Mengolah Jiwa dalam Kebersamaan


© Sunatullah dalam kehidupan manusia yakni hidup berdampingan dengan sesama. Kita tahu kedudukan manusia sebagai makhluk sosial tak pernah lepas dari keberadaannya dengan manusia lainnya. Maka belajar untuk senantiasa menyesuaikan dirinya dengan keadaan sekitarnya menjadi keharusan. Lantaran keadaan yang hadir berbeda dengan yang kita harapkan sehingga memengaruhi rasa dan mengusik kenyamanan.

▪Maka bukanlah keadaan yang selalu dipaksa menyesuaikan diri kita tapi rasa dan suasana hatilah yang seharusnya menyelaraskan. Ada beberapa hal yang harus kita matangkan dari diri kita. Mengolah jiwa memang tak mudah. Karena mengubahnya tak cukup dengan ilmu atau buku yang senantiasa kita pelajari. Namun terkadang kehidupanlah yang mengajari kita untuk mengubah diri. Inilah tarbiyah Allah yang secara langsung bisa kita rasakan. Kadang bertemu dengan ujian, cobaan, masalah, musibah, banyak kesulitan yang dihadirkan ternyata mampu menjadi sarana belajar bagi manusia untuk mengolah jiwanya.

© Berakhlak dalam kebersamaan ini yang jadi suri tauladan adalah Rasulullah. Beliau lah yang menjadi penerjemah utama dari isi Al-Quran. Luhur budi dalam sehari-hari seolah menjadi cermin bagi kita menapaki hidup ini.

▪Indah bila kita bisa meniru akhlak Rasulullah. Jiwanya terolah dengan baik karena tempaan langsung dari Allah. Beliau mengajarkan kesantunan, kasih sayang, dan berkawan penuh kehangatan. Kehidupan beliau yang jauh dari kata keji, caci maki yang justru akan menghinakan diri.

© Bahkan pelajaran berharga yang bisa kita petik. Bila kebaikan hadir wajar bila kita membalas dengan kebaikan. Namun bila keburukan datang menyapa kehidupan tetap beliau balas dengan kebaikan.

▪Masya Allah ...
Mengolah jiwa selayaknya Rasulullah membuat hidup dengan siapa pun tak menjadi persoalan. Bahagia didapatkan, keberkahan bisa dirasakan dan kemuliaan pun akan diraihnya. Mari menjadi manusia yang adanya ingin menghadirkan bahagia bagi sesama serta kerukunan hidup akan tercipta.

© Dan jangan lupa bahwa pangkal dari keruhnya masalah bermula dari sepotong lidah. Imam Abu Hatim Ibnu Hibban Al-Busti berkata dalam kitabnya Raudhah Al-‘Uqala wa Nazhah Al-Fudhala hal. 49,

“Lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan bebicara, tetapi apabila tidak bermanfaat, maka dia akan diam. Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti tidak paham terhadap agamanya”.

▪Semoga kita menjadi pribadi yang bersahaja dalam perjalanan ukhuwah Islamiyah ini.

Wallahu A'lam

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Dipersembahkan oleh: manis.id

๐Ÿ“ฒSebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
๐Ÿ“ฑ Telegram: @majelismanis
๐Ÿ–ฅ Fans Page: @majelismanis
๐Ÿ“ฎ Twitter: @majelismanis
๐Ÿ“ธ Instagram: @majelismanis
๐Ÿ•น Play Store
๐Ÿ“ฑ Join Grup WA