Tidak Bisa Sholat Jum'atan Karena Pekerjaan

Assalamuallaikum wr wb..Bagaimana hukumnya ustadz seandainya ada perkara tidak pergi jumatan dengan alasan pekerjaan yang tidak bisa di tinggal sedangkan mencari rejeki kan juga kewajiban! Ana itu punya Saudara yang jadi security di sebuah perusahaan,ketika shift pagi dan kebetulan hari jum'at dia tidak  bisa jum'atan  karena  dia kebagian jaga..bagaimana hukumnya ustadz? 
                          
Jawaban
--------------

و عليكم  السلام  و  رحمة  الله  و  بركاته
 Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu ‘Ala Rasulillah wa ‘Ala Aalihi wa Shahbihi wa Man waalah, wa ba’d:

Jazakillah  khairan kepada ukhty penanya … semoga Allah Ta’ala selalu menaungi antum, keluarga, dan kaum muslimin yang istiqamah dengan hidayah dan rahmatNya.

Pada dasarnya melaksanakan shalat jum’at adalah kewajiban bagi setiap muslim berdasarkan firman Allah swt :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا نُودِي لِلصَّلَاةِ مِن يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ إِن كُنتُمْ تَعْلَمُونَ

Artinya : “Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, Maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” 
(QS. Al Jumu’ah : 9)

أن النبي صلى اللّه عليه وآله وسلم قال لقوم يتخلفون عن الجمعة لقد هممت أن آمر رجلاً يصلي بالناس ثم أحرق على رجال يتخلفون عن الجمعة بيوتهم. رواه أحمد ومسلم عن ابن مسعود رضي اللّه عنه

وعن أبي هريرة وابن عمر: (أنهما ما سمعا النبي صلى اللّه عليه وآله وسلم يقول على أعواد منبره لينتهين أقوام عن ودعهم الجمعات أو ليختمن اللّه على قلوبهم ثم ليكونن من الغافلين). رواه مسلم وأحمد والنسائي من حديث ابن عمر وابن عباس. 

وعن أبي الجعد الضمري وله صحبة: (أن رسول اللّه صلى اللّه عليه وآله وسلم قال من ترك ثلاث جمع تهاوناً طبع اللّه على قلبه). رواه الخمسة. ولأحمد وابن ماجه من حديث جابر نحوه أخرجه أيضاً النسائي وابن خزيمة والحاكم بلفظ (من ترك الجمعة ثلاثاً من غير ضرورة طبع على قلبه) قال الدارقطني أنه أصح من حديث أبي الجعد.

Syarat wajib shalat jumah: 
lelaki baligh yang mukim/menetap
Yang tidak wajib:
1. lelaki atau siapapun yang musafir
2. Perempuan
3. anak-anak
4. Budak
5. orang gila
6. Orang sakit.

Ancaman Allah bagi yang meninggalkannya.
Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud bahwa Rasulullah Shalallahu A'laihi wa Salam bersabda tentang orang-orang yang meninggalkan shalat jum’at dengan mengatakan,

”Sebenarnya aku berniat memerintahkan seseorang untuk menjadi imam shalat bersama masyarakat dan aku pergi membakar rumah orang-orang yang meninggalkan shalat jum’at itu.” (HR. Muslim dan Ahmad)

Diriwayatkan dari Abu Hurairoh dan Ibnu Umar bahwa keduanya pernah mendengar Rasulullah Shalallahu A'alibi wa Salam bersabda diatas mimbar bersabda,

”Hendaklah orang-orang itu menghentikan perbuatan meninggalkan shalat jum’at atau Allah akan mengunci hati mereka kemudian mereka menjadi orang-orang yang lalai.” (HR. Muslim)

Al-Ja'd radhiallahu anhu sesungguhnya Rasulullah Shallllah  A'laihi wa Sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ ثَلَاثَ جُمَعٍ تَهَاوُنًا بِهَا طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ(وصححه الشيخ الألباني في " صحيح الجامع)

"Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali dengan meremehkannya, maka Allah tutup hatinya." (Dishahihkan oleh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami)

Ibnu Majah, no. 1126 juga meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah radhiallahu anhuma, dia berkata, Rasulullah Shallallah  A'laihi wa Sallam bersabda,

مَنْ تَرَكَ الْجُمُعَةَ ثَلَاثًا مِنْ غَيْرِ ضَرُورَةٍ طَبَعَ اللَّهُ عَلَى قَلْبِهِ   (وحسنه الشيخ الألباني في " صحيح ابن ماجه)

"Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali tanpa kebutuhan darurat, Allah akan tutup hatinya." (Dinyatakan hasan oleh Al-Albany dalam Shahih Ibnu Majah)

Al-Munawi rahimahullah berkata, "Yang dimaksud ditutup hatinya adalah Allah tutup dan cegah hatinya dari kasih sayangnya, dan dijadikan padanya kebodohan, kering dan keras, atau menjadikan hatinya seperti hati orang munafik." (Faidhul Qadir, 6/133)

Dalam sebagian riwayat disebutkan dengan membatasi tiga kali dengan berturut-turut. Dalam musnad Thayalisi dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, dia berkata, Rasulullah Shallallahu  A'laihi wa Sallam bersabda,

من ترك ثلاث جمع متواليات من غير عذر طبع الله على قلبه

"Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa uzur, maka Allah akan tutup hatinya."

Dalam hadits yang lain,

من ترك الجمعة ثلاث مرات متواليات من غير ضرورة طبع الله على قلبه   (وصححه الشيخ الألباني في " صحيح الجامع)

"Siapa yang meninggalkan shalat Jumat sebanyak tiga kali berturut-turut tanpa darurat, maka Allah akan tutup hatinya." (Dinyatakan shahih oleh Syaikh Al-Albany dalam Shahih Al-Jami)

Tertunda karena udzur syar’i.
Dari Abdullah bin Fadhaalah, dari Ayahnya, katanya:
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan saya, di antara yang pernah dia ajarkan adalah: 
“Jagalah shalat yang lima.” Aku berkata: “Saya memiliki waktu-waktu yang begitu sibuk, perintahkanlah kepada saya dengan suatu perbuatan yang jika saya lakukan perbuatan itu, saya tetap mendapatkan pahala yang cukup.” Beliau bersabda: 
“Jagalah shalat al ‘ashrain. “ (HR. Abu Daud No. 428, Al Hakim dalam Al Mustadrak No. 51, 717, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 2188, Ibnu Abi ‘Ashim dalam Al Aahad wal Matsaani No. 939, Ath Thabarani dalam Al Mu’jam Al Kabir No. 826. Hadits ini dishahihkan oleh Al Hafizh Ibnu Hajar. (Al Imta’ Al Arba’in, Hal. 48), Imam Al Hakim: shahih sesuai syarat Imam Muslim. (Al Mustadrak No. 717), dan disepakati oleh Imam Adz Dzahabi. Syaikh Al Albani juga menshahihkan. (As Silsilah Ash Shahihah No. 1813) )

Dalam riwayat tersebut dijelaskan tentang shalat Al ‘Ashrain adalah:

«صَلَاةٌ قَبْلَ طُلُوعِ الشَّمْسِ، وَصَلَاةٌ قَبْلَ غُرُوبِهَا»

Shalat sebelum terbit matahari (Shalat Subuh) dan Shalat sebelum tenggelam matahari (shalat Ashar). (Ibid)

Dalam hadits ini nabi mengajarkan kepada sahabatnya untuk menjaga shalat lima waktu, tetapi sahabat itu mengeluh kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, tentang kesulitannya menjaga shalat lima waktu itu, lalu nabi memerintahkan dia untuk menjaga shalat subuh dan ashar. Apa maksudnya? Apakah berarti dia boleh meninggalkan shalat lainnya karena kesibukannya, dan dia cukup shalat subuh dan ashar saja? Bukan itu! Sangat mustahil nabi memerintahkan sahabat itu hanya shalat subuh dan ashar tapi meninggalkan shalat wajib lainnya. Tetapi makna hadits ini mesti diartikan bahwa dia sangat sibuk dan kesulitan untuk menjaga shalat berjamaah, maka dia dianjurkan oleh nabi untuk menjaga shalat berjamaah subuh dan ashar, bukan menjaga shalat subuh dan ashar semata-mata.

Inilah Al Hafizh Ibnu Hajar Rahimahullah, dia telah menjelaskan hadits ini dengan begitu bagus sebagai berikut:

وَفِي الْمَتْن إِشْكَال لِأَنَّهُ يُوهم جَوَاز الِاقْتِصَار على الْعَصْريْنِ وَيُمكن أَن يحمل على الْجَمَاعَة لَا على تَركهَا أصلا وَاللَّهُ أَعْلَمُ

Pada redaksi hadits ini nampak ada hal yang membingungkan, karena seakan nabi membolehkan cukup dengan shalat al ashrain (subuh dan ashar), kemungkinan maksud hadits ini adalah tentang meninggalkan shalat berjamaah, bukan meninggalkan shalatnya itu sama sekali. Wallahu A’lam. (Al Imta’ Al Arba’in, Hal. 48)

Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah menambahkan:

Rukhshah (keringanan) ini terjadi hanyalah karena kesibukan yang dimiliki orang itu sebagaimana keterangan dalam hadits tersebut. Wallahu A’lam. (As Silsilah Ash Shahihah No. 1813)

Demikianlah, kesibukan apa pun yang mendatangkan kesulitan untuk shalat pada awal waktu,  atau tidak sholat jum'at berjamaah. Inilah di antara udzur syar’i itu. Tetapi, ini hanya berlaku bagi kesibukan pada aktifitas yang halal dan bermanfaat bagi kehidupan manusia di dunia dan akhirat, bukan kesibukan karena kesia-siaan apalagi sibuk karena perkara haram dan maksiat.

Jadi, dari keterangan diatas, Khusus buat kasus saudara penanya, tentang kesulitan sholat jumat, bila memungkinkan bisa ditugaskan kepada pegawai wanita ketika jam-shalat jum'at  untuk menjaga . karena wanita tidak wajib shalat jumat. Atau jika ada yang non muslim, mungkin bisa didelegasikan dulu kepada mereka. .

Jika tidak didapatkan pengganti maka dibolehkan baginya untuk tidak melaksanakan shalat jum’at dan menggantinya dengan shalat zhuhur berdasarkan keumuman firman Allah swt :

فَاتَّقُوا اللَّهَ مَا اسْتَطَعْتُمْ
 “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu.” (QS. At Thaghabun : 16)

Wallahu a'lam.

Ustadz Farid Nu'man Hasan

NASEHAT HARI INI