Sebelum Pemberontakan Arab atas Khilafah, Ada Jejak Pengaruh Intelijen Inggris​

Ketika itu Syarif Makkah dijabat oleh Awnurrafiq ibn Muhammad: Awn al-Rafīq Pāshā ibn Muḥammad ibn ‘Abd al-Mu‘īn ibn Awn
عون الرفيق پاشا بن محمد بن عبد المعين بن عون‎

atau disebut juga ‘Awn al-Rafīq Bāshā (Februari 1841–wafat 17 Juli 1905) adalah anggota keluarga Awn dari cabang Suku Qatadah untuk masa jabatan dari 1882 hingga 1905. Beliau lahir di Madinah pada bulan Dzulhijjah 1256 H sebagai anak keempat dari Syarif Muhammad ibn Abd al-Mu'in ibn Awn setelah kakaknya Abdullah, Ali, dan Husayn.

Awn al-Rafīq diangkat menjadi Emir sementara oleh vali (gubernur) Taqiuddin Paşa pada bulan Juni 1877 setelah wafatnya syarif Abdullah yang tidak lain adalah kakaknya sendiri. Sebagai penerus Emir sesuai silsilah maka didatangkanlah Husayn Paşa dari posisinya di İstanbul. Sedangkan Awn ar-Rafiq diberangkatkan ke İstanbul untuk menduduki posisi Konsil Kenegaraan yang vakum itu. Pangkat yang disandang Awn ar-Rafiq selama di İstanbul setara vezir atau menteri.

Diluar dugaan, Emir Husayn terbunuh pada tahun 1880. Sultan Abdülhamid II Han menduga ada upaya penguatan dari faksi pro-Inggris untuk menduduki posisi kesyarifan kedua tanah suci. Oleh sebab itu, Awn ar-Rafiq tidak diangkat untuk menggantikan kakaknya, namun ditunjuklah Syarif Abd al-Muttalib ibn Ghalib pejabat senior dari keluarga Dhawu Zayd. Abd al-Muttalib pernah digoyang secara politis hingga dicopot dari jabatannya tahun 1856.

Dengan dialihkannya jabatan prestisius itu oleh sultan kepada keluarga Zayd yang telah lama bersaing dengan keluarga Awn, maka sultan berharap dapat membatasi ruang gerak agen asing. Sekaligus memperkokoh pengaruh sultan, pikirnya. Memang sepertinya benar, sejumlah diplomat Inggris berupaya membujuk sultan agar tidak melantik Abd al-Muttalib. Bahkan, James Zohrab sebagai konsul Inggris di Jeddah pernah menulis surat kepada gubernur jenderal Inggris di Mesir hingga ke duta besar Inggris bahwa kepentingannya terancam jika bukan Awn al-Rafīq yang dilantik. Dengan blak-blakan Zohrab menulis bahwa Awn ar-Rafiq lebih liberal dan tercerahkan, sedangkan Abd al-Muttalib cenderung fanatik lagi Wahhabi serta membenci orang asing dan Kristen.

Duta besar Inggris untuk Kekhilafahan Turki Utsmani di İstanbul, Austen Henry Layard lekas membalas bahwa keputusan sudah diteken sultan. Namun, Abdülhamid II Han meyakinkan Layard sekaligus juga Awn ar-Rafiq bahwa dia menjadi calon berikutnya sekira petahana mangkat.

Pada tahun 1882, ada upaya dari Menteri Pertahanan, Osman Nuri Paşa (pahlawan Plevna 1877-78) sang legenda, melangkahi sultan untuk mendongkel Abd al-Muttalib. Osman Nuri Paşa ingin agar jabatan strategis sebagai syarif kedua tanah suci tidak jatuh kepada Awn ar-Rafiq. Osman Nuri Paşa menjagokan Abd al-Ilah, adik sulung Awn ar-Rafiq yang lebih netral. Upaya ini ditentang sultan Abdülhamid II Han dan diangkatlah Awn ar-Rafiq sebagai syarif sebagaimana isi kawat telegraf pada bulan Dzul-Qa'dah 1299 H, Oktober 1882. Awn ar-Rafiq menjabat hingga wafatnya di kota Tha'if pada 17 Juli 1905. Ia dimakamkan di pekuburan Abdullah ibn Abbas (ra).

Agung Waspodo, masih kurang membaca bahwa pada masa kepemimpinan Awn ar-Rafiq inilah pengaruh Inggris atas perpolitikan suku Arab menguat. Pada akhirnya semua rencana ini memuncak pada pecahnya Revolusi Arab pada tahun 1915.

Depok, 5 September 2017

Foto: Markas kepolisian Turki Utsmani di kota Makkah pada tahun 1886.

​"berhati-hati dan bersiap siagalah setiap saat"​