Dimakan Oleh Kata-kata Sendiri

Pemateri: Ustadz Agung Waspodo, SE, MPP

Ketika kota Konstantinopel sudah semakin terjepit oleh perluasan wilayah Turki Utsmani maka Kardinal Isidore dituntut untuk menggalang kekuatan.
Perlu diketahui bahwa bangsa Yunani waktu itu terpecah dan diduduki oleh berbagai kota Italia. Isidore ingin mengangkat kembali keharuman sejarah Yunani ketika dahulu mereka pernah menaklukkan kota Troya (Troy). Tanpa berfikir terlalu panjang maka bangsa Turki disamakan dengan bangsa Troya. Turki dianggap keturunan Teucri; moyang Troya.

Beres, kan!

Ternyata tidak juga, sejarah tidak dapat dicegah! Hadits Latuftahanna tetap terjadi sebagaimana nubuwwat Nabi SAW. Sultan muda bernama Mehmet menjadi "falani'mal amir" pembebas kota kaisar tersebut.

Kini kota Konstantinopel sudah beralih tangan dan Byzantium terpecah-pecah. Kembali, gereja Orthodox membutuhkan bantuan dari bangsa-bangsa Eropa sebelah barat. Semalas-malasnya para bangsawan Eropa waktu itu, masih tersisa penghormatan simbolis terhadap kepausan gereja Katholik.

Namun sayang, trauma panjang Perang Salib (Crusades) di Palestina-Syria-Mesir masih membekas. Gelora perang yang dikobarkan gereja Katholik sudah meredup auranya. Titah gereja berupa Papal Bull sudah tidak sesakral 200 tahunan yang lalu. Bahkan, kota-kota Italia menjalin hubungan dagang pragmatis dengan Turki Utsmani sejak sebelum Latuftahanna. Business as usual, katanya!

Diantara yang paling melemahkan kedudukan kekaisaran Byzantium adalah pendapat gereja Katholik bahwa bangsa Yunani sedang dihukum oleh Tuhan. Mereka dihukum atas kezaliman dan kebrutalan di Troya dulu. Memori buruknya perlakuan Byzantium atas pasukan salib dua abad yang lalu seakan terbayar lunas. Laonicus Chalcocondylas kecewa berat akan persepsi ini. Bahkan, paus Pius III juga gencar merevisi bahwa Teucri bukan Turcae.

Namun, semua bangsawan Eropa berhitung cermat. What's in it for me? Mereka bertanya dalam hati, saya dapat apa dengan memerangi Turki Utsmani? Perang Salib Baru yang digadang paus dan kardinal tak kunjung konkrit.

Sultan Mehmet II Fatih bukan seorang pemimpin yang mudah ditebak. Beliau bahkan menyempatkan mengunjungi situs Troya beberapa bulan setelah Latuftahanna. Beliau tidak lama di sana, hanya menyempatkan untuk berkata, *"kami sudah balaskan kekalahan Troya."* _Tanpa wartawan dan internet pun, ucapan itu sampai ke telinga bangsawan Eropa._ Mereka semakin ragu, mereka berhitung lagi!

🔸 *_Ternyata beliau banyak membaca! Sedangkan kita terlalu asyik dengan drama kehidupan media sosial_*  🔹

Perempatan Pemuda-bypass,
Jakarta, 6 Oktober 2016

0 Response to "Dimakan Oleh Kata-kata Sendiri"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI