Tak Pernah Lelah Belajar Rela​

Sungguh, bersikap rela tidaklah mudah.

Lantaran banyak harapan yang tak selaras dengan kenyataan. Apa yang ditetapkan tak seiring dengan apa yang manusia rencanakan.

Saat seperti inilah menjadi ujian berat bagi manusia.

Terkadang kita dirudung kecewa, berduka, dan berderailah air mata.

Semua itu terjadi lantaran tak pernah tahu apa yang menjadi rahasia di hari kemudiannya.

Wajar, begitulah sisi manusiawi kita.

Namun kala sempat terlintas kecewa dan kesedihan segeralah untuk berlari menuju Allah. Menunjukkan kerelaan atas apa yang ditakdirkan justru berbuah pada semakin dekatnya hamba pada Rabbnya.

Lisan dipenuhi dzikir. Ibadah terus dilakukan untuk merebut kasih sayang Nya. Akhlak pun semakin diperbaiki.

Seperti itulah pembuktian dari kerelaan atas segala ketetapan.

Bukan sebaliknya.
Bibir mengeluh penuh kekesalan, mulut berucap tentang kekecewaan. Hati pun marah karena merasakan derita. Serta sikap yang semakin menjauh dari Rabbnya.

Bahkan ada yang sampai menuduh bahwa Allah tidak adil. Na'udzubillah tsumma na'udzubillah.

Bila diri kita mengaku beriman maka, beginilah sejatinya rela.

Suatu Ibnu Abbas ra berkata,
​"Ketika Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam menemui sahabat-sahabat Anshar, beliau bersabda,"Apakah kalian orang-orang mukmin?"​

​Mereka semua terdiam, lantas Umar bin Khatab menjawab, Ya Wahai Rasulullah." Beliau bersabda lagi,"Apakah tanda keimanan kalian?"​

​Mereka berkata, "Kami bersyukur menghadapi kelapangan, bersabar menghadapi bencana, dan rela dengan ketentuan Allah."​

​Nabi saw bersabda lagi, "Orang-orang mukmin yang benar, demi Tuhan Ka'bah."​

Masya Allah...
Laa Quwwata illa billah...