SYARAT-SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN (Lanjutan)

Rabu, 02 Shafar 1438 H/02 November 2016

Aqidah

Ustadzah Prima Eyza Purnama

============================

Assalaamu'alaikum wrwb

Adik-adik pemuda Islam harapan umat, mudah-mudahan hari ini senantiasa dalam kebaikan iman dan limpahan hidayah dari Allah SWT. Aamiin..

Mari kita lanjutkan kembali pembahasan kita mengenai syarat-syarat diterima syahadat yang pada kesempatan lalu telah selesai membahas syarat yang pertama.
Kali ini pembicaraan kita masuk pada syarat yang kedua.

SYARAT KEDUA:

اَلْيَقِيْنُ اَلْمُنَافِيْ لِلشَّكِّ

(KEYAKINAN YANG MENGHILANGKAN KERAGUAN)

Orang yang bersyahadat haruslah meneguhkan keyakinan pada dirinya, tanpa keraguan sedikit pun, tentang keesaan ALLAH dan kerasulan Nabi SAW. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al Hujurat (49) : 15,

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ الَّذِينَ آَمَنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا وَجَاهَدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar."

Dalam ayat tersebut jelas disebutkan bahwa yang disebut mu’minun (orang-orang beriman) yang sempurna HANYALAH ( إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ ) orang-orang yang :
→ Beriman kepada ALLAH dan Rasul-Nya.
→ Kemudian mereka TIDAK RAGU-RAGU ( ثُمَّ لَمْ يَرْتَابُوا  )

Hal ini sekaligus memahamkan kita pada prinsip penting bahwa keiman dan keyakinan kepada Allah SWT dan Rasul-Nya itu harus terus berproses dan tidak boleh berhenti berproses ke arah kesempurnaan.
Sebab, kata yang digunakan dalam ayat tersebut adalah "tsumma" (kemudian) →  ini mengisyaratkan adanya proses.
Sehingga semakin berjalan waktu, seharusnya semakin yakin dan semakin sempurna keimanan.

Yakni keimanan yang :
→ Tidak bercampur dengan keraguan dan kebimbangan.
→ Berupa keyakinan yang menenteramkan, kokoh, sempurna dan tidak menimbulkan kegelisahan.

Ingatlah bahwa sudah bagian dari ketetapan dan ketentuan Allah SWT bahwa dalam menjalani hidup, seorang yang beriman memang akan dihantam dengan berbagai ujian dan kesulitan yang dapat menggoyahkan dan peristiwa-peristiwa yang menggundahkannya. Bagi orang yang sempurna keimanannya, ujian-ujian tersebut tidaklah sedikit pun menggoyang dan menggoyahkan keimanannnya. Ia tetap berada dalam keyakinan/keimanan yang paripurna terhadap Allah dan Rasul-Nya. Jika ia ditimpa kesulitan, misalnya, ia sangat yakin bahwa Allah lah Dzat Yang Maha Memudahkan dan Melapangkan. Jika diuji dengan sakit, ia sangat yakin bahwa Allah lah Dzat Yang Maha Menyembuhkan. Jika ia butuh pertolongan, ia meminta pertolongan kepada Allah karena Allah lah Dzat Yang Maha Memberi pertolongan.

Dalam setiap urusan-urusannya, ia sama sekali tidak bergantung kepada makhluk. Demikian seterusnya dan seterusnya dalam setiap perkara dalam kehidupannya. Apalagi dalam hal peribadahan, ia akan menjadi orang yang sempurna ketaatan dan penyembahannya kepada Allah SWT, disebabkan keyakinan yang tak tergoyahkan bahwa Allah lah satu-satunya ilah yang diTuhankan sehingga Allah lah satu-satunya Dzat Yang layak untuk disembah dan ditaati. Ia tidak mentaati sesuatu selain Allah. Tidak mentaati dukun, tukang ramal, tidak menyembah batu, kuburan, dan lain-lain yang bisa menyekutukan Allah.
Na'udzubillaahi min dzaalik...

Maka dengan demikian, bukti dari keimanan yang terus berproses ini adalah MUJAHADAH (bersungguh-sungguh). Yakni jika qalbu telah merasakan lezatnya iman dan kegandrungan kepada ketaatan, serta sudah terbangun keyakinan telah mengakar begitu kuat, niscaya akan mendorong diri untuk bersungguh-sungguh mewujudkan keimanan itu di luar qalbu, yakni dengan aplikasi amal, baik amal ibadah maupun amal sholeh (kebajikan-kebajikan) dalam bentuk yang sangat luas.

Jika ia mendapatkan realitas yang bertentangan bertentangan dengan iman, maka ia pun akan bermujahadah (bersungguh-sungguh) dengan harta dan jiwanya untuk menyeru dan mengajak kepada keimanan dan amal.

Para ulama mengatakan bahwa mujahadah itu harus memenuhi 2 syarat:

1. Sungguh-sungguh  ( جِدِّ يَّةٌ )
2. Terus-menerus  ( إِسْتِمَرَارِيَّةٌ )
Inilah Iman yang Benar.
Seperti yang disebutkan Allah dalam QS. Al Hujurat (49) ayat 15 diatas :

أُولَئِكَ هُمُ الصَّادِقُونَ (mereka itulah orang-orang yang benar)

→ ini maknanya: إنهم مؤمنون  (merekalah yang disebut mu’minun).
Orang beriman yang benar.

Bukan seperti yang disebutkan dalam QS Al Hujurat [49] : 14 tentang sebagian orang Badui yang mengaku beriman,

قَالَتِ الْأَعْرَابُ ءَامَنَّا قُلْ لَمْ تُؤْمِنُوا وَلَكِنْ قُولُوا أَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْإِيمَانُ فِي قُلُوبِكُمْ وَإِنْ تُطِيعُوا اللَّهَ وَرَسُولَهُ لَا يَلِتْكُمْ مِنْ أَعْمَالِكُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Orang-orang Arab Badui itu berkata, “Kami telah beriman". Katakanlah (kepada mereka), "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, "Kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu ta'at kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

→ Mereka belum beragama dan beriman secara baik dan sempurna, masih perkataan lahiriah saja, belum menghujam di dalam hati.

Keyakinan yang sempurna ini pun semakna dengan yang diwahyukan Allah pada QS. Fushshilat (41) ayat 30 :

...إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا

"Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: 'Tuhan kami ialah ALLAH'  kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka.."

→ Sekali lagi "tsummas-taqaamuu" (kemudian mereka meneguhkan pendirian/keyakinan mereka).

Bersambung..

Wallaahua'alamu bisshawab..

0 Response to "SYARAT-SYARAT DITERIMANYA SYAHADATAIN (Lanjutan)"

Post a Comment