Anak Orang Kreta jadi Pahlawan

Mustafa Ertuğrul Bey lahir tahun 1893 di kota Hanya (Hania), Pulau Kreta (Crete), empat tahun sebelum pemberontakan terakhir kaum Orthodox-nya. Kedua orangtuanya Muslim asli dari pulau tersebut. Islam masuk kembali ke Pulau Kreta pada tahun 1669 dibawa Turki Utsmani.  Keluarganya memutuskan untuk hijrah ke İstanbul pada tahun 1903, tiga tahun sebelum pulau tersebut bergabung dengan negara Yunani.

Lesson #1 Doa orangtua adalah keberkahan.

Nasib baik membawa Mustafa Ertuğrul menjadi kadet pada Akademi Militer Turki Utsmani di İstanbul sebelum terlibat dalam Perang Dunia Pertama dan mendapat tugas sebagai perwira artileri di pesisir selatan Turki. Wilayah ini merasakan pemberontakan etnis Yunani pada akhir tahun 1916 karena kekalahan mulai mendera Turki Utsmani. Pemberontak semakin berani dengan adanya pendaratan pasukan Perancis di Pulau Castellorizo. Memasuki bulan Januari pasukan tersebut membutuhkan logistik jika akan terus menyerbu pantai selatan Turki.

Menurut Liman von Sanders dalam otobiografinya "Lima Tahun di Turki" , elemen militer Jerman pada tubuh AB Turki Utsmani bekerja keras untuk menangkal ancaman serius ini. Putusnya jalur logistik di garis belakang ini maka mengancam keberadaan seluruh balatentara khalifah Turki Utsmani di Irak, Syam, Palestina, Hijaz, hingga Yaman.

Liman von Sanders pada bab 12 menyebutkan operasi khusus memindahkan meriam howitzer serta meriam gunung dari stasiun kereta-api Baladis ke kota Kas untuk menangkal pendaratan Perancis tersebut. Tentu dengan lebih memuji perwira Jerman serta sedikit sekali mengapresiasi pihak Turki Utsmani, Liman von Sanders menerangkan betapa sulitnya proses pemindahan meriam tersebut. Beruntung bahwa meriam tersebut telah siap pada tanggal 6 Januari 1917 dengan mendatangkan 400 unta untuk menggendong amunisi melintasi pegunungan yang terjal.

Lesson #2 Jangan takut kepada ancaman lawan, jadikan itu sebagai tantangan yang menguji kesiapan dan kesigapan kita.

Kapal AL Inggris yang bernama Ben-My-Chree ditugaskan mengirim suplai ke pulau tersebut dikawal kapal perusak Ariadne milik AL Perancis. Kapten kapal Ben-My-Chree, Charles Sampson, pada awalnya menolak merapat karena pelabuhan Castellorizo menghadap ke utara sehingga terlihat jelas dari posisi artileri Turki di kota Antifilo/Antiphellos (sekarang Kas). Namun perintah atasan tidak dapat ditolak, kapal tersebut merapat ke dermaga dan masuk jarak tembak artileri yang pada tanggal 9 Januari 1917 itu dipimpin oleh Mustafa Ertuğrul Bey. Beliau memiliki beberapa perwira teknis Jerman di bawah kesatuannya seperti Mayor Schmidt-Kelbow, Kapten Schuler, Letnan Satu Hesselberger, dan Kapten Ittman.

Lesson #3 Belajarlah memimpin karena itu bisa dibutuhkan sewaktu-waktu dan sepanjang waktu.

Mulai pukul 14:10 tembakan meriam pantai kaliber 105 mm menembaki Ben-My-Chree. Melalui tembakan bracket berikutnya berhasil mengenai hangar bekas penyimpanan pesawat dan menimbulkan api. Ben-My-Chree memang pernah dipakai sebagai kapal induk oleh AL Inggris dalam pendaratan di Gallipoli yang gagal pada tahun 1915. Kapal ini juga dilibatkan dalam operasi dukungan terhadap pemberontakan Syarif Hussein ibn Ali al-Hasyimi di Hijaz terhadap kekhilafahan Turki Utsmani tahun 1916-1917. Semakin banyak tembakan yang mengenai Ben-My-Chree sehingga kapten kapal memerintahkan awaknya meninggalkan kapal pada pukul 14:45. Kapal naas ini tenggelam ke dasar teluk yang dangkal sehingga anjungannya masih menyembul di atas permukaan laut.

Lesson #4 Berlatihlah membidik senjata karena itu adalah sunnah Nabi Muhammad ShalalLaahu 'alayhi wa Sallam sekaligus keterampilan yang tidak mungkin dikuasai secara cepat.

Atas jasanya ini, Mustafa Ertuğrul Bey mendapat berbagai bintang jasa. Setelah runtuhnya kekhilafahan Turki Utsmani ia bergabung dengan pasukan kemerdekaan dibawah Mustafa Kemal. Dalam Perang melawan pendudukan Yunani tahun 1919-1922, beliau ditugaskan di wilayah Aydın, khususnya memobilisasi milisi bandit terkenal pimpinan Demirci Mehmet Efe. Pada tahun 1919 ia terluka akibat sergapan Yunani dan terpaksa istirahat di Antalya sebagai legiun cacat veteran.

Lesson #5 Tidak semua kita wafat di medan laga, namun semua kita berpeluang syahid.

Mustafa Ertuğrul Bey menikahi anak komandannya, Şefik Aker Bey. Ketika undang-undang Nama Belakang tahun 1934 ditetapkan. Beliau mengambil nama mertuanya menjadi Mustafa Ertuğrul Aker. Beliau wafat pada tahun 1964.

Agung Waspodo , mengucapkan alhamdulillah untuk pagi yang produktif.
Depok, 19 Januari 2018
---

Referensi:

Lardas, Mark. World War I Seaplane and Aircraft Carriers, London: Osprey Publishing, 2016.

von Sanders, Liman. Five Years in Turkey, Annapolis: United States Naval Institute, 1927.