Memaknai Ujian Kehidupan (Bagian ke-1)

Pemateri: Ustadzah Bunda Rochma Yulika

❣Hidup ini indah....
Namun akan menjadi indah
bila kita mampu meraih hidayah

❣Hidup ini susah...
Namun akan semakin susah
bila kita tak bisa mengambil hikmah

Allah Menguji dan Allah yang akan beri Solusi.
Allah datangkan ujian,  Allah pula yang menyediakan jawaban.

Masihkah kita ragu akan kuasa Nya?
Masihkah pula kita enggan untuk menghamba?
Masihkah kita lalai menjalankan kewajiban kita?
Dan masihkah kita malas membaca kalam Nya?

Maka nikmat mana yang masih kita dustakan?

❣Sahabat surgaku...
Mari bersegera kita menakar diri
Seberapa lemah diri kita ini
Seberapa besar kuasa Ilahi Rabbii
Bersegera tinggalkan rasa tinggi hati
Menuju hati yan selalu mengabdi

❣Sahabat surgaku...
Sudah saatnya kita berbenah
Tundukkan diri dengan jiwa pasrah
Agar Allah ridla untuk hadirkan berkah
Hidup mulia atau mati khusnul khatimah

❣Sahabat surgaku...
Sudah saatnya bergerak tuk raih kemenangan
Ayunkan langkah tuk segera sambut seruan
Agar Allah Ridla tuk kabulkan segala harapan

❣Selamat berjuang Sahabat Surgaku....
Semoga Allah senantiasa melapangkan jalan kita tuk menyeru kebenaran.
         🔹     🔹     🔹

📚 Menyikapi Peristiwa Kehidupan

Adalah kehidupan bila nampak berjuta warna di depan mata.
Pelangi tak kan menjadi indah bila hanya ada satu warna.
Paduan berbagai warna menambah indah di pandangan kita.

Kadang hidup kita merah, kadang biru, kadang pula hitam. Kita harus bisa menikmatinya.

Tabiat manusia akan siap bila menerima anugerah dibanding dengan musibah.

Tapi agama mengajarkan kita bahwa dalam keadaan apa pun harus tetap siap karena kita akan menjalani setiap takdir yang akan ada.

Muhammad SAW teladan bagi kita. Ujian yang ia terima dari kaum kafir Qurays kala menjalankan perintah Allah swt.

Cacian dan makian juga lemparan kotoran binatang pun diterima olehnya. Namun Rasul tak pernah mundur sedikit pun untuk tetap menjalankan amanah yang harus dijalankannya.

Bagi kita mendengar kata “ujian” yang terbayang di depan kita yang ada hanya kesulitan, kesedihan, kegagalan, pun kenestapaan. Karena ujian dipandang sebagai masalah yang sulit, berat, susah, membosankan, repot, pasti menyelesaikannya harus dengan dahi berkerut.

Persepsi yang seperti itu sudah mendarah daging sehingga sulit untuk dihilangkan.

Padahal, ujian itu tak hanya yang mampu membuat kita sedih dan berderai air mata. Namun kekayaan yang membuat mata silau dan segala kenyamanan sebenarnya juga merupakan ujian.

Mungkin kita akan lebih teruji bila di hadapan kita terbentang kesulitan, namun akan menjadi semakin terjerumus bila kita diberi kemudahan.

Hidup ini ibarat fatamorgana. Bila kita berjalan di padang yang tandus kala itu kita sedang kehausan nampaklah dari jauh sumber mata air yang segar namun setelah kita mendatanginya hanya tanah kering lantaran terik matahari yang menyengat.

Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga) (Q.s. Ali ’Imran [3]: 14).

Sejenak kita ingat kala bahtera mengarungi lautan badai, ombak senantiasa akan datang tanpa kita tahu. Sebagai nahkoda harus siaga dengan setiap kemungkinan yang mendatanginya.

Tak ubahnya dengan pohon, semakin tinggi semakin besar anginnya. Akar yang kokoh menghunjam ke tanah yang akan membuat pohon tetap tegak berdiri meski angin besar menerpanya.
Begitu juga seperti layang-layang ia akan terbang tinggi ke udara. Tarik ulur dari tali atau benang yang membuat layang-layang itu semakin terbang tinggi. Nampaklah pemandangan yang indah kala layang-layang itu tak goyah lantaran tiupan angin yang tak kencang.

Namun bila tiba-tiba angin kencang datang tak ayal lagi bila layang-layang akan terombang-ambing di udara bahkan bila putus talinya layang-layang akan terhempas begitu saja tanpa jelas dimana ia akan terhempas.

Namun kehidupan manusia tak begitu saja bisa disamakan dengan terbangnya layang-layang. Meski kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga dari layang-layang.

Karunia akal tak lain seyogyanya kita optimalkan sedemikian rupa sehingga kita mampu membaca fenomena yang kita lihat, dengar, dan rasa.

Tak pernah sang Pencipta alam semesta ini memberikan suatu ujian di luar kemampuan hamba-Nya. Allah sangat mengerti kadar kemampuan seorang hamba. Badai pun pasti akan berlalu dari kehidupan kita. Roda pun akan berputar sesuai dengan kodratnya.

Tak kan ada duka derita yang berkepanjangan menghampiri sang hamba. Beginilah tabiat ujian dan kehidupan manusia.
Besar kecilnya ujian tak  berpengaruh bagi kita bila kita sangat memahami tabiat perjalanan Gagal dan berhasil dalam ujian juga hal yang wajar saja, yang penting justru bagaimana cara kita menyikapi ujian itu. Ini pula yang nanti membedakan antara mereka yang berhasil dan yang gagal dalam menjalani ujian. Bagi yang arif menyikapi kegagalan, ujian dipandang sebagai sarana untuk mendewasakan diri dan tempat menempa untuk mempercepat menuju insan kamil.

Bagi yang tidak arif, kebanyakan mencari pelarian yang tidak sedikit berakhir dengan bunuh diri.

Duka dan bahagia kan selalu mengiringi langkah manusia. Canda tawa, derai airmata, akan silih berganti menyapa. Tak ada yang abadi dalam hidup kita. Semua serba sementara. Hanya keyakinan di dada atas segala titah Nya akan menjadikan kita manusia yang kuat, tegar dalam menjalani hidup ini.

(Bersambung, insya Allah)

0 Response to "Memaknai Ujian Kehidupan (Bagian ke-1)"

Post a Comment