Shalat Wajib Bolong-bolong


Ustadz Farid Nu'man Hasan

Assalamu'alaikum. Ustad saya mau nanya..jika ada orang yang sholat wajibnya  selalu tidak ful 5 waktu
Apa sholat itu diterima oleh Allah swt.?

======================
Jawaban

Wa'alaikumussalam wa Rahmatullah .., Bismillah wal Hamdulillah wash Shalatu was Salamu 'ala Rasulillah wa ba'd:

Sungguh malang orang yang mengaku muslim tapi tidak shalat. Pengakuan kosong yang tidak ada manfaatnya sama sekali. Berikut ini berbagai kecaman untuk mereka yang sengaja meninggalkan shalat.

๐Ÿ“ŒKecaman Dalam Al Quran

Allah Ta’ala telah mengecam mereka dalam berbagai ayatNya:

ูَุฎَู„َูَ ู…ِู†ْ ุจَุนْุฏِู‡ِู…ْ ุฎَู„ْูٌ ุฃَุถَุงุนُูˆุง ุงู„ุตَّู„ุงุฉَ ูˆَุงุชَّุจَุนُูˆุง ุงู„ุดَّู‡َูˆَุงุชِ ูَุณَูˆْูَ ูŠَู„ْู‚َูˆْู†َ ุบَูŠًّุง

“Maka datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan shalat dan memperturutkan hawa nafsunya, Maka mereka kelak akan menemui kesesatan.” (QS. Maryam (19): 59)

Mereka akan dimasukkan ke dalam neraka Saqar. Allah Ta’ala berfirman:
ู…َุง ุณَู„َูƒَูƒُู…ْ ูِูŠ ุณَู‚َุฑَ (42) ู‚َุงู„ُูˆุง ู„َู…ْ ู†َูƒُ ู…ِู†َ ุงู„ْู…ُุตَู„ِّูŠู†َ (43)

 "Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?" mereka menjawab: "Kami dahulu tidak Termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS. Al Muddatsir (74):42-43)

Mereka mengalami kesulitan sakaratul maut. Allah Ta’ala berfirman:

ูƒَู„ุง ุฅِุฐَุง ุจَู„َุบَุชِ ุงู„ุชَّุฑَุงู‚ِูŠَ (26) ูˆَู‚ِูŠู„َ ู…َู†ْ ุฑَุงู‚ٍ (27) ูˆَุธَู†َّ ุฃَู†َّู‡ُ ุงู„ْูِุฑَุงู‚ُ (28) ูˆَุงู„ْุชَูَّุชِ ุงู„ุณَّุงู‚ُ ุจِุงู„ุณَّุงู‚ِ (29) ุฅِู„َู‰ ุฑَุจِّูƒَ ูŠَูˆْู…َุฆِุฐٍ ุงู„ْู…َุณَุงู‚ُ (30) ูَู„ุง ุตَุฏَّู‚َ ูˆَู„ุง ุตَู„َّู‰ (31) ูˆَู„َูƒِู†ْ ูƒَุฐَّุจَ ูˆَุชَูˆَู„َّู‰ (32) ุซُู…َّ ุฐَู‡َุจَ ุฅِู„َู‰ ุฃَู‡ْู„ِู‡ِ ูŠَุชَู…َุทَّู‰ (33) ุฃَูˆْู„َู‰ ู„َูƒَ ูَุฃَูˆْู„َู‰ (34) ุซُู…َّ ุฃَูˆْู„َู‰ ู„َูƒَ ูَุฃَูˆْู„َู‰ (35)

“Sekali-kali jangan. apabila nafas (seseorang) telah (mendesak) sampai ke kerongkongan, dan dikatakan (kepadanya): "Siapakah yang dapat menyembuhkan?", dan Dia yakin bahwa Sesungguhnya Itulah waktu perpisahan (dengan dunia), dan bertaut betis (kiri) dan betis (kanan), kepada Tuhanmulah pada hari itu kamu dihalau. dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Quran) dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan (Rasul) dam berpaling (dari kebenaran), kemudian ia pergi kepada ahlinya dengan berlagak (sombong). kecelakaanlah bagimu   dan kecelakaanlah bagimu, kemudian kecelakaanlah bagimu   dan kecelakaanlah bagimu.” (QS. Al Qiyamah (75): 26-35)

 Mereka juga diancam dengan neraka Wail (kecelakaan). Allah Ta’ala berfirman:

ูَูˆَูŠْู„ٌ ู„ِู„ْู…ُุตَู„ِّูŠู†َ (4) ุงู„َّุฐِูŠู†َ ู‡ُู…ْ ุนَู†ْ ุตَู„ุงุชِู‡ِู…ْ ุณَุงู‡ُูˆู†َ (5)

“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya.” (QS. Al Ma’un (107): 4-5)

๐Ÿ“ŒKecaman Dalam Al Hadits

 Dalam berbagai hadits shahih, orang yang sengaja meninggalkan shalat disebut kafir. Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

 ุจูŠู† ุงู„ุฑุฌู„ ูˆุจูŠู† ุงู„ุดุฑูƒ ูˆุงู„ูƒูุฑ ุชุฑูƒ ุงู„ุตู„ุงุฉ

“Batas antara seseorang dengan kesyirikan dan kekufuran   adalah meninggalkan shalat.” (HR. Muslim No. 82, At Tirmidzi No. 2752, Ibnu Majah No. 1078, Ad Darimi No. 1233, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf 7/222/43, Ibnu Hibban No. 1453, Musnad Ahmad No. 15183, tahqiq: Syu’aib Al Arna’uth, Adil Mursyid, dll)

Dari Buraidah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ุงู„ุนู‡ุฏ ุงู„ุฐูŠ ุจูŠู†ู†ุง ูˆุจูŠู†ู‡ู… ุงู„ุตู„ุงุฉ ูู…ู† ุชุฑูƒู‡ุง ูู‚ุฏ ูƒูุฑ

"Perjanjian antara kita dan mereka adalah shalat, maka barang siapa yang meninggalkannya maka dia telah kafir.” (HR. At Tirmidzi No. 2621, katanya: hasan shahih gharib, An Nasa’i No. 463, Ibnu Majah No. 1079, Ibnu Hibban No. 1454, Sunan Ad Daruquthni, Bab At Tasydid fi Tarkish Shalah No. 2, Al Baihaqi, As Sunan Al Kubra No. 6291, Ibnu Abi Syaibah, Al Mushannaf, 7/222/45, Al Hakim, Al Mustadrak ‘Alash Shahihain No. 11, katanya: “isnadnya shahih dan kami tidak mengetahui adanya cacat pada jalur  dari berbagai jalur. Semuanya telah berhujjah dengan Abdullah bin Buraidah dari ayahnya. Muslim telah berhujjah dengan Al Husein bin Waqid, Bukhari dan Muslim tidak mengeluarkannya dengan lafaz ini. Hadits ini memiliki penguat yang shahih sesuai syarat mereka berdua.” Ahmad No. 22937, Syaikh

Syu’aib Al Arna’uth mengatakan: sanadnya qawwy (kuat). Syaikh Al Albani menshahihkan hadits ini dalam berbagai kitabnya)

Dari Abdullah bin Amr bin Al ‘Ash Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ู…ู† ุญุงูุธ ุนู„ูŠู‡ุง ูƒุงู†ุช ู„ู‡ ู†ูˆุฑุง ูˆุจุฑู‡ุงู†ุง ูˆู†ุฌุงุฉ ู…ู† ุงู„ู†ุงุฑ ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ูˆู…ู† ู„ู… ูŠุญุงูุธ ุนู„ูŠู‡ุง ู„ู… ุชูƒู† ู„ู‡ ู†ูˆุฑุง ูˆู„ุง ู†ุฌุงุฉ ูˆู„ุง ุจุฑู‡ุงู†ุง ูˆูƒุงู† ูŠูˆู… ุงู„ู‚ูŠุงู…ุฉ ู…ุน ู‚ุงุฑูˆู† ูˆูุฑุนูˆู† ูˆู‡ุงู…ุงู† ูˆุฃุจูŠ ุจู† ุฎู„ู

"Barangsiapa yang menjaga shalatnya maka baginya cahaya, bukti, dan keselamatan dari neraka pada hari kiamat. Barangsiapa yang tidak menjaganya maka dia tidak memiliki cahaya dan tidak selamat (dari api neraka), dan tidak memiliki bukti, serta pada hari kiamat nanti dia akan hidup bersama Qarun, Fir’aun, Hamman, dan Ubai bin Khalaf.” (HR. Ad Darimi No. 2721, Syaikh Al Albani menshahihkan dalam Misykah Al Mashabih No. 578. Syaikh Sayyiq Sabiq mengatakan sanadnya jayyid (baik), Fiqhus Sunnah, 1/93. Dar Al Kitab Al ‘Arabi. Ahmad No. 6576, kata pentahqiqnya: sanadnya hasan)

Imam Al Mundziri Rahimahullah mengatakan:

ูˆู‚ุงู„ ุงุจู† ุฃุจูŠ ุดูŠุจุฉ ู‚ุงู„ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… : ู…ู† ุชุฑูƒ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูู‚ุฏ ูƒูุฑ
ูˆู‚ุงู„ ู…ุญู…ุฏ ุจู† ู†ุตุฑ ุงู„ู…ุฑูˆุฒูŠ ุณู…ุนุช ุฅุณุญุงู‚ ูŠู‚ูˆู„ ุตุญ ุนู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู† ุชุงุฑูƒ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูƒุงูุฑ
 
Berkata Ibnu Abi Syaibah, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang meninggalkan shalat maka dia telah kafir.”

Berkata Muhammad bin Nashr Al Marwazi, aku mendengar Ishaq berkata: “Telah shahih dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa orang yang meninggalkan shalat, maka dia telah kafir.” (Syaikh Al Albani, Shahih At Targhib wat Tarhib, 1/575. Cet. 5, Maktabah Al Ma’arif. Riyadh)

Dari Buraidah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ู…ู† ุชุฑูƒ ุตู„ุงุฉ ุงู„ุนุตุฑ ูู‚ุฏ ุญุจุท ุนู…ู„ู‡
 
“Barangsiapa yang meninggalkan shalat ashar, maka telah terhapus amalnya.” (HR. Bukhari No. 528, An Nasa’i No. 474, Ibnu Hibban No. 1470, Ahmad No. 22959, Ibnu Khuzaimah No. 336)

Sementara dalam hadits lain, bahwa orang yang meninggalkan shalat boleh dihukum mati ( tentu setelah keputusan  mahkamah syariah). Dari Ibnu Abbas Radhiallahu ‘Anhuma, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ุนุฑู‰ ุงู„ุงุณู„ุงู…، ูˆู‚ูˆุงุนุฏ ุงู„ุฏูŠู† ุซู„ุงุซุฉ، ุนู„ูŠู‡ู† ุฃุณุณ ุงู„ุงุณู„ุงู…، ู…ู† ุชุฑูƒ ูˆุงุญุฏุฉ ู…ู†ู‡ู†، ูู‡ูˆ ุจู‡ุง ูƒุงูุฑ ุญู„ุงู„ ุงู„ุฏู…: ุดู‡ุงุฏุฉ ุฃู† ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡، ูˆุงู„ุตู„ุงุฉ ุงู„ู…ูƒุชูˆุจุฉ، ูˆุตูˆู… ุฑู…ุถุงู†

Tali Islam dan kaidah-kaidah agama ada tiga, di atasnyalah agama Islam difondasikan, dan barangsiapa yang meninggalkannya satu saja, maka dia kafir dan darahnya halal ( untuk dibunuh), (yakni):  Syahadat Laa Ilaaha Illallah, shalat wajib, dan puasa Ramadhan.” (HR. Abu Ya’ala dan Ad Dailami dishahihkan oleh Adz Dzahabi. Berkata Hammad bin Zaid: aku tidak mengetahui melainkan hadits ini  telah dimarfu’kan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Al Haitsami mengatakan sanadnya hasan, Majma’ Az Zawaid, 1/48. Darul Kutub Al ‘Ilmiyah. Tapi Syaikh Al Albani mendhaifkannya dalam Dhaiful Jami’ No. 3696)

๐Ÿ“ŒKafirkah Yang Meninggalkan Shalat?

  Manusia meninggalkan shalat karena dua keadaan:

1.  Mengingkari kewajibannya.

 Dia tidak shalat karena menurutnya shalat lima waktu itu bukan kewajiban. Jenis ini adalah kafir, murtad dari Islam, tidak ada perselisihan atas hal itu dan merupakan kesepakatan kaum muslimin.

Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

ุชุฑูƒ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุฌุญูˆุฏุง ุจู‡ุง ูˆุฅู†ูƒุงุฑุง ู„ู‡ุง ูƒูุฑ ูˆุฎุฑูˆุฌ ุนู† ู…ู„ุฉ ุงู„ุงุณู„ุงู…، ุจุฅุฌู…ุงุน ุงู„ู…ุณู„ู…ูŠู†.

Meninggalkan shalat karena menolak dan mengingkarinya, maka itu adalah kafir dan keluar dari agama Islam menurut ijma’ kaum muslimin. (Fiqhus Sunnah, 1/92)

2.  Tidak shalat tapi masih mengakui kewajibannya tapi meninggalkan karena malas, tenggelam kesibukan yang tidak beralasan, dan semisalnya. Maka para ulama berbeda pendapat, ada yang menilainya kafir dan murtad, ada yang menilainya masih muslim tapi fasiq dan berdosa besar.
Alasannya banyak hadits-hadits yang menyatakan kafirnya meninggalkan shalat dan hukumnya adalah mati, sebagaimana hadits-hadits yang sudah kami sebut sebelumnya. Begitu pula pandangan para sahabat nabi secara umum.

๐Ÿ“ŒKecaman dan Fatwa Dari Para Sahabat

Secara umum, para Sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam meny

atakan kafirnya oang yang se

ngaja meninggalkan shalat. Dari Abdullah bin Syaqiq Al ‘Uqaili Radhiallahu ‘Anhu, katanya:

ูƒุงู† ุฃุตุญุงุจ ู…ุญู…ุฏ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ู„ุง ูŠุฑูˆู† ุดูŠุฆุง ู…ู† ุงู„ุฃุนู…ุงู„ ุชุฑูƒู‡ ูƒูุฑ ุบูŠุฑ ุงู„ุตู„ุงุฉ
 
  Para sahabat nabi tidaklah memandang suatu perbuatan yang dapat kufur jika ditinggalkan melainkan meninggalkan shalat.” (HR. At Tirmidzi No. 2757, dishahihkan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih wa Dhaif Sunan At Tirmidzi No. 2622)

  Imam Ibnu Hazm Rahimahullah mencatat dalam Al Muhalla-nya:

ูˆَู‚َุฏْ ุฌَุงุกَ ุนَู†ْ ุนُู…َุฑَ ูˆَุนَุจْุฏِ ุงู„ุฑَّุญْู…َู†ِ ุจْู†ِ ุนَูˆْูٍ ูˆَู…ُุนَุงุฐِ ุจْู†ِ ุฌَุจَู„ٍ ูˆَุฃَุจِูŠ ู‡ُุฑَูŠْุฑَุฉَ ูˆَุบَูŠْุฑِู‡ِู…ْ ู…ِู†ْ ุงู„ุตَّุญَุงุจَุฉِ ุฑَุถِูŠَ ุงู„ู„َّู‡ُ ุนَู†ْู‡ُู…ْ ุฃَู†َّ ู…َู†ْ ุชَุฑَูƒَ ุตَู„ุงุฉَ ูَุฑْุถٍ ูˆَุงุญِุฏَุฉٍ ู…ُุชَุนَู…ِّุฏًุง ุญَุชَّู‰ ูŠَุฎْุฑُุฌَ ูˆَู‚ْุชُู‡َุง ูَู‡ُูˆَ ูƒَุงูِุฑٌ ู…ُุฑْุชَุฏٌّ.

  “Telah datang dari Umar, Abdurrahman bin ‘Auf, Mu’adz bin Jabal, Abu Hurairah, dan selain mereka dari kalangan sahabat Radhiallahu ‘Anhum, bahwa barangsiapa yang meninggalkan shalat wajib sekali saja secara sengaja hingga keluar dari waktunya, maka dia kafir murtad.” (Al Muhalla, 1/868. Mawqi’ Ruh Al Islam)

  Abdullah bin Amr bin Al Ash Radhiallahu ‘Anhuma, mengatakan:
ูˆู…ู† ุชุฑูƒ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูู„ุง ุฏูŠู† ู„ู‡.

  “Barangsiapa yang meninggalkan shalat, maka tidak ada agama baginya.” (Al Mushannaf Ibnu Abi Syaibah, 5/508. Darul Fikr)

  Abu Darda Radhiallahu ‘Anhu berkata:

ู„ุง ุฅูŠู…ุงู† ู„ู…ู† ู„ุง ุตู„ุงุฉ ู„ู‡ ูˆู„ุง ุตู„ุงุฉ ู„ู…ู† ู„ุง ูˆุถูˆุก ู„ู‡ ุฑูˆุงู‡ ุงุจู† ุนุจุฏ ุงู„ุจุฑ ูˆุบูŠุฑู‡ ู…ูˆู‚ูˆูุง

  “Tidak ada iman bagi yang tidak shalat, dan tidak ada shalat bagi yang tidak berwudhu.” Diriwayatkan Ibnu Abdil Bar dan selainnya secara mawquf. (Atsar ini Shahih mawquf. Lihat Syaikh Al Albani, Shahih At Targhib wat Tarhib, 1/575. Maktabah Al Ma’arif)

Imam Al Mundziri Rahimahullah menyebutkan:

ูˆูƒุฐู„ูƒ ูƒุงู† ุฑุฃูŠ ุฃู‡ู„ ุงู„ุนู„ู… ู…ู† ู„ุฏู† ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ุฃู† ุชุงุฑูƒ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุนู…ุฏุง ู…ู† ุบูŠุฑ ุนุฐุฑ ุญุชู‰ ูŠุฐู‡ุจ ูˆู‚ุชู‡ุง ูƒุงูุฑ

  “Demikian pula, dahulu   pendapat ulama dari orang yang dekat dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam (yakni para sahabat), bahwa orang yang meninggalkan shalat secara sengaja tanpa ‘udzur, sampai habis waktunya, maka dia kafir.” (Ibid)

  Tentang kafirnya orang yang meninggalkan shalat juga menjadi pendapat umumnya ahli hadits, sebagaimana keterangan berikut dari Imam Ibnu Rajab Al Hambali Rahimahullah yang  mengatakan:

ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุญู…ุฏ   ูˆูƒุซูŠุฑ ู…ู† ุนู„ู…ุงุก ุฃู‡ู„ ุงู„ุญุฏูŠุซ ูŠุฑู‰ ุชูƒููŠุฑ ุชุงุฑูƒ ุงู„ุตู„ุงุฉ .
ูˆุญูƒุงู‡ ุฅุณุญุงู‚ ุจู† ุฑุงู‡ูˆูŠู‡   ุฅุฌู…ุงุนุง ู…ู†ู‡ู… ุญุชู‰ ุฅู†ู‡ ุฌุนู„ ู‚ูˆู„ ู…ู† ู‚ุงู„ : ู„ุง ูŠูƒูุฑ ุจุชุฑูƒ ู‡ุฐู‡ ุงู„ุฃุฑูƒุงู† ู…ุน ุงู„ุฅู‚ุฑุงุฑ ุจู‡ุง ู…ู† ุฃู‚ูˆุงู„ ุงู„ู…ุฑุฌุฆุฉ . ูˆูƒุฐู„ูƒ ู‚ุงู„ ุณููŠุงู† ุจู† ุนูŠูŠู†ู‡ : ุงู„ู…ุฑุฌุฆุฉ ุณู…ูˆุง ุชุฑูƒ ุงู„ูุฑุงุฆุถ ุฐู†ุจุง ุจู…ู†ุฒู„ุฉ ุฑูƒูˆุจ ุงู„ู…ุญุงุฑู… ، ูˆู„ูŠุณุง ุณูˆุงุก ، ู„ุฃู† ุฑูƒูˆุจ ุงู„ู…ุญุงุฑู… ู…ุชุนู…ุฏุง ู…ู† ุบูŠุฑ ุงุณุชุญู„ุงู„ : ู…ุนุตูŠุฉ ، ูˆุชุฑูƒ ุงู„ูุฑุงุฆุถ ู…ู† ุบูŠุฑ ุฌู‡ู„ ูˆู„ุง ุนุฐุฑ : ู‡ูˆ ูƒูุฑ . ูˆุจูŠุงู† ุฐู„ูƒ ููŠ ุฃู…ุฑ ุขุฏู… ูˆุฅุจู„ูŠุณ ูˆุนู„ู…ุงุก ุงู„ูŠู‡ูˆุฏ ุงู„ุฐูŠู† ุฃู‚ุฑูˆุง ุจุจุนุซ ุงู„ู†ุจูŠ ุตู„ูŠ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… ูˆู„ู… ูŠุนู…ู„ูˆุง ุจุดุฑุงุฆุนู‡ . ูˆุฑูˆูŠ ุนู† ุนุทุงุก ูˆู†ุงูุน ู…ูˆู„ู‰ ุงุจู† ุนู…ุฑ ุฃู†ู‡ู…ุง ุณุฆู„ุง ุนู…ู† ู‚ุงู„ : ุงู„ุตู„ุงุฉ ูุฑูŠุถุฉ ูˆู„ุง ุฃุตู„ูŠ ، ูู‚ุงู„ุง : ู‡ูˆ ูƒุงูุฑ . ูˆูƒุฐุง ู‚ุงู„ ุงู„ุฅู…ุงู… ุฃุญู…ุฏ .

Imam Ahmad dan kebanyakan ulama ahli hadits berpendapat kafirnya orang yang meninggalkan shalat. Ishaq bin Rahawaih menceritakan adanya ijma’ di antara mereka (ahli hadits), sampai-sampai dijadikan sebuah ungkapan barangsiapa yang mengatakan: tidak  kafirnya orang yang meninggalkan rukun-rukun ini dan orang itu masih mengakui rukun-rukun tersebut, maka ini adalah termasuk perkataan murji’ah. Demikian juga perkataan Sufyan bin ‘Uyainah: orang murji’ah menamakan meninggalkan kewajiban adalah sebagai dosa dengan posisi yang sama dengan orang yang menjalankan keharaman. Keduanya tidaklah sama, sebab menjalankan keharaman dengan tanpa sikap ‘menghalalkan’ merupakan maksiat, dan meninggalkan kewajiban-kewajiban bukan karena kebodohan dan tanpa ‘udzur, maka dia kufur. Penjelasan hal ini adalah dalam perkara Adam dan Iblis, dan ulama Yahudi yang mengakui diutusnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan mereka tidak mengamalkan syariat-syariatnya. Diriwayatkan dari Atha’ dan Nafi’ pelayan ibnu Umar, bahwa mereka berdua ditanya tentang orang yang mengatakan: Shalat adalah wajib tetapi saya tidak shalat.” Mereka berdua menjawab: Dia kafir. Ini juga pendapat Imam Ahmad.” (Imam Ibnu Rajab, Fathul Bari, 1/9. Mawqi’ Ruh Al Islam)

  Syaikh Sayyid Sabiq

Rahimahullah mengatakan, tenta

ng pihak yang mengkafirkan orang yang tidak shalat:

ูˆู…ู† ุบูŠุฑ ุงู„ุตุญุงุจุฉ ุฃุญู…ุฏ ุจู† ุญู†ุจู„ ูˆุฅุณุญุงู‚ ุจู† ุฑุงู‡ูˆูŠู‡، ูˆุนุจุฏ ุงู„ู„ู‡ ุจู† ุงู„ู…ุจุงุฑูƒ، ูˆุงู„ู†ุฎุนูŠ، ูˆุงู„ุญูƒู… ุจู† ุนุชูŠุจุฉ ูˆุฃุจูˆ ุฃูŠูˆุจ ุงู„ุณุฎุชูŠุงู†ูŠ، ูˆุฃุจูˆ ุฏุงูˆุฏ ุงู„ุทูŠุงู„ุณูŠ، ูˆุฃุจูˆ ุจูƒุฑ ุจู† ุฃุจูŠ ุดูŠุจุฉ، ูˆุฒู‡ูŠุฑ ุจู† ุญุฑุจ، ูˆุบูŠุฑู‡ู… ุฑุญู…ู‡ู… ุงู„ู„ู‡ ุชุนุงู„ู‰

  Dari selain sahabat nabi, adalah Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahuyah, Abdullah bin Al Mubarak, An Nakha’i, Al Hakam bin ‘Utaibah, Abu Ayyub As Sukhtiyani, Abu Daud Ath Thayalisi, Abu Bakar bin Abi Syaibah, Zuhair bin Harb, dan selain mereka, Rahimahumullah Ta’ala. (Fiqhus Sunnah, 1/93)  
 
  Imam Asy Syaukani Rahimahullah menguatkan pendapat ini, karena syaari’ (pembuat syariat) telah menamakan orang yang meninggalkan shalat dengan sebutan kafir, dan menjadi dinding pembatas antara seseorang dengan penyebutan kafir adalah shalat. (Ibid, 1/95)

  Sementara itu, mayoritas ulama mengatakan orang yang meninggalkan shalat karena sengaja, baik karena malas, atau alasan yang tidak syar’i lainnya, bahwa dia masih muslim tapi fasiq.

  Syaikh Sayyid Sabiq Rahimahullah mengatakan:

ุฑุฃูŠ ุจุนุถ ุงู„ุนู„ู…ุงุก ุงู„ุงุญุงุฏูŠุซ ุงู„ู…ุชู‚ุฏู…ุฉ ุธุงู‡ุฑู‡ุง ูŠู‚ุชุถูŠ ูƒูุฑ ุชุงุฑูƒ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูˆุฅุจุงุญุฉ ุฏู…ู‡، ูˆู„ูƒู† ูƒุซูŠุฑุง ู…ู† ุนู„ู…ุงุก ุงู„ุณู„ู ูˆุงู„ุฎู„ู، ู…ู†ู‡ู… ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ، ู…ุงู„ูƒ، ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ، ุนู„ู‰ ุฃู†ู‡ ู„ุง ูŠูƒูุฑ، ุจู„ ูŠูุณู‚ ูˆูŠุณุชุชุงุจ، ูุฅู† ู„ู… ูŠุชุจ ู‚ุชู„ ุญุฏ ุฃุนู†ุฏ ู…ุงู„ูƒ ูˆุงู„ุดุงูุนูŠ ูˆุบูŠุฑู‡ู…ุง. ูˆู‚ุงู„ ุฃุจูˆ ุญู†ูŠูุฉ: ู„ุง ูŠู‚ุชู„ ุจู„ ูŠุนุฒุฑ ูˆูŠุญุจุณ ุญุชู‰ ูŠุตู„ูŠ، ูˆุญู…ู„ูˆุง ุฃุญุงุฏูŠุซ ุงู„ุชูƒููŠุฑ ุนู„ู‰ ุงู„ุฌุงุญุฏ ุฃูˆ ุงู„ู…ุณุชุญู„ ู„ู„ุชุฑูƒ،

  Pandangan sebagian ulama bahwa hadits-hadits yang lalu, secara zahir menunjukkan bahwa kafirnya orang yang meninggalkan shalat secara  sengaja dan darahnya halal ditumpahkan, tetapi banyak ulama salaf dan khalaf diantaranya Abu Hanifah, Malik, dan Asy Syafi’i yang mengatakan tidak kafir, tetapi fasiq dan mesti dimintai tobatnya. Jika dia tidak bertobat maka mesti dihukum mati menurut Malik dan Syafi’i, sedangkan Abu Hanifah mengatakan: tidak dibunuh tetapi hukum ta’zir dan dikucilkan sampai dia shalat. Golongan ini memaknai hadits-hadits kafirnya meninggalkan shalat adalah jika karena meningkari atau dia menghalalkan meninggalkan shalat. (Fiqhus Sunnah, 1/94-95)

  Selain itu, mereka juga berdalil dengan beberapa dalil lainnya, di antaranya:

  Firman Allah Ta’ala:

ุฅِู†َّ ุงู„ู„َّู‡َ ู„َุง ูŠَุบْูِุฑُ ุฃَู†ْ ูŠُุดْุฑَูƒَ ุจِู‡ِ ูˆَูŠَุบْูِุฑُ ู…َุง ุฏُูˆู†َ ุฐَู„ِูƒَ ู„ِู…َู†ْ ูŠَุดَุงุกُ

  Sesungguhnya Allah tidak alan mengampuni dosa menyukutukan diriNya, tetapi Dia mengampuni dosa selain itu bagi yang dikehendakiNya. (QS. An Nisa: 48, 116)

  Jelas menurut ayat ini, dosa selain syirik masih berpotensi Allah Ta’ala ampunkan, dan meninggalkan shalat termasuk di antaranya.

  Alasan lain, dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ู„ِูƒُู„ِّ ู†َุจِูŠٍّ ุฏَุนْูˆَุฉٌ (ุฏَุนْูˆَุฉٌ ู…ُุณْุชَุฌَุงุจَุฉٌ) ูŠَุฏْุนُูˆ ุจِู‡َุง ูˆَุฃُุฑِูŠุฏُ ุฃَู†ْ ุฃَุฎْุชَุจِุฆَ ุฏَุนْูˆَุชِูŠ ุดَูَุงุนَุฉً ู„ِุฃُู…َّุชِูŠ ูِูŠ ุงู„ْุขุฎِุฑَุฉِ

Setiap nabi memiliki doa yang dikabulkan, dan aku ingin menyimpan dulu doaku sebagai syafaat bagi umatku di akhirat nanti. (HR. Al Bukhari No. 6304, Muslim No. 198)

   Jadi, seluruh umat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam akan mendapatkan syafaat dari Allah Ta’ala melalui doa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

  Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฃَุณْุนَุฏُ ุงู„ู†َّุงุณِ ุจِุดَูَุงุนَุชِูŠ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ู…َู†ْ ู‚َุงู„َ ู„َุง ุฅِู„َู‡َ ุฅِู„َّุง ุงู„ู„ู‡ُ ุฎَุงู„ِุตًุง ู…ِู†ْ ู‚َู„ْุจِู‡ِ ุฃَูˆْ ู†َูْุณِู‡ِ

  Manusia paling bahagia adalah yang mendapatkan syafaatku pada hari kiamat, yaitu manusia yang mengucapkan Laa Ilaaha Illallah secara tulus dari hatinya atau jiwanya. (HR. Al Bukhari No. 99)

Dalil lainnya adalah, dari Huraits bin Al Qabishah Radhiallahu ‘Anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

ุฅِู†َّ ุฃَูˆَّู„َ ู…َุง ูŠُุญَุงุณَุจُ ุจِู‡ِ ุงู„ْุนَุจْุฏُ ูŠَูˆْู…َ ุงู„ْู‚ِูŠَุงู…َุฉِ ู…ِู†ْ ุนَู…َู„ِู‡ِ ุตَู„َุงุชُู‡ُ ูَุฅِู†ْ ุตَู„ُุญَุชْ ูَู‚َุฏْ ุฃَูْู„َุญَ ูˆَุฃَู†ْุฌَุญَ ูˆَุฅِู†ْ ูَุณَุฏَุชْ ูَู‚َุฏْ ุฎَุงุจَ ูˆَุฎَุณِุฑَ ูَุฅِู†ْ ุงู†ْุชَู‚َุตَ ู…ِู†ْ ูَุฑِูŠุถَุชِู‡ِ ุดَูŠْุกٌ ู‚َุงู„َ ุงู„ุฑَّุจُّ ุนَุฒَّ ูˆَุฌَู„َّ ุงู†ْุธُุฑُูˆุง ู‡َู„ْ ู„ِุนَุจْุฏِูŠ ู…ِู†ْ ุชَุทَูˆُّุนٍ ูَูŠُูƒَู…َّู„َ ุจِู‡َุง ู…َุง ุงู†ْุชَู‚َุตَ ู…ِู†ْ ุงู„ْูَุฑِูŠุถَุฉِ ุซُู…َّ ูŠَูƒُูˆู†ُ ุณَุงุฆِุฑُ ุนَู…َู„ِู‡ِ ุนَู„َู‰ ุฐَู„ِูƒَ

Sesungguhnya pada hari kiamat nanti  yang pertama kali dihitung dari amal seorang

hamba adalah shalatnya, jika ba

gus shalatnya maka dia telah beruntung dan selamat. Jika buruk maka dia telah merugi dan menyesal. Jika shalat wajibnya ada kekurangan maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Lihatlah apakah hambaKu memiliki shalat sunah? Hendaknya disempurnakan kekurangan shalat wajibnya itu dengannya.” Kemudian diperhitungkan semua amalnya dengan cara demikian. (HR. At Tirmidzi No. 413, katanya: hasan, Abu Daud No. 864, Ahmad No. 9494, Ad Darimi No. 1355, Al Baihaqi dalam As Sunan Al Kubra No. 3813, dll. Syaikh Husein Salim Asad mengatakan: shahih. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan: shahih. Ta’liq Musnad Ahmad No. 9494)

 Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah  mengatakan demikian:

ุชุงุฑูƒ ุงู„ุตู„ุงุฉ ุนู…ุฏุง ู„ุง ูŠุดุฑุน ู„ู‡ ู‚ุถุงุคู‡ุง ูˆู„ุง ุชุตุญ ู…ู†ู‡، ุจู„ ูŠูƒุซุฑ ู…ู† ุงู„ุชุทูˆุน

  Orang yang meninggalkan shalat secara sengaja, tidak disyariatkan untuk mengqadhanya dan tidak sah jika dia melaksanakannya, tetapi hendaknya dengan memperbanyak shalat sunah. (Lihat Fiqhus Sunnah, 1/274)

  Hadits ini menunjukkan bahwa memperbanyak shalat sunnah dapat menutupi kekurangan shalat wajib yang ditinggalkan, maka itu tanda bah dia tidak kafir, sebab shalat sunnahnya orag kafir tentu tidak bermanfaat. Sementara ulama lain memahami bahwa makna hadits ini bukan “shalat wajib yang ditinggalkan” disempurnakan oleh shalat sunnah, tetapi shalat yang tidak bagus kualitasnya akan ditutupi oleh shalat sunnah, dia masih shalat tapi kurang bagus kualitasnya, sebab tidak mungkin shalat wajib bisa terbayar oleh shalat sunnah.

๐Ÿ“Œ Dialog Imam Asy Syafi’i dan Imam Ahmad Rahimahumallah

  Imam As Subki bercerita dalam Thabaqat Syafi’iyah:

ุญูƒู‰ ุฃู† ุฃุญู…ุฏ ู†ุงุธุฑ ุงู„ุดุงูุนู‰ ูู‰ ุชุงุฑูƒ ุงู„ุตู„ุงุฉ ูู‚ุงู„ ู„ู‡ ุงู„ุดุงูุนู‰ ูŠุง ุฃุญู…ุฏ ุฃุชู‚ูˆู„ ุฅู†ู‡ ูŠูƒูุฑ ู‚ุงู„ ู†ุนู…
ู‚ุงู„ ุฅุฐุง ูƒุงู† ูƒุงูุฑุง ูุจู… ูŠุณู„ู…
ู‚ุงู„ ูŠู‚ูˆู„ ู„ุง ุฅู„ู‡ ุฅู„ุง ุงู„ู„ู‡ ู…ุญู…ุฏ ุฑุณูˆู„ ุงู„ู„ู‡ ( ุตู„ู‰ ุงู„ู„ู‡ ุนู„ูŠู‡ ูˆุณู„ู… )
ู‚ุงู„ ุงู„ุดุงูุนู‰ ูุงู„ุฑุฌู„ ู…ุณุชุฏูŠู… ู„ู‡ุฐุง ุงู„ู‚ูˆู„ ู„ู… ูŠุชุฑูƒู‡
ู‚ุงู„ ูŠุณู„ู… ุจุฃู† ูŠุตู„ู‰ ู‚ุงู„ ุตู„ุงุฉ ุงู„ูƒุงูุฑ ู„ุง ุชุตุญ ูˆู„ุง ูŠุญูƒู… ุจุงู„ุฅุณู„ุงู… ุจู‡ุง ูุงู†ู‚ุทุน ุฃุญู…ุฏ ูˆุณูƒุช

Dikisahkan bahwa Imam Ahmad dan Imam Asy Syafi’i berdebat tentang orang yang meninggalkan shalat.

  Imam Asy Syafi’i bertanya kepada Imam Ahmad: “Wahai Ahmad, apakah engkau mengatakan orang yang meninggalkan shalat itu kafir?”

  Imam Ahmad menjawab: “Ya.”

  Imam Asy Syafi’i bertanya lagi: “Lalu, bagaimana caranya dia berislam lagi?”

  Imam Ahmad menjawab: “Dia mesti mengucapkan Laa Ilaaha Illallahu Muhammad Rasulullah.”

  Imam Asy Syafi’i berkata: “Dia masih mengucapkan kalimat itu, dia tidak pernah meninggalkan kalimat syahadat.”

Imam Ahmad mengatakan: “Kalau begitu dia melakukan shalat (untuk kembali Islam).”

  Imam Asy Syafi’i menjawab: “Shalatnya orang kafir itu tidak sah, dan dengan itu dia tidak dihukumi sebagai Islam.” Maka Imam Ahmad pun terdiam. (Imam Tajuddin As Subki, Thabaqat Asy Syafi’iyah Al Kubra, 2/61)

  Bagi kami, di tengah kondisi umat Islam yang sakit mentalnya dan umumnya lemah keberagamaannya, maka posisi mereka dihadapan para da’i dan ulama bagaikan pasien dihadapan dokter. Mereka mesti dihidupkan harapannya bukan ditakut-takuti. Maka, pendapat umumnya ulama madzhab seperti Imam Abu Hanifah, Imam Malik, dan Imam Asy Syafi’i, lebih sesuai dengan kondisi zaman ini. Sebab, umat saat ini akan lari dan membenci agama jika dicekoki pandangan yang mengkafirkan mereka, karena itu mengerikan bagi mereka. Sehingga masalah ini tidak terhenti pada adu kuat dalil saja, tapi juga bagaimana psikologis umat Islam sebagai manath-objek dari fiqihnya, juga menjadi perhatian para pemerhati masalah seperti ini.

Wallahu A’lam