Shalih Pribadi Tapi .....

Realita politik di DKI Jakarta, mungkin bisa menjadi barometer wajah politik umat Islam Indonesia

Polarisasi pemilih memang menyesuaikan tipikal paslon gubernur

Tapi ternyata, tidak selalu muslim memilih muslim, tidak sedikit muslim memilih non muslim, betapa pun non muslim tersebut begitu buruk perangai dan kebenciannya kepada umat Islam dan ulama

Uniknya lagi, ada juga yang memilihnya adalah orang-orang yang sebenarnya rajin shalat, rajin ke masjid, mungkin dia juga berzakat dan bersedekah dan ritual ibadah lainnya

Baik mereka yang strata pertengahan atau bawah

Artinya, untuk keshalihan pribadi dengan ibadah-ibadah terbatas, mereka tidak ada masalah sama sekali.

Maraknya ta’lim yang mereka ikuti, kajian-kajian spiritualitas, nampaknya hanya untuk memenuhi sisi kosong jiwa  mereka saja

Tapi kenapa mereka memilih non muslim juga, masih bagus jika non muslim tersebut berpihak kepada Islam, tapi ini berkali-kali menunjukkan antipatinya kepada Islam dan ulama?

Atau, kenapa masih suka bergelimangan dengan pinjaman-pinjaman atau cicilan ribawi?

Ini bisa jadi tidak sederhana, tapi yang paling mudah terlihat adalah pemahaman mereka pada batas keshalihan; yang penting saya sudah melaksanakan rukun Islam!

Ada pun Islam dalam artian sebuah tatanan hidup yang mewarnai semua sendi kehidupan belum menjadi sesuatu yang menarik dan menggoda. Bahkan bisa jadi mereka asing bahkan menolaknya

Jadi, yang dikatakan Islami itu jika sudah shalat, zakat, haji, shaum, umrah, .... mereka sangat menikmati itu semua

Namun, untuk keluarga Islami, ekonomi syariah, politik syariah, pergaulan Islam, busana Islam .. mrk tidak memandang penting bahkan menyebutnya “Islam Politik”, dengan pandangan skeptis

Ya, mereka sudah masuk shalih pribadi, dan ini perlu diapresiasi .., tapi masih perlu dilanjutkan dengan shalih sosial, shalih politik, shalih ekonomi dan lainnya ..

Allahu Yahdina ilaa sawaa’is sabiil

Pemateri: Ustadz Farid Nu'man Hasan.S.S.

NASEHAT HARI INI