Berjabat Tangan

Ustadzah Nurdianah

Kalau misalnya nih kak dalam pekerjaan, orang itu mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan sedangkan kita sudah menolak secara halus. Namun maksud dari orang tersebut adalah karna sebatas profesionalitas tanpa ada maksud syahwat. Kita sudah menghindari untuk lebih berhati-hati namun jikalau seseorang memulai berjabat tangan apakah kita hendak menolaknya? Seperti misalnya orang awam yang belum paham dengan hukum berjabat tangan. # A 44

Jawaban
----------------

Wa'alaikumsalam wr wb
Ukhty...Bila sebaya atau nampak setengah tua sebaiknya ditolak secara halus. Caranya kedua telapak tangan kita merapat, senyum dan sampaikan maaf pak/mas/bang/dek. Saya tidak salaman😊. Kecuali dia kakek kakek yang kita khawatir tersinggung.  Sebagai bentuk takzim kita boleh cium tangan. Bila dia layak tuk kita beri penghormatan. Alhamdulillah bila kita konsisten, orang akan memahami kita dan menghargai  sikap kita. Bangun kepercayaan diri. Yakin apa yang di atur syariat yang terbaik buat kita.

Dengan tidak salaman bukan berarti tidak profesional dan siapa yang bisa menjamin saat berjabat tangan tidak ada syahwat???

Boleh jadi kita tidak ada maksud apa-apa tapi bagaimana dengan teman kita atau sebaliknya. Karena  fitrahnya laki laki tertarik dengan perempuan dan begitu juga sebaliknya
Dan untuk mencegahnya tentu lebih baik. Disisi lain begitu berat  ancaman yang disampaikan;

Dari Ma’qil bin Yasar, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ

“Ditusuknya kepala seseorang dengan pasak dari besi, sungguh lebih baik baginya daripada menyentuh wanita yang bukan mahramnya.” (HR. Thobroni dalam Mu’jam Al Kabir 20: 211. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih). Hadits ini sudah menunjukkan kerasnya ancaman perbuatan tersebut, walau hadits tersebut dipermasalahkan keshahihannya oleh ulama lainnya.

Wallahu A'lam