Tidak Ada Kejayaan Tanpa Hantaman​, ​Tidak Ada Persatuan Tanpa Kesatuan Harapan​, ​Tidak Ada Bangsa Besar Tanpa Pemimpin Besar​

Kamis, 19 Dzul-Hijjah 804 Hijriah
Pertempuran di Ankara - 20 Juli 1402

Pertempuran yg terjadi di padang rumput Çubuk, dekat ibukota Turki sekarang yaitu Ankara, merupakan baku hantam terbesar antara Khilafah Turki Utsmani dengan Kekaisaran Timur.

Pada pertempuran ini kedua pemimpin tertinggi, Sultan Bayezid I dan Sultan Timur (Lang, Lenk, Lame) berhadap-hadapan memimpin pasukannya masing-masing di garia terdepan. Ketika itu menjadi pemimpin pada umumnya juga seorang yg siap untuk dituntut maju memimpin pasuka perangnya ke meda laga.

Pertempuran, dimana jumlah pasukan Timur 4 kali lipat lebih banyak tersebut, berakhir dengan kekalahan telak pada pihak Khilafah Turki Utsmani. Bahkan berbuntut tertangkapnya Sultan Bayezid I. Kekalahan ini juga diwarnai dengan sejumlah pengkhianatan pada barisan Turki Utsmani dari barisan kavaleri Tatar dan pasukan berkuda Sipahi lokal dari sejumlah Beylik Turki lainnya.

Pengkhianatan adalah penyakit bagi setiap peradaban yg hendak maju menjadi pemimpin dunia. Ia bagaikan sebuah proses yg tidak dapat dihindari utk menempa masyarakat dan pemimpin dari suatu bangsa yg ditakdirkan menjadi besar. Seberapa cepat dan tangkas mengatasinya merupaka salah satu indikator kertahanan bangsa tersebut dalam memelihara peradabannya.

Namun, pertempuran tidak seimbang ini terus berlanjut, bahkan hampir sepekan kontingen pengawal sultan bertahan dalam kepungan di pebukitan Çubuk sebelum akhirnya satu-persatu menemui ajalnya hingga sultan tertawan. Sultan Bayezid I bergelar Yıldırım akhirnya wafat setelah 1 tahun dalam tawanan dan jenazahnya dikirim kembali ke anaknya Mehmed Çelebi setelah Sultan Timur sendiri wafat juga.

Kesedihan adala keniscayaan dalam sebuah kekalahan, namun hal itu tidak perlu terlalu lama bagi bangsa yg besar. Pembelajaran atas sebab-sebab kekalahan menjadi prioritas yg lebih utama ketimbang ratapan kesedihan komunal.

Masa hilanganya kepemimpinan Khilafah Turki Utsmani dikenal dalam sejarah sebagai "interregnum" yg berakhir dgn konsolidasi ulang oleh anaknya mendiang sultan, yg kemudian dikenal sebagai Sultan Mehmed I Çelebi sang pemersatu. Khikafah Turki Utsmani kembali bergerak, tumbuh, dan terus berkembang sampai 2-3 abad setelah itu.

Dari seorang pemimpin yg laju kerjanya sangat "secepat kilat" sesuai gelar Yıldırım-nya lalu lahirlah seorang pemimpin pemersatu yg cerdas mengatasi masa genting seperti Mehmed I bergelar Çelebi yg berarti "cerdas." Mungkin ada benarnya, bahwa buah tidak jatuh begitu jauh dari pohonnya; kebaikan melahirkan kebaikan.

Agung Waspodo, pagi sebelum silaturrahim di wilayah Depok dan sekitarnya.. 613 tahun kemudian!

Depok, 20 Juli 2015, sekitar jam 08.41
Laporan foto kolase dimuat C3i: 20 Juli 2015, sekitar 2 jam setelahnya

🌿🌺🍂🍀🌼🍄🌷🍁

Dipersembahkan oleh:
http://www.manis.id


0 Response to "Tidak Ada Kejayaan Tanpa Hantaman​, ​Tidak Ada Persatuan Tanpa Kesatuan Harapan​, ​Tidak Ada Bangsa Besar Tanpa Pemimpin Besar​"

Post a Comment

loading...
loading...