Kisah budak perempuan Abdullah bin Rawahah

وَلَا تَنْكِحُوا الْمُشْرِكَاتِ حَتَّىٰ يُؤْمِنَّ ۚ وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ
"Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. " (QS Al Baqarah : 221).

Ayat ini turut berkaitan dengan seorang budak yang hitam milik seorang sahabat yang mulia Abdullah bin Rawahah. Ia marah kepadanya sampai menampar wajahnya. Akan tetapi hatinya menegurnya karena ia seorang budak yang beriman. Ia berkata kepada dirinya sendiri setelah mengingat wasiat Rasulullah Saw :"Apa yang dia tidak mampu, maka jangan membuat mereka semakin lemah. Jika dia berbuat buruk sepuluh kali maka berbuat baiklah kepadanya satu kali.

Abdullah bin Rawahah bergegas menemui Rasulullah dan ia berkata:"Ya Rasulullah....aku memukul budak hitam perempuan milikku." Nabi Saw berkata:"Apa statusnya wahai Abdullah?". Abdullah menjawab:"Ia seorang mukminah. Ia shalat dan shaum, berwudhu dengan baik dan aku ditegur oleh diriku sendiri karenanya. Demi Dia Yang Telah Mengutusmu ya Rasulullah..aku akan memerdekakannya dan menikahinya."

Kemudian Abdullah membebaskannya dan menikahinya. Ramailah orang memperbincangkannya. Mereka mengatakan:"Abdullah bin Rawahah menikahi seorang budak yang hitam. Maka turunlah ayat :
وَلَأَمَةٌ مُؤْمِنَةٌ خَيْرٌ مِنْ مُشْرِكَةٍ وَلَوْ أَعْجَبَتْكُمْ
"Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. " (QS Al Baqarah : 221)

Ibnu Abbas meriwayatkan : Sesungguhnya Rasulullah Saw mengutus seseorang -disebutkan bahwa orang itu Martsad bin Abi Martsad- sekutu Bani Hasyim ke Makkah untuk membebaskan kaum muslimin yang ditawan. Ia memiliki seorang sahabat perempuan bernama Annaq. Dia adalah sahabatnya semasa jahiliyah. Ketika ia masuk Islam, komunikasi mereka terputus. Dan ketika ia pergi ke Makkah, ia bertemu dengannya dan mulailah mereka berinteraksi seperti dulu. Martsad berkata:"Sesungguhnya Islam telah memisahkan kita. Akan tetapi aku bisa menikahimu." Perempuan itu meninggalkannya dan ia mengadukan apa yang dialaminya kepada kaumnya. Mereka menemui Martsad dan memukulinya. Kemudian mereka mempersilahkan Martsad melanjutkan perjalanan. Setelah urusan di Makkah usai, Martsad pulang dan menemui Rasulullah serta menceritakan pengalamannya. Ia bertanya kepada Rasulullah:"Apakah boleh bagiku untuk menikahi seorang perempuan musyrikah?". Maka turunlah ayat larangan menikahi perempuan musyrikah.

Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. Dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran."(QS Al-Baqarah:221)

Hikmah kehidupan:

Kemuliaan dalam Islam tidak dilihat dari status sosial tapi dilihat dari iman taqwanya.
Seorang mukmin yang hatinya suci, akan segera mengetahui kesalahan yang ia lakukan dan bersegera bertaubat.
Keterbukaan dan komunikasi Rasulullah dengan para sahabat, ini sesuatu yang sangat istimewa.
Para sahabat tidak sungkan untuk bercerita kepada Rasulullah Saw bahkan untuk hal-hal yang sensitif.
Hati-hati dengan teman lama. Setan akan bermain untuk menjerumuskan seorang muslim dengan dalih cinta lama bersemi kembali.
Seorang pemimpin harus sabar menghadapi berbagai situasi yang dialami anak buahnya.

Wallohu a'lam bis showwab

By: Ustadzah Eko Yuliarti Siroj

NASEHAT HARI INI