Al-Waqtu 'indanā juz-un min al-'ilāj​​ (Waktu bagi kita adalah bagian dari solusi)


​​Waktu bagi kita adalah bagian dari solusi​​

📌 Manusia hidup dibatasi waktu, sehingga jangan sampai sekedar hilang ditelan waktu, namun muliakan waktu dengan perencanaan yang matang.

🌹Nabi Muhammad ﷺ pernah berpesan:

أَعْمَارُ أُمَّتِـي مَا بَيْنَ السِّتِّيْنَ إِلَى السَّبْعِيْنَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

​“Umur-umur umatku antara 60 hingga 70 tahun, dan sedikit orang yg bisa melampaui umur tersebut”​ (HR. Ibnu Majah No. 4236)

📚 Hadits ini berkorelasi dengan taujih Rabbani dalam surat Al-Hasyr [59] ayat 18:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

​“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan“.​

📌 60 tahun menjadi target akhir hidup manusia, di antara target terbaik tentunya menemukan ​husnul khatimah​ pada batas akhir waktu hidup di dunia, di antaranya semoga mudah mengucapkan kalimat tauhid dan sedang berprasangka baik kepada Allah ﷻ, sebagaimana pesan-pesan Nabawiyah.

📌 Menuju target besar di atas, Allah ﷻ mengingatkan manusia untuk membuat target-target medium, karena tidak ada kesuksesan yang bersifat instan, maka sebelum itu, manusia diarahkan untuk sukses di usia 40 tahun.

📚 Allah ﷻ berfirman dalam surat Al-Ahqāf [46] ayat 15:

وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ إِحْسَانًا ۖ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ كُرْهًا وَوَضَعَتْهُ كُرْهًا ۖ وَحَمْلُهُ وَفِصَالُهُ ثَلَاثُونَ شَهْرًا ۚ حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي ۖ إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

​Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai ​40 tahun​ dia berdoa,​

​“Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridhai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. ​Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.”​​

📌 Tadabbur memahamkan setiap manusia bahwa periodisasi kehidupannya terbagi atas 3 tahapan, masing-masing 20 tahun: Periode Fokus Menuntut Ilmu, Mengamalkan Ilmu hingga ditutup dengan Menyebarkan Ilmu

📌 Tugas manusia adalah menghadirkan kesuksesan pada setiap tahapan, karena memang hidup manusia penuh dengan tahapan, sebagaimana Surat Al-Insyiqaq [84] ayat 19:

لَتَرْكَبُنَّ طَبَقًا عَنْ طَبَقٍ

​sungguh, akan kamu jalani tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).​

📌 Tiada kesuksesan besar kecuali berawal dari kesuksesan di setiap tahapannya. Tiada tahapan kecuali mengandung program. Tiada program kecuali karena kuat perencanaan. Adanya perencanaan tidak menjadikan manusia seperti air yang mengalir, namun sebaliknya justeru penuh semangat dalam menjalani program kehidupan yang disusunnya sehingga kelelahan demi kelelahan pun dilaluinya, karena ia sadar kematian adalah istirahat panjangnya menuju Yaumul Hisab. Di waktu yang panjang itu kelak, ia ingin terus menerus memperoleh rizqi dari Rabb-Nya.

📌 Bersabarlah melalui waktu yang sebentar karena waktu dalam cara pandang kita bagian dari cara Allah mematangkan akal, hati dan jasad manusia, sehingga ruh meninggalkan jasad dalam penuh keridhoan, insya Allahu Ta'āla.

Yassirlanā,

Akhukum fiddin,
@supraha

0 Response to "Al-Waqtu 'indanā juz-un min al-'ilāj​​ (Waktu bagi kita adalah bagian dari solusi)"

Post a Comment

loading...
loading...