SYARAT-SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN (Lanjutan)

Assalaamu'alaikum wr.wb

Adik-adik pemuda Islam harapan umat, mudah-mudahan hari ini senantiasa dalam kebaikan iman dan limpahan hidayah dari Allah SWT. Aamiin..

Mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita mengenai syarat-syarat diterima syahadat yang pada kesempatan lalu telah selesai membahas syarat yang keenam.

Kali ini pembicaraan kita masuk pada syarat yang terakhir yakni yang ketujuh.

SYARAT KETUJUH:

اَلاِنْقِيَادُ اَلْمُنَافِيْ لِلاِمْتَنَاعِ

(PELAKSANAAN YANG MENGHILANGKAN KEPASIFAN / TIDAK MAU BERAMAL)

Orang yang telah bersyahadat harus melaksanakan semua ajaran syariat dan ketentuan Islam.

Firman Allah SWT :

إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan Kami patuh".  Dan mereka Itulah orang-orang yang beruntung". (QS. An Nuur [24] : 51)

Orang-orang beriman itu, ketika diseru langsung oke.

Demikian pula firman Allah dalm QS Al-Baqarah (2) : 124 yang menjelaskan sosok Nabi Ibrahim yang menunaikan SEMUA perintah ALLAH dengan SEMPURNA:

 ... وَ إِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيْمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ

"Dan (ingatlah) tatkala telah diuji Ibrahim oleh TuhanNya dengan beberapa kalimat, lalu ia melaksanakannya dengan sempurna.  ..."

Juga dalam QS Al-Baqarah (2) : 131,

إِذْ قَالَ لَهُ رَبُّهُ أَسْلِمْ قَالَ أَسْلَمْتُ لِرَبِّ الْعَالَمِيْنَ

"Tatkala Tuhannya berfirman kepadanya: berserah dirilah engkau !  Dia menjawab : Aku serahkan diriku pada Tuhan bagi sekalian alam ."

Iman dan Amal Shaleh

Allah SWT selalu mengaitkan iman dengan amal shaleh. Orang-orang yang beriman, pastilah ia kemudian beramal shaleh. Amal shaleh adalah buah dan bukti langsung dari pengakuan iman. Bahkan, orang yang beriman tidaklah bisa menghambat dan menahan dirinya dari beramal shaleh. Terus-menerus. Sayyid Quthb dalam kitab tasirnya Fii Zhilaalil Quran menggambarkan kondisi keterkaitan keimanan dan amal shaleh ini dengan ungkapan "seperti bunga yang tidak dapat menahan bau wanginya". Demikianlah orang-orang yang beriman, ia tidak bisa berhenti dan membatasi dirinya dari beramal shaleh.

Sebaliknya, orang-orang munafik kesukaannya adalah pasif (duduk-duduk) saja dan meninggalkan mujahadah (bersungguh-sungguh di jalan Allah).

Firman Allah dalam QS At-Taubah (9) : 83,

فَإِنْ رَجَعَكَ اللَّهُ إِلَىٰ طَائِفَةٍ مِنْهُمْ فَاسْتَأْذَنُوكَ لِلْخُرُوجِ فَقُلْ لَنْ تَخْرُجُوا مَعِيَ أَبَدًا وَلَنْ تُقَاتِلُوا مَعِيَ عَدُوًّا ۖإِنَّكُمْ رَضِيتُمْ بِالْقُعُودِ أَوَّلَ مَرَّةٍ فَاقْعُدُوا مَعَ الْخَالِفِينَ

"Maka jika Allah mengembalikanmu kepada satu golongan dari mereka, kemudian mereka minta izin kepadamu untuk ke luar (pergi berperang), maka katakanlah: "Kamu tidak boleh ke luar bersamaku selama-lamanya dan tidak boleh memerangi musuh bersamaku. Sesungguhnya kamu telah rela tidak pergi berperang kali yang pertama. Karena itu duduklah (tinggallah) bersama orang-orang yang tidak ikut berperang."

Orang-orang munafik meninggalkan jihad dan amal shaleh dengan seribu satu alasan:

Merasa berat (QS. At-Taubah [9] : 38)
    (اثَّاقَلْتُمْ إِلَى الأرْضِ )

Puasnya kepada kehidupan dunia (QS. At-Taubah [9] : 38)
    (أَرَضِيتُمْ بِالْحَيَاةِ الدُّنْيَ)

Cenderung kepada dunia (QS. Al-A'raaf [7] : 176)  
    (أَخْلَدَ إِلَى الأرْضِ)

Mengikuti hawa nafsu (QS. Al-A'raaf [7] : 176)  
    (وَاتَّبَعَ هَوَاهُ)

Keuntungan yang masih lama (QS. At-Taubah [9] : 42)  
    (عَرَضًا قَرِيبًا)

Jaraknya jauh (QS. At-Taubah [9] : 42)  
    (وَسَفَرًا قَاصِدًا)

Hawa/udara panas (QS. At-Taubah [9] : 81)  
    (لا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ)

Maka, seorang mukmin yang benar adalah mukmin yang produktifitas amal shalehnya tinggi. Karena produktif, maka amal shaleh tersebut surplus, bermanfaat luas bagi orang banyak. Karena amal shaleh dan kebaikan-kebaikan yang surplus, maka bukan hanya orang Islam saja yang mendapatkan manfaatnya, tapi juga manusia seluruhnya, bahkan alam semesta. Mukmin seperti inilah yang dikatakan dapat menjadi rahmat bagi semesta alam. Allah mewahyukan dalam Al Quran :

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

"Dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam".  (QS. Al-Anbiyaa`[21] : 107)

Kesimpulan

Dari seluruh pembahasan kita sejak awal tentang syarat-syarat diterimanya syadahat, maka, hendaklah difahami bahwa agar syahadat kita diterima maka harus didasari oleh ilmu (kefahaman), keyakinan, keikhlasan, ketulusan, kecintaan, penerimaan, dan pelaksanaan.
Kebodohan, keraguan, syirik, dusta, benci, menolak, dan pasif adalah hal-hal yang menyebabkan syahadat tidak diterima.

Jika semua persyaratan itu terpenuhi, maka pasti kita akan RIDHA diatur oleh:
ALLAH
Rasul
Islam
di setiap keadaan.

Wallaahu a'lam bishshowab.

-Tamat-

Oleh: Ustadzah Prima Eyza Purnama

NASEHAT HARI INI