Tidak Mudah Menyatukan Ummat, Kepentingan Bersama Tidak Selalu Menjadi Prioritas

Penaklukan kota Tunis - 16 Agustus 1534

Penaklukan kota ini terjadi pada hari Ahad 6 Safar 941 Hijriah (16 Agustus 1534) ketika kota Tunis diserbu dan dikuasai oleh Khairuddin Barbarossa dari Muley Hasan, penguasa dari Emirat Hafsiyah yang berpihak kepada Kerajaan Habsburg di Spanyol. Tunis kini merupakan ibukota negara Tunisia.

Latar Belakang

Pada tahun 1533, Sultan Suleiman I Kanuni memerintahkan admiralnya, Khairuddin Barbarossa, untuk membangun armada laut dalam jumlah yang besar untuk masa itu. Khairuddin berlayar dari pangkalannya di Aljazair ke ─░stanbul untuk mengawasi pembangunam armada tersebut. Sepanjang musim dingin 1533-34 berhasil dibangun 70 galley dengan awak sebanyak 1.200 budak.

Operasi Kilat

Dengan mengandalkan armada baru ini, Khairuddin melakukan manuver agresif di sepanjang pantau Italia sebelum menyerbu Tunis. Kota pelabuhan Tunis waktu itu menutup diri dari kapal-kapal Khilafah Turki Utsmani serta memihak pada Kerajaan Habsburg yg berada di Spanyol.

Khairuddin Barbarossa kemudian menjadikan Tunis sebagai salah satu pangkalannya untuk operasi militer di Laut Mediterranean bagian tengah; termasuk untuk memantau aktivitas pasukan salib yang juga memiliki pangkalan di Pulau Malta.

Kelanjutan

Atas permohonan Muley Hasan dari Emirat Hafsiyah kepada Raja Charles V maka pada tahun 1535 menyerbu dan merebut kembali kota Tunis.

Agung Waspodo, demikian untuk diketahui bahwa untuk kepentingan yang lebih strategis maka berposisi merangkul entitas lokal mungkin akan berdampak positif dalam jangka panjang. Setelah 481 tahun kemudian, lebih 5 hari.. Agustus memang padat dan saya keteteran..

Depok, 21 Agustus 2015

By: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

NASEHAT HARI INI