Menjadi Generasi "Sekarang"​


Ketika menjumpai kondisi yang negatif atau terpuruk, kita sering menggunakan pendekatan motivatif futuristik. Misalnya, saat melihat kondisi umat Islam secara umum di Timur, Barat, Utara dan Selatan, hampir semuanya seolah terstigmatisasi negatif. Belum lagi, bila bicara tentang krisis kemanusiaan yang dahsyat di abad ini. Suriah dan Rohingya, adalah kasus-kasus besar yang mengimbuhi masalah berat sebelumnya, Palestina yang juga belum terlihat ujung solusinya. ​Biasanya, untuk melipur lara tak jarang kita mengalihkan semangat juang ke generasi setelah kita.​ Maka secara otomatis, itu sama dengan mengatakan bahwa ​diri kita tidaklah hadir sebagai solusi.​

Atau kurang percaya diri tampil memberi solusi dan justru banyak berharap pada generasi akan datang.

Jika estafet ini berlanjut, maka tidak mustahil kendala yang sama akan dialami oleh generasi setelah kita. Mereka akan melakukan estafet masalah dan estafet harapan. Mereka pun saat menjadi “sekarang” akan mengatakan bahwa solusinya ada di generasi “mendatang”. Demikian terjadi dan akan terus tak berujung.

​Maka, sudah saatnya umat Islam ini mengatakan dan mendoktrin dirinya bahwa dialah generasi sekarang yang harus hadir sebagai solusi, bukan keturunannya.​

Benar, mereka akan melanjutkan, tapi bukan sekedar melanjutkan mimpi saja. Namun, lebih pada melanjutkan aksi nyata yang mengatrol prestasi umat ini.

Maka, semangatnya adalah semangat “SEKARANG”. Lakukan sekarang, mulai dari yang mungkin untuk dimulai. Kemudian lakukan secara komunal dan masif.

Belajarlah semangat “sekarang” ini dari Zulaikha, “Berkata isteri Al Aziz:
​“Sekarang jelaslah kebenaran itu, akulah yang menggodanya untuk menundukkan dirinya (kepadaku), dan sesungguhnya dia termasuk orang-orang yang benar” (QS. Yusuf: 51)​

Pendekatan ​“sekarang”​ bisa lebih membuka diri untuk melakukan pendekatan introspektif dibanding menyalahkan orang lain.

Dengan pendekatan tersebut, seseorang tidak fokus pada masalah atau penyebab masalah. Ia akan fokus pada mencari solusi dan jalan keluar.

Lihat pula apa yang diberikan oleh Allah kepada orang-orang yang terus mempertahankan spirit juangnya,

​“Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada diantaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika diantaramu ada seribu orang (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar” (QS. Al-Anfal: 66)​

Maka permasalahannya terletak pada manajemen harapan. Kitalah yang seharusnya mengharapkan untuk menyaksikan diri terlibat langsung terhadap penyelesaian masalah yang saat ini terjadi. Kalau pun itu tidak terjadi maka generasi setelah kita akan meningkatkan usahanya lebih gigih dank eras lagi.

Mentalitas “sekarang” ini jugalah yang akan mendesak dan mengusir kebiasaan menunda dan inferior (rasa rendah diri) serta tak percaya dengan kemampuan yang Allah berikan.

Jika melihat secara internal, setiap manusia selalu dibekali keistimewaan oleh Allah dengan segudang potensi positif dan prestasi. Jika melihat kepada eksternal, maka seseorang akan menempatkan diri secara proporsional. Ia tak sombong dengan tetap menghormati orang lain (tidak terlalu merasa superior), tidak juga merasa buruk jika dibandingkan orang lain.

Semangat inilah yang dimiliki oleh para sahabat Nabi Muhammad saw. Kuburan mereka menyebar ke pelosok dunia, karena jiwa ekspansif yang termotivasi menyebar kebaikan. Mereka pun tak pernah takut kepada selain Allah, dengan segala keterbatasan. Jadilah, mereka disegani kemudian membuka pintu dakwah dan kemenangan bagi generasi setelahnya.

Jadilah Umar atau Shalahuddin yang akan menaklukan kezaliman di Baitul Maqdis dan sekitarnya. Atau setidaknya bisikkan pada diri ini, akan benar-benar menyaksikan kehadiran Umar atau Shalahuddin tak lama lagi.

AlLâhu al-Musta’ân

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh: manis.id

📲Sebarkan! Raih pahala
====================
Ikuti Kami di:
📱 Telegram: @majelismanis
🖥 Fans Page: @majelismanis
📮 Twitter: @majelismanis
📸 Instagram: @majelismanis
🕹 Play Store
📱 Join Grup WA

0 Response to "Menjadi Generasi "Sekarang"​"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI