Golongan Munafiqun; Deskripsi, Karakter, dan Sikap (Bag. 2/akhir)

Pembahasan sebelumnya...

http://www.manis.id/2017/04/golongan-munafiqun-deskripsi-karakter.html

📗 Karakter Dasar Kaum Munafik

Al Quran dan As Sunnah telah menerangkan sejumlah karakter dasar kaum munafik. Sehingga gelagat dan tanda kemunafikan bisa ditangkap dan dilihat, walau dalam hatinya kita tidak mengetahui pasti apakah seseorang masuk kategori munafik tulen atau tidak. Ini juga menjadi evaluasi bagi kita, apakah ciri dan bakat munafik juga ada dalam diri kita. Dengan kata lain, bisa jadi ada seorang merasa beriman, tetapi dalam perilakunya beririsan dengan perilaku kaum munafik.

Karakter tersebut kami sebutkan beberapa saja, antaranya:

1⃣.  Suka merusak

Allah ﷻ berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ لَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ قَالُوا إِنَّمَا نَحْنُ مُصْلِحُونَ (11) أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ الْمُفْسِدُونَ وَلَكِنْ لَا يَشْعُرُونَ (12)

Dan jika dikatakan kepada mereka: “Janganlah kalian melakukan kerusakan di muka bumi.” Mereka menjawab: “Kami ini hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.” Ketahuilah, sesungguhnya mereka itu perusak tetapi mereka tidak menyadarinya. (QS. Al Baqarah: 11-12)

2⃣.  Suka Bersilat Lidah

Allah ﷻ berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ آمِنُوا كَمَا آمَنَ النَّاسُ قَالُوا أَنُؤْمِنُ كَمَا آمَنَ السُّفَهَاءُ أَلَا إِنَّهُمْ هُمُ السُّفَهَاءُ وَلَكِنْ لَا يَعْلَمُونَ

  Dan jika dikatakan kepada mereka: “Berimanlah kalian sebagaimana orang-orang  beriman.” Mereka menjawab: “Apakah kami mesti beriman seperti orang-orang bodoh itu beriman?” Ketahuilah, sesungguhnya mereka itu yang bodoh tetapi mereka tidak mengetahui. (QS. Al Baqarah: 13)

3⃣.  Bermuka Dua

Allah ﷻ berfirman:

وَإِذَا لَقُوا الَّذِينَ آمَنُوا قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا إِلَى شَيَاطِينِهِمْ قَالُوا إِنَّا مَعَكُمْ إِنَّمَا نَحْنُ مُسْتَهْزِئُونَ (14)

  Dan jika mereka berjumpa dengan orang-orang beriman mereka berkata: “Kami ini beriman.” Dan jika mereka kembali kepada syetan-syetan (pembesar-pembesar) mereka, mereka mengatakan: “Kami masih bersama kalian, sesungguhnya kami hanya memperolok-olok semata.” (QS. Al Baqarah: 14)

4⃣.  Menghalangi kaum muslimin menjalankan perintah Allah ﷻ dan RasulNya

Allah ﷻ berfirman:

وَإِذَا قِيلَ لَهُمْ تَعَالَوْا إِلَى مَا أَنْزَلَ اللَّهُ وَإِلَى الرَّسُولِ رَأَيْتَ الْمُنَافِقِينَ يَصُدُّونَ عَنْكَ صُدُودًا

Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada peraturan hukum  yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An Nisa: 61)

  5⃣. Lebih suka berkumpul dengan orang kafir dan mengolok-olok kaum muslimin

Allah ﷻ berfirman:

وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِي الْكِتَابِ أَنْ إِذَا سَمِعْتُمْ آيَاتِ اللَّهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَأُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوا مَعَهُمْ حَتَّى يَخُوضُوا فِي حَدِيثٍ غَيْرِهِ إِنَّكُمْ إِذًا مِثْلُهُمْ إِنَّ اللَّهَ جَامِعُ الْمُنَافِقِينَ وَالْكَافِرِينَ فِي جَهَنَّمَ جَمِيعًا

Dan sungguh Allah telah menurunkan kekuatan kepada kamu di dalam Al Quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk bersama mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam. (QS. An Nisa: 140)

6⃣. Memilih orang kafir sebagai pemimpin dan meninggalkan orang Islam

Allah ﷻ berfirman:

بَشِّرِ الْمُنَافِقِينَ بِأَنَّ لَهُمْ عَذَابًا أَلِيمًا الَّذِينَ يَتَّخِذُونَ الْكَافِرِينَ أَوْلِيَاءَ مِنْ دُونِ الْمُؤْمِنِينَ أَيَبْتَغُونَ عِنْدَهُمُ الْعِزَّةَ فَإِنَّ الْعِزَّةَ لِلَّهِ جَمِيعًا

Berikan kabar gembira kepada kaum munafik dengan mendapatkan azab yang pedih, yaitu orang-orang yang menjadikan orang-orang kafir sebagai pemimpin selain orang-orang beriman. Apakah mereka mengharapkan kehormatan dari mereka? Padahal seluruh kehormatan itu milik Allah semata. (QS. An Nisa: 138-139)

 7⃣. Menyebut orang beriman ditipu oleh agamanya

  Allah ﷻ berfirman:

إِذْ يَقُولُ الْمُنَافِقُونَ وَالّ

َذِينَ فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ غَرَّ هَؤُلَاءِ دِينُهُمْ وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ حَكِيمٌ

(Ingatlah), ketika orang-orang munafik dan orang-orang yang ada penyakit di dalam hatinya berkata: "Mereka itu (orang-orang mukmin) ditipu oleh agamanya." (Allah berfirman): "Barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, maka sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (QS. Al Anfal: 49)

8⃣. Malas mendirikan shalat

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللَّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُوا إِلَى الصَّلَاةِ قَامُوا كُسَالَى يُرَاءُونَ النَّاسَ وَلَا يَذْكُرُونَ اللَّهَ إِلَّا قَلِيلًا

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (QS. An Nisa: 142)

Dan masih banyak lagi karakter mereka dalam Al Quran.

📓 Bagaimana menyikapi mereka?

Selama mereka masih hidup, Allah ﷻ memerintahkan kita untuk hati-hati dan waspada terhadap mereka, walau secara muamalah sama dengan umat Islam lainnya. Karena secara zahir mereka menampakkan Islam, walau mereka juga menolak disebut kafir, dan tidak mau mengakui kekafirannya. Biarlah Allah ﷻ yang memerangi mereka dengan caraNya.

Allah ﷻ berfirman:

هُمُ الْعَدُوُّ فَاحْذَرْهُمْ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

 Mereka itulah musuh (yang sebenarnya) maka waspadalah terhadap mereka; semoga Allah membinasakan mereka. Bagaimanakah mereka sampai dipalingkan (dari kebenaran)? (QS. Al Munafiqun: 4)

📕 Jika Orang Munafik Wafat

Ada pun menyikapi kaum munafiq yang wafat, jika dia An Nifaaq Al Akbar, dan terang benderang kemunafikannya, maka tidak menshalatkannya. Ada pun jika kemunafikannya masih samar, atau An Nifaaq Al Ashghar maka masih dishalatkan.

Allah ﷻ berfirman:

وَلَا تُصَلِّ عَلَى أَحَدٍ مِنْهُمْ مَاتَ أَبَدًا وَلَا تَقُمْ عَلَى قَبْرِهِ إِنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَاتُوا وَهُمْ فَاسِقُونَ

Dan janganlah kamu sekali-kali menyalatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik. (QS. At Taubah: 84)

  Ayat ini berkenaan dengan wafatnya gembong munafik pada masa Nabi, yaitu Abdullah bin Ubai bin Salul, tetapi larangannya berlaku umum untuk mayit munafik lainnya.

  Imam Ibnu Katsir Rahimahullah menjelaskan:

وهذا حكم عام في كل من عرف نفاقه، وإن كان سبب نزول الآية في عبد الله بن أُبَيّ بن سلول رأس المنافقين

  Hukum ini berlaku umum untuk setiap orang yang dikenal kemunafikannya, walaupun sebab turunnya ayat ini tentang Abdullah bin Ubai bin Salul, Sang gembong munafik. (Tafsir Ibnu Katsir, 4/193)

  Hanya saja, di zaman ini untuk menyebut person to person, atau nunjuk hidung orang,  bahwa dia seorang munafik tidaklah mudah. Butuh kajian yang mendalam. Untuk hukum syara’ dan nilai normatifnya, bahwa mayat munafik tidak dishalatkan adalah sudah final dan jelas. Tetapi, ketika hukum itu diturunkan dan  diterapkan terhadap pribadi-pribadi manusia, maka perlu dilihat kasus perkasus. Sebagai contoh, apa yang pernah memanas di Pilkada DKI, tentang pemilih gubernur non muslim, di mana pemilihnya itu beragam, mulai dari orang awam agama, abangan, terpelajar, sampai memang yang menjadi pembela setianya dan menjadi tentaranya. Tentunya ini dihukumi tidak sama.

Khusus orang-orang awamnya, benarkah dia membenci Islam tapi mengaku Islam? Ataukah dia hanya ikut-ikutan saja?  Apakah dia hanyalah orang awam yang tertipu oleh ketidaktahuan dan keluguannya? Seperti tukang sayur, tukang ojek, orang-orang jompo yang tidak tahu menahu hiruk pikuk dan info politik di media, medsos, dan sebagainya.
Di sini peran ulama yang wara’, berilmu, dan takut kepada Allah ﷻ, sangat diperlukan agar umat tidak bertindak sendiri.
Wallahu A’lam

Oleh: Farid Nu'man Hasan, SS.

NASEHAT HARI INI