Bangkitnya Neo Jabariyah

Jabariyah atau Jabriyah adalah firqah (kelompok) yang meyakini bahwa manusia dipaksa pada semua perbuatannya, manusia tidak mampu memilih (ikhtiyar) dengan apa yang mereka alami, baik dan buruk, semuanya perbuatan Allah Ta'ala melalui diri mereka.

Paham ini menganggap manusia bagaikan wayang yang sama sekali tidak kuasa berbuat apa, tidak memiliki kuasa, kebebasan, kehendak, dan kemauan. Sehingga, apa yang terjadi pada manusia dan kehidupannya mesti diterima saja, pasrah, biarkan, jangan otak atik, semua sudah diatur Allah Ta'ala, manusia terima jadi saja.

Lawan Jabariyah adalah Qadariyah. Qadariyah meyakini semua yang manusia alami, baik dan buruk, detil dan global, adalah murni dari manusia. Allah Ta'ala sama sekali tidak punya peran kecuali menciptakan saja. Kedua kelompok ini sama-sama tersesat, hanya melihat satu dalil namun melupakan yang lainnya. Insya Allah dilain waktu semoga ada pembahasan secara khusus tentang keduanya.

Jabariyah Kontemporer/masa kini

Belakangan ini begitu kentara aroma Jabariyah, mungkin lebih tepatnya Neo Jabariyah - Jabariyah Gaya Baru. Mereka menyerukan kepasrahan kepada umat Islam terhadap kezaliman pemimpin; biarkan saja, pasrah, ini sudah taqdir, walau harta kita dirampas dan punggung kita digebuk taati saja - seraya menyitir hadits yang berisi seputar itu.

Mereka mengambil satu dalil tapi melupakan dalil lain, sehingga terjadi gambaran pincang tentang menyikapi pemimpin zalim. Ditambah lagi mengutip perkataan ulama yang sesuai keinginan mereka tapi menutup mata dari perilaku para ulama tersebut yang justu begitu progresif terhadap para penguasa zalim.

Al-Qur'an dan As-Sunnah Mengajarkan Tidak Diam Terhadap Penguasa Zalim

Allah Ta'ala memerintahkan Nabi Musa 'Alaihissalam untuk menda'wahi Fir'aun, bukan memerintahkan untuk duduk berpangku tangan:

اذْهَبْ إِلَىٰ فِرْعَوْنَ إِنَّهُ طَغَىٰ

"Pergilah engkau (Musa) kepada Fir'aun sebab dia telah melampaui batas." (QS. An-Naziat: 17)

Nabi Ibrahim 'Alaihissalam berdialog dengan Namrudz dari Babilonia yang disaksikan oleh para pembesar dan pengawalnya. Sebagaimana yang Allah Ta’ala ceritakan dalam Al-Qur'an:

"Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan". Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, Maka terbitkanlah Dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim." (QS. Al-Baqarah (2): 258)

Tentang ayat ini, Zaid bin Aslam mengatakan, bahwa raja pertama yang diktator di muka bumi adalah Namrudz. Manusia keluar rumah serta menjejerkan makanan di depan Namrudz. Begitu pula Ibrahim pun ikut melakukannya bersama manusia. Masing-masing mereka dilewati oleh Namrudz dan dia bertanya; "Siapakah Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Engkaulah!" hingga giliran Ibrahim, Namrudz bertanya: "Siapakah Tuhanmu?" Ibrahim menjawab: "Tuhanku adalah yang menghidupkan dan mematikan." Namrudz menjawab: "Aku bisa menghidupkan dan mematikan." Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari di Timur dan menenggelamkannya di Barat." Maka bungkamlah orang kafir itu." (Imam Abu Ja'far bin Jarir Ath-Thabari, Jami' Al-Bayan fi Ta'wilil Qur'an, 5/433. Muasasah Ar-Risalah, Tahqiq: Syaikh Ahmad Muhammad Syakir)

Ada pun As-Sunnah, begitu banyak tuntunan melakukan nasihat dan amar ma'ruf nahi mungkar kepada para penguasa.

Dari Abu Ruqayyah  Tamim bin Aus Ad Dari Radhiallahu 'Anhu, bahwa Nabi Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

الدِّيْنُ النَّصِيْحَةُ قُلْنَا: لِمَنْ يَارَسُولَ اللهِ ؟ قَالَ: للهِ،ولكتابه، ولِرَسُوْلِهِ، وَلأَئِمَّةِ المُسْلِمِيْنَ، وَعَامَّتِهِمْ .  رواه مسلم

"Agama adalah nasihat." Kami berkata: "Untuk siapa wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Untuk Allah, kitab-Nya, Rasul-Nya, para pemimpin kaum muslimin, dan orang umumnya." (HR. Muslim No. 55)

Dari Abu Said Al-Khudri, dia berkata bahwa Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda:

أَفْضَلُ الْجِهَادِ كَلِمَةُ عَدْلٍ عِنْدَ سُلْطَانٍ جَائِرٍ أَوْ أَمِيرٍ جَائِرٍ

"Jihad yang paling utama adalah mengutarakan perkataan yang 'Adil di depan penguasa  atau pemimpin yang zhalim." (HR. Abu Daud No. 4344.  At-Tirmidzi No. 2174, katanya: hadits ini hasan gharib. Ibnu Majah No. 4011, Ahmad No.  18830, dalam riwayat Ahmad tertulis Kalimatul haq (perkataan yang benar) )

Syaikh Syu'aib Al-Arnauth mengatakan shahih. (Tahqiq Musnad Ahmad No. 18830),  juga dishahihkan oleh Syaikh Al Albani. (As Silsilah Ash Shahihah No. 491)

Dari Jabir radhiallahu 'anhu, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda,

سيد الشهداء حمزة بن عبد المطلب ، ورجل قال إلى إمام جائر فأمره ونهاه فقتله

"Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan orang yang berkata penguasa tirani, ia melarang dan memerintah, namun akhirnya ia mati terbunuh." (HR.  Ath-Thabarani dalam Al-Awsath No. 4079, Al-Hakim, Al-Mustdarak 'Ala Ash-Shaihain, No. 4884, katanya shahih, tetapi Bukhari-Muslim tidak meriwayatkannya. Al-Bazzar No. 1285. Syaikh Al-Albany  mengatakan shahih dalam kitabnya, As-Silsilah Ash-Shahihah No. 374 )

Para ulama salaf dan khalaf juga menunjukkan posisinya yang tegas terhadap pemimpin yang zalim. Bukan pasrah, dan tidak melakukan amar ma'ruf nahi munkar kepada mereka.

Imam Adz-Dzahabi Rahimahullah berkata tentang Imam Ibnu Sirin Rahimahullah:

قال هشام: ما رأيت أحدا عند السلطان أصلب من ابن سيرين

"Berkata Hisyam: Aku belum pernah melihat orang yang paling tegas terhadap penguasa dibanding Ibnu Sirin." (Siyar A'lam An-Nubala, 4/615)

Imam Adz-Dzahabi juga menceritakan, bahwa Imam Amr Asy-Sya'bi telah mengkritik penguasa zalim, Hajjaj bin Yusuf dan membeberkan aibnya di depan banyak manusia (para  Ahli Qurra). Dari Mujalid, bahwa Asy-Sya'bi berkata:

فأتاني قراء أهل الكوفة، فقالوا: يا أبا عمرو، إنك زعيم القراء، فلم يزالوا حتى خرجت معهم، فقمت بين الصفين أذكر الحجاج وأعيبه بأشياء، فبلغني أنه قال: ألا تعجبون من هذا الخبيث ! أما لئن أمكنني الله منه، لاجعلن الدنيا عليه أضيق من مسك جمل

"Maka, para Qurra' dari Kufah datang menemuiku. Mereka berkata: "Wahai Abu Amr, Anda adalah pemimpin para Qurra'." Mereka senantiasa merayuku hingga aku keluar bersama mereka. Saat itu, aku berdiri di antara dua barisan (yang bertikai). Aku menyebutkan Al-Hajaj dan aib-aib yang telah dilakukannya. Maka, sampai kepadaku (Mujalid), bahwa dia berkata: "Tidakkah kalian heran dengan keburukan ini?! Ada pun aku, kalaulah Allah mengizinkan mengalahkan mereka, niscaya dunia ini akan aku lipat lebih kecil dari kulit Unta membungkusnya." (Ibid, 4/304)

Begitu pula sikap Imam An-Nawawi terhadap Sultan Zhahir, Imam 'Izzuddin bin Abdussalam terhadap Najmuddin Ayyub, Imam Ibnu Taimiyah terhadap Sultan Ghazan, dan lain sebagainya.

Inilah Ahlus Sunnah, menyerahkan dan mengadukan kezaliman penguasa kepada Allah Ta'ala, tapi tidak melupakan amar ma'ruf nahi munkar kepada mereka walau dengan resiko mereka ditangkap, diusir, bahkan dibunuh.

Semoga Allah Ta'ala lindungi umat ini dari paham Jabariyah, Qadariyah, juga Murjiah dan Khawarij.

Wallahu A'lam

Oleh: Ustadz Farid Nu'man Hasan

NASEHAT HARI INI