TAUHIDULLAH (Mengesakan Allah)


📚 AQIDAH

📝 Pemateri: Ustadz Aus Hidayat Nur

Apa yang dimaksud dengan tauhid?

Tauhid artinya mengesakan Allah dalam seluruh keyakinan,  perkataan maupun perbuatan seorang yang beriman.

Secara bahasa kata “tauhid” diambil dari kata wahhada-yuwahhidu tawhiidan yang dalam Bahasa Arab artinya menyatukan atau mengesakan. Maka seorang muslim yakin bahwa Allah Maha Esa, tiada sekutu baginya dalam penciptaan, kekuasaan, perbuatan , fungsi maupun sebagai tujuan beribadah.

Tauhid merupakan inti dari aqidah Islam. Karena keimanan kepada Allah harus disertai dengan keyakinan terhadap keesaan-Nya.  Inilah yang membedakan iman Islam  yang membangun keyakinan tauhid kepada Allah dengan selain Islam yang tidak bertauhid.

Sebenarnya hanya Islam yang tegak dengan  keyakinan  Ketuhanan Yang Maha Esa, karena konsep Tauhid Islam didasarkan pada wahyu Allah yang tidak diragukan lagi kebenarannya.

Firman Allah,

 قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ * اللَّهُ الصَّمَدُ * لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ * وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

Katakanlah, "Dialah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tiada pula-diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.” (Al Ikhlas: 1-4)

Bagaimanakah Al Qur-an membagi tauhid?
Mengapa perlu pembagian tauhid itu?

Secara umum tauhid dapat dibagi menjadi empat bagian yang keseluruhannya saling berhubungan dan tidak terpisahkan satu dengan lain karena saling menjelaskan. Keempatnya berdasarkan  Al Qur-an Surat Alfaatihah dan Surat An Naas,

1) Tauhid Rububiyah: Alhamdulillahi Robbil Aa’lamin (al faatihah)- Rabbunnaas (An Naas)

2) Tauhid Mulkiyah : Maliki Yaumid diin (Al faatihah) - Malikinnaas (An Naas).

3) Tauhid Asma wa Sifat: Bismillahirrahmaanirrahiim (Al faatihah dan awal seluruh surat Al Qur-an).

4) Tauhid Uluhiyah : iyyaka na’budu (Al faatihah) – ilahinnaas (AlFatihah)

Pembagian tauhid dimaksudkan untuk memudahkan Kaum Muslimin mempelajari tauhidullah, menyerap kandungan maknanya dalam hati dan pikiran serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Itulah sebabnya para ulama aqidah ada yang membagi tauhid itu hanya dua saja yaitu Tauhid Rububiyah dan Uluhiyah.

Ada pula yang membaginya atas tiga: Rububiyah, Uluhiyah, dan Asma wa Sifat. Sebenarnya karena Mereka memasukkan Tauhid mulkiyah ke dalam pembahasan Tauhid Rubiyah atau ke dalam Tauhid Asma wa Sifat. Sesuai keperluan masing-masing dalam pembinaan aqidah yang dilakukan.

Perbedaan tersebut hanya bersifat metoda keilmuan saja, isi dan kandungannya sama.

Pertama: Tauhid Rububiyah

Tauhid rububiyah adalah keyakinan kokoh bahwa Allah adalah satu-satunya Pencipta, Pemelihara dan Pengatur (penata) alam semesta. Allah Maha Esa dalam segala yang dilakukan-Nya, tidak memerlukan bantuan atau pertolongan saat menciptakan memelihara, mengatur dan menjaga seluruh makhluk-Nya.

Tauhid Rububiyah menolak anggapan orang-orang yang menyekutukan Allah dalam menciptakan alam semesta dan manusia.

Firman Allah,
Segala puji  bagi Allah, Tuhan semesta alam (AL-fatihah: 2)

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas 'Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam. (Al A’raaf: 54)

Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah Yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa'at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian itulah Allah, Tuhan kamu, maka sembahlah Dia. Maka apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Yunus: 3)

Sesungguhnya  semua manusia mengakui rububiyah Allah, bahwa Dia Maha Pencipta namun mereka tidak mentauhidkannya sehingga ada keyakinan bahwa pihak lain memberi andil dalam penciptaan atau pengaturan alam semesta.

Hati manusia telah diberi fitrah untuk mengakui Rubiyah Allah dalam hal wujud (eksistensi). Sebagaimana perkataan para Rasul yang difirmankan Allah,
“Rasul-rasul mereka berkata, “Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah , Pencipta langit dan bumi?” (Ibrahim: 10)

Firaun yang paling dikenal pengingkarannya terhadap ajaran atauhid yang dibawa Nabi Musa Alaihis salaam pun hatinya mengakui ketuhanan Allah ini.

Sebagaimana perkataan Musa Alaihis Salaam kepadanya,

Musa menjawab: "Sesungguhnya kamu telah mengetahui, bahwa tiada yang menurunkan mukjizat-mukjizat itu kecuali Tuhan Yang memelihara langit dan bumi sebagai bukti-bukti yang nyata; dan sesungguhnya aku mengira kamu, hai Fir'aun, seorang yang akan binasa." (Al Isra: 102)

Orang-orang yang mengingkai eksistensi Allah seperti kaum komunis dan para pemuja Science beranggapan bahwa alam terjadi dengan sendirinya. Mereka hanya menampakkan keingkaran dan kesombongan untuk mengakui Sang Pencipta. Karena batin mereka diam-diam mengakui Yang Maha Agung. Sebab tidak ada satu benda pun kecuali ada yang membuatnya, dan tiada suatu reaksi melainkan pasti ada aksi.

Kepalsuan omongan mereka telah dibongkar  oleh Allah dengan firman-Nya.

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ * أَمْ خَلَقُوا السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۚ بَلْ لَا يُوقِنُونَ * أَمْ عِنْدَهُمْ خَزَائِنُ رَبِّكَ أَمْ هُمُ الْمُصَيْطِرُونَ

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa? (Ath thuur: 35-37)

Termasuk dalam Tauhid rububiyah ini adalah keyakinan bahwa Allah satu-satunya yang menghidupkan dan mematikan, menyembuhkan atau membuat sakit, menentukan nasib dan peruntungan maupun kerugian Kita, memberi manfaat dan mudharat dalam kehidupan Kita, sekecil apa pun hal tersebut. Seseorang yang mempercayai bahwa seekor angsa telah menyelamatkan rumah dari pencurian tergolong orang yang  tidak mentauhidkan Allah secara Rububiyah. Demikian juga orang-orang yang beranggapan bahwa yang menyembuhkan adalah dokter atau obat yang diminumnya tergolong syirik rubiyah.

Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?"
Jawabnya: "Allah."

Katakanlah: "Maka patutkah kamu mengambil pelindung-pelindungmu dari selain Allah, padahal mereka tidak menguasai kemanfaatan dan tidak (pula) kemudharatan bagi diri mereka sendiri?."

Katakanlah: "Adakah sama orang buta dan yang dapat melihat, atau samakah gelap gulita dan terang benderang; apakah mereka menjadikan beberapa sekutu bagi Allah yang dapat menciptakan seperti ciptaan-Nya sehingga kedua ciptaan itu serupa menurut pandangan mereka?"

Katakanlah: "Allah adalah Pencipta segala sesuatu dan Dia-lah Tuhan Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa." (Ar Ra’du: 16)

Penyimpangan terhadap Tauhid Rububiyah ini membuat pelakunya terjatuh ke dalam neraka. Perhatikanlah bagaimana penyesalan penghuni neraka.

فَكُبْكِبُوا فِيهَا هُمْ وَالْغَاوُونَ * وَجُنُودُ إِبْلِيسَ أَجْمَعُونَ * قَالُوا وَهُمْ فِيهَا يَخْتَصِمُونَ * تَاللَّهِ إِنْ كُنَّا لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ * إِذْ نُسَوِّيكُمْ بِرَبِّ الْعَالَمِينَ

Maka mereka (sembahan-sembahan itu) dijungkirkan ke dalam neraka bersama-sama orang-orang yang sesat. dan bala tentara iblis semuanya. Mereka berkata sedang mereka bertengkar di dalam neraka: "demi Allah: sungguh kita dahulu (di dunia) dalam kesesatan yang nyata, karena kita mempersamakan kamu dengan Tuhan semesta alam." (Asysyu’raa: 94-98)

Melalui perkataan Nabi Ibrahim AS yang diabadikan dalam Al Qur-an  – Allah adalah sebaik-baik yang menjelaskan tentang Tauhid Rububiyah ini, ketika Ibrahim berkata kepada kaumnya:

Ibrahim berkata: "Maka apakah kamu telah memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyang kamu yang dahulu? Karena sesungguhnya apa yang kamu sembah itu adalah musuhku, kecuali Tuhan Semesta Alam, (yaitu Tuhan) Yang telah menciptakan aku, maka Dialah yang menunjuki aku, dan Tuhanku, Yang Dia memberi makan dan minum kepadaku, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku, dan Yang akan mematikan aku, kemudian akan menghidupkan aku (kembali), (Asysyu’raa:75-81 )

Perhatikan bagaimana Nabi Ibrahim Alaihis Salaam menunjukkan keyakinan tauhid rubiyahnya penuh dengan etika dan kesantunan, dan apabila aku sakit, Dialah Yang menyembuhkan aku. (Asy-Syu'ara': 80)

Sakit dinisbatkan (disandarkan) kepada diri Ibrahim sendiri, sekalipun pada kenyataannya berasal dari takdir Allah dan ketetapan-Nya, juga sebagai ciptaan-Nya, tetapi sengaja disandarkan kepada diri Ibrahim sebagai etika sopan santun terhadap Allah Subhanahu Wa Ta'ala.

Dalam tauhid rububiyah keyakinan yang kokoh bahwa Allah Maha Menciptakan segala sesuatu membuat seorang mukmin tidak terperdaya dengan kemajuan orang-orang kafir dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Dalam keyakinan Kaum Muslimin semuanya merupakan ciptaan Allah,
yang kepunyaan-Nya-lah kerajaan langit dan bumi, dan Dia tidak mempunyai anak, dan tidak ada sekutu bagiNya dalam kekuasaan(Nya), dan dia telah menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya (Alfurqon: 2)

Segala puji bagi Allah Pencipta langit dan bumi, Yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga dan empat. Allah menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Faathir: 1)

dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal dan keledai, agar kamu menungganginya dan (menjadikannya) perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang kamu tidak mengetahuinya.(Annahal:8)

Dengan demikian tidak ada satu benda pun yang dianggap hasil kemajuan teknologi modern melainkan juga merupakan ciptaan Allah dengan segala ketentuan-ketentuan-Nya.

Firman Allah,
Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu." (Asshafaat: 96)

Semua buatan manusia yang bermanfaat bagi sesamanya merupakan bagian dari ciptaan Allah. Karena itu hak memerintah alam semesta  dan masing-masing  jiwa manusia hanyalah hak Allah namun kebanyakan manusia tidak mengetahui atau menyadarinya.

(Bersambung)

0 Response to "TAUHIDULLAH (Mengesakan Allah)"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI