Pengkhianatan Abdallah Muhammad XII 'Boabdil' atas pamannya Muhammad XIII 'el-Zagal' pada Periode Akhir Emirat Granada - Berpecah Beratus Tahun Hingga ke Saat Paling Akhir Sekalipun!

Pengkhianatan Abdallah Muhammad XII 'Boabdil' atas pamannya Muhammad XIII 'el-Zagal' pada Periode Akhir Emirat Granada - Berpecah Beratus Tahun Hingga ke Saat Paling Akhir Sekalipun!

📚 TARIKH DAN SIROH

📝 Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

*Pengepungan dan Jatuhnya Málaga*
7 Mei - 18 Agustus 1487*

Pengepungan ini adalah bagian dari babak akhir Reconquista dimana kedua kerajaan Katholik Castile-Aragon berhasil merebut kota Málaga dari kaum Muslimin Granada. Pengepungan itu berlangsung sepanjang 4 bulan dan juga tercatat dalam sejarah militer dunia dimana ambulans atau angkutan khusus korban pertempuran dipergunakan secara sistematis. Pengepungan atas Málaga juga menunjukkan jati diri sesungguhnya antara Abdallah Muhammad XII yang memihak Ferdinand-Isabella serta pamannya yg ia khianati Muhammad XIII el-Zagal.

*Latar Belakang*

Málaga adalah tujuan utama pada kampanye militer tahun 1487 dimana dua kerajaan Katholik menyerang kota milik Emirat Granada. Emirat ini telah banyak kehilangan wilayahnya selama pergerakan reconquista, khususnya invasi 1486-89.

Raja Ferdinand II dari Aragon meninggalkan kota Córdoba dengan membawa 20.000 pasukan berkuda, 50.000 pekerja, dan 8.000 petugas pendukung. Balatentara ini kemudian bergabung dengan kesatuan artileri pimpinan Francisco Ramírez de Madrid yang juga telah bergerak dari Écija. Setelah bersatu mereka memutuskan untuk menyerang Vélez-Málaga terlebih dahulu sebelum ke arah barat menuju Málaga-nya. Mata-mata jaringan keluarga Nasriyah memantau serta melaporkan gerak lanju pasukan Nasrani sehingga para penduduk sudah sempat diungsikan ke pegunungan dan benteng Bentomiz sebelum serangan dimulai.

*Dampak Lepasnya Vélez-Mâlaga*

Pasukan gabungan ini mencapai Vélez-Málaga pada hari Selasa 22 Rabi'uts-Tsani 892 Hijriah (17 April 1487) setelah lambannya gerak maju melalui medan liar. Beberapa hari kemudian, mesin gempur yang ringan tiba di tempat sedangkan yang lebih berat lagi tidak dapat dibawa melintasi jalan yang rusak. Sultan Granada yg bernama Muhammad XIII (el-Zagal), berusaha untuk membantu kota yang terkepung itu namun ia terpaksa mundur dengan hadirnya kekuatan yang jauh lebih besar pimpinan Marquis dari Cadiz. Ketika ia kembali ke Granada barulah beliau menyadari telah dikudeta oleh sepupunya Abdallah Muhammad XII (Boabdil) yang memihak kaum Nasrani pada waktu itu.

Melihat kenyataan bahwa tidak ada bantuan yang akan datang, Vélez-Málaga menyerah pada hari Jum'at 3 Jumadal Awwal 892 Hijriyah (27 April 1487) dengan persyaratan mereka aman keluar dari benteng serta berhak membawa harta-benda dan mempertahankan agamanya.

Sultan Muhammad XIII el-Zagal yang terkunci di luar tidak dapat kembali ke Granada karena kota tersebut kini dikuasai oleh sepupunya Abdallah Muhammad XII Boabdil. Boabdil memilih untuk memihak kepada Ferdinand II supaya emirat Granada yg kesulitan ekonominya tidak diserang lagi. Pasukan yang masih setia kepada el-Zagal terpaksa mundur ke kota Almeira di sebelag timur propinsi Granada. Mereka ini adalah harapan terakhir penduduk Granada yang masih bersemangat untuk membendung invasi Ferdinand II dan isterinya Isabella I secara militer.

*Kota Málaga*

Kota yg dieja Mālaqa dalam Bahasa Arab ini merupakan kota kedua terbesar di propinsi setelah Granada atau Gharnata. Málaga adalah kota pelabuhan yang besar dengan akses ke Laut Mediterranean. Kota ini dihiasi banyak bagunam dengan arsitektur yang unik, taman yang indah, dan air mancur yang menyejukkan. Kota ini juga dikelilingi dengan benteng kota yang kokoh dengan puri-benteng (citadel) Alcazaba yg menjadi titik pertahanan yang handal terhubung secara tertutup dengan benteng (fortress) Gibralfaro. Di pinggiran pantainya banyak ditanami kebun zaitun, jeruk, markisa, dan anggur.

Kota ini juga dilengkapi dengan artileri yg banyak dengan stok amunisi yanh juga tidak sedikit. Selain pasukan garnizun yang menjadi standar propinsi Granada, terdapat juga pasukan sukarelawan dari desa-desa sekitar berikut korps Gomeres yaitu pasukan bayaran dari Afrika yang terlatih seni perang dengan tingkat disiplin di atas rata-rata. Komandan pertahanan kota Málaga dipercayakan kepada mantan pahlawan kota Ronda yaitu Hamid el-Zegrí.

*Pengepungan*

Ketika masih di Vélez, Raja Ferdinand II telah mencoba menegosiasikan penyerahan dengan butir kesepakatan yang lunak, namun Hamid el-Zegrí menolaknya. Ferdinand II meninggalkan Vélez dan menyusuri pesisir ke Bezmillana kurang 19 km dari Málaga yang jalurnya diawasi oleh pasukan Muslimin. Terjadi bentrok di tempat itu sampai menjelang malam dimana akhirnya pasukan Granada kalah dan mundur kembali ke benteng Gibralfaro. Dari posisi inilah dimulai pembangunan pertahanan lapangan untuk mengepung kota Málaga, baik yang berupa parit pertahanan atau pos penjagaan berdinding kayu atau tumpukan dinding dari batu pada bagian-bagian dimana tanahnya terlalu keras untuk digali. Kapal perang disiagakan di depan pelabuhan untuk memotong seluruh jalur logistik ke dalam kota.

Serbuan pasukan Nasrani pertama kali diarahkan pada garis pertahanan darat. Ketika pasukan Granada tidak cukup kuat untuk menahan serangan dari pasukan yg berjumlah lebih besar, mereka terpaksa mundur ke garis pertahanan kota. Raja Ferdinand II memerintahkan ekspedisi pengumpulan batu bundar ke Algeciras (lihat tulisan saya sebelumnya tentang Algeciras 1342-44) yg dahulu pernah dipakai dalam pengepungan sebelumnya untuk dipakai lagi di Málaga. Hadirnya Isabella ke medan perang menemani suaminya bersa banyak tokoh lainnya berdampak pada naiknya semangat juang pasukan di lapangan.

*Abdallah Muhammad XII Boabdil Menyerang Muhammad XIII El-Zagal*

Pasukan kaum Muslimin kembali menyerang balik dengan tembakan katapult maupun kanon dari posisi pertahanan mereka yang baru; beberapa kali juga sempat melancarkan serangan keluar (sally) mendadak ke arah garis kepungan lawan. Dalam satu kejadian bahkan El-Zagal sempat mengerahkan pasukan berkudanya dari kota Guadix untuk menerobos memberi bantuan ke kota Málaga, namun terhenti oleh kekuatan yang lebih besar yg dikirim Boabdil sang pengkhianat Granda. Serangan ini merupakan perang antar muslim pada saat yang paling buruk yaitu ketika Granada sebagai propinsi terakhir kaum Muslimin di bumi al-Andalus.

Boabdil yang pernah tertawan sebelumnya ketika Ferdinand II pertama kali memulai invasi militer 1486-89 dari Cordoba ke Loja kini harus membayar upeti yang mahal untuk genggaman emirat Granada-nya yang semakin mengecil wilayahnya. Untuk sementara itu upeti menjadi pencegah serangan Ferdinand II kembali ke Granada.

Kota Málaga semakin kehabisan stok pangan mereka karena tidak ada lagi bantuan yang diperoleh dari Granada maupun dari al-Maghrib di seberang lautan. Satu-satunya harapan adalah bantuan dari Turki Utsmani yang jumlahnya tidak cukup banyak serta waktunya tidak selalu tepat. Pada saat sulit seperti ini, justru Ferdinand II yang mendapatkan bantuan dari Kaisar Jerman berupa 2 kapal transport yang membawa perbekalan tempur yang sangat dibutuhkan untuk mengencangkan kepungan.

Ferdinand II berencana untuk membuat kota Málaga kelaparan dan menyerah, namun ia semakin tidak sabar dengan segala bentuk keterlambatan dalam pembangunan menara-kepung. Menara ini dibuat berfungsi-ganda karena dilengkapi roda yang nantinya dapat digerakkan ke dekat dinding untuk menyerbu pertahanan kota. Ferdinand juga tidak sabar atas pelannya penggalian terowongan bawah tanah yg bertujuan untuk merobohkan dinding kota Málaga dari bawah.

Bahkan tingginya semangat bertahan dan berjuang pensuduk kota Málaga pada periode ini sangat kontras dengan lesunya pasukan di Granada. Pada beberapa kesempatan, pasukan sukarelawan berhasil menyerbu mendadak dan membakar menara-kepung kaum Nasrani. Sukarekalawan ini bahkan menggali terowongan di bawah terowongan lawan untuk merobohkannya. Disamping itu, penduduk kota Málaga bahkan sempat mekaut untuk menyerang kapal-kapal lawan yang memblokade pelabuhan.

*Setelah Tiga Bulan Kepungan*

Setelah tiga bulan tanpa bantuan, akhirnya dengan susah-payah dan korban yang banyak, pasukan Ferdinand II berhasil merebut menara pertahanan kota terluar. Menara ini menjadi titik kuat untuk menyerang ke dalam kota. Pada saat genting itu penduduk dan pasukan pertahanan Málaga sudah sedemikian lemah dari habisnya cadangan pangan sehingga banyak dari mereka yang terpaksa memakan kucing, anjing, dedaunan, kulit hewan, serta tumbuhan apapun yang masih tersedia di dalam kota.

Melihat kondisi penduduk yang sedemikian sulit, akhirnya Hamid el-Zegri meminta izin kepada walikota Málaga untuk keluar dari kota. Hal ini ditujukan agar penduduk Málaga dapat bernegosiasi dengan baik untuk penyerahan kota dan mengakhiri penderitaan itu. Setelah disetujui oleh walikota dan dilepas oleh penduduk yang terharu, Hamid el-Zegri menyelinap keluar dari Málaga bersama sisa pasukannya menuju benteng Gibralfaro untuk bertahan mengulur waktu sampai ada bantuan yang mungkin datang keoada mereka.

*Kapitulasi*

Setelah negosiasi yang tak kunjung diaepakati Ferdinand II akhirnya mereka menyerah tanpa syarat. Kota Málaga secara resmi menyerah pada hari Senin 23 Sya'ban 892 Hijriah (13 Agustus 1487). Puri-benteng Alcazaba bertahan sampai 28 Sya'ban ketika Ali Dordux menyerah dengan syarat ke-25 keluarga bangsawan boleh menetap sebagai Mudéjar. Ferdinand-Isabella masuk ke kota Málaga dengan sebuah prosesi kerajaan pada sore harinya. Hamid el-Zegri dan pasukan Gomeres-nya menyerah juga pada 29 Sya'ban. Beberapa hari sebelum masuknya bulan suci Ramadhan 892 Hijriah.

*Kesudahan*

Lepasnya kota Málaga merupakan pukulan telak bagi Emirat Granada dari keluarga Nasriyah yang kehilangan pelabuhan utama bagi keutuhan wilayahnya. Sesuatu yang tidak perlu terjadi jika perpecahan diantara mereka dapat diredam pada momen kritis ini. Ferdinand II menerapkan hukuman yang berat akibat lamanya kota itu bertahan. Semua pendudukan dibunuh atau dijual sebagai budak kecuali keluarga Ali Dordux.

Hamid el-Zegri tidak mendapatkan janji keamanan sesuai dengan syarat penyerahannya; ia dieksekusi bersama sebagian besar pasukan Gomores-nya sekitar 10-15 ribu personil. Properti mereka dirampas dan keluarga mereka dijual sebagai budak. Sebagian lagi dibawa ke al-Maghrib untuk ditukar dengan pasukan Nasrani yg tertawan di sana. Sebagian kecil dari keluarga bangsawan dijual sebagai dana tambahan.

Ferdinand-Isabella menugaskan García Fernández Manrique dan Juan de la Fuente untuk menata ulang wilayah yang baru direbut; dengan bantuan Ali Dordux. Sebagian besar tanah diberikan kepada para komandan tempur. Repopulasi atas propinsi Granada yang ditaklukan sejak invasi militer 1485 dilakukan segera dengan memindahkan  5-6 ribu penduduk dari Extremadura, León, Castile, Galicia, dan wilayah timur lainnya.

Agung Waspodo, tertegun dengan pengkhianatan pada masa genting seperti ini, memori tentang kejayaan al-Andalus sirna begitu saja dengan perpecahan, hanya itu saja.

Depok, 21 Agustus 2015.. menjelang subuh.

0 Response to "Pengkhianatan Abdallah Muhammad XII 'Boabdil' atas pamannya Muhammad XIII 'el-Zagal' pada Periode Akhir Emirat Granada - Berpecah Beratus Tahun Hingga ke Saat Paling Akhir Sekalipun!"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI