Memuji dan Mengkritik Sesuai Proporsinya & Bahaya Kelezatan Dunia bagi Pemimpin​


Sejarawan Yusuf ibn Taghribirdi mencatat Sultan Mehmed II (Fatih) ibn Murad II sebagai pemimpin yang meneruskan perjuangan ayahnya. Khususnya dalam jihad melawan musuh Kesultanan Turki Utsmani dengan merebut wilayah serta benteng strategis dari lawannya.

Sang ayah, Murad II ibn Mehmed I Çelebi, wafat pada usia menjelang paruh baya (44 tahun). Sebagai sejarawan resmi Kesultanan Mamluk di Mesir, Ibn Taghribirdi menilai Murad II sebagai sultan terbaik di Timur dan Barat. Karakter utamanya adalah sempurna akal, kuat determinasi, penuh energi, lapang pemberiannya, dan adil kepemimpinannya.

مما اشتمل عليه من العقل والحزم والعزم والكرم والشجاعة والسؤْدد

Catatan yang bernada pujian terhadap almarhum Sultan Murad II terus dituliskan oleh penulis kitab an-Nujum az-Zahirah ini: ia yang menghabiskan usianya dalam jihad fi sabilillah, melancarkan banyak ekspedisi militer, banyak menaklukkan lawan, sehingga menguasai berbagai benteng (lawan) yang selama ini tak tertembus. Oleh karenanya berbagai pertahanan serta wilayah kuat milik lawan menjadi terbengkalai (ditinggalkan pemiliknya).

Kemudian, Yusuf ibn Taghribirdi, mulai menyeimbangkan dengan beberapa penilaian terhadap almarhum Sultan Murad II. Beliau mengatakan bahwa "hanya saja sultan terkadang hanyut dalam kelezatan dunia yang seharusnya ia tinggalkan".

على أنه كان منهمكًا في اللذات التي تهواها النفوس

Dimana hal itu mendorong sebagian pihak untuk "mempertanyakan tentang kualitas agamanya" yang dijawab oleh Yusuf ibn Taghribirdi dengan menukil perkataan langsung almarhum Sultan Murad II ibn Mehmed I sebagai berikut: "aku telah merobek (kesalihan) dengan ma'siat, namun telah kujahit kembali dengan istighfar" sebagai bentuk penyesalannya:

فقال: أمزِّقه بالمعاصي وأرقِّعه بالإستغفار

Kemudian sejarawan kita yang mulia ini menutup paragrafnya dengan mengatakan: beliau lebih pantas mendapatkan ma'af dan penghargaan dari Allah Subhanahu wa Ta'ala karena jasanya yang telah masyhur; yaitu pembelaannya atas Islam serta serangannya kepada lawan. Bahkan ada yang mengatakan bahwa almarhum Sultan Murad II seperti pagar yang melindungi Islam serta kaum Muslimin:

حتى قيل عنه إنه كان سياحًا للإسلام والمسلمين

Beliau menutup kalimat terakhir itu dengan mendoakan: semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala mengampuninya dengan jasa tersebut serta menggantikan masa muda (yang dihabiskan dalam jihad) di dalam JannahNya.

عفا الله عنه وعوّض شبابه الجنة

​Demikian para ulama generasi kita terdahulu, mereka memuji serta mengritik sesuai proporsinya. Mereka tak lupa mendoakan untuk kebaikannya.​

Agung Waspodo, menikmati pelajaran dari sejarawan Mesir yang bernama Jamaluddin Abil-Mahasin Yusuf ibn Taghribirdi al-Attabiki dalam kitabnya An-Nujum az-Zahira fi Muluk Misri wal-Qahirah, jilid ke-16 halaman 2-3.

Depok yang baru selesai hujannya, 9 November 2017

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

0 Response to "Memuji dan Mengkritik Sesuai Proporsinya & Bahaya Kelezatan Dunia bagi Pemimpin​"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI