Bahaya Penyimpangan Aqidah

Pemateri: Ustadz Aus Hidayat Nur

Aqidah Islamiyah merupakan landasan dari suatu bangunan yang besar dan kokoh.  Aqidah menjadi motivator  dan energy bagi seluruh hal yang bernilai tinggi dan bermanfaat dalam kehidupan ini.

Karena itu penyimpangan dari aqidah yang benar akan membawa kehancuran dalam kepribadian seseorang, ibarat suatu benda yang jatuh dari langit lalu disambar burung dan diterbangkan angin ke tempat  yang jauh entah kemana. Ini telah digambarkan Allah Azza wa Jalla, dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutu kan sesuatu dengan Dia.

 ۚ... وَمَن يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَكَأَنَّمَا خَرَّ مِنَ السَّمَاءِ فَتَخْطَفُهُ الطَّيْرُ أَوْ تَهْوِي بِهِ الرِّيحُ فِي مَكَانٍ سَحِيقٍ [الحج : 31]

Barangsiapa mempersekutu kan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh. (Al Hajj: 31).

Tanpa aqidah yang benar pada awalnya seorang hamba akan menjadi mangsa bagi ganasnya persangkaan dan keragu-raguan. Lama kelamaan buruk sangkanya terhadap Allah, Rasul dan Islam  menghalanginya terhadap pandangan yang benar terhadap jalan hidup bahagia, sehingga kehidupannya terasa sempit dan menyesakkan.
Ia pun ingin sekali keluar dari kemelut yang membelenggunya ini  dengan berputus asa dan menyudahi hidup, bahkan dengan bunuh diri sekalipun.

Hal itu terjadi di banyak masyarakat Dunia seperti  di   Jepang, Amerika, dan negeri-negeri yang penduduknya menyimpang dari hidayah dan aqidah yang benar.

وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَعْمَالُهُمْ كَسَرَابٍ بِقِيعَةٍ يَحْسَبُهُ الظَّمْآنُ مَاءً حَتَّىٰ إِذَا جَاءَهُ لَمْ يَجِدْهُ شَيْئًا وَوَجَدَ اللَّهَ عِنْدَهُ فَوَفَّاهُ حِسَابَهُ ۗ وَاللَّهُ سَرِيعُ الْحِسَابِ *
 أَوْ كَظُلُمَاتٍ فِي بَحْرٍ لُجِّيٍّ يَغْشَاهُ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ مَوْجٌ مِنْ فَوْقِهِ سَحَابٌ ۚ ظُلُمَاتٌ بَعْضُهَا فَوْقَ بَعْضٍ إِذَا أَخْرَجَ يَدَهُ لَمْ يَكَدْ يَرَاهَا ۗ وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ

Dan orang-orang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah disisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya. Atau seperti gelap gulita di lautan yang dalam, yang diliputi oleh ombak, yang di atasnya ombak (pula), di atasnya (lagi) awan; gelap gulita yang tindih-bertindih, apabila dia mengeluarkan tangannya, tiadalah dia dapat melihatnya, (dan) barangsiapa yang tiada diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah tiadalah dia mempunyai cahaya sedikitpun. (An Nuur: 39-40)

Masyarakat yang tidak dipimpin oleh aqidah yang benar tidak ubahnya sekumpulan hewan yang tidak memiliki prinsip-prinsip hidup bahagia, sekali pun bergelimang kekayaan materi, fasilitas teknologi, dan kemajuan industri sebagaimana kita lihat pada masyarakat jahiliyyah dahulu dan sekarang ini.
Karena kekayaan materi atau pun kemajuan teknologi memerlukan tawjih (pengarahan) dalam aplikasinya, dan tidak ada arahan yang benar dan bernilai kecuali aqidah sahihah dari ajaran Islam.

Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. (Al mukminuun: 51).

Dan sesungguhnya telah Kami berikan kepada Daud karunia dari Kami. (Kami berfirman): "Hai gunung-gunung dan burung-burung, bertasbihlah berulang-ulang bersama Daud", dan Kami telah melunakkan besi untuknya, (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku melihat apa yang kamu kerjakan. (Saba: 10-11)

Maka kekuatan maadiyah (materi atau kebendaan) tidak boleh dipisahkan dari kekuatan aqidah (ruhani). Jika kekayaan dan materi digunakan orang-orang yang menyeleweng dari aqiodahmaka akan menjadi sarana-serana perusak yang amat sangat berbahaya bagi manusia dan peradaban.

Seperti sekarang nampak bagaimana negei negeri kaya berlomba-lomba dalam mencari sumber-sumber kekayaan dan membuat senjata-senjata canggih dengan merusak negeri-negeri lainnya.

Seperti dikatakan oleh Ratu Bilqis yang diabadikan Al Qur-an ,

“Dia (Bilqis) berkata: "Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan penduduknya yang mulia jadi hina; dan demikian pulalah yang akan mereka perbuat”. (An Naml: 34)

📒 Jenis-jenis Penyimpangan Aqidah

Penyimpangan aqidah itu sangat berbahaya karena seringkali tidak nampak atau sangat  samar, tidak disadari oleh pelakunya. Dia seperti penyakit ganas yang baru disadari oleh si sakit ketika kondisi sudah parah. Jika si pelaku diberi peringatan maka ada saja alasan yang dikemukakan untuk membela diri dengan menentang ajaran Allah dan Rasul-Nya.

Di antara penyimpangan aqidah menurut Al Qur-an dan sunnah adalah sifat dan perilaku sebagai berikut,

1) Syirik dan kemusyrikan

Yaitu mempersekutukan Allah dalam beribadah kepada-Nya.

Ini adalah penyimpangan yang paling fatal karena pelakunya berdosa besar yang tidak akan diampuni Allah sampai dia bertaubat dan memperbaiki diri dengan Tauhid. Firman Allah,

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (An Nisaa: 48)

Syirik adalah lawan dari ketauhidan sehingga menjadi musuh agama yang paling utama.

Yang tergolong pada syirik ini banyak sekali , para ulama membaginya atas dua syirik besar dan syirik kecil (tersembunyi) yaitu riya yaitu ketika seseorang beramal tetapi ingin dilihat dan dipuji orang lain.

Di antara syirik besar adalah persetujuan terhadap aqidah sesat dari agama lain seperti mengucapkan “selamat natal” kepada kaum Nasrani atau menggunakan atribut keagamaan mereka.
Para ulama sepakat mengharamkan ucapan dan perilaku  seperti itu.

Biasanya di akhir Bulan desember kemusyrikan jenis ini marak karena sebagian Kaum Muslimin yang tertipu orang-orang nasrani ikut-ikutan  merayakan natal atau tahun baru dengan berbagai alasan.

2) Kufur

Yaitu menolak ajaran Allah , Rasul, atau  Islam  secara keseluruhan atau pun sebagiannya .

Kufur paling rendah adalah mengingkari nikmat (pemberian) Allah seperti seseorang mengatakan , “kesuksesan ini berkat kepandaianku”.

Kufur  yang paling sering terjadi adalah menolak ayat-ayat Al Qur-an atau hadits Nabi Muhammad Shollallahu Alaihi Wa Sallam yang dirasa tidak cocok bagi dirinya dan yang lebih parah adalah berani adalah memerangi ajaran Allah.

Sumber  kekufuran adalah kebencian kepada Al Qur-an  atau Islam atau Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam ,

Dan orang-orang yang kafir, maka kecelakaanlah bagi mereka dan Allah menyesatkan amal-amal mereka. Yang demikian itu adalah karena sesungguh nya mereka benci kepada apa yang diturunkan Allah (Al Quran) lalu Allah menghapuskan (pahala-pahala) amal-amal mereka. (Muhammad: 8-9)

3) Nifak atau munafik

Yaitu orang-orang yang mengaku beriman dengan lidahnya tetapi hatinya masih ingkar terhadap ajaran Allah, Rasul dan Islam.

Kemunafikan bersarang di hati orang-orang  yang bekerjasama dengan orang-orang kafir atau ikut membela kekafiran mereka baik secara sembunyi-sembunyi atau pun terang-terangan. Kaum munafikin seperti duri dalam daging terhadap Ummat Islam karena meski mengaku muslim mereka selalu merusak barisan Kaum Muslimin dalam perjuangan penegakan agama.

Orang-orang munafik laki-laki dan perempuan. sebagian dengan sebagian yang lain adalah sama, mereka menyuruh membuat yang munkar dan melarang berbuat yang ma'ruf dan mereka menggenggamkan tangannya. Mereka telah lupa kepada Allah, maka Allah melupakan mereka. Sesungguhnya orang-orang munafik itu adalah orang-orang yang fasik. Allah mengancam orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang kafir dengan neraka Jahannam, mereka kekal di dalamnya. Cukuplah neraka itu bagi mereka, dan Allah mela'nati mereka, dan bagi mereka azab yang kekal. (At Taubah: 67-68).

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (Annisaa: 142)

Menurut Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam tanda-tanda kemunafikan itu ada tiga,

“Jika berkata dia dusta, jika berjanji menyalahi, dan jika diberi amanah dia berkhianat” (HR. Muttafaq alaih)

Dalam riwayat lain disebutkan
Sekalipun ia berpuasa, melakukan sholat dan menganggap dirinya sebagai seorang muslim.

4) Fasiq

Yaitu sifat seseorang yang mengetahui kebenaran tetapi menolaknya atau mengerti kewajiban tetapi tidak melaksanakannya meskipun hatinya menerima kebenaran atau pun kewajiban tersebut.

Kaum fasiqin ini tidak mengaplikasikan Islam dalam hidupnya sehingga hatinya menjadi keras seperti digambarkan Allah,

Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik. (AlHasyr: 19)

Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. (Alhadid : 16)

5) Zholim

Yaitu mereka yang tidak menempatkan sesuatu secara tidak proporsional.
Disebut juga menganiaya diri sendiri karena mereka  membuat kerugian bagi orang lain.

Kezaliman ini akan dibalas Allah meskipun kecil sehingga pelakunya meminta maaf atau membayar kerugian yang dizalimi (roddul mazholim) atau bertaubat melakukan perbaikan.

Dari Jabir Rodhiyallahu Anhu meriwayatkan bahwa  Rasulullah Shallallahu Alaihi Wa Sallam bersabda:

“Jagalah diri kalian dari berbuat zalim , karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat. Dan jagalah kalian dari sifat kikir, karena kekikiran menyebabkan kebinasaan ummat sebelum kalian. Sifat itulah yang menyebabkanmr saling menumpahkan darah dan menghalalkan hal-hal yang diharamkan bagi mereka”. (HR. Muslim)

Itulah lima penyimpangan aqidah yang paling sering diingatkan Allah dalam Al Qur-an dan diperingatkan Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi Wa Sallam.

Hendaknya Kaum Muslimin berhati-hati karena status keimanan mereka belumlah aman dari sifat-sifat di atas selama belum bertaqwa dengan sungguh-sungguh.  Allah telah mengingatkan Kita,

Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (Ali Imraan: 102)

Wallahu A'lam.

0 Response to "Bahaya Penyimpangan Aqidah"

Post a Comment

NASEHAT HARI INI