Kisah Saudah binti Zam’ah Ra.​ ​​Ummul Mukminin yang dermawan dan berhijrah dua kali​​

🌟 Saudah binti Zam’ah Ra termasuk diantara as Sabiqunal aw Waluun (orang-orang yang paling dahulu memeluk agama Islam). Bersama dengan suaminya Sakran bin Amr Ra, ia melakukan hijrah ke Habasyah. Kemudian mereka kembali ke Makkah saat kaum muslimin masih mengalami penindasan dari kaum kafir Quraisy. Tidak lama kemudian,Sakran sang suami meninggal dunia.

⭐️ Saat Khadijah wafat,  Rasulullah Saw larut dalam kesedihan yang sangat dalam. Seluruh sahabat tahu bagaimana tingginya kedudukan Khadijah Ra di hati Rasulullah Saw. Seorang sahabiyat yang bernama Khaulah binti Hakim ingin sekali meringankan kesedihan dan kepiluan Rasulullah Saw. Ia memberanikan diri untuk bertanya apakah Rasulullah Saw tidak berfikir untuk menikah lagi? Dan ia sudah menyediakan jawaban sebagai solusi jika Rasulullah Saw menghendaki untuk menikah lagi. Maka ketika Rasulullah Saw benar-benar bertanya siapa kiranya yang pantas menjadi istri beliau, Khaulah dengan tegas mengatakan “Jika engkau menghendaki seorang janda, maka Saudah orang yang tepat. Dan jika engkau menghendaki seorang gadis, maka Aisyah binti Abu Bakar orang yang tepat.” Kemudian Rasulullah meminta Khaulah untuk menyampaikan niat baik beliau dan terjadilah pernikahan Rasulullah Saw dengan Saudah binti Zam’ah.

💫 Setelah hijrah ke Madinah, Rasulullah Saw kemudian menikahi Aisyah binti Abu Bakar. Saudah seorang perempuan yang selalu ingin meningkatkan keta’atannya kepada Allah dan Rasul-Nya. Disaat orang lain berlomba untuk mendapatkan perhatian lebih dari suaminya, Saudah menyerahkan jatah harinya bersama Rasulullah Saw kepada Aisyah Ra dengan penuh kesadaran karena ingin membahagiakan Rasulullah Saw sebagai bentuk ketha’atannya kepada Allah Swt. 

☀️ Ketika Rasulullah Saw dan keluarga menunaikan haji wada, Saudah meminta kepada Rasulullah Saw untuk berjalan lebih dulu menuju Muzdalifah sebelum ramai orang keluar dengan pertimbangan ia sudah tua khawatir tidak kuat berjalan di tengah keramaian. Sementara istri-istri yang lain berjalan bersama rombongan Rasulullah Saw. Rasulullah Saw memahami  semangat Saudah Ra untuk meningkatkan ketha’atan kepada Allah Swt dan mengizinkannya.

⚡️ Kesalehan Saudah Ra inilah yang dicemburui oleh Aisyah Ra hingga Aisyah mengatakan “Aku tidak pernah menemukan seorang wanita yang lebih kusukai jika diriku menjadi dirinya, selain Saudah binti Zam’ah. Seorang wanita yang kekuatan dirinya sungguh luar biasa.” 

💥 Abu Hurairah Ra meriwayatkan bahwa Rasulullah Saw bersabda ketika sedang melaksanakan haji wada: “Ini boleh dilakukan oleh mereka (istri-istri beliau), namun setelah ini mereka tetap di rumah.” Mendengar pernyataan Rasulullah Saw tersebut, Saudah berkata: “Aku tidak akan pergi haji lagi setelah ini.” Demikianlah kegigihan Saudah Ra untuk tha’at kepada Rasulullah Saw baik saat beliau masih hidup juga setelah beliau wafat.

🌤 Ibnu Sirin menceritakan bahwa ketika Umar bin Khottob menjadi khalifah, ia mengirimkan satu karung berisi uang dirham kepada Saudah ra. Ketika melihatnya, Saudah Ra terkejut dan memerintahkan agar uang itu dibagikan kepada fakir miskin yang membutuhkannya.

🌧 Di akhir masa pemerintahan Umar bin Khottob, Saudah Ra kembali ke hadapan Sang Pencipta.

🌷 ​Butir-butir hikmah:​

⛅️ Kullu maa qodarallahu khoir (setiap yang Allah takdirkan selalu membawa kebaikan). Ini adalah kaidah tentang iman kepada taqdir. Ketika musibah datang, kita tidak pernah tahu rencana Allah selanjutnya. Namun yang harus kita yakin bahwa taqdir yang Allah berikan selalu mengandung kebaikan. Seperti Saudah Ra yang ditinggal wafat suaminya, tentu sangat berat bagi Saudah dalam kondisi kaum muslimin dalam penindasan. Namun taqdir selanjutnya menjadikan ia berada di posisi mulia menjadi Ummul Mukminin.

🌦 Menjadi diri sendiri adalah kunci yang dipegang Saudah Ra saat menjadi istri Rasulullah Saw. Ia tidak berkeras menggantikan posisi Khadijah Ra karena memang tidak mungkin tergantikan. Maka Saudah Ra menjadi istri Rasulullah Saw dengan dirinya sen

diri,dengan kemuliaan-kemuliaan akhlak yang dimiliki oleh dirinya. Orang yang memiliki kemuliaan akhlak tidak akan pernah merasa khawatir akan penerimaan orang lain terhadap dirinya. Karena akhlak yang mulia yang menjadikan seseorang mendapat kemuliaan.

🌩 Saudah Ra. Termasuk didalam as Sabiqunal aw Walun (orang-orang yang paling dulu masuk Islam), dan mereka mendapat keutamaan disisi Allah dan Rasul-Nya. Namun dengan keutamaannya, Saudah Ra tidak merasa jumawa, ia malah mau berbagi dengan Aisyah Ra yang masih sangat muda. Saudah Ra sangat rendah hati, dan sikap rendah hati itulah yang menjadikannya sangat mulia.

❄️ Ketha’atan kepada Allah membuat seseorang sangat mudah melakukan kebaikan. Seperti Saudah yang dengan mudah memberikan jatah harinya bersama Rasulullah Saw kepada Aisyah dan dengan mudah pula ia membagikan uang dirham yang demikian banyak yang dihadiahkan Umar bin Khattab kepadanya.

☃ Keadilan dan sikap baik seorang suami kepada semua istrinya (saat ia berpoligami) yang membawa keberkahan bagi keluarga. Istri yang mampu mendahulukan istri yang lain adalah pertanda istri yang bahagia. Dan kebahagiaan seorang istri dalam keluarga sangat berkaitan erat dengan perlakuan suami terhadapnya.

💧 Para suami harus memahami kondisi istrinya. Ketika istri mengemukakan keinginannya, suami harus menghargai keinginan istrinya dan memberikan ruang bagi keinginan-keinginan pribadi istri. Seperti Rasulullah Saw yang mengizinkan Saudah Ra untuk jalan terlebih dulu saat haji wada.

☔️ Demikian juga suami istri harus mengedepankan husnudhon (baik sangka) kepada pasangannya. Saudah Ra tetap berbaik sangka kepada Rasulullah Saw saat beliau menikah dengan Aisyah dan Rsulullah Saw berbaik sangka kepada Saudah Ra saat ia menyerahkan jatah harinya kepada Aisyah Ra.

🌊 Saling menghargai merupakan kunci harmonisasi  rumah tangga. Ketika Saudah Ra menyerahkan jatah harinya kepada Aisyah Ra, bukan berarti Rasulullah Saw kemudian mengabaikannya. Akan tetapi Rasulullah Saw tetap mengunjungi Saudah Ra, memberikan perhatian kepadanya, bersantai dan bercanda bersamanya dan bertanggung jawab penuh terhadapnya. 

🌪 Ketha’atan yang dilakukan seorang istri perlu mendapatkan support dari suaminya.  Walaupun suami tidak bisa melakukan ketha’atan yang sama. Support dari suami dalam ketha’atan yang dilakukan istri merupakan bentuk ta’awun (kerjasama) dalam kebaikan dan taqwa.

🌈 Pujian yang diberikan Aisyah kepada Saudah merupakan cermin bagaimana Rasulullah Saw sangat profesional  mengelola keluarga besarnya. Dimana istri-istri beliau, saling membantu, saling memuji, saling memberi dukungan.  

☄ Seorang istri solihah akan menjaga kehormatan dirinya dan kehormatan suaminya bahkan saat suaminya telah tiada.

💫 Ditinggal pasangan adalah satu tahapdari sekian tahapan keluarga. Maka setiap orang perlu mempersiapkannya.

💦 Seorang mukmin menyimpan harta ditangannya bukan di hatinya sehingga sangat mudah baginya untuk bersedekah dengan harta yang dimilikinya.

Wallohu a'lam bish showwab