TAUHIDULLAH (Mengesakan Allah) Bag-2

TAUHIDULLAH (Mengesakan Allah) Bag-2

📚 AQIDAH

📝 Pemateri: Ustadz Aus Hidayat Nur

Materi sebelumnya bisa dilihat di tautan berikut:

http://www.manis.id/2017/01/tauhidullah-mengesakan-allah.html?m=1

2⃣Kedua: *Tauhid Mulkiyah*

Tauhid mulkiyah adalah keyakinan yang  kokoh dalam diri seorang mukmin bahwa Allah adalah satu-satunya pemilik alam semesta sekaligus Raja yang paling berkuasa di alam semesta. Seluruh ciptaan Allah adalah milik Allah, maka Dia saja yang paling berhak merajai dan Dia tidak memberi kewenangan (otoritas) kepada siapa pun tanpa idzin dan kehendak-Nya.

Allah adalah Robbul alam semesta, Robb manusia dan sekaligus Raja manusia sebagaimana dinyatakan dalam Surat An Nas:

قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ * مَلِكِ النَّاسِ * إِلَٰهِ النَّاسِ

_Katakanlah, "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia.(An Naas: 1-3)_

Seluruh alam semesta merukan milik Allah dan baginya  kerajaan di Dunia maupun Akhirat telah dinyatakan dalam beberapa ayat,

_Kepunyaan Allah-lah segala yang ada di langit dan di bumi; dan kepada Allah-lah dikembalikan segala urusan.(Ali Imraan: 109)_

_Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi; dan Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.(Ali Imraan: 189)_

_Mahasuci Allah Yang menguasai segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu,(Al Mulk:1)_

_Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan. (Yaasiin: 83)_

_Dan hanya kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi. Dia memberikan ampun kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan mengazab siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Alfath: 14)_

Allah adalah Raja yang sebenarnya. Setiap penguasa dunia diberikan kewenangan sangat terbatas dengan waktu yang terbatas pula. Mereka tidak dapat disebut Raja yang sebenarnya, karena bersifat mandatori (amanat) yang harus dia tunaikan sesuai dengan syariat dan atauran-Nya,

قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

_Katakanlah: "Wahai Allah Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (Ali Imraan: 26)_

Karena itu orang yang memiliki Tauhid mulkiyah tidak akan tunduk kepada Raja-raja Dunia yang tidak melaksanakan syariat Allah. Mereka selalu berusaha menegakkan kedaulatan Allah dalam jiwanya dan berjuang sekuat tenaga agar hukum dan syariat Allah tegak di muka bumi.

Mereka hanya memberikan ketaatan dan loyalitas kepada Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman. Mereka akan meninggalkan segala bentuk ketundukan yang bukan kepada Allah. Mereka tidaka kan taat kepada  para penguasa yang mengingkari Allah atau menolak tegaknya hukum Allah di muka bumi.

Tauhid mulkiyah ini merupakan keyakinan yang paling dibenci oleh para penguasa yang enggan menegakkan Kalimatullah (syariah dan hukum) Allah di muka bumi. Penguasa yang mengajak bangsa atau kaumnya mengingkari Allah.

Karena tauhid ini melepaskan hati mereka dari sang penguasa yang ingin menayaingi Allah dalam membuat hukum atau undang-undang dalam mengatur manusia. Maka Kita jumpai dalam sejarah para Nabi  dan Rasul selalu dimusuhi penguasa-penguasa zholim dan diktator dengan alasan hendak berbuat makar, padahal mereka tidak lain ingin mengembalikian kekuasaan (mulkiyah) kepada Allah Raja yang sebenarnya.

_Apakah hukum Jahiliyah yang mereka kehendaki, dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin ? (Al Maaidah: 50)_

Namrudz seorang Raja yang menolak dakwah Tauhid Mulkiyah Nabi Ibrahim Alaihis salaam berkeyakinan bahwa dirinya mempunyai kewenangan untuk menghidupkan dan mematikan.

Para pengikut Namrudz tentu saja ikut pada aqidah batil ini. Perhatikan bagaimana Allah menggambarkannya di dalam Al Qur-an,

_Apakah kamu tidak memperhatikan orang yang mendebat Ibrahim tentang Tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan: "Tuhanku ialah Yang menghidupkan dan mematikan," orang itu berkata: "Saya dapat menghidupkan dan mematikan."[164]_

_Ibrahim berkata: "Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah dia dari barat," lalu terdiamlah orang kafir itu; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Al Baqarah: 258)_

Musa Alaihis Salaam sebagai pembawa tauhid mulkiyah ini  berhadapan dengan gembong syirik mulkiyah paling besar di Dunia. Karena Fir’aun beranggapan bahwa kekuasaannya mutlak tanpa batas dan menolak tunduk kepada hukum Allah yang dibawa Musa Alaihis Salaam.
Dia berkata dengan sombong,

_Dan Fir'aun berseru kepada kaumnya (seraya) berkata: "Hai kaumku, bukankah kerajaan Mesir ini kepunyaanku dan (bukankah) sungai-sungai ini mengalir di bawahku; maka apakah kamu tidak melihat(nya)? (Azzukhruf: 51)_

Nabi Yusuf Alaihis Salaam dalam Al Qur-an digambarkan sebagai pemilik tauhid mulkiyah ini. Sehingga meskipun berada di negeri yang tidak berhukum dengan hukum Allah Beliau selamat karena keyakinan Aqidah mulkiyatullah ini. Inilah yang dikatakan Nabi Yusuf Alaihis Salaam,

_Kamu tidak menyembah yang selain Allah kecuali hanya (menyembah) nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu membuat-buatnya. Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun tentang nama-nama itu. Keputusan (hak membuat hukum) itu hanyalah kepunyaan Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (Yusuf: 40)_

_Tiadalah patut Yusuf menghukum saudaranya menurut undang-undang raja, kecuali Allah menghendaki-Nya. Kami tinggikan derajat orang yang Kami kehendaki; dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui. (Yusuf: 76)_

Karena tuntutan Tauhid mulkiyah ini orang-orang beriman berupaya dengan sungguh-sungguh (berjihad) demi tegaknya hukum Allah di muka bumi dengan amar amakruf  nahi munkar.

_(yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan salat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang makruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan. (Al Hajj: 41)_

Sebagian ulama menggolongkan Tauhid mulkiyah ini ke dalam Tauhid Rububiyah karena diantara makna Ar Rabb adalah al Malik (Yang Maha Merajai). Inilah yang membuat para pemuda Kahfi yang tidak mengakui kekuasaan Raja di masa itu berkata,

_Dan Kami meneguhkan hati mereka diwaktu mereka berdiri,  lalu mereka pun berkata, "Tuhan kami adalah Tuhan seluruh langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran." (Al Kahfi: 13)_

Merestui penguasa zhalim dapat menyeret manusia ke dalam jurang neraka, apalagi bila memilih atau pun mendukungnya.

Perhatikan ayat-ayat berikut,

_Sesungguhnya Allah mela'nati orang-orang kafir dan menyediakan bagi mereka api yang menyala-nyala (neraka), mereka kekal di dalamnya selama-lamanya; mereka tidak memperoleh seorang pelindungpun dan tidak (pula) seorang penolong. Pada hari ketika muka mereka dibolak-balikan dalam neraka, mereka berkata: "Alangkah baiknya, andaikata kami taat kepada Allah dan taat (pula) kepada Rasul." Dan mereka berkata;:"Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mentaati pemimpin-pemimpin dan pembesar-pembesar kami, lalu mereka menyesatkan kami dari jalan (yang benar). (Al ahzab: 64-67)_

(Bersambung)

0 Response to "TAUHIDULLAH (Mengesakan Allah) Bag-2"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI