Kisah Istri Musa AS

وَدَخَلَ الْمَدِينَةَ عَلَى حِينِ غَفْلَةٍ مِنْ أَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلانِ هَذَا مِنْ شِيعَتِهِ وَهَذَا مِنْ عَدُوِّهِ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِي مِنْ شِيعَتِهِ عَلَى الَّذِي مِنْ عَدُوِّهِ فَوَكَزَهُ مُوسَى فَقَضَى عَلَيْهِ قَالَ هَذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ عَدُوٌّ مُضِلٌّ مُبِينٌ
"Dan dia (Musa) masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah, maka dia mendapati di dalam kota itu dua orang laki-laki sedang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan yang seorang (lagi) dari pihak musuhnya (kaum Fir'aun). Orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk (mengalahkan) orang yang dari pihak musuhnya, lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Dia (Musa) berkata, "Ini adalah perbuatan setan. Sungguh, dia (setan) adalah musuh yang jelas menyesatkan.” (QS Al-qashas:15)

🖌Suatu hari nabi Musa AS pergi ke kota Memphis ibukota Mesir saat itu. Ketika ia berjalan di kota itu, ia melihat dua orang yang berkelahi. Satu orang dari Bani Israil dan satu lagi dari kerabat Fir'aun. Seorang dari Bani Israil itu adalah Samiry dan kerabat Fir'aun bernama Nafuun.

Samiry berkata:"Wahai Musa, orang ini ingin membunuhku." Musa berkata:"Tinggalkan dia wahai Nafuun." Namun Nafuun bukan meninggalkan Samiry, tetapi ia malah menantang Musa. Musa mengayunkan tangannya hingga orang itu jatuh. Dan betapa kagetnya Musa ketika tahu bahwa Nafuun bukan sekedar jatuh tapi ia meninggal. Dengan penuh sesal, Musa memohon ampun kepada Allah.

Keesokan harinya, Musa menemukan Samiry sedang berkelahi dengan kerabat Fir'aun lagi. Seketika ia berteriak memanggil Musa saat melihatnya. Namun Musa berkata:"Sesungguhnya engkau pembawa kesesatan yang nyata." Maka tiba-tiba Samiry berteriak hingga orang-orang mengerumuninya dan mengetahui bahwa Musa yang melakukan kejahatan kepada Nafuun kemarin.

Hizqil..seorang kerabat Fir'aun yang beriman kepada Allah meminta Musa untuk segera pergi meninggalkan Mesir sebelum pasukan Fir'aun datang dan menangkapnya. Pergilah Musa dengan tergesa agar tidak terkejar oleh pasukan Fir'aun. Hingga ia tiba di suatu kampung bernama Madyan. Musa berteduh dibawah sebatang pohon besar yang terletak dekat sebuah sumur dimana disana orang ramai mengambil air dan memberi minum binatang ternak mereka. Tidak jauh ia melihat dua orang perempuan yang menjaga ternaknya dan tidak bergabung dengan orang banyak seolah mereka lemah untuk berebut dengan mereka. Musa bertanya:"Mengapa kalian tidak minum dan memberi minum ternak kalian seperti mereka?" Perempuan itu menjawab:"Kami menunggu orang-orang usai. Kami tidak mungkin berdesakan berebut tempat dengan para laki-laki itu." Musa berdiri membawa ember perempuan itu dan mengisinya hingga penuh. Kemudian kembali duduk di bawah pohon seraya berdo'a agar diberikan rizki yang halal.
فَقَالَ رَبِّ إِنِّي لِمَا أَنْزَلْتَ إِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيرٌ
"lalu (Musa) berdoa, "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan (makanan) yang Engkau turunkan kepadaku." (QS Al-Qashas:24)

Ketika Shofuro dan saudara perempuannya kembali ke rumah dan menemui ayahnya seorang laki-laki solih, mereka menceritakan peristiwa tadi.  Shofuro berkata kepada ayahnya:"Andai engkau mau mempekerjakannya ayah, dia seorang yang kuat dan jujur." Ayahnya menyuruh mereka untuk memanggilnya agar ia berikan uang atas jasanya. Maka Shofuro memanggil Musa dan ia berjalan dibelakangnya hingga sampai di rumahnya. Ayahnya mempersilakan Musa untuk duduk bersamanya sementara anak-anak perempuannya menyiapkan hidangan. Mulailah nabi Musa AS menceritakan perjalanannya kepada laki-laki solih itu yaitu nabiyulloh Suaib AS. Dan ketika Musa usai bercerita, nabi Suaib mengatakan:"Allah telah menyelamatkanmu dari kaum yang dzalim." Kemudian ia menyambungnya dengan mengatakan:"Aku ingin menikahkanmu dengan salah satu putriku dengan mahar engkau bekerja padaku selama delapan tahun."

Musa menyepakati permintaan nabi Suaib dan menikahlah ia dengan Shofuro hingga menuntaskan pekerjaannya hingga sepu

luh tahun. Ia menambahkan dua tahun dari yang ia sepakati di awal. Ketika sudah sampai pada waktunya, dan rasa rindu kepada Mesir sering mendera, Musa bersama istrinya merencanakan untuk pulang ke Mesir. Nabi Suaib membekalinya dengan ternak yang banyak dan perbekalan-perbekalan lain. Nabi Musa bersama istri menempuh perjalanan menuju Mesir melintasi bukit sinai. Cuaca saat itu sangat dingin. Maka Musa menempuh jalur kanan disamping bukit Thur hingga ia mendirikan kemah disana yang dipakai beristirahat oleh istrinya untuk beberapa hari.

Nabi Musa AS berkeliling sekitar kemah untuk mencari api. Dan dikejauhan ia melihat cahaya seperti sumber api. Iapun menyusuri jalan menuju cahaya itu.
  فَلَمَّا قَضَى مُوسَى الأجَلَ وَسَارَ بِأَهْلِهِ آنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّورِ نَارًا قَالَ لأهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِخَبَرٍ أَوْ جَذْوَةٍ مِنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُونَ (٢٩) فَلَمَّا أَتَاهَا نُودِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الأيْمَنِ فِي الْبُقْعَةِ الْمُبَارَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ أَنْ يَا مُوسَى إِنِّي أَنَا اللَّهُ رَبُّ الْعَالَمِينَ (٣٠
"Maka ketika Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan itu dan dia berangkat dengan keluarganya (menuju Mesir), ia melihat api di lereng gunung. Dia berkata kepada keluarganya, "Tunggulah (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari (tempat) api itu atau (membawa) sepercik api, agar kamu dapat menghangatkan badan.
Maka ketika dia (Musa) sampai ke (tempat) api itu, dia diseru dari (arah) pinggir sebelah kanan lembah dari sebatang pohon di sebidang tanah yang diberkahi, "Wahai Musa! Sungguh, Aku adalah Allah, Tuhan seluruh alam." (QS Al-Qashas:29-30)

Hikmah kehidupan :

Tidak selamanya orang yang kita tolong membalas dengan perbuatan baik. Terkadang mereka malah membalas dengan keburukan. Hal seperti ini banyak dialami oleh para nabi.

Ikatan iman berada diatas ikatan kekerabatan. Bahkan kerabat Fir'aun melindungi Musa karena landasan kesamaan imannya.

Diantara akhlak mulia adalah membantu yang membutuhkan tanpa pandang bulu.

Kedermawanan tidak harus selalu dengan harta. Sikap dermawan dapat ditunjukan dengan menyumbang tenaga atau fikiran.

Nabi Suaib mendidik putrinya dengan akhlak dan adab yang mulia. Menjaga kehormatan diri dengan tidak berbaur dengan lawan jenis dan memilih jalan dibelakang laki-laki. Tentu agar terjaga kehormatannya.

Seorang yang solih memiliki kemampuan mendengarkan dan menyimak yang baik. Nabi Suaib menyimak cerita nabj Musa hingga tuntas. Dan ia menyimak dengan khusyu sehingga mampu menyimpulkan.

Diantara kriteria kesalihan adalah jujur dan kuat.

Tidak semua nabi dari kalangan dhuafa. Nabi Suaib memiliki ternak yang banyak. Dan itu menandakan kesejahteraan keluarganya.

Tidak dilarang kaum perempuan melakukan pekerjaan diluar rumah. Kadang keluarnya perempuan menjadi sebuah tuntutan. Akan tetapi berlaku ketentuan-ketentuan sesuai syari'at.

Menjamu tamu merupakan sunnah hasanah para nabi.

Seorang ayah bertanggung jawab terhadap calon suami anaknya. Dan ia boleh miminta/meminang terlebih dahulu.

Penunaian mahar boleh dicicil dengan perjanjian yang jelas untuk kurun berapa lama.

Hibah yang diberikan orang tua kepada anak merupakan sesuatu yang baik, walaupun kondisi anak sudah mandiri.

Seorang perempuan yang sudah menikah, maka imamnya adalah suaminya. Ia harus patuh dan ta'at pada suaminya. Bahkan jika suaminya menginginkan suatu hal yang terasa berat bagi istri. Seperti hijrah berpindah tempat tinggal.

Suami istri adalah pasangan yang saling melengkapi saling menguatkan. Shofuro rela meninggalkan keluarganya yang sejahtera di Madyan untuk mendampingi Musa pergi menuju Mesir. Ia menyadari bahwa Musa memerlukan kehadirannya sebagai penyempurna dan mitra untuk saling menguatkan.

Kemuliaan seorang istri terdapat pada sikap ta'at dan dukungannya pada suami.

Wallohu a'lam bish showwab

Pemateri: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj


0 Response to "Kisah Istri Musa AS"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI