RIYADHUS SHALIHIN (36)​


๐Ÿ“• ​Bab Sabar - Seni Bersabar & Menyabarkan​

​Hadits:​

ูˆุนู† ุฃู†ุณٍ - ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ - ، ู‚َุงู„َ : ูƒَุงู†َ ุงุจู†ٌ ู„ุฃุจูŠ ุทَู„ْุญَุฉَ - ุฑุถูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู†ู‡ - ูŠَุดุชَูƒِูŠ ، ูَุฎَุฑَุฌَ ุฃุจُูˆ ุทَู„ْุญَุฉَ ، ูَู‚ُุจِุถَ ุงู„ุตَّุจูŠُّ ، ูَู„َู…َّุง ุฑَุฌَุนَ ุฃَุจُูˆ ุทَู„ْุญَุฉَ ،
ู‚َุงู„َ : ู…َุง ูَุนَู„َ ุงุจْู†ِูŠ ؟ ู‚َุงู„َุชْ ุฃู…ُّ ุณُู„َูŠู… ูˆَู‡ِูŠَ ุฃู…ُّ ุงู„ุตَّุจูŠِّ : ู‡ُูˆَ ุฃَุณْูƒَู†ُ ู…َุง ูƒَุงู†َ ، ูَู‚َุฑَّุจَุชْ ุฅู„ูŠู‡ ุงู„ุนَุดَุงุกَ ูَุชَุนَุดَّู‰ ، ุซُู…َّ ุฃَุตَุงุจَ ู…ู†ْู‡َุง ، ูَู„َู…َّุง ูَุฑَุบَ ، ู‚َุงู„َุชْ : ูˆَุงุฑُูˆุง ุงู„ุตَّุจูŠَّ ูَู„َู…َّุง ุฃَุตْุจุญَ ุฃَุจُูˆ ุทَู„ْุญَุฉَ ุฃَุชَู‰ ุฑุณูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ูَุฃุฎْุจَุฑَู‡ُ ،

ูَู‚َุงู„َ : ุฃุนَุฑَّุณْุชُู…ُ ุงู„ู„َّูŠู„َุฉَ ؟
ู‚َุงู„َ : ู†َุนَู…ْ ، ู‚َุงู„َ : ุงู„ู„َّู‡ُู…َّ ุจَุงุฑِูƒْ ู„َู‡ُู…َุง، ูَูˆَู„َุฏَุชْ ุบُู„ุงู…ุงً ، ูَู‚َุงู„َ ู„ูŠ ุฃَุจُูˆ ุทَู„ْุญَุฉَ : ุงุญْู…ِู„ْู‡ُ ุญَุชَّู‰ ุชَุฃْุชِูŠَ ุจِู‡ِ ุงู„ู†َّุจูŠَّ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ، ูˆَุจَุนَุซَ ู…َุนَู‡ُ ุจِุชَู…َุฑุงุชٍ ،
ูَู‚َุงู„َ : ุฃَู…َุนَู‡ُ ุดَูŠุกٌ ؟
ู‚َุงู„َ : ู†َุนَู…ْ ، ุชَู…َุฑุงุชٌ ، ูَุฃุฎَุฐَู‡َุง ุงู„ู†َّุจูŠُّ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ูَู…َุถَุบَู‡َุง ، ุซُู…َّ ุฃَุฎَุฐَู‡َุง ู…ِู†ْ ูِูŠู‡ِ ูَุฌَุนَู„َู‡َุง ููŠ ูِูŠِّ ุงู„ุตَّุจูŠِّ ، ุซُู…َّ ุญَู†َّูƒَู‡ُ ูˆَุณَู…َّุงู‡ُ ุนَุจุฏَ ุงู„ู„ู‡ .
ู…ُุชَّูَู‚ٌ ุนَู„َูŠู‡ِ .

ูˆููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ ู„ู„ุจُุฎَุงุฑِูŠِّ :
ู‚َุงู„َ ุงุจู†ُ ุนُูŠَูŠْู†َุฉَ : ูَู‚َุงู„َ ุฑَุฌُู„ٌ ู…ِู†َ ุงู„ุฃَู†ْุตุงุฑِ : ูَุฑَุฃูŠْุชُ ุชِุณุนَุฉَ ุฃูˆْู„ุงุฏٍ ูƒُู„ُّู‡ُู…ْ ู‚َุฏْ ู‚َุฑَุคُูˆุง ุงู„ู‚ُุฑْุขู†َ ، ูŠَุนْู†ِูŠ : ู…ِู†ْ ุฃูˆْู„ุงุฏِ ุนَุจุฏِ ุงู„ู„ู‡ ุงู„ู…َูˆู„ُูˆุฏِ .

ูˆَููŠ ุฑูˆุงูŠุฉ ู„ู…ุณู„ู…ٍ :
ู…َุงุชَ ุงุจู†ٌ ู„ุฃุจูŠ ุทَู„ْุญَุฉَ ู…ِู†ْ ุฃู…ِّ ุณُู„َูŠู…ٍ ، ูَู‚َุงู„َุชْ ู„ุฃَู‡ْู„ِู‡َุง : ู„ุงَ ุชُุญَุฏِّุซُูˆุง ุฃَุจَุง ุทَู„ْุญَุฉَ ุจุงุจْู†ِู‡ِ ุญَุชَّู‰ ุฃَูƒُูˆู†َ ุฃَู†َุง ุฃُุญَุฏِّุซُู‡ُ، ูَุฌَุงุกَ ูَู‚َุฑَّุจَุชْ ุฅِู„َูŠْู‡ ุนَุดَุงุกً ูَุฃَูƒَู„َ ูˆَุดَุฑِุจَ، ุซُู…َّ ุชَุตَู†َّุนَุชْ ู„َู‡ُ ุฃَุญْุณَู†َ ู…َุง ูƒَุงู†َุชْ ุชَุตَู†َّุนُ ู‚َุจْู„َ ุฐู„ِูƒَ ، ูَูˆَู‚َุนَ ุจِู‡َุง . ูَู„َู…َّุง ุฃَู†ْ ุฑَุฃَุชْ ุฃَู†َّู‡ُ ู‚َุฏْ ุดَุจِุนَ ูˆุฃَุตَุงุจَ ู…ِู†ْู‡َุง ، ู‚َุงู„َุชْ : ูŠَุง ุฃَุจَุง ุทَู„ْุญَุฉَ ، ุฃَุฑَุฃَูŠุชَ ู„ูˆ ุฃู†َّ ู‚َูˆู…ุงً ุฃุนุงุฑُูˆุง ุนَุงุฑِูŠَุชَู‡ُู…ْ ุฃَู‡ْู„َ ุจَูŠุชٍ ูَุทَู„َุจُูˆุง ุนَุงุฑِูŠَุชَู‡ُู…ْ ، ุฃَู„َู‡ُู…ْ ุฃู† ูŠَู…ْู†َุนُูˆู‡ُู…ْ ؟ ู‚َุงู„َ : ู„ุง ، ูَู‚َุงู„َุชْ : ูَุงุญْุชَุณِุจْ ุงุจْู†َูƒَ ، ู‚َุงู„َ : ูَุบَุถِุจَ ، ุซُู…َّ ู‚َุงู„َ : ุชَุฑَูƒْุชِู†ูŠ ุญَุชَّู‰ ุฅِุฐَุง ุชَู„ุทَّุฎْุชُ ، ุซُู…َّ ุฃุฎْุจَุฑุชู†ูŠ ุจِุงุจْู†ِูŠ ؟! ูุงู†ْุทَู„َู‚َ ุญَุชَّู‰ ุฃَุชَู‰ ุฑุณูˆู„َ ุงู„ู„ู‡ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ูَุฃุฎْุจَุฑَู‡ُ ุจِู…َุง ูƒَุงู†َ ูَู‚َุงู„َ ุฑุณูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… -: ุจَุงุฑَูƒَ ุงู„ู„ู‡ُ ููŠ ู„َูŠْู„َุชِูƒُู…َุง،
ู‚َุงู„َ : ูَุญَู…َู„َุชْ . ู‚َุงู„َ : ูˆَูƒุงู†َ ุฑุณูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ููŠ ุณَูَุฑٍ ูˆَู‡ูŠَ ู…َุนَู‡ُ ، ูˆَูƒَุงู†َ ุฑุณูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ุฅِุฐَุง ุฃَุชَู‰ ุงู„ู…َุฏِูŠู†َุฉَ ู…ِู†ْ ุณَูَุฑٍ ู„ุงَ ูŠَุทْุฑُู‚ُู‡َุง ุทُุฑُูˆู‚ุงً ูَุฏَู†َูˆุง ู…ِู†َ ุงู„ู…َุฏِูŠู†َุฉ ، ูَุถَุฑَุจَู‡َุง ุงู„ู…َุฎَุงุถُ ، ูَุงุญْุชَุจَุณَ ุนَู„َูŠْู‡َุง ุฃَุจُูˆ ุทَู„ْุญَุฉَ ، ูˆุงู†ْุทَู„َู‚َ ุฑุณูˆู„ُ ุงู„ู„ู‡ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - .

ู‚َุงู„َ : ูŠَู‚ُูˆู„َ ุฃَุจُูˆ ุทَู„ْุญَุฉَ : ุฅู†َّูƒَ ู„َุชَุนْู„َู…ُ ูŠَุง ุฑَุจِّ ุฃَู†َّู‡ُ ูŠُุนْุฌِุจُู†ِูŠ ุฃู†ْ ุฃุฎْุฑُุฌَ ู…َุนَ ุฑุณูˆู„ِ ุงู„ู„ู‡ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ุฅِุฐَุง ุฎَุฑَุฌَ ูˆَุฃَุฏْุฎُู„َ ู…َุนَู‡ُ ุฅِุฐَุง ุฏَุฎَู„َ ูˆَู‚َุฏِ ุงุญْุชَุจَุณْุชُ ุจِู…َุง ุชَุฑَู‰ ، ุชَู‚ُูˆู„ُ ุฃُู…ُّ ุณُู„َูŠْู…ٍ : ูŠَุง ุฃَุจَุง ุทَู„ْุญَุฉَ ، ู…َุง ุฃَุฌِุฏُ ุงู„َّุฐِูŠ ูƒُู†ْุชُ ุฃุฌุฏُ ุงู†ْุทَู„ِู‚ْ ، ูَุงู†ْุทَู„َู‚ْู†َุง ูˆَุถَุฑَุจَู‡َุง ุงู„ู…َุฎَุงุถُ ุญِูŠู†َ ู‚َุฏِู…َุง ูَูˆَู„ุฏَุช ุบُู„ุงู…َุงً . ูَู‚َุงู„َุชْ ู„ِูŠ ุฃู…ِّูŠ : ูŠَุง ุฃู†َุณُ ، ู„ุง ูŠُุฑْุถِุนْู‡ُ ุฃุญَุฏٌ ุญَุชَّู‰ ุชَุบْุฏُูˆ ุจِู‡ِ ุนَู„َู‰ ุฑุณูˆู„ِ ุงู„ู„ู‡ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ، ูَู„َู…َّุง ุฃุตْุจَุญَ ุงุญْุชَู…َู„ْุชُู‡ُ ูَุงู†ْุทَู„َู‚ْุชُ ุจِู‡ِ ุฅِู„َู‰ ุฑุณูˆู„ِ ุงู„ู„ู‡ - ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… - ..ูˆَุฐَูƒَุฑَ ุชَู…َุงู…َ ุงู„ุญَุฏِูŠุซِ .

​Artinya:​

Artinya :
Dari Anas r.a., katanya: "Abu Thalhah itu mempunyai seorang putera yang sedang menderita sakit. Abu Thalhah keluar pergi - kemudian anaknya itu dicabutlah ruhnya - meninggal dunia.

Ketika Abu Thalhah kembali -waktu itu ia sedang berpuasa, ia berkata: "Bagaimanakah keadaan anakku?"

Ummu Sulaim, yaitu ibu anak tersebut - isterinya Abu Thalhah - menjawab: "Ia dalam keadaan yang setenang-tenangnya."

Isterinya itu lalu menyiapkan makanan malam untuknya kemudian Abu Thalhah pun makan malamlah, selanjutnya ia menyetubuhi isterinya itu.

Setelah selesai, Ummu Sulaim berkata: "Makamkanlah anak itu." Setelah menjelang pagi harinya Abu Thalhah mendatangi Rasulullah s.a.w., lalu memberitahukan hal tersebut - kematian anaknya yang ia baru mengerti setelah selesai tidur bersama isterinya.

Kemudian Nabi bersabda: "Adakah engkau berdua bersetubuh tadi malam?"

Abu Thalhah menjawab: "Ya."

Beliau lalu bersabda pula: "Ya Allah, berikanlah keberkahan pada kedua orang ini -yakni Abu Thalhah dan isterinya.

Selanjutnya Ummu Sulaim itu melahirkan seorang anak lelaki lagi. Abu Thalhah lalu berkata padaku - aku di sini ialah Anas r.a. yang meriwayatkan Hadis ini: "Bawalah ia sehingga engkau datang di tempat Nabi s.a.w. dan besertanya kirimkanlah beberapa biji buah kurma.

Nabi s.a.w. bersabda: "Adakah besertanya sesuatu benda?"
Ia -Anas- menjawab: "Ya. ada beberapa biji buah kurma." Buah kurma itu diambil oleh Nabi s.a.w. lalu dikunyahnya kemudian diambillah dari mulutnya, selanjutnya dimasukkanlah dalam mulut anak tersebut. Setelah itu digosokkan di langit-langit mulutnya dan memberinya nama Abdullah." (Muttafaq 'alaih).

Dalam riwayat Bukhari disebutkan demikian:
Ibnu 'Uyainah berkata: "Kemudian ada seorang dari golongan sahabat Anshar berkata: "Lalu saya melihat sembilan orang anak lelaki yang semuanya dapat membaca dengan baik dan hafal akan al-Quran, yaitu semuanya dari anak-anak Abdullah yang dilahirkan hasil peristiwa malam dahulu itu.

Dalam riwayat Muslim disebutkan: "Anak Abu Thalhah dari Ummu Sulaim meninggal dunia, lalu isterinya itu berkata kepada seluruh keluarganya: "Janganlah engkau semua memberitahukan hal kematian anak itu kepada Abu Thalhah, sehingga aku sendirilah yang hendak memberitahukannya nanti."

Abu Thalhah - yang saat itu berpergian - lalu datanglah, kemudian isterinya menyiapkan makan malam untuknya dan ia pun makan dan minumlah. Selanjutnya isterinya itu memperhias diri dengan sebaik-baik hiasan yang ada padanya dan bahkan belum pernah berhias semacam itu sebelum peristiwa tersebut. Seterusnya Abu Thalhah menyetubuhi isterinya. Sewaktu isterinya telah mengetahui bahwa suaminya telah kenyang dan selesai menyetubuhinya, ia pun berkatalah pada Abu Thalhah: "Bagaimanakah pendapat kanda, jikalau sesuatu kaum meminjamkan sesuatu yang dipinjamkannya kepada salah satu keluarga, kemudian mereka meminta kembalinya apa yang dipinjamkannya. Patutkah keluarga yang meminjamnya itu menolak untuk mengembalikannya benda tersebut kepada yang meminjaminya?"

Abu Thalhah menjawab: "Tidak boleh menolaknya - yakni harus menyerahkannya." Kemudian berkata pula isterinya: "Nah, perhitungkanlah bagaimana pinjaman itu jikalau berupa anakmu sendiri?"

Abu Thalhah lalu marah-marah kemudian berkata: "Engkau biarkan aku tidak mengetahui - kematian anakku itu, sehingga setelah aku terkena kotoran - maksudnya kotoran bekas bersetubuh, lalu engkau beritahukan hal anakku itu padaku."
Iapun lalu berangkat sehingga datang di tempat Rasulullah s.a.w. lalu memberitahukan segala sesuatu yang telah terjadi, kemudian Rasulullah s.a.w. bersabda: "Semoga Allah memberikan keberkahan kepadamu berdua dalam malam mu itu."

Anas r.a. berkata: "Kemudian isterinya hamil."

Anas r.a. melanjutkan katanya: "Rasulullah s.a.w. sedang dalam berpergian dan Ummu Sulaim itu menyertainya pula - bersama suaminya juga. Rasulullah s.a.w. apabila datang di Madinah di waktu malam dari berpergian, tidak pernah mendatangi rumah keluarganya malam-malam. Ummu Sulaim tiba-tiba merasa sakit karena hendak melahirkan, maka oleh sebab Abu Thalhah tertahan - yakni tidak dapat terus mengikuti Nabi s.a.w. Rasulullah s.a.w. terus berangkat."

Anas berkata: "Setelah itu Abu Thalhah berkata: "Sesungguhnya Engkau tentulah Maha Mengetahui, ya Tuhanku, bahwa saya ini amat tertarik sekali untuk keluar berpergian bersama-sama Rasulullah s.a.w. di waktu beliau keluar berpergian dan untuk masuk -tetap di negerinya - bersama-sama dengan beliau di waktu beliau masuk.

Sesungguhnya saya telah tertahan pada saat ini dengan sebab sebagaimana yang Engkau ketahui."

Ummu Sulaim lalu berkata: "Hai Abu Thalhah, saya tidak menemukan sakitnya hendak melahirkan sebagaimana yang biasanya saya dapatkan - jikalau hendak melahirkan anak. Maka itu berangkatlah. Kita pun - maksudnya Rasulullah s.a.w., Abu Thalhah dan isterinya - berangkatlah, Ummu Sulaim sebenarnya memang merasakan sakit hendak melahirkan, ketika keduanya itu datang, lalu melahirkan seorang anak lelaki.

Ibuku - yakni ibu Anas r.a. - berkata padaku - pada Anas r.a.: "Hai Anas, janganlah anak itu disusui oleh siapapun sehingga engkau pergi pagi-pagi besok dengan membawa anak itu kepada Rasulullah s.a.w."

Ketika waktu pagi menjelma, saya - Anas r.a. - membawa anak tadi kemudian pergi dengannya kepada Rasulullah s.a.w. Ia lalu meneruskan ceritera Hadis ini sampai selesainya.

​Keterangan:​
Hadis di atas itu memberikan kesimpulan tentang sunnahnya melipur orang yang sedang dalam kedukaan agar berkurang kesedihan hatinya, juga bolehnya memalingkan sesuatu persoalan kepada persoalan yang lain lebih dulu, untuk ditujukan kepada hal yang dianggap penting, sebagaimana perilaku isteri Abu Thalhah kepada suaminya. Ini tentu saja bila amat diperlukan untuk berbuat sedemikian itu.

Sementara itu Hadis di atas juga menjelaskan akan sunnahnya seseorang isteri berhias seelok-eloknya agar suaminya tertarik padanya dan tidak sampai terpesona oleh wanita lain, sehingga menyebabkan terjerumusnya suami itu dalam kemesuman yang diharamkan oleh agama.

Demikian pula isteri dianjurkan sekali untuk berbuat segala hal yang dapat menggembirakan suami dan melayaninya dengan hati penuh kelapangan serta wajah berseri-seri, baik dalam menyiapkan makanan dan hidangan sehari-hari ataupun dalam seketiduran.

Jadi salah sekali, apabila seseorang wanita itu malahan berpakaian serba kusut ketika di rumah, tetapi di saat keluar rumah lalu bersolek seindah-indahnya. Juga salah pula apabila seorang isteri itu kurang memerhatikan keadaan dan selera suaminya dalam hal makan minumnya, atau pun dalam cara melayaninya dalam persetubuhan.

☆☆☆☆☆

Ustadz Arwani akan membahas detail dalam kajian ​AUDIO​ di bawah ini.

DOWNLOAD MP3 KAJIAN KITAB DISINI

Selamat menyimak.

๐ŸŒฟ๐ŸŒบ๐Ÿ‚๐Ÿ€๐ŸŒผ๐Ÿ„๐ŸŒท๐Ÿ

Dipersembahkan oleh: manis.id

๐Ÿ“ฒSebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
๐Ÿ“ฑ Telegram: @majelismanis
๐Ÿ–ฅ Fans Page: @majelismanis
๐Ÿ“ฎ Twitter: @majelismanis
๐Ÿ“ธ Instagram: @majelismanis
๐Ÿ•น Play Store
๐Ÿ“ฑ Join Grup WA

0 Response to "RIYADHUS SHALIHIN (36)​"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI