَسُولِهِۦ كُنتُمۡ تَسۡتَهۡزِءُونَ ٦٥

64. Orang-orang yang munafik itu takut akan diturunkan terhadap mereka sesuatu surat yang menerangkan apa yang tersembunyi dalam hati mereka. Katakanlah kepada mereka: "Teruskanlah ejekan-ejekanmu (terhadap Allah dan rasul-Nya)". Sesungguhnya Allah akan menyatakan apa yang kamu takuti itu
65. Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentu mereka akan menjawab, "Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja". Katakanlah: "Apakah dgn Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?

Sebagai kesimpulan:
°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°°
🔸 ​Silahkan bercanda namun jagalah diri dengan Adab Bercanda.

🔹 ​Meraih ridha Allah melahirkan kemuliaan, meraih ridha manusia melahirkan kehinaan.