Berjalanlah Selayaknya Musafir

©Sebentar saja waktu kita hidup di dunia. Hidup di dunia, kata Rasulullah, ka raakibin istadzalla bi syajaratin tsumma raahaa wa tarakaha. Seperti seorang musafir yang bernaung di bawah rindangnya pohon, ia beristirahat tapi setelah itu ia tinggalkan pohon itu.

▪Tak ada yang abadi di dunia ini. Kun fi dunya kaannaka ghariibun au ‘abiri sabiil. Karenanya hiduplah di dunia seperti orang asing, atau orang yang dalam keadaan perjalanan.

©Dari mana ia datang, seberapa bekal yang telah dipersiapkan, di mana ia berhenti untuk tempat istirahat, dan ke mana akan menuju dan berakhir; semua itu harus menjadi perhatian.
Memang kehidupan ini tak ubahnya seperti sebuah perjalanan.

®Dalam melakukan perjalanan akan kita temui peluang dan kesempatan. Hidup itu ada untuk dilewati bukan untuk dinikmati. Seperti halnya Allah telah memberikan kemampuan berpikir untuk memilih antara yang baik dan buruk, antara benar dan salah, dan antara adil dan zalim.

▪Yang baik akan mendapat pahala dan yang buruk akan berdosa.
Banyak perbekalan yang harus dipersiapkan dalam menempuh perjalanan ini.

©Di dunia ini bukan saatnya menikmati perbekalan, melainkan waktunya kita harus mengumpulkannya. Ketika harus mengambil keputusan akan berlomba dalam kebaikan atau terpuruk dalam kesesatan. Sebagai musafir, ada rambu-rambu yang harus diperhatikan, supaya kita tidak tersesat.

®Al-Qur`an dan Sunnah Rasul jadikan petunjuk tuk temukan jalan terang.

▪Dalam beberapa ayat telah dikatakan balasan bagi orang-orang yang berbuat baik dan buruk. Oleh karena itu, ada dua hal yang selayaknya ada sebagai perhatian bagi kita.

©Pertama, kita meyakini bahwa ketika manusia melakukan kebaikan maka akan mereka mendapat kebahagiaan dan kenikmatan atas apa yang mereka usahakan. Bukan saja di dunia, melainkan lebih utama lagi di akhirat.

©Kedua, kita meyakini bahwa Allah akan memberikan hukuman dan balasan yang setimpal dengan apa yang mereka perbuat. Teguran langsung yang diberikan Allah adalah wujud kasih sayang-Nya. Karena, ketika teguran diberikan secara langsung, sesungguhnya Allah hendak menjadikannya sebagai peringan dosa-dosa yang telah kita perbuat.

▪Cukuplah kisah-kisah kaum terdahulu yang diazab langsung oleh Allah menjadi pelajaran.

®Memperbaiki semuanya menjadi tanggung jawab kita sebagai pribadi beriman. Sehingga kemuliaan akan kita dapatkan.

Wallahul musta'an

✍ Sumber: Buku Wahai Muslimah Janganlah Menyerah karya Rochma Yulika

0 Response to "Berjalanlah Selayaknya Musafir"

Post a Comment